
Tania dan dua orang ART yang bekerja dirumah Ibu Diana kerjasama menyambut kedatangan sang nyonya rumah. Tania membersihkan kamar, menggantikan seprei dibantu oleh bi Asih, sedangkan bi Yumi memasang balon balon dan pita pita di ruang keluarga.
Setelah selesai mereka bertiga hendak kedapur memasak makan siang.
"Bi Yumi masak makanan kesukaan mas Zy saja. Makanan untuk ibu biar aku yang menyiapkan."
"Baik nyonya muda"
Dengan cekatan Tania berduet dengan bi Yumi, dia memasak menu yang aman untuk Ibu mertuanya. Menu yang bisa dikonsumsi oleh penderita hipertensi seperti mertuanya.
Rumah telah selesai dibereskan bi Asih, dan makan siang sudah siap, tinggal menunggu kedatangan nyonya rumah saja. Terdengar suara deru mesin mobil diluar, sepertinya sedang diparkir.
"Mungkin itu mereka datang, kalian berdua sambut mereka. Aku sendiri ke ruang keluarga, menyambutnya dengan buket bunga"
"Baiklah" Asih dan Yumi setuju
"Assalamualaikum" Suara Alzyan dari luar.
"Waalaikumsalam" sahut Asih dan Yumi, mereka berlari kecil menyambut nyonya besar mereka.
"Alhamdulillah nyonya sudah sehat" Asih mencium punggung tangan nyonya besarnya. Disusul oleh Yumi.
"Aku sangat merindukan nyonya, kangen suara nyonya dirumah ini"
"Makasih Yumi dan Asih" Diana tersenyum.
Alzyan kembali keluar menjemput koper yang masih dalam mobil, Yumi mendorong kursi roda nyonya Diana ke ruang keluarga.
"Oh Tuhan, makasih ya... kalian berdua yang menyiapkan ini ?"
"Iya nyonya, nyonya Tania yang mengaturnya." Sahut Asih.
Ruang keluarga telah dihias sedemikian rupa, balon balon bertuliskan Welcome Ibu Diana. Tania muncul tiba tiba dari balik pintu menghampiri Ibu mertuanya dan menyerahkan buket mawar putih untuk ibu mertuanya itu.
"Selamat datang Bu, kami semua merindukan ibu. Jangan sakit lagi ya Bu" Tania memeluk ibu mertuanya.
"Oh Tania makasih sayang bunganya. Ibu suka, ibu nggak akan sakit lagi jika menantu ibu ini sering menemani ibu".
"Insya Allah Bu, Nia akan mengunjungi ibu tiap hari"
"Hmm, ada yang bahagia bakalan sering dikunjungi menantu kesayangan nih"
"Ya iya lah, siap siap saja para laki laki jika dua wanita ini sudah kompak"
"Ibu jangan mengajari yang tidak tidak sama Tania Bu"
"Mengajarkan yang tidak tidak bagaimana, ibu hanya mengajarkan dia jadi istri dan ibu yang baik"
"Hmm, iya iya" Alzyan mengangguk angguk.
"Oh ya Nia, ibu kan sudah nggak kuat pergi pergi. Mungkin setelah ini Yayasan Bunda ibu serahkan sama kamu saja yang urus. STIKES Bunda sepertinya butuh pengurus yang muda dan enerjik seperti kamu"
"Tapi aku tak mengerti apapun Bu"
__ADS_1
"Nanti ada yang membimbingmu, dan bertanyalah pada ibu"
Tania menatap suaminya, ingin komentar dari suaminya.
"Tak apa Nia, nanti kau juga bisa"
Bukan itu mas, masalah itu bisa kupelajari. Tapi bukankah mas pernah mengatakan akan membawaku pindah ke Pekan Baru.
Tania yang masih kebingungan mengangguk saja, dia memilih membicarakan nanti saja dengan suaminya.
"Oh ya, kita makan siang yuk. Nia sudah masakkan sop dan nasi khusus buat ibu"
"Buat suamimu nggak ada Nia ?"
"Bi Yumi sudah masak makanan kesukaanmu mas"
"Hmm, ibu sudah merebut istriku. Tania memasak untuk ibu saja"
"Anak ini, ibumu sendiri kau cemburui" Diana memukul pelan lengan anaknya.
Tania menyuapi ibu mertuanya dengan telaten, sebenarnya Diana sudah bisa makan sendiri. Tapi Tania tak mengizinkan Diana makan sendiri. Karena pengaruh stroke kemaren bibir Diana agak kaku, dan makanan akan keluar kembali jika tak hati hati. Sesekali Tania mengelap mulut Diana dengan tisu.
