Cinta Buat Kanaya

Cinta Buat Kanaya
Bahagianya Tania


__ADS_3

Alzyan berjalan sambil merangkul pinggang Tania dengan erat disepanjang koridor rumah sakit, seakan ingin menunjukkan pada semua orang bahwa wanita disampingnya ini adalah miliknya.


Beberapa orang perawat yang kebetulan lewat menyapa Tuan dan nyonya ini, mereka menunduk memberi hormat. Sebenarnya Tania malu jika seseorang menyapanya dengan menunduk hormat, tapi sepertinya dia harus terbiasa dengan hal ini. Suaminya adalah putra dari pemilik rumah sakit ini.


"Ini kamar ibu" Mereka sudah sampai di depan sebuah kamar VVip.


"Aku salam ya mas"


"Barengan, Kita beri kejutan buat ibu" Keduanya lalu mengetuk pintu berbarengan.


"Assalamualaikum".


"Waalaikumsalam"


Alzyan dan Tania masuk, karena pintu tak dikunci. Tania memberi senyum termanisnya ketika pintu terbuka. Ibu Diana terperangah, dia tersenyum lebar melihat kedatangan Tania.


"Taniaa"


"Ibuu" Tania berlari menghambur memeluk sang ibu mertua.


"Tania, kamu kemana saja nak. Kamu baik baik saja kan. Kenapa tak pernah datang melihat ibu. Ibu kangen sekali sama kamu" Diana mengelus pipi Tania.


Tania tak dapat menahan air matanya. Ternyata mertuanya sudah sangat merindukannya.


"Maafkan Nia Bu hik hik"


"Tak apa, eh jangan menangis. Cucu ibu bagaimana. Nggak nakal kan?"


"Cucu ibu baik baik saja Bu, dia anteng kok. Ngga nakal" Jawab Alzyan.


Rendy menatap Alzyan, seakan ingin penjelasan dari Alzyan. Alzyan mengerti kode itu.


"Kak Kita keluar saja dulu, biarkan ibu dan Tania melepas rindu."


Sebelum kerumah sakit, Alzyan sudah mengingatkan pada Tania agar tidak menceritakan perihal dirinya yang kabur ke Jambi. Tania setuju demi kesehatan ibu juga.


Alzyan dan Rendy duduk dikursi gandeng Stainles yang terletak diluar kamar.


"Coba kau jelaskan Zy, anak yang dikandung istrimu benar benar anakmu atau anak laki laki lain ?"


"Anakku kak,100 persen anakku"


"Jangan karena cinta kau jadi begini, kasihan ibu dan ayah."


"Kak, aku ayahnya. Sebelum ini aku bukannya tak mencari tahu siapa ayah anak itu. Awalnya aku juga sempat ragu bahkan sebelum Tania datang mengatakan aku bukan ayah dari anaknya akupun sudah lebih dulu curiga..."


"Tapi kenapa.." Rendy memotong pembicaraan Alzyan.


"Dengarkan aku dulu kak, kakak seorang dokter kakak pasti lebih paham dari aku."


"Maksudmu ?"


"Begini kak, usia kehamilan Tania lebih dari usia pernikahan kami. Awalnya aku tak mengerti walaupun Tania sudah menjelaskan secara teori kebidanan , dan aku tetap dengan pendapatku bahwa anak itu bukan anakku. Sehingga Tania sampai di titik sangat hancur dan kecewa ditambah lagi dia melihat kakak memarahiku waktu itu. Makanya dia mengizinkan aku menikahi Maysa tempo hari dan mengatakan aku bukan ayah dari anaknya. Semua itu demi ayah kak"

__ADS_1


"Hmm, jadi begitu. Kenapa kau tak tanya aku saja masalah itu. Jadi akhirnya darimana kau tahu anak itu darah dagingmu?"


"Kakak sangat sibuk, mana mungkin aku bercerita masalah itu pada kakak. Lagi pula waktu itu aku berpendapat hanya dokter Obgyn lah yang bisa menjelaskan, dan aku bertanya pada dokter Susan. Yah kurang lebih ceritanya begitu kak, yang jelas anak yang dikandung Tania adalah anakku"


"Syukurlah, Kuharap Tania bisa membuat ibu cepat pulih. Ibu sangat merindukannya"


"Semoga saja, Bagaimana kabarnya dengan masalah rumah sakit kak?


"Sudah aman, sudah diselesaikan secara kekeluargaan dengan pasien yang komplain"


"Mengapa bisa alat alat radiologi yang baru dibeli satu tahun ini jadi rusak ?"


"Sepertinya, memang alat itu alat alat bekas. Ada korupsi dalam pengadaan alat"


"Sudah diselesaikan ?"


"Sudah, aku tak mau ada benalu dirumah sakit ini"


"Kakak kelihatan kurus, diet ?"


"Hahh, tidak. Cuma tidak teratur makan dan terlalu sibuk"


"Makanya akhiri status jomblo mu kak, lamar mbak Ayu"


"Hmm"


"Biar aku bantu, biar aku yang hadapi ayah"


"Iya kak, apa kakak tak ingin punya anak. Seorang dokter spesialis anak tapi belum punya anak. Bagaimana ini, menikah saja belum"


"Zy, jangan meledek. Kupatahkan tanganmu !"


