
Tania mengatur nafasnya, menghirup dari hidung dan membuangnya pelan dari mulut. Mulutnya tak beherhenti berdzikir. Sesekali dia menutup matanya meringis menahan sakit yang semakin kuat saja. Suaminya sedari tadi setia menunggunya dan memijat pinggangnya.
"Sakit benar ya, apa kamu sanggup lahiran normal?".
"Insya Allah mas, ini sudah bukaan 7. Sebentar lagi anak kita lahir mas. Mas jangan mengkhawatirkanku".
Istriku ini memang kuat, disaat dia berjuang melahirkan anak kami malah dia yang menenangkan pikiranku.
Satu jam berlalu, rasa sakit bertambah kuat. Dokter Susan melakukan pemeriksaan dalam karena telah dilihatnya tanda tanda ingin mengedan dari Tania.
"Pembukaan lengkap, sekarang kamu boleh mengedan". Dokter Susan dibantu oleh bidan memimpin Tania mengedan. Alzyan tak henti berdoa dalam hati. Dan dia terus memberi semangat kepada istrinya.
"Semangat sayang, ayolah lebih kuat lagi. Itu sudah kelihatan sedikit".
Alzyan mengusap rambut istrinya. Tania mengangguk, dia terbilang ibu yang cukup tenang menghadapi persalinan anak pertama. Dia tidak teriak teriak dan tak menarik narik tangan suaminya apalagi sampai menjambak rambut sang suami.
Tania berpegang kuat pada pahanya dan melakukan istruksi dokter Susan, dan setelah tiga kali mengedan yang panjang lahirlah bayi kecil ke dunia. Suara tangisnya menggema. Seketika itu rasa sakit dan lelah sang ibu hilang semua terbayar sudah dengan mendengar tangis kencang sang buah hati.
"Perempuan, tak ada cacat, segera menangis" Ucap dokter Susan sembari tersenyum.
"Alhamdulilah" Alzyan dan Tania sangat bersyukur. Alzyan mengecup kening sang istri. Sementara bidan mengurus sang bayi, dokter Susan masih menangani Tania sampai selesai.
"Bayinya boleh diadzankan Tuan", kata seorang bidan.
Setelah mengadzankan, Alzyan memandang takjub wajah sang bayi Kanaya. Matanya besar hidung mancung, mirip seperti dirinya. Namun bibir dan dagu sama persis seperti Tania. Dada Alzyan terasa sesak penuh rasa sesal, dulu dia sempat meragukan darah dagingnya itu.
Alzyan menitipkan kembali bayi Kanaya pada bidan. Alzyan permisi dengan istrinya untuk keluar, karena yang diluar sudah tak sabar.
Diluar telah menunggu Diana, Akmal, Nabila, bibi Salma, Reza, dan tak ketinggalan paman si bayi, Alvin.
Diana dan Akmal masuk kedalam untuk melihat cucu mereka. Diana menggendong cucunya, Akmal mendekat untuk melihat cucunya. Mata laki laki gagah itu terlihat berkaca kaca memandangi cucunya.
"Kau sangat cantik" Akmal mengelus pipi sang cucu.
"Maafin Kakek, kau dan ibumu menderita karena kakek. Padahal ibumu sudah banyak berkorban demi kakek".
Tania mendengar perkataan ayah mertuanya, dia merasa tak enak.
"Ayah, kami tak apa. Ayah jangan bersedih. Yang penting semuanya sudah naik baik saja"
__ADS_1
"Maafkan ayah nak, kau sungguh istri yang sangat baik buat Alzyan. Ayah janji tak akan mencampuri rumah tangga kalian lagi. Ayah berdosa padamu" Akmal meraih tangan Tania lalu berjongkok di sisi ranjang. Matanya memerah.
"Bangun ayah, Ayah tak perlu minta maaf, ayah adalah ayahku juga." Tania menatap suaminya memberi kode.
Alzyan lalu membimbing ayahnya agar bangun kembali.
"Sudahlah, Tania pasti sudah memaafkan ayah. Lagipula Dia tak pernah menganggap itu kesalahan ayah. Benarkan sayang?"
Tania mengangguk sembari tersenyum.
***
Tania dan bayinya sudah diperbolehkan pulang semenjak dua hari yang lalu, karena persalinan normal dan bayi sehat mereka hanya dirawat satu hari saja.
Tania menyusui sendiri baby Kanaya. Awalnya ASI Tania tidak begitu deras, tapi hari ini cukup banyak. Tak lepas dari support suaminya, dia juga diberikan makanan bergizi yang bisa memperbanyak ASI. Bi Harti sampai sampai harus mempelajari apa apa saja makanan yang baik untuk ibu menyusui.
