
Tania perlahan lahan membuka matanya, namun kepalanya terasa amat pusing. Tania mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Sepertinya dia berada disebuah kamar.
"Aku dimana ini? " Tania beringsut bangun, dia berada diatas tempat tidur. Ruangan itu didominasi warna hitam dan putih, di dalam kamar itu terdapat beberapa perabotan yang simpel. Kamar ini tak begitu rapi dan ada Sebuah gitar diatas sofa ujung sana.
"Tunggu, hei itu gitar milik bang Alvin . Apa dia yang membawaku kesini ?"
Seseorang membuka pintu, terdengar derit pintu dibuka.
"Taniaku, kau sudah bangun, kau tadi pingsan. Bikin cemas abang saja kau ini" Alvin lalu menaruh teh hangat yang dibawanya diatas meja kecil disamping ranjang.
"Abang yang membawaku kesini? "
"Benar Nia, abang menemukanmu pingsan dijalan. Kamu dikerumuni orang orang untung saja abang lewat disana"
"Alhamdulillah abang yang menemukanku"
"Kenapa kau mandi hujan hah, suamimu pasti lagi mencarimu sekarang. Kau hubungilah dia"
"Aku bukan mandi hujan bang" Tania melirik Alvin sekilas.
"Lah terus kenapa kau jalan jalan ditengah hujan kurang kerjaan kau ini Nia, apa belum puas kau mandi hujan waktu kecil ? "
"Ah abang bisa saja" Tania tersenyum.
"Minum teh ini, oh ya pakaianmu itu bukan abang yang ganti. Bik Ijah yang menggantinya, suer !" Alvin mengangkat jarinya dua.
Tania melirik pakaian yang dikenakannya, rupanya piyama laki laki.
"Aku percaya bang, makasih sudah nolongin Nia"
"Iya, abang antar kau pulang saja ya, Suamimu pasti stress mencarimu. Ponselmu abang lihat tidak aktif, kau bertengkar sama laki laki arab itu ? "
Tania mengangguk,
"Ayolah abang antar kau pulang, kau rayulah suamimu itu. Abang tahu dia sangat mencintaimu, kemaren di bengkel dia seperti mau menelan abang hidup hidup. Haha" Alvin geleng geleng kepalanya sambil terkekeh.
Tania menyeruput teh pemberian Alvin lalu Tania mengambil ponselnya yang berada dimeja lalu mengaktifkannya. 10 panggilan tak terjawab dari mas Zy dan 8 pangggilan tak terjawab dari Aisyah. Lalu Tania membuka pesan whatsAap. Ada dua pesan dari Aisyah, tidak ada pesan dari mas Zy.
"Tania, apakah suamimu percaya penjelasan dokter Susan? "
10 menit kemudian
"Nia, ayah mertuamu kondisinya menurun. Dia dipasang alat pacu jantung"
Astagfirullah
Tania menyimpan kembali ponsel kedalam tas selempang yang terletak disampingnya.
"Bang antar saja Nia kerumah sakit, mertuaku sedang kritis"
__ADS_1
"Baiklah, kau berbaikanlah dengan suamimu. Jika dia menyakitimu bilang sama abang" Alvin lalu menyambar jaket yang digantung di balik pintu kamarnya.
"Ayolah abang antar" Alvin bergerak keluar kamar. Tania mengikutinya.
Di rumah sakit tepatnya didepan ruang ICU
"Bang, tunggu disini aku kedalam"
"Iya" Alvin mengangguk. Dia lalu duduk di kursi tunggu.
Tania sudah berdiri di depan pintu dimana ruang khusus untuk mertuanya. Dia menyaksikan Rendy sedang memarahi suaminya, dan Alzyan diam mematung menatap kelantai. Ibu Diana kelihatan tidur, Tania lalu menatap layar monitor.
Alahamdulillah tanda vital ibu sudah hampir normal, dan ayah dapat di selamatkan.
"Zy kau harus mengabulkan permintaan tuan Gunawan, hanya dia yang bisa membantu kita. Aku tak bisa menghandel semuanya. Sementara kau dua hari lagi harus kembali ke Riau. Perusahaan ayah bisa gulung tikar jika kau tak menuruti syarat tuan Gunawan"
Degg, Tania paham syarat apa yang dimaksudkan kak Rendy. Tania hanya diam menyaksikan pembicaran dua saudara angkat itu. Alzyan maupun Rendy tidak menyadari kehadiran Tania.
