
Kedua mertuanya sudah pergi, Tania beranjak dari sofa hendak kembali kekamar.
"Kali keduanya aku mengizinkan mas Zy menikah lagi, kemaren memang Karena aku salah paham. Tapi kali ini mertuaku sendiri yang meminta izin dariku"
Air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya jatuh juga, pertahanan Tania habis sudah. Dia tak mampu lagi berpura pura kuat. Sambil menangis sesegukan dia berlari menaiki tangga.
"Nyonya, hati hati jangan berlari !" Bi Harti cemas dengan keadaan nyonya mudanya, dia tahu sepertinya Tania dalam masalah. Namun dia tak berani ikut campur.
"Ada apa lagi ini, kenapa setelah tuan dan nyonya besar pulang nyonya muda jadi menangis, hhh" Harti menggeleng geleng kepalanya.
"Lindungilah nyonya muda ya Allah"
Sementara didalam kamar, Tania menumpahkan tangisnya diatas bantal. Sungguh dia tak bisa pura pura tegar.
"Kau boleh saja menikah lagi mas, tapi jangan harap kamu bisa beristri dua. Masih seperti yang dulu, aku belum siap di madu. Biar aku saja yang pergi"
Tiba tiba Tania merasa perutnya sakit, terasa mules. Dia lalu kekamar mandi. Tak lama dia keluar lagi.
"Alhamdulillah sudah hilang sakitnya" Tania berbaring kembali diatas ranjang. Dia memejamkan matanya, tubuhnya dan hatinya sangat lelah.
Namun hanya beberapa menit terpejam, perutnya terasa sakit kembali menjalar ke pinggang.
"Astagfirullah, ini kontraksi. Aku harus segera ke rumah sakit. Mungkin ada obat peredanya" Tania cemas sekali, dia takut kontraksi rahimnya semakin kuat. Bayinya tak boleh lahir secepat ini, karena kehamilannya baru 29 Minggu.
Tania menelpon bi Harti, agar membantunya kerumah sakit. Tak lama dia sudah dalam perjalanan kerumah sakit ditemani bi Harti dan diantar oleh pak Indro.
"Tuan Alzyan sudah dihubungi belum nyonya?"
"Belum, dia lembur. Nanti jika aku sudah diobati dokter saja baru memberitahu mas Zy"
Aku juga harus membiasakan diri hidup tanpa mas Zy, mulai besok aku sudah harus berbagi suami. Dan setelah bayi ini lahir aku juga akan membawanya jauh dari kehidupan mas Zy. Seperti katanya kala itu, dia tak ingin anak ini dirumahnya. Rupanya benar kata kata itu adalah doa, dulu dia yang tak menginginkan anak ini dan sekarang aku yang akan membawanya jauh.
Tania sudah ditangani dokter di IGD, dia dianjurkan dirawat di ruang perawatan kebidanan.
"Tuan Alzyan dimana nyonya, kami butuh tanda tangannya" seorang tenaga admisi menanyakan suami Tania.
"Dia belum datang, apa harus sekarang. Bisakah nanti saja, soalnya suami saya lembur malam ini"
"Oh begitu, besok juga tak apa nyonya" Admisi itu tersenyum ramah. Brankar lalu didorong oleh perawat keruang perawatan.
"Nyonya, sepertinya itu tuan Alzyan. Dia berlari lari kearah sana" Bi Harti menunjuk ke suatu arah.
__ADS_1
"Biarlah, dia mungkin mau menjenguk paman Omar. Nanti biar saya beritahu kalau saya sudah diruang rawat kebidanan"
Setelah sampai di ruang perawatan, Tania meminta bi Harti untuk pulang saja.
"Bi, bibi pulang saja. Besok mas Zy banyak acaranya. Tolong bibi siapkan sarapannya dan keperluan lainnya jika dia meminta"
"Memangnya tuan tak menunggui Nyonya malam ini ?"
"Entahlah, walaupun dia menungguiku tapi Acara besok tetap harus jalan, bibi uruslah keperluannya"
"Baiklah nyonya, tapi siapa teman nyonya disini?"
"Aku tak apa bi, Bidan disini temanku semua. Aku akan beritahu mas Zy jika aku dirawat disini"
"Baiklah, aku permisi nyonya"
Tania mengangguk dan tersenyum.
***
"Zy kebetulan kau datang, pamanmu sudah siuman" Akmal menggamit tangan putranya untuk masuk.
"Apa sebaiknya pernikahannya dipercepat saja, mengingat kondisi Omar"
"Tunggu ayah, karena paman sudah siuman, aku ingin menyampaikan maksudku pada paman"
"Silahkan Zy" Ujar Omar pelan, dia kelihatan masih lemas.
"Baiklah, paman maafkan aku. Aku menolak perjodohan ini, aku tak bersedia menikahi Nabila"
Semua mata memandang Alzyan, tak percaya Alzyan ternyata menyampaikan hal itu.
"Tidak bang, jangan begitu. Tania sudah mengizinkan kita menikah." Nabila berusaha mengubah pikiran Alzyan.
