Cinta Buat Kanaya

Cinta Buat Kanaya
Kecelakaan Tragis


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju restoran Bunda, Tania ******* ***** jemarinya. Dia memang gugup, sesekali dia melirik ke jendela, diluar gerimis. Hari ini dia dan sang suami berjanji ketemu seorang dokter guna memberi penjelasan masalah kehamilannya pada suaminya Alzyan. Dokter itu mengajak ketemu di sebuah restoran, Alzyan sudah mereservasinya.


Tanpa sepengetahuan Tania, Alzyan telah mencari informasi melalui temannya Ryan siapa kira kira dokter yang bisa menjelaskan semua itu, dan Ryan merekomendasikan dokter Samantha. Alzyan setuju karena dokter itu perempuan dan lagi pula teman baik Ryan.


"Kita sudah sampai" ucap Zy.


"Oh ehm, iya mas"


"Kau gugup? "


Tania tersenyum tipis, bukan gugup karena akan ketahuan anak dalam rahimnya bukan anak Alzyan. Buat apa dia mengkhawatirkan itu, sudah jelas jelas ini anak suaminya, dan dokter itu pasti akan menjelaskannya pada mas Zy. Tapi entah mengapa dia merasa gelisah dan cemas sedari subuh tadi. Rupanya Alzyan menangkap kecemasan istrinya itu.


Mereka berdua berjalan ke dalam restoran, tiba tiba ponsel Tania dan ponsel Alzyan berdering disaat hampir bersamaan. Mereka berhenti berjalan sejenak, dan meraih ponsel mereka.


"Assalamualaikum" Tania dan alzyan mengucapkan salam. Seseorang diseberang sana sedang berbicara sesuatu. Tania hampir saja menjatuhkan ponselnya, tubuhnya terasa lemas seketika.


"Mas.." lirih Tania menoleh pada suaminya.


"Nia, yang kau dengar itu pasti berita yang sama denganku. Nia kita harus batalkan janji kita"


"Iya mas" Air mata Tania sudah jatuh saja, dan dia sudah mulai terisak.


"Jangan menangis Nia, kau tenanglah" Alzyan membimbing tangan istrinya masuk kembali kedalam mobil.


"Mas, paman Danu sudah tiada. bagaimana bisa aku tenang". Isak tangisnya kedengaran semakin kuat.


Sambil membuka pintu mobil untuk Tania, Alzyan menelpon dokter Samantha untuk membatalkan janji. Tania kelihatan sangat terpukul dengan berita yang baru didengarnya, dalam perjalanan dia tak hentinya menangis.


Menurut kabar dari kepolisian, mobil yang dikendarai paman Danu mengalami kecelakaan, dan didalam mobil itu juga ada Tuan Akmal Karim ayah dari Alzyan. Danu meninggal di tempat dan Akmal karim dalam keadaan kritis, mereka dilarikan kerumah sakit Jaya Medica Center milik tuan Akmal sendiri.


Sampai dirumah sakit di IGD terlihat bibi Salma menangis, disampingnya berdiri Reza yang berusaha menenangkan ibunya. Tania dan Alzyan melihat jenazah paman Danu sedang diurus oleh beberapa orang perawat.


"Nia mas ke ruang ICU melihat ayah, kamu disini saja dulu ya " ucap Alzyan.


"Iya mas" Tania lalu menghampiri bibinya, dan memeluk bibi Salma.


"Bibi harus sabar.." Tania menggenggam tangan bibi Salma.


"Iya Nia, bibi sabar. Pamanmu orang baik, bibi yakin dia meninggal dalam keadaan husnul khotimah. Bibi hanya masih belum siap saja rasanya berpisah dari pamanmu"


"Ikhlaskan paman bi" Tania menghapus air mata bibinya.


"Iya Nia" Lalu bibi Salma memeluk keponakan suaminya itu yang sudah dianggapnya anak perempuannya sendiri.


"Bi, aku ke ruang ICU melihat ayah, nanti aku akan kerumah bibi juga"


"Iya Nia" Bibi Salma mengangguk. Tania bergegas ke ruang ICU, disana ayah mertuanya tidak sadarkan diri.


Tania mendekat, disana ada kak Rendy dan suaminya, mereka kelihatannya sedang membicarakan sesuatu.

__ADS_1


"Ini semua karena Danu, dia tidak teliti sebelum berangkat. Tidak memeriksa keadaan mobil" Ucap Rendy dengan gusar.


Degg jantung Tania berdesir, nama pamannya disebut sebagai penyebab kecelakaan itu.


"Sudah lah kak, tak usah dipermasalahkan. Ini sudah terjadi juga. Paman Danu juga sudah meninggal"


"Tidak bisa begitu Zy, lihat ibu juga terserang struk karena mendapat kabar ayah kecelakaan"


"Astagfirullah, ibu struk? " Tania membekap mulut dengan telapak tangannya, tidak percaya dengan yang baru didengarnya.


Alzyan yang menyadari kedatangan istrinya menoleh kearah pintu masuk.


