
Suara Muadzin terdengar sangat merdu mengumandangkan adzan magrib, Alzyan sudah siap dengan baju koko dan kain solat yang sering di iklan kan di televisi.
Sungguh tampan, rambut yang disisir rapi masih kelihatan agak basah. Wajahnya kelihatan sangat bersih karena Zy sudah mencukur rambut rambut yang tumbuh diwajahnya tapi dia menyisakan sedikit rambut di dagunya.
"Nia mas solat di mesjid saja" sembari menyambar kopiahnya dan memakainya.
"Boleh Nia ikut mas? "
"Wanita lebih baik solat dirumah, akan lebih besar pahalanya" Alzyan membalikkan badannya hendak segera kemesjid, Tania mengangguk saja menyetujui ucapan suaminya.
Alzyan bergerak keluar kamar takut telat, berjalan kaki saja menuju mesjid, karena letaknya tak jauh dari rumahnya.
Alzyan sudah sampai. Mesjid yang sangat indah dan tentu saja Alzyan punya peran penting dalam pembangunan mesjid itu.
"Pak Alzyan, bapak saja yang jadi imam kali ini" ucap seorang laki laki yang sepertinya lebih tua dari Alzyan.
"Abang saja, kan abang imam mesjid ini" Alzyan menolak karena merasa tak pantas.
"Bapak saja, jamaah sudah merindukan suara merdu bapak"
"Baiklah" Alzyan setuju dan dia maju sebagai imam solat magrib malam itu. Daripada magribnya kelamaan dimulai pikirnya.
Dirumah Tania menggelarkan sajadahnya, memulai ibadahnya bersamaan dengan mereka yang solat di mesjid. Tania mengangkat takbir lalu solat dengan khusyuk.
Bismillahirrohmaanirrohiim
Alhamdulillahirrabbil'alamiin
Walaupun cukup khusuk Tania seperti mengenal suara itu, mirip suara mas Zy tapi dirumah mas Zy mengimaminya tidak pernah dengan irama Kurdi seperti ini. Dia hanya membaca biasa saja tanpa irama. Namun Tania yakin itu suara suaminya. Tania kembali khusyuk dalam solatnya setelah pikirannya berkelana beberapa detik.
Setelah selesai menunaikan ibadahnya Tania membaca Alquran sampai masuk waktu isya, dan Tania kembali menunaikan kewajibannya. Terdengar kembali suara merdu itu, sangat indah dan lembut suaranya.
Tania membenahi perlengkapan solatnya lalu dia duduk di pinggiran tempat tidur mengutak atik ponselnya sambil menunggu sang suami.
Ceklek, Alzyan membuka pintu lalu menaruh kopiahmya di atas meja.
"Mas, apa tadi mas yang jadi imam di mesjid ? "
"Menurutmu ? "
"Suaranya mirip suara kamu mas, tapi ya lebih indah dan merdu bacaannya juga berirama"
"Ehhm itu memang suami kamu Nia "
__ADS_1
"Wow, ternyata suara kamu merdu sekali mas, kenapa dirumah mas nggak pernah menunjukkannya sama aku ?"
"Belum saja"
"Oo gitu, belajar dimana mengajinya mas ? "
"Suamimu ini pernah sekolah di pesantren Tania, walau cuma 3 tahun"
"Kok nggak pernah cerita? "
"Memangnya kamu pernah tanya suamimu pernah sekolah dimana? kamu nggak peduli sama aku"
Tania terdiam, benar juga ya
"Anak santri tapi kok mabuk ya malam kemaren ?"
Alzyan melongo sejenak mendengar ucapan istrinya, lalu dia menghela nafas.
Tania sadar dia keceplosan lalu segera ia menutup mulut dengan telapak tangannya.
Aduuh mas Zy pasti tersinggung nih, tapi kan bener malam tadi dia mabuk miras. Anak santri apaan itu.
"Hh lupakan yang malam tadi. Aku takkan mengulanginya lagi, itu yang pertama dan terakhir."
"Oh ya mas maaf aku bukannya mau ikut campur, siapapun temanmu malam itu aku minta mas menjauhinya. Dia mengajakmu bermaksiat"
"Dia orang baik Tania, sudahlah mas janji tak akan mengulanginya lagi".
"Nia percaya sama kamu mas, ayo turun makan malam mas"
Di meja makan telah menunggu Maysa, malam malam begini dia tetap kelihatan cantik dan anggun padahal hanya dirumah saja. Beda dengan Tania yang memakai baju tidur agak seksi, pilihan suaminya tempo hari.
