Cinta Buat Kanaya

Cinta Buat Kanaya
Menemui Dokter Susan


__ADS_3

Tania menghempaskan tubuhnya di tempat tidur milik Aisyah yang dulu sering ditempatinya ketika dia menginap dirumah Aisyah. Kamar berukuran 3 x 3 meter itu tertata sangat rapi. Kasur tanpa ranjang ukuran nomor dua dialaskan seprei berwarna pink. Ada lemari plastik dua pintu, dan meja rias kecil dari kayu bubuk yang sangat sederhana, di dinding terdapat dua hanger susun tempat Aisyah menata jilbabnya. Tania merindukan kamar itu. Tania berbaring meringkuk ditempat tidur itu.


"Kau pucat sekali Nia, matamu juga sembab. Kamu habis menangis yang ? "


Tania mengangguk lalu dia menarik selimut berwarna pink milik Aisyah hingga menutup batas perutnya.


"Ceritakan sama aku yang, kamu pasti dalam masalah berat. Apa suamimu menghianatimu? "


Tania menggeleng namun matanya menatap sahabatnya itu dengan sendu.


"Karena kematian paman Danu ? "


Tania menggeleng lagi.


"Terus apa yang membuatmu menangis begini sayang ?, Aku tahu kau kesini mau menceritakan masalahmu. Ceritakanlah siapa tahu aku bisa bantu. Sebenarnya sudah dari kemaren waktu kita ketemu shif pagi aku ingin menanyakan masalahmu" .


"Aish, Kemaren Mas Zy membawa Maysa mantan pacarnya menginap dirumah, tuan Gunawan Ayah Maysa ke Paris dia menitip Maysa sama mas Zy, karena Maysa masih sakit. Kemaren dia dirawat."


"Dia masih dirumahmu ?, kamu berhak menolak kedatangan Maysa dirumahmu Nia. Kamu istri Tuan Alzyan. "


"Masalah itu sudah clear, mas Zy sudah menyuruh Maysa pulang. Dan dia sudah pulang"


"Terus, apalagi yang membuatmu bersedih jika masalah itu sudah clear" Aisyah mengerutkan keningnya.


"Mas Zy tidak menginginkan anakku, karena dia menuduhku hamil dengan laki laki lain"


"Astagfirullah" Aisyah menutup mulut dengan tangan kanannya. Dia tak percaya sahabatnya itu dihamili laki laki lain.


"Ceritakan Nia bagaimana bisa Tuan Alzyan bisa beranggapan seperti itu"


"Mas Zy menuduhku tak perawan lagi karena dia tak menemukan darah perawan di seprei maupun selimut yang kupakai, Dia bodoh sekali Aish. Hanya karena itu dia menganggapku tak perawan"


"Sudah kau jelaskan padanya bahwa tak semua wanita berdarah saat pertama kali melakukannya.?"


"Aish, sebenarnya darah itu ada. Memang sedikit sih, mungkin karena selaput dara milikku tipis jadi tidak begitu banyak mengeluarkan darah. Masalahnya bercak darah itu sudah kubersihkan malam itu. Aku malu jika mertua atau art yang bekerja dirumah itu mencuci selimut bekas darahku. "


"Oo, terus kenapa dia menganggapmu dihamili laki laki lain, pasti karena usia kehamilanmu lebih dari usia pernikahan kalian. Iya kan ? " Aisyah menebak.


Tania mengangguk.


"Sebenarnya kedengaran sepele kan, tinggal dijelaskan oleh dokter saja masalah ini bisa clear. Tapi dokter yang menjelaskan pada mas Zy malah menyudutkanku. Aku tidak tahu Aish, apa maksud dokter itu. Mungkin juga karena dia tak mendengar keterangan langsung dariku".


"Oke, suamimu dimana sekarang ? Kau harus menyelesaikan kesalahpahaman ini hari ini juga. Tingggal dijelaskan oleh dokter, dan clear... "


"Dirumah sakit menunggui ayah dan ibu, katanya tuan Gunawan ayah Maysa akan jenguk ayah hari ini. "

__ADS_1


"Nia, jangan biarkan Tuan Gunawan mendekati suamimu"


"Kenapa Aish, dia hanya ingin menjenguk ayah. Mereka relasi bisnis."


