Cinta Buat Kanaya

Cinta Buat Kanaya
Shoping Pakaian Bayi


__ADS_3

Alzyan tersenyum bahagia menatap layar ponselnya, istrinya barusan memberinya ciuman online. Tania minta izin belanja perlengkapan bayi bersama ibu Diana.


"Nanti mas susul kesana mas juga pingin memilih perlengkapan buat anak gadis mas."


"Okey, Nia tunggu mmuahh. Ibu sudah nunggu tuh"


"Mmuah" kali ini ciuman online dari Tania dibalasnya sebelum dia memutuskan sambungan.


Alzyan memeriksa kembali berkas berkas yang bertumpuk dimejanya, dia harus menyelesaikan pekerjaannya karena dia juga harus membagi waktu untuk pekerjaan di Pekan Baru. Alif setiap hari mengirimkan email padanya untuk urusan pekerjaan namun dia tetap tak bisa meninggalkan perusaahan disana terlalu lama.


Seseorang mengetuk pintu lalu masuk, Alzyan sudah tahu jika langsung masuk pasti itu Affandi.


"Ada apa Fan " , Alzyan tak menoleh dari berkas dari hadapannya. Dia sudah tahu Affandi membawa suatu berita.


"Pak Gunawan sudah diperiksa pihak kepolisian, anda sudah nonton berita pagi ini?"


"Mana sempat saya nonton berita, ada ada saja kamu Fan" Alzyan menyunggingkan senyum tipisnya.


"Pak Joan terbukti tidak ada sangkut pautnya dengan kecelakaan Tuan Akmal"


Alzyan menghentikan aktifitasnya sepertinya dia tertarik. Dia menatap Affandi menunggu Affandi melanjutkan ceritanya.


"Pak Gunawan memakai orang orang pak Joan untuk mencelakai Tuan Akmal tanpa sepengetahuan pak Joan. Mereka dibayar mahal oleh pak Gunawan. "


"Hmm licik sekali, dia ingin menghancurkan persahabatan ayah dengan pak Joan."


"Benar tuan, saya sangat mengenal pak Joan. Walaupun dia tak pandai berbasa basi seperti pak Gunawan tapi dia orangnya tulus, dia tak mungkin akan tersinggung hanya karena Tuan Rendy menolak perjodohan dengan nona Samantha."


"Ya sudah, yang penting sudah ketahuan siapa yang busuk. Oh ya Fan, saya minta kamu perketat keamanan istri saya".


"Siap Tuan"


"Setelah semua ini saya merasa keselamatan Tania terancam. Menurut kamu apa saya terlalu berlebihan?"


"Tidak Tuan, memang sudah seharusnya keselamatan anggota keluarga tuan dijaga lebih ketat, saya sudah lama berpikiran demikian"


"Kenapa tidak bilang?".


"Karena saya lihat tuan santai saja dan ingin hidup seperti orang biasa, begitu juga tuan Akmal padahal dulu saya sudah mencari bodyguard buat beliau. Tapi beliau selalu menolak"


"Hmm, dan akupun seperti ayah menolak dijaga bodyguard, kau Carikan saja buat istriku"


"Baik Tuan, " Affandi mengangguk mengerti.


"Pergilah"


Affandi lagi lagi mengangguk, dia membalik badan dan keluar dari ruangan tuannya.


***


Disebuah baby shop terkenal


Diana sibuk memilih perlengkapan bayi dengan bahan yang terbaik untuk cucunya, sementara Tania menurut saja. Dia juga kurang paham dengan perlengkapan bayi. Tapi berbeda dengan Alzyan, dia juga sibuk memilih aksesoris, sepatu sepatu dan gaun gaun lucu untuk baby girl nya. Seorang pelayan tampak mengeluarkan koleksi terbaik mereka untuk diperlihatkan pada Alzyan.


"Ambil ini yang sudah saya pisahkan mbak" Alzyan menunjuk pada setumpuk gaun gaun dan sepatu sepatu lucu, serta beberapa bandana bayi"


"Baik Tuan"


"Mas, sebanyak itu ?" Tania melongo melihat belanjaan suaminya, dia duduk saja diatas kursi menunggu suaminya. Dia juga tidak sanggup berdiri lama lama.