"Aku saja belum memberitahunya bagaimana mungkin dia mengzinkanku menikah?"
"Bibi Diana yang memberitahu, benar kan bi?"
"Benar, tapi jadi apa tidaknya kalian menikah keputusannya tetap pada Alzyan."
"Tak bisa seperti itu, teman temanku sudah banyak yang tahu aku akan menikah besok. Jika alasan Abang tak mencintaiku ketahuilah aku tak butuh cintamu bang, aku hanya butuh suami yang melindungiku". Mata Nabila mulai berkaca kaca.
__ADS_1
"Maafkan aku Bila, tapi Abang benar benar tak bisa melakukan pernikahan ini. Aku takut tak bisa adil, walaupun istriku mengizinkan, bukankah seorang laki laki dituntut harus adil jika berpoligami?"
"Nabila, maafkan Abang" Alzyan mencoba menatap Nabila untuk meminta maaf dari wanita itu.
"Tapi apa masalahnya Alzyan, istrimu sendiri sudah mengizinkan. Paman yakin kau bisa adil walaupun awalnya mungkin tidak. Paman sangat berharap banyak padamu Alzyan"
"Tania mungkin memang sudah mengizinkan, dia memang selalu mengalah. Seperti dulu dia juga mengalah dan mengizinkanku menikahi Maysa"
Semua mata menatap Alzyan
"Mengizinkanmu menikahi Maysa ?" Tanya Diana penasaran.
"Waktu itu ayah terbaring koma, dan ibu struk. Perusahaan dalam masalah besar dan terancam bangkrut. Gunawan menawarkan bantuan dengan syarat aku menikahi Maysa. Dan dengan besar hati Tania mengizinkan aku menikahi Maysa. Dia mengharapkan ayah sembuh setelah mendengar kabar pernikahanku dengan Maysa. Dia melakukannya demi perusahaan ayah, dia tak ingin usaha yang telah ayah besarkan hancur begitu saja dan tinggal kenangan"
"Lalu apa yang terjadi?" Akmal yang juga penasaran akhirnya ikut bertanya.
"Tania mengizinkan aku menikah, namun dia tak siap dimadu. Tak hanya itu aku juga sudah menuduh dia telah hamil duluan sebelum menikah denganku hanya karena usia kehamilannya lebih daripada usia pernikahan kami. Ibu kan perawat, tentu ibu paham kan tentang kapan pembuahan terjadi. Alzyan melirik ibunya.
"Bodoh sekali kau mengira cucuku bukan anakmu, cckk kenapa bodoh sekali kau Zy ? Dan kenapa pula Tania tak pernah menceritakan ini padaku, hhh" Diana terlihat sangat kesal.
"Ya aku sangat bodoh bu, Tania penuh perjuangan membuktikan bahwa anak dalam rahimnya adalah darah dagingku. Tapi aku tak pernah mempercayainya hingga dia lelah dan dia melarikan diri ke Jambi. Dia menjadi bidan kontrak disana. Bayangkan betapa menderitanya dia hamil muda seorang diri. Untunglah akhirnya aku tersadar, aku sangat hancur kehilangannya. Aku mencarinya kemana mana, tapi Tuhan masih mengizinkan kami bersama, akhirnya aku menemukannya. Air mata Alzyan jatuh, dia tak mampu lagi menahannya.
"Aku sudah sangat kejam padanya, aku banyak salah pada Tania namun dia tak pernah menceritakan aib aku suaminya pada siapapun. Beruntung aku dimaafkannya, aku tak ingin lagi menyakitinya dengan pernikahan ini" Alzyan pun menangis terisak.
Airmata berlinang di pipi Diana mendengar cerita puternaya. Sementara Akmal termenung, dia merasa sangat bersalah pada menantunya itu.
Tania maafkan ayah nak, ayah sangat egois. Ayah tak tahu diri. Kamu telah banyak berkorban demi ayah, tapi apa yang telah ayah perbuat padamu.
"Maafkan aku bang, aku yang meminta pada ayahku untuk menikahkanku denganmu. Aku tak apa jika Abang membatalkan pernikahan ini"
"Kamu tak salah Bila" wajar jika seorang wanita minta dinikahkan dengan laki laki yang dicintainya. Percayalah kau akan mendapatkan laki laki yang jauh lebih baik dari Abang"
Nabila mengangguk, dia menyeka air matanya. Dia sangat menyesal karena dirinya, dia hampir menghancurkan pernikahan Alzyan dan Tania.
"Alzyan pulanglah kerumah" Diana menghampiri putranya.
"Ibu tahu Tania sedang tidak baik baik saja, tadi dia memang kelihatan tegar, tapi ibu yakin dia menyembunyikan rasa sakitnya"
"Alzyan temui istrimu, jangan sampai dia pergi lagi seperti waktu itu" Akmal menepuk pundak putranya. Dia sangat menyesal telah memaksakan kehendaknya pada Alzyan dan Tania.
*****
__ADS_1