
Tania dan Aisyah beserta 38 orang teman lainnya sesama tenaga kontrak telah sampai di kabupaten berbeda. Tania dan Aisyah di tempatkan di Kabupaten M langsung diantar oleh rombongan dinas kesehatan setempat di puskesmas A. Perjalanan menuju kabupaten M cukup melelahkan dengan perjalanan selama 6 jam dengan mobil. Mereka sampai disana ketika sudah pukul 14.00.
Aisyah melihat Tania yang sangat kelelahan, dia iba melihat temannya itu. Sementara mereka masih harus basa basi dengan kepala puskesmas.
"Maaf pak, apa bisa teman saya segera istirahat kelihatannya dia pucat sekali pak" Aisyah memberanikan diri bertanya pada kepala puskesmas. Aisyah tahu dia sudah lancang.
"Oh tentu saja dek, kami juga sudah harus apel siang. Kalian boleh istirahat, ini kunci rumahnya. Rumahnya dibelakang gedung puskesmas yang ketiga, kalau rumah pertama dan kedua sudah ada yang menempatinya. Di dalam sudah ada perabotan dan alat memasak seadanya."
"wah, terimakasih banyak pak" Aisyah dan Tania tersenyum gembira mengetahui mereka diberi rumah dinas dan sudah ada perabotan didalamnya.
Kepala puskesmas yang bernama Agung itu pamit untuk memimpin apel siang sementara Aisyah dan Tania juga beranjak dari ruang kepala puskesmas menuju rumah dinas mereka yang letaknya dibelakang puskesmas.
***
Sudah dua minggu Tania dan Aisyah menjadi tenaga kontrak di puskesmas A, letaknya di kecamatan, sebenarnya tidak terlalu terpencil terbukti disana ada listrik, sinyal ada, dan air menggunakan PDAM. Tapi ya kondisi disana jauh sekali bila dibandingkan dengan kota Jakarta yang mempunyai gedung gedung menjulang tinggi. Disini jangankan Mall atau supermarket toko toko besar pun tidak ada, hanya ada toko toko biasa, dan pasar tradisional.
Hari ini adalah hari pasar, Tania dan Aisyah diajak oleh kak Yuli perawat tetangga mereka pergi ke balai. Disini setiap hari minggu ada hari balai, dimana pedagang menggelar dagangan mereka di pasar tradisional mulai dari buah buahan, sayuran, ikan, pakaian, peralatan dapur. Uniknya buah buahan dan sayuran yang dijual adalah hasil petani lokal yang tentunya bebas pestisida.
Tania membeli rambutan dan duku, air liurnya sudah menetes ketika melihat buah buahan segar itu. Seminggu ini dia menahan seleranya. Setelah terasa cukup ber belanja kebutuhan mingguan mereka pun pulang kerumah.
"Nia kau istirahatlah, biar aku saja yang memasak"
"Iya, makasih Aish" Tania menurut saja, dia memang merasa sedikit lelah. Tania lalu merebahkan tubuhnya lalu melihat lihat galery ponselnya. Entah mengapa Tania sangat merindukan Alzyan, rasanya ingin pulang kerumahnya menemui suaminya. Tapi tak mungkin, jarak cukup jauh memisahkan dia dan suaminya.
"Mas Zy aku merindukanmu" bisik Tania lirih sambil menatap foto suaminya. Bulir air mata pun menetes.
"Mungkin kau sudah menikah dengan Maysa, lambat laun kau akan melupakanku mas". Tania menaruh ponselnya tak sanggup menatap foto itu lagi.
***
Alzyan tak berhentinya bekerja siang dan malam selama lebih dari sebulan ini. Beruntung sekretaris dan asisten ayahnya banyak membantu. Sekarang jam 9 malam dia baru saja selesai berdiskusi dengan Affandi asisten ayahnya.
__ADS_1
"Fandi besok kita rapat dengan seluruh kepala divisi, persiapkan semuanya. Dan suruh Sarah menyiapkan apa yang saya perlukan"
"Baik Tuan, apakah anda mau pulang sekarang ? " Affandi bersiap hendak mengantar Alzyan, seperti biasa dia mengantar Tuan Akmal.
"Iya, antar saya kerumah sakit" Seperti biasa sepulang dari kantor Alzyan selalu menyempatkan diri menjenguk ayah dan ibunya dirumah sakit. Tadi perawat mengabarkan ibunya sudah bisa bicara. Namun karena kesibukan dia belum sempat kesana melihat ibunya.