"Seorang dokter anak tapi lebih mirip aktor laga, haha" Alzyan bergegas menjauh, daripada tangannya benar benar dipatahkan oleh direktur rumah sakit JMC yang bertubuh tinggi besar itu.


"Mentang mentang sudah bisa menghamili perempuan, kalau nggak dijodohin kamu pasti bakalan masih jomblo juga. Dikejar kejar sama Maysa malah gemetaran" Rendy tersenyum mengejek.


"Hh Maysa terlalu agresif. Aku bukannya gemetaran, tapi hanya menjaga iman saja. Jika aku meladeni dia bisa bisa aku kebablasan"


Rendy mengangguk angguk, dia setuju.


"Malam tadi aku melihat Maysa mabuk berat di club , dia berteriak memanggil namamu. Ryan menggendongnya membawanya pulang"


"Oh ya ?"


"He ehh" Rendy mengangguk.


"Itulah sebabnya aku tak bisa mencintainya, padahal aku sudah mencoba. Dia susah diatur. Aku tak mau punya istri yang jiwanya terlalu bebas."


"Dia tak bisa move on darimu Zy"


"Iya kak, beberapa kali dia berusaha mengacau rumah tanggaku. Tania sempat terpancing olehnya, untunglah Tania akhirnya memilih percaya padaku. May bahkan berhijab hanya untuk menarik perhatianku saja, aku tahu itu."


"Berhijab ?, tapi malam tadi dia pakai hotpan"

__ADS_1


"Astagfirullah, dia mempermainkan hijabnya" Alzyan geleng geleng kepala, tak percaya yang dilakukan Maysa.


"Hh, untunglah kau menikahi Tania. Bukan Maysa"


"Iya kak, untung ibu cepat bertindak. Kalau tidak ayah pasti sudah melamar Maysa buat jadi istriku"


Ayah memang tak lagi ingin menjodohkanmu dengan Maysa, tapi sekarang dia menginginkan aku yang jadi suami Maysa.


"Aku kedalam ya kak"


"Iya, silahkan. Aku juga mau kembali keruanganku"


Tania dan Ibu Diana sedang berbincang bincang tentang kehamilan Tania, Diana sangat antusias namun lidahnya berbicara masih seperti anak yang cadel.


"Ibu nggak sabar ingin belanja buat keperluan cucu ibu, ibu mau belikan baju dan sepatu bermacam macam model"


"Tunggu hamilnya Nia sudah besar saja ya Bu, nanti setelah tahu jenis kelaminnya kita bisa belanja. Makanya ibu ikuti anjuran dokter, makan obat teratur biar ibu cepat pulih, bisa jalan lagi"


"Kaki ibu susah bisa digerakkan loh Nia"


"Alhamdulillah, harus sering dilatih itu Bu."


"Iya, Rendy bilang nanti setelah ibu pulang kerumah dia akan mengirim tenaga fisio terapi setiap hari kerumah"


"Iya Bu harus setiap hari diterapi juga, Aku juga akan setiap hari mengunjungi ibu"


"Makasih Nia, ibu tak punya anak perempuan. Ibu tak menganggapmu menantu, tapi ibu menganggapmu seperti anak sendiri. Ibu kesepian, para laki laki hanya kerja saja pikirannnya."


"Nanti kalau bayiku sudah lahir kita akan sering mengunjungi Omanya"


"Hmm, ibu tak sabaran mengajak kalian jalan jalan menghabiskan uang para laki laki yang gila kerja itu "


"Hh, ibu?"


"Habiskan saja Bu, nggak apa. kami kerja juga buat kalian. Lagi pula aku yakin kalian tak akan kuat untuk menghabiskannya" Alzyan tiba tiba masuk.


"Kau yakin kami tak bisa menghabiskan uangmu dan uang ayahmu?" Diana seperti menantang anaknya.


"Haha, Tania tak mengerti dengan barang branded. Kalau yang dibelinya jilbab seratus ribu dapat tiga, gamis harga dua ratus ribu uangku tak akan habis ibu"


"Ibu akan ajarkan dia cara menghabiskan uangmu" Diana melirik Tania sambil tersenyum licik.


"Wah, kalau begitu aku harus giat lagi mencari uang. Biar istriku bisa shoping barang barang branded"


"Ah ibu, aku tak tega menghabiskan uang suamiku. Aku juga tak mau kelelahan menghabiskannya"


"Nah ibu dengar sendiri kan ?. Istriku ini memang istri idaman" Alzyan melipat kedua tantan didadanya, dia membanggakan Tania.


"Kan pilihan ibu, huu" Diana mencibir putranya.


Tania merasa bahagia tak terkira, berkumpul lagi dengan keluarganya. Walaupun dia sudah tak mempunyai orang tua lagi tapi ternyata Tuhan sangat sayang padanya dengan memberikan mertua sebaik Ibu Diana.


****

__ADS_1


__ADS_2