"Iya" Alzyan mengangguk yakin.


Tania membayangkan alangkah rempongnya nanti baby girl nya mencoba gaun gaun yang berjumlah tak kurang dari dua lusin itu, belum lagi baju baju rumahan lucu yang dipilih ibu Diana tadi entah berapa lusin. Dia ingat waktu kecil hanya mempunyai gaun satu lembar. Hanya dipakai saat hari tertentu saja. Sisanya dia hanya mempunyai baju rumahan yang sudah lusuh.


Aku sangat beruntung diterima dengan baik oleh keluarga suamiku, sehingga anakku nanti tak bernasib sama dengan diriku.


"Kenapa Nia?" tanya Alzyan melihat istrinya seperti melamun.

__ADS_1


"Nggak apa mas"


"Apa kamu ingin memilih sendiri baju buat anak kita, maafin mas ya terlalu semangat nggak ngajak ngajak kamu pilih pilih. Kamu pilih saja yang kamu suka, ayolah" Alzyan menggamit tangan istrinya.


"Nggak usah mas, ini sudah cukup kok. Nanti sudah lahiran saja. Kalau Nia pingin nanti Nia tinggal beli saja yang Nia suka buat anak kita"


"Oh gitu,. Kalau gitu ayo pulang, mas sudah selesai. Apa ibu sudah selesai?"


"Sepertinya sudah".


Diana datang menghampiri mereka, sepertinya dia sangat puas telah memilih perlengkapan buat cucunya.


"Barang akan diantar mereka satu jam lagi"


"Kenapa nggak dimasukkan ke mobilku saja Bu?"


"Nggak muat Zy, ibu belanja banyak. Pakaiannya, sepedanya, ayunannya, box bayinya, boneka boneka, pokoknya semuanya. Lagian kamu bawa mobil kecil, mana muat belanjaan ibu didalamnya. " Kebetulan hari ini Alzyan memakai mobil sportnya.


"Oh gitu ayolah kita pulang sekarang" ajak Alzyan.


"Mas, lapar" Tania memajukan bibirnya, agak kesal dengan Alzyan yang langsung aja mengajak pulang, padahal ini sudah jam makan siang.


"Makan dirumah saja, ayolah. Mas masih banyak urusan dikantor" Alzyan tetap mengajak pulang dengan tidak pekanya.


Tania Merengut


"Zy" Diana menarik tangan putranya.


"Apa Bu"


"Lihat itu, merengut" Diana berbisik.


"Apa sih Bu?"


"Nggak peka banget sih"


Alzyan langsung mengerti


"Pengen nasi kebuli kambing"


Diana menganga tak percaya, Alzyan menautkan alisnya terheran. Pasalnya kala itu Tania sama sekali tak berselera dengan hidangan nasi kebuli.


"Kamu yakin ?"


"He eh" Mengangguk.


"Permintaan putrinya Abi ya, ayolah Abi juga sudah rindu makan nasi kebuli" Alzyan mengusap usap perut istrinya.


Dan akhirnya mereka disambut dengan kalang kabut namun penuh suka cita oleh pelayan dan manager Al Karim Restaurant. Betapa tidak bos mereka datang tanpa memberitahu lebih dahulu.


Tania makan sangat lahap, Alzyan sesekali melirik istrinya.


Rupanya memang pengen , bumil memang aneh seleranya tak bisa ditebak. Mulai dari tempoyak Jambi sampai ke Korea sekarang beralih ke timur tengah. Hhh


***


Alzyan sudah mengantar istri dan ibunya pulang kerumah. Sekarang dia kembali ke kantor. Berbicara dengan Affandi.


"Body guard buat nyonya Tania sudah ada Tuan"


"Siapa"


"Orang kepercayaan tuan Akmal, Hasan dan Joni"


"Baiklah, mereka boleh bekerja mulai besok. Setelah acara nujuh bulan istriku besok, aku berangkat ke Pekan Baru".