"Aku tak bisa kak, bagaimana dengan Tania. Aku mencintainya, apalagi dia sekarang sedang hamil.. "
"Zy kau jangan egois, kau hanya mementingkan perasaan cintamu saja. Apa kau tega melihat semua yang dicapai ayah akan hancur berkeping keping. Kau sudah cukup egois selama ini dengan meninggalkan ayah mengurus perusahaan sendiri."
"Apa tidak ada cara lain selain dari menikahi Maysa, aku janji akan berjuang sekuat tenagaku menormalkan kembali perusahaan ayah"
"Omong kosong, kau barusan bilang akan kembali ke Riau dua hari lagi, kau tak punya waktu membantu ayah. Kau harus menikahi Maysa dalam dua hari ini Zy !"
"Astagfirullah bagaimana ini kak, aku tak bisa. Ini soal hati.. "
Alzyan dan Rendy serentak menoleh sumber suara.
"Tania.." lirih Alzyan. Dia tak percaya yang baru didengarnya dari mulut Tania.
Tadi dia bersikeras mengatakan anak itu adalah anakku, setelah aku percaya kenapa tiba tiba dia datang dengan pengakuan ini
"Lakukanlah yang terbaik untuk ayah dan Jaya Group"
"Tapi tidak semudah itu aku menikah lagi Tania"
"Ku doakan ayah dan ibu lekas sembuh, aku kesini hanya ingin melihat kondisi ayah dan ibu. Hmm aku keluar ya" Tania membalikkan badannya.
"Tunggu, siapa ayah dari anak itu ? " Tanya Alzyan.
"Dia menungguku diluar" Tania bergegas berjalan keluar, Alzyan menyusulnya.
Degg
Berandalan bertato itu, ternyata dialah yang menghamili Tania
Tubuh Alzyan seketika melemah, dia hanya mampu memandang Tania yang menggamit tangan laki laki itu untuk mengajak pergi dari sana. Alzyan diam terpaku menatap punggung Tania dan laki laki itu melangkah menjauh.
__ADS_1
"Dia memilih ayah anaknya daripada dirimu"
"Aku masih belum percaya ini" Alzyan mengurut pelipisnya.
"Kau tak percaya apa yang ada dihadapanmu ?, isterimu sendiri yang mengakuinya ! "
Alzyan masuk kembali keruangan menjumpai ayah dan ibunya, Rendy meninggalkannya.
***
"Nia bagaimana kabar mertuamu ?"
"Alhamdulillah sudah melewati masa kritisnya"
"Kamu berbaikan dengan suamimu kan Nia? "
Tania mengangguk
"Bang, antar aku kerumah paman Danu "
"Apa suamimu tidak marah kau pergi denganku? "
"Tidak, kita kan nggak ngapa ngapain"
"Baiklah" Alvin membuka pintu mobilnya untuk Tania.
Alvin mengantar Tania kerumah paman Danu, sampai disana Tania memintanya untuk pulang. Karena Tania beralasan akan lama dan pulang diantar Reza.
"Mbak sama siapa kesini? "
"Sama bang Alvin, suami mbak menunggui orangtuanya dirumah sakit. Bibi mana? "
"Ibu ke makam ayah mbak, mbak apa kabar ? " Sapa Reza.
"Mbak baik baik saja Za, mbak mau ambil ijazah dan dokumen dokumen di kamar"
"Oo silahkan mbak, kamar mbak tidak di kunci"
Tania masuk kedalam kamarnya, kamar yang sangat nyaman walaupun ukurannya kecil hanya ada tempat tidur kecil, lemari dua pintu dan meja rias kecil. Tania mencari apa yang diperlukannya, dia juga menggantikan pakaiannya dengan pakaian yang tertinggal dilemarinya. Setelah semua selesai dia kembali menemui Reza.
"Za, mbak pulang ya"
"Iya mbak, hati hati.."
"Iya Za" Tania menepuk pundak Reza pelan. Lalu dia keluar dari rumah paman Danu, Reza mengantarnya sampai ke pintu. Diluar taksi online yang dipesannya sudah menunggu. Tania meminta sopir taksi mengantarnya ke kantor dinas kesehatan.
Akupun tak tahu apakah ini keputusan yang tepat, tapi untuk saat ini hanya ini yang bisa aku lakukan untuk kebaikan ayah dan ibu juga untuk kebaikan mas Zy. Ya Allah kuharap keputusanku ini adalah yang terbaik.
Tania seorang wanita berusia 22 tahun, dalam masalah yang dihadapinya hanya sebatas inilah dia mampu mengambil keputusan. Hanya sebatas inilah kedewasaannya berpikir tanpa bimbingan orang tua. Terlalu berat konflik ini untuk gadis seusianya.
__ADS_1
*****