Apa Nia mendengar pembicaraanku dengan Kak Rendy barusan ?


"Tania kau sudah dari tadi? "


"Baru sampai mas, bagaimana keadaan ayah mas? "


"Ayah kritis, dia koma. Ibu juga mengalami struk. Apa kau ingin melihat keadaan ayah dan ibu, mereka disana " Alzyan menunjukkan bed pasien.


"Astagfirullah. Ya Allah sembuhkanlah ayah dan ibu". Mata Tania berkaca kaca, dia dibimbing oleh suaminya mendekati tempat tidur ibu Diana dan ayah Akmal yang berdampingan.


"Hhh gara gara pamanmu Tania, kenapa dia ceroboh sekali !" gumam Rendy tak terdengar. Dia berlalu meninggalkan tempat itu, banyak sekali masalah yang harus diselesaikannya. Belum lagi sekarang rumah sakit sedang dalam masalah besar, Alzyan malah tidak mau tahu tentang rumah sakit dan perusahaan.


Tania menggenggam tangan ibu mertuanya, lalu mencium tangan yang terasa lembut itu.


"Cepat sembuh ayah, maafkan paman Danu ayah" hik hik..


"Sst, Nia ini kecelakaan bukan salah paman Danu" Alzyan mengusap usap punggung istrinya yang terisak.


"Tapi pamanlah sopirnya"


"Sudahlah Tania, doakan saja ayah dan ibu lekas sembuh"


"Iya mas" Tania mengangguk.


Lama mereka disana, akhirnya Tania pamit pada suaminya.


"Mas, aku mau kerumah paman Kata bibi Paman akan dimakamkan sore ini juga."


"Oh iya, biar mas antar kamu kesana"


"Nggak usah mas disini saja jaga ayah dan ibu"


"Tapi kamu pakai apa kesana? "


"Aku sama Reza mas, dia sekarang masih di UGD"


"Oke, nanti mas menyusul langsung ke TPU saja"

__ADS_1


"iya mas, Nia pergi ya mas" pamit Tania sambil mengusap air matanya yang masih saja jatuh.


Tak lama setelah kepergian Tania, Ryan datang bersama seorang perempuan. Mereka menghampiri Alzyan.


"Bagaimana kabar om Akmal ?" Tanya Ryan.


"Masih kritis, ibu juga terserang struk"


"Oo bibi Diana juga disini, sabar ya alzyan. Ini ujian berat buatmu" Ryan menepuk nepuk bahu sahabatnya itu.


"Iya Ryan, terimakasih sudah kesini"


"Oh ya kenalkan ini dokter Samantha yang tadi janjian sama kamu"


Samantha mengulurkan tangannya, Zy menyambut uluran tangan dokter itu.


"Kalian bisa melanjutkan pertemuan tadi yang tertunda, kurasa bisa kan Samantha? "


"Hmm, boleh. Kita bisa duduk disana saja" Samantha menunjuk kursi tunggu. Alzyan dan Samantha lalu duduk di kursi tunggu yang panjang.


"Pak Alzyan tadi menemui saya mau bicara masalah apa ya? "


"Emm, begini dok" Alzyan menautkan jari jari kedua tangannya, dia bingung mulai cerita dari mana.


"Panggil Samantha saja" Dokter Samantha tersenyum ramah.


"Oke, begini Samantha. Aku menikah dengan istriku tanggal 5 maret, dan tanggal 29 maret aku menemaninya USG, dokter Susan bilang usia kehamilannya sudah 5 minggu 2 hari. Bukankah seharusnya baru 24 hari, jika memang waktu pertama kali kami melakukannya istriku langsung hamil ? "


Samantha tersenyum kecil mendengarnya, dia menarik nafasnya sebelum memulai ucapannya.


"Samantha, jelaskan sebaik baiknya jangan sungkan dengan Alzyan." Ryan yang berdiri tak jauh dari mereka menoleh kearah Samantha. Lebih tepatnya mengawasi.


"Hmm baik Ryan" Samantha mengangguk.


"Menurut penjelasan kamu tadi, seharusnya usia kehamilan istrimu memang 24 hari atau 3 minggu. Ehmm, apa mungkin anda dan istri sudah pernah melakukannya sebelum itu ? "


"Begitu ya Samantha, ehmm kurasa aku tidak perlu cerita lebih jauh lagi tentang saya dan istri saya. Saya sudah mengerti penjelasan anda".


Samantha tersenyum kecil, " baiklah, kalau ada yang mau ditanya silahkan"


" Tidak Samantha" Alzyan menggeleng.


"Ryan. Kami sudah selesai, bisa antar aku pulang. Sebentar lagi jam praktekku dimulai"


"Baiklah, kami pamit ya zy"


Alzyan mengangguk. Selepas kepergian kedua orang itu Alzyan menangkupkan kedua tangannya dikepalanya, lalu mendesah kesal. Matanya berkaca kaca. Dia berdiri ingin rasanya berteriak kencang tapi dia berada di ICU.


*****

__ADS_1


__ADS_2