"Bagaimana dengan proyek di Bandung Tuan"

__ADS_1


"Sudah aman, ganti rugi buat masyarakat sudah dibayar. Kau dan Sarah mewakili aku kesana hari Rabu"


"Baik Tuan"


"Hhh, Gunawan benar benar membuat kekacauan besar, untunglah semua bisa teratasi"


"Alhamdulillah, berkat kerja keras Tuan"


"Berkat bantuanmu dan Sarah juga"


Affandi mengangguk.


***


Jam delapan malam pekerjaan Alzyan sudah selesai, dia benar benar bekerja keras. Karena Lusa dia harus ke Pekan Baru.


Alzyan tak langsung pulang kerumah, dia berjanji mampir kerumah orang tuanya. Tadi Akmal menelponnya untuk datang kerumah.


Alzyan berjalan menuju ruang keluarga, disana telah menunggu ayahnya dan Rendy. Tampak olehnya laki laki paruh baya itu tertawa kecil, rupanya mereka bercengkerama. Alzyan masih berdiri ketika ayahnya menyadari kedatangannya.


"Silahkan duduk" Akmal mempersilahkan putranya duduk bergabung.


"Apa kalian tahu maksud ayah mengumpulkan kalian?"


"Tidak ayah" Alzyan dan Rendy berbarengan.


"Mungkin kalian sudah menebak nebak, dan mungkin tebakan kalian benar." Akmal mengatur nafasnya. Alzyan dan Rendy menunggu kelanjutan perkataan ayah mereka.


"Mengenai perusahaan, ayah sangat berterimakasih dengan Alzyan yang sudah bekerja keras menyelamatkannya dan menyelesaikan masalah dengan baik"


"Sudah tugas saya ayah"


"Jujur dulu ayah meragukanmu, sekarang ayah mengakui kemampuanmu. Apalagi perusahaanmu sendiri di Pekan Baru juga maju pesat". Akmal menghela nafas.


"Rumah sakit dan STIKES Bunda akan ayah berikan kepada Rendy, karena dia sudah sangat berjasa. Kuharap kamu tak keberatan Alzyan"


"Tidak sama sekali ayah"


"Dan kau Rendy kuharap tak keberatan mengemban tugas itu. Rumah sakit dan yayasan adalah tanggung jawab penuh milikmu sekarang"


"Baik ayah"


Akmal terdiam, dia menarik nafas panjang seakan ada yang mengganjal pikirannya. Alzyan dan Rendy menyadari itu, namun mereka menunggu saja ayah mereka mengutarakan apa masalah yang mengganggu pikirannya.


"Alzyan apa kamu sanggup mengurus dua perusahaan sekaligus, ayah tak mau salah satunya mundur karena kamu lebih fokus pada salah satunya. Belum lagi restoran"


"Insya Allah ayah"


"Hmm, dulu ayah menjodohkanmu dengan Maysa apakah kamu tahu maksudnya Alzyan ?"


"Menjaga silaturrahmi"


"Tidak hanya itu, ayah ingin istrimu membantumu dalam menjalankan perusahaan. Maysa punya kemampuan untuk itu, tapi ibumu tak setuju. Ayah mengalah saja, dan ternyata ibumu benar. Ternyata Maysa memang tidak baik untukmu"


Alzyan dan Rendy mengangguk angguk mengerti.


"Rendy, ayah menjodohkan kamu dengan Samantha, apa kau tahu maksud ayah?"


"Untuk membantuku mengelola rumah sakit"


"Benar, tapi kau menolak perjodohan itu"


"Maafkan aku ayah" Rendy menunduk merasa bersalah.


"Tak apa" Akmal mengibaskan tangannya.


"Dulu ayah juga menolak dijodohkan dengan Layla, putri dari paman Fadh di Dubay. Ayah lebih memilih ibu kalian."

__ADS_1


Alzyan sudah mengetahui cerita itu, ayahnya bertahun tahun tak dianggap anak. Namun ibunya Diana membuktikan kalau dia layak menjadi menantu di keluarga Abdullah. Diana telah membuktikan menjadi pendamping terbaik Akmal Karim sehingga menjadi pengusaha yang patut diperhitungkan di Indonesia. Dan kini mereka telah diakui oleh kakek Abdullah, dan Alzyan pun telah jadi cucu kesayangan Kakek Abdullah.


***


__ADS_2