Diana merasa terharu, baru kali ini dia merasakan kasih sayang dari anak perempuan. Walaupun dua orang anak laki lakinya juga sangat menyayanginya. Tapi tentu saja berbeda dengan anak perempuan, anak perempuan lebih lembut.
Selesai makan, Tania mendorong kursi roda Diana kekamar karena sudah waktunya istirahat. Dibantu Alzyan Diana merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.
"Ayah bagaimana kondisinya mas?"
"Mudah mudahan ayahmu cepat pulih" Wajah Diana kelihatan sedih mengingat suaminya.
"Kita doakan saja, Ayah biar kak Rendy yang mengurusnya. Ibu sama Tania, dan aku bisa bolak balik ketempat ayah dan ibu juga sekalian kekantor mengurus perusahaan ayah"
"Perusahaanmu di Pekan Baru bagaimana?" tanya Diana.
"Baik baik saja Bu, untuk sementara bisa diserahkan sama Allif"
"Nia, ibu titipkan putra ibu ya. Dia sangat sibuk, dia butuh istri yang menunggunya pulang, butuh istri yang menguatkannya. Ibu harap kau bisa menjadi istri yang baik untuk putra ibu"
"Iya Bu" Tania mengangguk, dalam hati dia merasa kata kata ibu adalah tamparan keras buatnya. Kemana dia selama ini. Disaat Mas Zy butuh dukungan dia malah kabur melarikan diri.
"Bu, sudah sore kami harus pulang. Besok pagi aku akan mengantar Tania kesini. Kalau ada apa apa telpon saja ya Bu"
"Hmm" Dia melengos kurang senang mendengar perkataan anaknya.
"Ehm, mas.. apa tidak sebaiknya aku menginap dirumah ibu saja ?"
"Iya Zy" Diana menyetujui.
Alzyan melongo, dia kasihan sama ibunya. Tapi malam ini Tania miliknya bukan milik ibunya, sudah cukup lama Tania beralasan padanya. Dan ini sungguh menyiksanya.
"Lain kali saja menginapnya, malam ini kita pulang dulu ya Nia" Alzyan berusaha membujuk. Dan Tania tahu maksud suaminya membujuk dirinya.
"Ibu baru pulang kalian tak mau menginap, lagian Kasihan istri hamil bolak balik loh Zy" Diana tak mau kalah ingin perhatian dari menantunya.
__ADS_1
Tania jadi bingung dua orang didepannya ini memperebutkan dirinya. Akhirnya dia mengambil keputusan sepihak
"Aku menginap saja Bu"
"Taniaa" Alzyan putus asa.
Diana tersenyum penuh kemenangan
"Kami kekamar kami dulu ya Bu, ibu istirahat saja dulu" Tania menggamit tangan suaminya keluar.
"Iya" Diana mengangguk.
Tania dan Alzyan lalu masuk kedalam kamar mereka, Tania merebahkan tubuh lelahnya diatas ranjang.
"Nia, kenapa nginap sih?, mas jadi tidur sendiri malam ini" Alzyan ikut berbaring disamping istrinya. Dia tak setuju dengan keputusan istrinya menginap.
"Apa mas tak kasihan sama ibu?" Tania merubah posisinya jadi tengkurap, kedua tangannya menopang dagunya.
"Iya, tapi mas juga butuh perhatianmu Nia"
"Mas, aku janji setelah ibu tidur aku akan menemani kamu mas. Makanya mas juga nginap disini."
" Oo, mas juga diajak nginap. Tapi janji kamu nggak semalaman sama ibu ?"
"Janji, aku juga tahu kewajiban ku sebagai istri mas, maaf kemaren itu aku benar benar masih lelah setelah perjalanan dari Jambi"
"Iya mas ngerti kok"
Tania membuka jilbabnya, lagian ini didalam kamar hanya ada dia dan suaminya. Alzyan mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya, lalu dia merasakan bibir kenyal milik istrinya. Sangat manis, Alzyan sangat menyukai rasa ini sehingga dua anak manusia ini terhanyut.
"Stop mas, lanjut malam nanti saja ya" .
"Janji ?"
"He ehmm" Tania mengangguk.
Tert tert ponsel Alzyan berbunyi, dia menggeser tombolnya .
"Hallo ada apa Fan ?"
"Iya, saya segera kesana"
"Siapa mas ?"
"Affandi, mas kekantor ya" Alzyan mengecup kening istrinya.
"Iya,"
"Nanti mas pulang sebelum makan malam" lalu mengecup singkat bibir istrinya.
"Sudah sana berangkat" Tania mendorong muka Alzyan yang mau mendaratkan bibir di pipinya.
***
__ADS_1