Cinta Buat Kanaya

Cinta Buat Kanaya
Melewatkan Nasi Briyani


__ADS_3

Alzyan menghambur menghampiri ibunya, dia melepas tangisnya didepan ibunya yang masih tak sadarkan diri. Alzyan menggenggam erat tangan ibunya.


"Ibu, lihat bu. Aku ditipu oleh menantu ibu. Dia hamil anak orang lain bu, seharusnya kemaren aku bisa memberi alasan yang tepat pada ibu untuk tidak menikahinya" Alzyan menciumi jemari ibunya.


"Aku tak menyalahkan ibu, ini semua salahku. Aku tertipu dengan wajah cantik. Padahal kecantikan akan memudar bu, apa aku harus menceraikan Tania bu? " Alzyan menyibak anak rambut ibunya yang sudah memutih.


"Ibu, bantu Zy bu.. " Alzyan menangis terisak.


"Aku tak bisa menceraikan Tania, aku terlanjur mencintainya bu, aku harus bagaimana. Aku tak rela ayah dan ibu menimang cucu haram anak orang lain bu, bukan anak Zy" Nafas Alzyan terasa sesak, dia mengusap air matanya yang mengalir deras. Air mata itupun jatuh ditangan sang ibunda.


"Bukankah dulu aku bilang sama ibu aku ingin wanita yang seperti ibu, yang berhijab dan rajin beribadah seperti ibu. Aku memang sering menceritakan tentang si Cantik, itu hanya kekagumanku saja bu, bukan berarti aku ingin menikahinya. Aku tak menyangka ibu menjodohkanku dengannya. Tapi kini aku sangat mencintainya bu, egoiskah aku jika aku ingin ibunya tapi tak bisa menerima anaknya bu, itu kan bukan anak Zy bu " Alzyan menarik nafas dalam dan membuangnya pelan, beberapa kali dia melakukannya untuk menenangkan dirinya.


"Aku akan cari tahu siapa ayah anak itu, dan Tania boleh memilih aku atau ayah dari anak itu, jika dia memilihku, dia harus berpisah dari anaknya. Kau setuju denganku kan bu? ".


Alzyan lalu menghampiri tempat tidur ayahnya, dan menggenggam jemari ayahnya.


"Ayah dengar pembicaraanku dengan ibu kan yah, ayah juga setuju denganku kan?, aku tak ingin penerus Akmal karim bukan dari darah daging ayah sendiri. Aku akan punya anak dari Tania setelah ini yah" Alzyan mengusap lengan ayahnya yang kelihatan masih kokoh itu, sebelum ini ayahnya tak pernah sakit. Dia lelaki yang kuat Alzyan sangat mengangumi ayahnya .


"Ayah, ibu Zy pamit ke pemakaman paman Danu".


Alzyan meninggalkan ruangan itu setelah menitip ayah dan ibunya dengan suster.


Di pemakaman paman Danu, Alzyan melihat isterinya sangat bersedih. Pipi Tania memerah, matanya kelihatan sembab karena kebanyakan menangis. Dalam hati kecil Ingin Alzyan memeluk wanita itu, tapi dia terlalu egois untuk melakukannya.


Tania menghampiri suaminya, lalu berpegangan ditangan suaminya. Dia merasa pusing dan sangat lelah. Namun Alzyan segera melepas pegangan tangan Tania, kemudian berlalu mendekat kearah makam.


Mungkin mas Zy ingin melihat pemakaman dari dekat. Pikir Tania.


Setelah selesai pemakaman dilanjutkan dengan pembacaan tahlil dipimpin oleh pemuka agama. Setelah semua selesai perlahan lahan semua meninggalkan tempat itu. Tinggallah bibi Salma, Tania dan Reza. Alzyan juga menunggu Tania disana.


"Nia kau pulanglah dengan suamimu, bibi juga akan pulang dengan Reza"


"Iya bi" Tania mengangguk. Kemudian mereka pun pulang semuanya, karena sore itu sudah mulai gerimis.

__ADS_1


Dalam perjalanan Alzyan diam saja, tak menyapa istrinya. Menoleh pun tidak.


Mas zy sangat terpukul dengan kondisi ayah dan ibu, kasihan dia.


Tania memutuskan diam saja, dia ingin membiarkan suaminya tenang dahulu. Akhirnya mereka pun sampai dirumah.


"Mas istirahatlah, aku siapkan air hangat untuk mas mandi"


Alzyan mengangguk saja, Tania berlalu menyiapkan air hangat untuk suaminya. Berharap dengan mandi air hangat suaminya akan lebih rileks.


