Cinta Buat Kanaya

Cinta Buat Kanaya
Kelebihan Nabila


__ADS_3

Pagi pagi sekali Tania sudah memasak sarapan buat suaminya. Kali ini dia memasak shakshuka kesukaan suaminya. Sementara tadi suaminya tertidur kembali setelah solat subuh, hal yang tak pernah dilakukan suaminya sebelumnya.


"Mas Zy kok belum turun ya, biar kulihat dulu keatas. Bibi siapkan saja dulu diatas meja makan"


Tania pergi kekamarnya dilantai dua, rupanya suaminya baru selesai berpakaian. Nampak gagah sekali dengan kemeja dan dasinya.


"Mas, biar kurapikan"Tania merapikan dasi suaminya, Alzyan memasang sendiri tadi ketika Tania masih didapur. Saat Tania merapikan dasinya Alzyan mencuri ciuman dikening istrinya.


"Mas" Tania mendongak menatap suaminya.


"Iya.." Alzyan menatap mata Tania.


"Mengapa mas istikharah malam tadi?"


"Penasaran ya, yang jelas ini adalah suatu keputusan besar dalam hidup mas. Yang akan menentukan masa depan keluarga kita. Mas telah membuat keputusan itu dengan mantap"


"Apa itu?"


Tert tert


Alzyan mengambil ponsel dari saku celananya, ternyata panggilan dari Affandi.


"Ada apa Fan?"


"Tuan jangan lupa jama 8 ini kita ada rapat staff"


"Ya saya ingat"


"Baiklah tuan" Affandi memutuskan sambungan.


"Nia, mas harus segera kekantor, 30 menit lagi staf meeting. Masukkan saja kekotak bekal sarapan buat mas"


"Baiklah"


"Hhh, aku ketiduran tadi sehabis subuh" gerutu Alzyan. Malam tadi Alzyan kurang tidur, Karena dia masih sangat mengantuk dia pun ketiduran sehabis subuh.


Setelah memasukkan sarapan kekotak bekal, Tania mengantar suaminya sampai kedepan. Mencium tangan suaminya lalu menyerahkan kotak bekal itu. Alzyan pun pamit pergi kekantor.


Aku penasaran keputusan besar apa itu yang telah dibuat mas Zy.


***


Nabila terus menggenggam tangan ayahnya, niqabnya telah basah oleh air mata. Ayahnya terbaring lemah di ranjang rumah sakit.


"Bila, bersabarlah nak. Ayahmu nanti akan sehat kembali" Diana mengusap pundak keponakan suaminya itu. Berarti keponakan dia juga. Nabila sangat hancur, baru saja dia kehilangan suaminya sekarang kondisi kesehatan ayahnya juga memburuk. Dia sangat rapuh.


"Bibi, aku takut ayah meninggalkanku, aku tak siap harus kehilangan lagi" Nabila menangis terisak.


"Jangan menangis lagi, paman akan mengusahakan yang terbaik buat ayahmu. Jika rumah sakit JMC ini tak sanggup ayahmu akan dirujuk kerumah sakit yang lebih bagus"


"Terimakasih Paman"


Drett, terdengar suara pintu didorong. Alzyan muncul dari balik pintu.


"Bagaimana kondisi paman, kenapa tiba tiba memburuk?"


"Mungkin ayah kelelahan, setelah perjalanan dua kali bolak balik dari Pekan Baru ke Jakarta dan menghadiri resepsi pernikahan Kak Rendy kemaren." Nabila menjelaskan.


"Seharusnya paman istirahat saja, tak usah bekerja dan tak usah melakukan perjalanan jauh"


"Seharusnya begitu" Ucap Nabila membenarkan.


"Hmm, sudah ada Alzyan disini sebaiknya kami pulang. Jadwal makan obat kami sebentar lagi"


"Tapi bi" Nabila menarik tangan bibinya. Nabila merasa tak enak harus berdua saja dengan Alzyan. Sementara ayahnya masih belum sadar.


"Jika kau tak nyaman, aku akan pulang biar Tania saja yang menemanimu disini. Lagian aku tak bisa lama karena aku akan bertemu klien setengah jam lagi"

__ADS_1


"Itu lebih baik bang" ujar Nabila.


"Hmm, sebaiknya kalian segera menikah. Agar kalian bisa leluasa berdua"


"Ayah?" Alzyan menatap ayahnya tak mengerti.


"Agar kau bisa menjaga Nabila. Akan ayah suruh Affandi mempersiapkan segala sesuatunya. Besok Ijab Qabul akan dilaksanakan"


Nabila tersenyum dari balik Niqabnya, mukanya merona karena bahagia. Karena sebentar lagi dia akan menjadi istri laki laki yang dikaguminya selama ini. Alzyan.


"Tapi yah, Tania belum tahu semua ini"


"Segeralah beritahu Tania, ibumu akan membantu menjelaskan"


"Ayah?" Diana menatap tak percaya pada suaminya.


"Alzyan kau hubungi Tania untuk segera kerumah sakit, menemani Nabila disini"


Alzyan mengangguk


Akankah begini akhirnya, akankah aku menjalani poligami ini. Apakah aku bisa adil pada kedua istriku nanti?. Aku takut tak bisa mencintai Nabila seperti aku mencintai Tania dan aku juga takut akan melupakan Tania karena kecantikan Nabila.


"Titip Ali ya bi, nanti sampaikan pada Rahma aku malam ini menginap dirumah sakit"


"Baiklah, kami permisi"


Alzyan dan Nabila mengangguk. Alzyan menghubungi istrinya agar segera kerumah sakit.