"Kau mau kemana May, rapi begitu? " sapa Alzyan.
"Dirumah saja mas, nggak mungkin kan aku pake baju tidur kurang bahan dirumahmu nanti dikira pelakor. Lagipula seorang muslimah memang harus berpenampilan begini kan, bagaimana kalau tiba tiba ada tamu laki laki datang? " Kata kata Maysa menyindir Tania.
Tania menyadari sindiran itu, dia melengos saja mendengarnya.
Rumah rumah aku terserah akulah mau pake apa, lagian pak Indro tidak akan mampir kesini. Dia sudah diberi peraturan sama mas Zy untuk tidak sembarang masuk kerumah, mana sudi mas Zy aku dilihat laki laki lain. Kalau ada tamu pasti mengetuk pintu, bi Harti yang akan membukanya.
Setelah selesai makan Seperti biasa Alzyan menemani Maysa minum obat.
Tadi siang Maysa terpaksa minum obat sendiri karena Alzyan pulang kesorean dari jalan jalan dengan Tania.
__ADS_1
"May, sepertinya kau sudah benar benar pulih. Besok kau boleh pulang, Lagipula kau bisa makan obatmu sendiri tadi kan?"
"Tapi kak, papa belum pulang"
"May, biasanya juga begitu kan. Tak sekali ini saja papamu keluar negeri dalam waktu lama"
"Mas, aku cuma merasa masih kurang sehat saja"
"Pokoknya kau harus pulang May, aku juga ada kerjaan lain bukan mengawasimu saja. Mengertilah, istriku yang hamil saja tak pernah menyita waktuku" Alzyan kelihatan mulai kesal.
"Kak.. " Hendak menyentuh tangan Alzyan, Alzyan buru buru menarik tangannya yang tadinya terulur.
"Besok pagi kau pulang diantar pak Indro, aku dan Tania ada acara"
"Baik kak" Akhirnya Maysa menurut saja, ia tahu benar jika Alzyan sudah ambil keputusan maka tak bisa dibantah.
Tania mengulum senyumnya mendengar suaminya mengatakan 'istriku yang lagi hamil' , Dia juga puas dengan suaminya yang meminta Maysa pulang besok pagi. Setelah acara dimeja makan selesai mereka kembali kekamar.
Bagaimana ini, aku belum melancarkan semua rencanaku sudah disuruh mas Zy untuk pulang, aku harus minta bantuan papa atau Ryan.
Begitu sampai dikamar Alzyan langsung saja memeluk istrinya dari belakang dan memainkan Squisynya.
"Nia mas kangen" menciumi rambut Tania dan menyesap aroma segarnya. Lalu Alzyan membalikan tubuh istrinya hingga mereka berhadapan.
"Nia juga mas" Tania mengalungkan tangannya pada leher suaminya. Entah siapa yang duluan memulai yang jelas kini mereka tengah asyik dengan permainan favorite mereka. Apa karena hamil Tania malam ini tampil beda, dia lebih mendominasi permainan malam ini. Sampai keduanya puas dengan peran lawan main mereka.
"Belajar darimana begitu, kamu sangat lincah Nia"
"Bakat alami mas" Tania senyum cengengesan.
"Gitu juga ya kamu sama mantanmu? Hot begitu? "
Plaakk
Entah mengapa selama hamil selain jadi agresif Tania juga jadi ringan tangan, setelah reflek menampar suaminya Tania jadi menyesal sendiri.
"Maaf mas, aku terlalu emosi"
"Kamu marah berarti kamu benar seperti yang ku bilang tadi. Kau menutupi malu dengan marahmu, iya kan Nia? "
"Mas, berhentilah menuduhku hik hik" Tania tak mampu menahan tangisnya, malam itu dilewatinya dengan menangis tanpa bersuara. Sementara Alzyan disampingnya telah tertidur pulas, apa karena kelelahan. Dia seakan tak bersalah telah membuat Tania menangis dan tak bisa tidur malam ini. Setelah ditampar Tania dia membelakangi istrinya itu.
Aku menyukai permainanmu Tania, kau sangat pandai memuaskanku. Kau canduku Nia, tapi aku sangat cemburu membayangkan orang lain lebih dulu menikmatimu. Tak ku sangka kau menamparku lagi malam ini, beginikah sifat aslimu Nia, bar bar. Aku harus bisa menahan diri untuk tidak ikut emosi sepertimu. Maaf mas tidur membelakangimu Nia.
__ADS_1
*****