"Sudah siap mas, aku kebawah dulu bantu bi Harti menyiapkan makan malam"


Lagi lagi Alzyan hanya mengangguk saja, dia berlalu kekamar mandi.


Kasihan mas Zy, sepertinya pikirannya sangat kacau


Tania lalu menghampiri bi Harti yang sore itu sudah mulai bergerak menyiapkan makan malam.


"Bi, Nia bantu ya. Nia ingin buatkan nasi briyani Chicken buat mas Zy"


"Kemaren dia pernah bilang sudah lama tidak makan nasi briyani" Ucap Tania sambil memulai menyiapkan bumbu.


Tania bersama bi Harti akhirnya duet didapur memasak menu untuk makan malam itu. Tania berharap bisa menyenangkan hati sang suami, dan bi Harti berharap memberi yang terbarik untuk bossnya.


"Bi aku keatas, solat magrib dulu. Nanti aku kebawah lagi sama mas Zy, bibi siapkan saja dulu semuanya di meja makan. "


"Siap nyonya" Bi Harti mengangguk.


Tania bergegas mandi, badannya sudah terasa sangat lengket dan gerah. Suaminya sepertinya sudah selesai solat.


Selesai solat Tania menghampiri suaminya yang duduk di pinggir tempat tidur.


"Mas, ayo turun makan. Aku sudah siapkan nasi briyani chicken buat kamu" Tania bersemangat mengajak suaminya makan malam, berharap suaminya akan menyukai masakannya.

__ADS_1


"Nia, mas tadi sudah bicara sama dokter Samantha" Alzyan justru sepertinya tak tertarik dengan makanan yang biasanya jadi favoritenya itu.


"Oh, jadi apa kata dokter Samantha mas?" Tania penasaran.


"Seharusnya usia kehamilanmu 3 minggu, bukan 5 minggu"


"Mas, ini salah paham. Dokter Samantha belum dengar dariku mas. Jadi dia salah menjelaskan" Tania meraih tangan suaminya.


"Nia, mas lelah sama kamu, kau pandai sekali bersandiwara. Mas harus kerumah sakit sekarang" Alzyan melepaskan pegangan tangan Tania.


"Tapi mas makanlah dulu" pinta Tania.


"Aku makan diluar saja, kau makan saja sendiri" Alzyan lalu menyambar kunci mobilnya lalu keluar dari kamar dan turun dari tangga. Daripada berlama lama bersama Tania malah membuatnya emosi nanti lebih baik secepatnya dia kerumah sakit.


Hatiku sakit Nia, aku bukannya tak mau melewati makan malam bersamamu, bukannya aku tak mau mencicipi nasi briyani buatanmu Nia, tapi mas takut emosi nanti malah bicara kasar dan menyakiti hatimu dan mas lebih takut lagi akan menyakiti fisikmu Nia.


Alzyan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, entah berapa mobil yang disalipnya. Sekejap dia sudah sampai di parkiran rumah sakit. Alzyan membuka pintu mobil dan menutup kembali dengan menghempasnya kuat. Alzyan berlari keruang ICU, bukan karena tergesa gesa karena ingin menjumpai ibu dan ayahnya. Tapi karena dia sangat kacau semenjak sore tadi memgetahui kebenaran dari dokter Samantha.


Di samping tempat tidur ibu telah lebih dahulu Rendy duduk disana, Alzyan menghampiri Rendy.


"Bagaimana ibu dan ayah kak? "


"Begitulah Zy, masih seperti tadi. Tapi tadi dokter Antony bilang dia dan tim dokter akan melakukan yang terbaik. Mereka rapat dadakan malam ini. Sebentar lagi akan mulai, aku harus menghadirinya."


"Pergilah kak, biar aku yang menunggui ayah dan ibu"


"Zy, tadi kalau tidak salah aku melihat Ryan dengan dokter Samantha disini, apa mereka menjenguk ibu dan ayah ? "


"Iya kak, apa kakak mengenal dokter Samantha? "


"Tentu saja, dia putri pak Joan pemilik Rumah sakit Sejahtera Medica. Baiklah, aku permisi harus menghadiri rapat" Rendy melangkah pergi meninggalkan Zy.


Alzyan mengajak ayah dan ibunya berbicara, mengenang masa masa kecilnya saat ibu dan ayahnya sangat memanjakannya, saat saat dia sering gendong di pundak ayahnya sambil merentangkan tangannya di pundak sang ayah. Ayahnya akan berlari lari kecil rasanya seperti naik pesawat terbang.

__ADS_1


Malam itu Alzyan tertidur sambil duduk di bangku dengan berbantal lengannya, tangan satunya lagi menggenggam tangan ibunya.


****


__ADS_2