"Ayolah aku temani kau kesana, jangan beri kesempatan pada Gunawan mendekatkan Maysa pada suamimu." Aisyah berdiri dia menyambar jaketnya, kunci motornya berada dalam saku jaket itu.


"Ayolah kuboncengi, aku harus membantumu sebelum aku berangkat ke jambi lusa. Aku ingin memastikan antara kau dan suamimu sudah tidak ada kesalahpahaman lagi" Dia bergegas berjalan keluar kamar mendahului Tania, kelihatannya dia lebih bersemangat dari Tania.


"Ayo Nia, tunggu apa lagi? "


Tania lalu bangun dan menyusul Aisyah, dia di boncengi Aisyah kerumah sakit. Aisyah memang seorang gadis yang gesit, dia jago beladiri dan jago balapan motor. Tapi dia bukan pembalap jalanan ya. Namun dibalik sifat tomboynya Aisyah adalah gadis yang polos dan solehah. Aisyah adalah gadis yang rajin beribadah. Beruntung Tania memiliki sahabat seperti Aisyah.


Tania dan Aisyah berjalan tergesa gesa menuju ruang ICU, berharap Tuan Gunawan belum sampai disana. Namun sesampainya di ICU, mereka berdua melihat seorang laki laki seumuran Akmal sedang berbincang dengan Alzyan.


"Nia, aku tunggu kau dikamar perawat. Temuilah suamimu. Jelaskan lagi masalah kehamilanmu, ajak dia ke poli Kandungan sekarang juga menemui dokter Susan. Dia harus mau karena dia suamimu"


Tania mengangguk, dia berharap ide Aisyah akan membuahkan hasil baik.


Tania mengintip kedalam melalui kaca, ternyata tuan Gunawan sudah mau pulang. Tania lalu masuk kedalam begitu tuan Gunawan sudah keluar.


"Mas bagaimana keadaan ayah dan ibu? " Tania mendekati suaminya yang kelihatan lelah.


"Ibu sudah sadar, tapi dia tidak bisa bicara. Lidahnya kaku. Tubuhnya lumpuh sebelah. Ayah masih seperti kemaren".


"Ehmm, mas bisa bicara sebentar?" Tania menggamit tangan Alzyan untuk menjauh dari ibu Diana. Agar Diana tak mendengar pembicaraan mereka.


"Bicara apa Nia?" Alzyan mengikuti Tania.


"Aku kesini mau mengajakmu menemui dokter Susan untuk menjelaskan masalah kita. Sekarang mas"


"Penjelasan apa lagi Tania, kurasa sudah cukup.. Tak ada yang perlu dijelaskan lagi"


"Mas, kumohon. Sekali ini saja, biarkan aku berjuang untuk rumah tangga kita" Tania mendekati suaminya lalu meraih tangan lelaki itu.


"Jika setelah dokter Susan menjelaskan mas tetap dengan keyakinan mas, aku akan pergi saja dari kehidupanmu mas" Tania mendongak menatap suaminya.


"Nia, apa kau akan meninggalkanku. Kau tidak boleh pergi Nia. Aku janji akan terima anak itu asalkan kau tidak meninggalkanku. " Alzyan menangkupkan tangannya pada wajah Tania.


"Tidak!! , aku akan pergi !!" suara Nia alsedikit meninggi.


"Tania, aku memaafkanmu." Alzyan memandang manik mata istrinya, seakan memohon agar Tania tidak meninggalkannya. Dia rapuh, ayah dan ibunya sedang sakit, perusahaan dan rumah sakit dalam masalah besar. Dia butuh Tania disampingnya.


"Mas, aku tidak butuh penerimaanmu pada anakku, yang kubutuhkan kepercayaanmu bahwa anak itu darah dagingmu. Biarkan aku membuktikannya mas, kumohon..." Tania mulai terisak menitikkan air mata.