Setelah sampai dirumah sakit Alzyan bergegas berlari keruang ICU, tak sabar ingin menjumpai ibu dan ayahnya. Ketika pintu dibuka, terlihat pemandangan yang sangat dirindukan Alzyan. Senyum ibunya mengembang menyambut dirinya.
"Ibuu.. " Alzyan menghambur memeluk ibunya.
"Maaf bu, aku telat sampai kesini"
"Tak apa Zy, ibu tahu kamu sibuk nak"
Alzyan lalu mengecup kening ibunya. Dia menggenggam jemari ibunya yang kelihatan kurus.
"Ibu, akan pindah keruang perawatan VVip sebentar lagi."
"Perawat akan mengurus ayah dengan baik bu, dan ibu akan ditemani bi Harti diruang perawatan. Aku akan melihat ibu setiap hari bu"
"Zy, ibu ingin dirawat Tania saja, biar dia menemani ibu di ruang perawatan". Wajah Diana kelihatan memelas.
"Biar perawat saja bu, aku akan meminta perawat senior yang merawat ibu"
"Dia anak perempuan ibu, ibu ingin dia saja yang menjaga ibu. Banyak keperluan pribadi ibu yang rasanya malu jika perawat yang melakukannya untuk ibu. Apa kau tak mengizinkan istrimu merawat ibu Zy ? "
"Bukan begitu bu," Alzyan jadi kebingungan.
"Besok pagi bawa Nia kesini, ibu sangat merindukannya. Ibu janji tak akan menyusahkannya, ibu hanya ingin dia menemani ibu saja, dan mengganti pampers. Ibu malu jika orang lain yang melakukannya"
"Baiklah bu"
__ADS_1
Besok aku akan meminta Tania menemani ibu. Tania gadis yang baik, kurasa dia tak akan menolak permintaan ibu. Dia kan masih menantunya ibu.
"Ada apa Zy, kok melamun nak? "
"Ah tidak bu" Alzyan menggeleng. Kemudian datang dua orang perawat.
"Pak Alzyan, nyonya Diana sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Kami minta izin memindahkannya"
"Baiklah sus, silahkan"
Alhamdulillah, diruang perawatan ibu bisa tidur lebih nyaman. Besok aku akan kebengkel Alvin mencari Tania. Mungkin Tania menginap dirumah pria bertato itu.
Bi Harti sampai diantar pak Indro, Alzyan langsung membisikkan agar bi Harti tak memberitahu ibu jika Tania tak dirumah. Kemudian Alzyan pun pulang diantar oleh Affandi. Dalam perjalanan beberapa kali dia menelpon nomor Tania, namun tidak aktif.
Dia sengaja menjauh dariku, semoga besok aku berhasil membawanya kerumah sakit untuk menemani ibu
***
Pagi pagi Alzyan sudah siap dengan stelan jas berwarna abu abu gelap, dengan kemeja dan dasi berwarna senada. Sangat cocok dengan kulit putihnya, rambutnya yang bergelombang disisirnya rapi. Alzyan menatap bayangannya dicermin, dia tersenyum tipis. Alzyan turun kedapur lalu mengambil dua lembar roti tawar lalu mengolesnya dengan selai coklat menangkupnya menjadi satu. Zy menggigit dengan rapi rotinya, sesekali dia tersenyum tipis.
"Ah kenapa aku senyum senyum sedari tadi? " Alzyan menyadari keanehan pada dirinya pagi itu.
"Apa karena aku akan menjemput Tania?"
Alzyan geleng geleng kepala sembari tersenyum kembali.
"Aku memang sudah gila karena Tania, disaat dia meninggalkanku dengan laki laki lain aku malah berharap dia mau kembali padaku, dan meminta maaf atas kesalahannya. Jika dia melakukan itu. Aku janji aku akan memaafkannya, menerimanya kembali dan memulai dari awal. Kuharap belum terlambat"
Alzyan mengoceh sendiri di dapur, rindu dihatinya sangat besar pada Tania. Pagi ini dia akan minta Tania menemani ibunya dirumah sakit. Dan perlahan dia akan meminta Tania kembali padanya, Alzyan berharap Tania akan memaafkannya. Alzyan lupa bahwa kemaren dia berjanji akan melepas Tania dengan laki laki yang menghamilinya. Alzyan egois, ia menginginkan Tania kembali padanya.
****
__ADS_1