Alzyan menatap tubuh ringkih paman Omar, tak sekalipun dia melirik pada Nabila. Dia selalu menundukkan pandangannya terhadap perempuan yang sebentar lagi akan jadi istrinya. Madu dari istri pertamanya. Alzyan tahu Nabila sangatlah cantik, masih kecil saja dia sudah sangat cantik.


Aku sebentar lagi akan menjadi istrimu, aku akan mengabdikan hidupku untukmu. Aku yakin kau akan mencintaiku seperti kau mencintai Tania


Nabila berbunga bunga, dia seakan menemukan semangat baru dalam hidupnya yang telah lama meredup.


Sekitar dua puluh menit kemudian, Tania sampai didepan pintu. Mengucapkan salam. Nabila dan Alzyan menjawab salam itu, dan Nabila membukakan pintu.


"Kau sudah datang, temani Nabila disini. Dia butuh ditemani, hiburlah dia"


"Makanlah jika sempat"


Alzyan mengangguk, lalu dia mendekati istrinya dan mencium kening istrinya. Nabila menoleh kesamping tak ingin melihatnya, ada terbersit iri dihatinya.


"Jaga dirimu jaga anak kita, nanti sore mas jemput"


"Iya pergilah, katanya sebentar lagi kamu harus ketemu klien"


Alzyan membalikkan punggungnya pergi, Tania melambaikan tangannya.


***


"Kamu yang sabar ya mba, aku tahu rasanya kehilangan. Aku sudah kehilangan ayah dan ibuku saat aku berusia 6 tahun"


"Oh ya, kamu yatim piatu?"


"Iya, aku dirawat oleh pamanku"


"Benarkah yang kau bilang kemaren, kau menikah dijodoh dengan bang Alzyan?"


"Benar, tapi kami saling mencintai. Mas Zy sangat menyayangiku"


"Manis sekali, aku juga ingin punya keluarga yang harmonis seperti kalian"


"Menikahlah kembali mbak"


Nabila membuka kain penutup wajahnya, karena sudah tak ada laki laki bukan muhrimnya diruangan itu.


"Wow, kau sangat cantik mbak"

__ADS_1


"Hmm, kau juga cantik Tania"


"Tentu saja mba Nabila lebih cantik dariku kemana mana mba, dari hidung saja aku sudah kalah. Hehe"


"Ada ada saja kau ini Nia,"


Dia wanita yang sangat baik, wajar saja bang Alzyan sangat mencintainya. Aku akan menjadi madu yang baik untuknya nanti


"Hmm, mba. Aku sebenarnya juga ingin seperti mba pakai Niqab. Tapi apa nggak panas mba?"


"Tidak, malah adem. Kau akan terbiasa setelah mencobanya."


"Aku baru saja berhijab 5 bulan ini, pelan pelan aja kali ya mba, aku akan belajar ilmu agama lebih banyak lagi"


"Bagus Tania, belajarlah yang banyak ilmu agama, karena kita akan menjadi ibu yang akan mendidik anak anak kita. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak anaknya"


"Hmm, mba dulu sekolah dimana?"


"Mba, 6 tahun di pondok pesantren di Pekan Baru. Lalu mba menimba ilmu di Kairo selama 7 tahun"


"Wow, pasti Mba banyak sekali ilmunya. Aku iri mba"


"Kamu juga bisa kalau kamu mau belajar, tak ada kata terlambat untuk belajar"


"Benar mba. Mba sudah S2 ya, ku masih D3 loh mba, Kebidanan." Tania agak merasa rendah diri menyebut pendidikannya.


"Wow, kau seorang bidan. Aku salut dengan profesi bidan. Seorang bidan sangatlah lembut, dia juga penyelamat para wanita"


"Ah mba, ada ada saja. Allah yang menyelamatkan mereka lewat tangan kami mba"


Tania semakin terkagum dengan Nabila, selain cantik ternyata dia juga berpendidikan tinggi. Dan sangat menghargai orang lain. Terbukti dia tidak sombong dengan segala kelebihannya. Tania menatap Nabila tak berkedip.


"Kenapa menatapku seperti itu?"


"Mba sih cantik pakai banget hehe, aku rasanya melihat bidadari turun dari langit"


Nabila akhirnya tertawa mendengar guyonan Tania, dan dia menggeleng geleng kepalanya.


"Ada ada saja, kau tak sadar sebenarnya kau tak kalah cantiknya. Cuma beda versi aku cantik ala arab dan kau cantik ala Indonesia."


"Dan kita sama sama cantik ya mba?"


"Istigfar Tania" Nabila menasehati.


"Astagfirullahhalladzim, narsis kali aku ya. Astagfirullahhalladzim".


Nabila tersenyum, kali ini dia yang terpana menatap Tania.


"Kenapa mba" Tania mengibas ngibaskan tangannya didepan mata Nabila.


"Aku merasa cocok berteman denganmu"


"Aku rasa juga begitu mba, aku merasa dapat saudara perempuan"


"Kau mau menjadi saudaraku?"


"Kenapa tidak mba, aku bisa belajar banyak dari mba"


"Hmm.." Nabila menghela nafas.


"Aku merasa sangat berat menceritakan ini padamu, tapi bagaimanapun aku harus memberitahumu."


"Memberitahu apa itu mba?"


"Aku merasa tak adil jika kau tahu setelah semua terjadi, mengenai kau aku dan Alzyan"


"Maksud mba apa?"

__ADS_1


Nabila sejenak terdiam, bingung bagaimana cara memberitahu Tania bahwa dia akan menikah dengan Alzyan besok. Sementara Tania menunggu Nabila melanjutkan perkataannya.


*****


__ADS_2