Takut istrinya kelelahan mengurus baby Kanaya, Alzyan mempekerjakan baby sitter untuk membantu mengurus bayi mereka.
"Kak Nina, Kanaya sudah tidur taruh saja di box bayi"
"Baik nyonya" Karenina lalu mengambil alih baby Kanaya, dia menaruhnya dalam box bayi dengan hati hati.
Karenina adalah seorang wanita berusia 35 tahun. Tania memanggilnya kakak. Dulunya dia seorang perawat bayi dirumah sakit JMC.Tapi sekarang dia lebih memilih jadi Baby sitter saja. Dia akan datang jam enam pagi dan pulang jam 5 sore. Malam hari Alzyan ingin ikut andil dalam mengurus Kanaya.
"Boleh, jangan terlalu banyak. Takutnya asam lambung nyonya naik karena asam cukanya."
"Iya kak, aku cicip sedikit saja" Tania mengangguk.
Karenina lalu pamit, Tania pun berbaring ditempat tidur. Punggungnya agak terasa pegal setelah lama duduk menyusui. Tak lama suaminya pun muncul di pintu kamar .
" Apa kabar anak gadis Abi ?" Alzyan mendekati box Kanaya.
"Mimik susunya banyak bi" Kanaya tersenyum.
"Cepat besar donk kalau gitu, mimik langsung sama umi apa masih botol?"
"Langsung, pintar sekali bi anak kita"
"Woaah, ya iyalah anak Abi" Alzyan tersenyum bangga.
__ADS_1
Alzyan lalu membersihkan dirinya dikamar mandi, setelah selesai dia lalu mengganti pakaiannya dengan jeans pendek warna biru dan oblong putih. Alzyan berdiri didepan kaca rias, menyisir rambutnya yang basah.
"Capek ya hari ini?"
"Iya mas" menghela nafas.
"Nanti mas pijitin ya"
"Nanti malam saja mas, tolong bawain pempek saja buatku. Tiga potong saja mas"
"Oke, siap nyonya Alzyan" Alzyan lalu keluar kamar untuk menunai perintah istrinya. Semenjak punya anak, dia semakin perhatian dengan sang istri.
Tania lalu menikmati pempek idamannya, sudah melahirkan pun dia masih mengidam.
"Hmm mas, apa setelah ini kita akan pindah ke Pekan Baru?"
"Rencananya iya, tunggu Naya sudah 40hari saja. Apa kau keberatan. Jika keberatan mas Tak apa menunggu kau siap buat pindah "
"Aku menurut saja mas, aku akan ikut kemana kamu mas"
Alzyan mengangguk, bersyukur sekali dia mempunyai istri yang penurut.
***
Malam harinya
Alzyan mengambil alih Kanaya dari istrinya, karena bayi mungil itu sudah kenyang, namun belum tertidur juga.
"Kamu istirahat saja, biar mas yang menidurkan Kanaya"
"Iya mas" Tania berbaring istirahat, dia tersenyum simpul memperhatikan suaminya yang mendendangkan solawat sambil mengayun Kanaya. Beruntung dia punya suami yang pengertian.
Kanaya sudah terpejam, pelan pelan Alzyan menaruh putri kecilnya kedalam box bayi dan menyelimutinya.
"Sekarang giliran umi Kanaya" Alzyan duduk diatas ranjang disamping Tania, dia memijat sang istri, Tania menikmatinya. Tubuhnya yang pegal pegal terasa enakan. Perlahan mata Tania terpejam karena merasa rileks mendapat pijatan lembut dari suami.
Tania pun tertidur, Alzyan menghela nafas meregang otot ototnya. Di tatapnya wajah sang istri yang damai, wajah yang menyejukkan hati Alzyan. Ditatapnya Kanaya yang tertidur pulas dalam box bayi, bayi mungil itu bernafas teratur. Dia persis seperti Tania, mulutnya terbuka sedikit. Alzyan tersenyum.
Lengkap sudah hidupku, aku punya istri yang taat pada suami, shalihah, dan menyenangkan jika dipandang. Aku punya anak perempuan yang cantik, semoga dia akan jadi wanita yang shalihah. Lengkap sudah nikmat Tuhan padaku.
__ADS_1
Alzyan menyibak anak rambut sang istri, lalu dia mencium keningnya. Alzyan berbaring lalu memeluk istrinya, menghirup wangi tubuh Tania yang menjadi aroma terapi menenangkan baginya.
*****