Cinta Buat Kanaya

Cinta Buat Kanaya
Sudah Mau Lahiran


__ADS_3

Sebulan berlalu, Tania dan Alzyan sedang menunggu kedatangan buah hati mereka. Tafsiran dua hari lagi, namun Alzyan sudah ambil cuti. Dia tak ingin melewatkan momen momen sang istri yang baru mulai merasakan sakit, mengantar istri ke rumah sakit dan menyaksikan kelahiran si buah hati.


Tania tetap melakukan aktifitas seperti biasa, dia masih memasak dan beberes kamarnya sendiri. Sebenarnya dari pagi tadi dia sudah merasakan mules mules menjalar kepinggang.


"Istirahat saja, biar bi Harti yang beberes. Nanti kelelahan" Alzyan kasihan melihat istrinya yang sepertinya mudah lelah, dan nafasnya terengah engah hanya mengerjakan pekerjaan ringan.


"Nggak apa mas, justru kalau sudah dekat dekat melahirkan dianjurkan banyak gerak. Biar proses lahirannya nanti mudah"


"Oo gitu, tapi jangan sampai kelelahan ya." Alzyan kembali menghadap laptopnya, dia memantau pekerjaannya dari rumah, beruntung dia punya Affandi dan Sarah. Di Pekan Baru dia punya duo kakak beradik, Alif dan Aminah.


Setelah beberes, Tania duduk disamping suaminya sambil melihat lihat ponsel pintarnya. Seperti biasa dia melihat lihat YouTube tentang kulineran.


"Mas, aku pengen pempek" Memelototi youtouber yang sedang menyantap pempek Palembang, liurnya seakan menetes.


"Hem, ya udah pesan disini banyak jualnya. pesan buat mas juga ya, jangan makan sendiri seperti makan Bika Ambon kemaren."


"Tapi aku pengen yang asli dari Palembang"


"Kamu tahu alamat tokonya, pesan saja langsung dari Palembang"


"Hemm nggak tahu mas, apa aku tanya kak Arkhan aja ya mas?" Melirik suaminya ragu. Ketika pengen bika Ambon kemaren, dia menanyakannya dengan bang Alvin.


"Jangan, Googling aja kenapa?"


"Cemburu?"


"Bukan cemburu, mas tahu kamu itu bucin sama mas, nggak mampu lagi lihat laki laki lain"


"Lah terus kenapa nggak boleh aku chat kak Arkhan?"


"Nia, nggak baik menghubungi laki laki lain. Nanti pasangannya cemburu. Kamu pernah mengalaminya kan. Memangnya kamu mau cari masalah sama Maysa?"


"Nggak ampun deh" Tania benar benar tobat berurusan dengan Maysa.


"Nah itu.., kalau dapat pesankan 2 paket ya, buat diantar kerumah ibu juga"


Tania mengangguk, dia mulai mencari toko yang menjual pempek. Sesekali dia meringis karena kontraksi.


Sabar ini belum seberapa sakitnya


Alzyan mematikan laptopnya , lalu dia menarik Tania dalam pelukannya. Memberi kecupan singkat pada bibir ranum sang istri.


"Kamu kelihatan meringis, apa sudah mulai sakit?"


"Sedikit mas" memeluk pinggang suaminya.


"Benarkah, kita harus kerumah sakit Nia" Alzyan kelihatan panik.


"Sabar mas, tunggu sakitnya lebih kuat"


"Kau yakin?"


"Mas, aku bidan. Aku sudah sering melihat orang melahirkan, bahkan menolongnya"


"Baiklah, tapi segera bilang jika sakitnya semakin kuat" Alzyan akhirnya menurut saja, walaupun dia sangat khawatir. Dia mengelus saja perut sang istri sambil memanjatkan doa. Lalu Alzyan mengecup perut sang istri.


***


Sementara dirumah keluarga Akmal.


Diana sedang memberi serum buat tanaman hiasnya, Nabila menghampirinya.


"Bibi, aku kerumah sakit sekarang"


"Tunggu, kau sudah dapat pekerjaan?" Diana menahan Nabila. Nabila berhenti.


"Aku bingung memilih antara dua bi, antara pondok pesantren A dan sekolah swasta B. Pondok pesantren meminta saya tinggal di pondok, sementara saya harus mengurus ayah dan Ali. Sementara sekolah umum letaknya dekat dari rumah bibi. Gajinya lumayan besar. Tapi saya belum pernah mengajar di sekolah umum. Tentunya akan bercampur murid lelaki dan perempuan, bercampur juga ruang guru laki laki dan perempuan"

__ADS_1


"Oh begitu" Diana merenung sejenak.


"Nabila, bukankah kau magister pendidikan?"


"Iya bi"


"Maukah kau bekerja di STIKES Bunda milik kami?"


"STIKES, bukankah itu sekolah kesehatan. Saya tidak ada basic kesehatan bi?"


"Tak masalah, bibi saja bisa masa kamu tidak?"


"Bibi, saya tidak ada pengalaman disana"


"Jangan menolak dulu sebelum mencoba, kau cerdas. Bibi yakin kau bisa"


"Hmm, bagaimana ya?"


"Bantulah bibi, bibi sudah ingin istirahat. Alzyan tak ingin istrinya terlalu sibuk, dia itu tipe laki laki posesif juga. Sementara Rahayu, dia sama sekali tak mengerti dengan dunia pendidikan. Dia sudah diberi tanggung jawab oleh pamanmu mengelola restoran. Sesuai bidang ilmu yang dia miliki. Bibi hanya menaruh harapan padamu, bantulah bibi" Diana menatap Nabila dengan menghiba.


Nabila menarik nafas panjang, dia kasihan dengan bibi Diana. Apalagi kesehatan bibi Diana juga tidak baik semenjak mengalami struk.