"Oke, ayo kita menemui dokter Susan"

__ADS_1


Suami istri itu lalu ke poli kandungan setelah menitipkan ayah dan ibu mereka dengan perawat. Di poli kandungan mereka tidak perlu antri, karena Alzyan meminta dia didahulukan dari pasien lain. Tentu saja bisa, karena dia anak pemilik rumah sakit itu.


"Ada apa nyonya dan Tuan Alzyan kesini, Apa obat yang saya berikan tadi pagi tidak cocok? "


"Ehmm," Tania lalu melirik suaminya.


"Jelaskan saja" perintah Alzyan.


Tania lalu menjelaskan maksud kedatangannya kepada dokter Susan. Tania menjelaskan panjang lebar. Dokter Susan lalu tersenyum mendengar penjelasan Tania. Dia menghela nafas sebelum menjawab atau lebih tepatnya menjelaskan pada Tuan Alzyan.


Kasus seperti ini pernah juga terjadi sekitar setahun yang lalu, seorang suami mencurigai anak yang dikandung istrinya bukan anak dirinya. Jadi begini Tuan Alzyan, dokter Susan lalu menjelaskan dengan detail bagaimana sistim reproduksi wanita dan dia juga menjelaskan bagaimana terjadinya pembuahan. Alzyan mendengarnya dengan seksama. Pada akhirnya dokter Susan bertanya pada Tuan Alzyan.


"Bagaimana tuan, apakah anda sudah mengerti dengan penjelasan saya ?"


"Anda yakin dengan penjelasan anda dokter, anda bisa saya percaya? " Tuan Alzyan malah kembali bertanya.


"Tuan apakah saya kelihatan seperti pembohong ?" Dokter Susan pun bertanya kembali. Sebelum Tuan Alzyan bicara dokter Susan menyambung ucapannya.


"Saya telah bersumpah menjalankan tugas saya dengan berperikemanusiaan, dan saya memegang teguh sumpah saya Tuan. Saya juga menjaga kode etik kedokteran. Anda dapat mempercayai saya."


"Tapi dokter Samantha berkata lain."


"Mungkin karena dia tidak mendapat keterangan yang jelas dari nyonya Tania. Percayalah anak dalam rahimnya nyonya Tania adalah darah daging anda tuan. Nanti anda akan menyesal jika tak mau mengakuinya"


"Apakah, tidak perlu tes DNA dokter? "


"Kurasa tidak perlu, ini sudah jelas kok. Apa anda masih kurang yakin ?, tes DNA bisa dilakukan saat usia kandungan memasuki 12 minggu. Apakah nyonya mau menjalani tes ini ? " Dokter Susan bertanya pada Tania.


"Haruskah aku menjalani tes DNA mas, jika kau memang tak menginginkan anak ini, baiklah aku akan pergi dari kehidupanmu. Aku lebih baik berpisah darimu daripada berpisah dengan anakku. Maaf mas aku pergi !" Tania berdiri lalu berlari keluar dari ruangan itu. Alzyan berdiri hendak mengejarnya, tapi dicegah oleh dokter Susan.


"Tuan, biarkan dia menenangkan dirinya. Masih ada yang mau saya bicarakan"


Alzyan urung mengejar istrinya lalu menoleh pada dokter Susan.


"Tuan, saya mengenal Tania. Dia gadis baik baik, teman temannya juga baik baik. Saya tak percaya dia hamil diluar nikah, setahuku pacarnya sebelum menikah denganmu adalah Arkhan seorang perwira polisi. Arkhan temanku, dia laki laki yang soleh. Tak mungkin dia menghamili Tania. Anda bisa mempercayai saya".


Alzyan termenung mendengar penuturan dokter Susan.


"Maafkan saya dokter sudah tidak percaya padamu, saya hanya tak ingin Tania menghianatiku dan kembali pada ayah anak itu. Sekarang saya sudah percaya dengan penjelasan dokter. Maafkan saya" suara Alzyan bergetar.


"Pergilah kejar istri anda tuan"


*****


Berikan dukungannya donk dengan like dan koment, author tak minta vote buat karya receh ini. Minimal baca aja sudah bikin author senang.

__ADS_1


__ADS_2