"Mengenai ruangan, kamu punya ruangan sendiri karena kamu menjabat sebagai direktur. Dan bibi akan mengatur semuanya. Dosen dosen tetap disana sebagian besar juga perempuan" Diana berusaha membujuk Nabila.


"Direktur, bukankah kak Rendy direktur disana?"


"Rendy terlalu sibuk dirumah sakit, belum lagi di tempat prakteknya. Tapi dia tetap sebagai ketua yayasan. Dan kau direkturnya"


"Baiklah bibi, aku akan coba"


"Nabila, benarkah. Terimakasih nak. Bibi yakin kamu mampu."


"Insya Allah bi"


"Ya sudah, kamu datang ke STIKES besok pagi, sekarang pergilah kerumah sakit"


Sebelum kerumah sakit Nabila mampir dulu di mini market untuk membeli tisu, cemilan dan air mineral. Selesai berbelanja, dia gegas keluar tanpa sengaja dia menabrak seseorang.


"Heh ninja, hati hati donk kalau jalan. Makanya wajah jangan ditutupi semua, " laki laki bertubuh gempal itu malah mendorongnya sehingga Nabila terjatuh, kakinya terlipat. Namun Nabila cepat cepat berdiri walau agak terasa sakit.


"Maaf pak"


"Maaf maaf, saya buka cadarmu tahu rasa. Biar nampak jalan kamu ya!


"Maaf pak" Nabila melipat tangan didadanya tanda memohon maaf.


Laki laki itu malah ngeloyor pergi. Sesaat Nabila tersadar tas Selempangnya terbuka, dan tak ada lagi ponsel dan dompetnya. Semua kartu kartu penting disana.


"Toloong, copet..!"


Seorang laki laki yang sedari tadi berdiri tak jauh dari tempat dia berdiri bergegas berlari mengejar laki laki bertubuh gempal itu. Laki laki bertubuh gempal itu menstarter motornya, namun Laki laki yang mengejarnya dapat menarik jaketnya dan laki laki copet itu terjungkal ketanah. Belum cukup Sampai disitu laki laki penyelamat itu pun meninjunya berkali kali.


"Bajingan kamu, badan saja yang besar tapi beraninya sama perempuan. Bugh"


"Sudah sudah pak, jangan dilanjutkan" Nabila mencegah.


Pencopet itu kemudian diamankan oleh security.


"Ini dompet dan ponsel mba, apa ada lagi?"


"Hanya, ini makasih"


"Mba sepertinya keseleo, saya antar kerumah sakit" Laki laki itu menawarkan.


"Tak apa, terimakasih sudah menolongku."


"Hmm, sebenarnya sudah dari dia mendorongmu saya ingin menolong tapi kau bergegas berdiri dan meminta maaf. Kupikir selesai disitu, eh tahunya dia malah nyopet. "

__ADS_1


"Nggak tahu deh nasibku jika anda tak menolong saya, saya tak bisa membalas kebaikan anda. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan berlipat ganda"


"Aamiin" Jawab laki laki itu.


"Yakin bisa pulang sendiri, biar saya antar."


"Tak apa, saya mau cepat kerumah sakit."


"Saya juga mau kesana, karyawan saya dirawat.. Ayolah,"


"Hemm, apa kamu ragu ragu satu mobil dengan laki laki bukan muhrim?"


Nabila mengangguk pelan.


"Haha, insya Allah aku mampu menundukkan pandangan. Kau dibelakang saja. Niat kita baik, semoga tak mendatangkan fitnah. " Laki laki itu membuka pintu mobilnya. Nabila pun akhirnya menurut, dia duduk di bangku penumpang.


"Kenalkan namaku, Alvin. Namamu?"


"Saya Nabila" jawab Nabila singkat.


Alvin mengangguk, dia penasaran dengan wajah wanita ini. Namun dia sudah berjanji akan menundukkan pandangannya. Tapi tadi ketika menyodorkan dompet dan hape dia sekilas sudah melihat mata milik wanita ini. Mata yang Indah.


Astagfirullah, mungkin saja dia istri orang


"Siapa yang sakit, suamimu?"


"Bukan, ayahku"


"Semoga cepat sembuh"


Nabila mengangguk.


Tak terasa sudah sampai di parkiran rumah sakit. Nabila membuka sendiri pintu mobil, dia keluar.


"Terimakasih sekali lagi sudah mengantarku"


Alvin mengangguk dan tersenyum. Nabila jalan lebih dahulu, dia kelihatan kesusahan berjalan. Alvin mengawasinya dari jauh, wanita itu terlihat berhenti berjalan dan berbicara dengan seorang laki laki.


" Bukankah itu Alzyan?"


Alzyan nampak menoleh kearah Alvin, dia lalu menghampiri Alvin.


"Rupanya kamu yang sudah menolong saudari saya, terimakasih banyak ya"


"Iya sama sama"


"Katanya karyawan kamu dirawat disini?"


"Benar, saya mau menjenguknya. Bagaimana kabar Tania. Apa sudah lahiran ?"


"Belum, tak lama lagi. Dia sudah masuk ruang bersalin"


"Ohh benarkah. Aku tak sabar melihat Ponakanku" Alvin sumringah.


"Hmm, doakan saja lahirannya lancar"


Alvin mengangguk.


"Apa bibi sudah diberitahu bang?"


"Sudah, dia yang menemani Tania didalam. Tadi aku menyelesaikan urusan di IGD.


"Oh, aku ketempat ayah dulu, Nanti aku menyusul ke ruang bersalin.


"Saya duluan ya" Alzyan pamit pada dua orang itu. Dia bergegas berjalan menuju ruang bersalin.


*****

__ADS_1


__ADS_2