
Sarapan kali ini bertiga di meja makan, Tania dan Aisyah merasa gugup takut jika Tuan didepan mereka ini menanyakan tentang mengapa mereka kabur ke Jambi. Apalagi Aisyah, dia sudah pasrah jika dia mendapat hukuman atas tuduhan Tuan Alzyan membawa istrinya kabur. Makan tanpa bersuara membuat suasana mencekam bagi Aisyah. Aura Tuan Alzyan pagi ini sungguh mengerikan. Selesai makan Aisyah hendak buru buru kembali kekamar.
"Duduk dulu Aisyah, ada yang ingin saya bicarakan" Dalam hati Alzyan menahan tawanya, dia tahu Aisyah takut kepadanya.
Ya Allah selamatkan hambamu ini
"Ceritakan padaku bagaimana ceritanya kalian bisa kompak jadi tenaga kontrak diJambi hmm ?"
Tania dan Aisyah terdiam tak berani menjawab, mereka seperti anak gadis yang dimarahi bapaknya, menatap mata Alzyan saja mereka tak berani.
"Aisyah, kau tahu Tania itu istriku berani beraninya kau mengajak dia kabur ke Jambi"
Enak saja kamu menuduhku begitu, istrimu saja yang egois. Main kabur kabur segala.
"Aisyah jawab, atau ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi. Kalau tidak aku akan menghukum temanmu ini seberat beratnya" Wajah Alzyan terlihat serius, dia sengaja menatap tajam Aisyah dengan mata besarnya.
Aisyah jadi mengerut ingin menghilang saja rasanya, sementara Tania cemas dengan hukuman apa yang sebentar lagi akan diterimanya.
Astagfirullah, bagaimana ini apa aku jujur saja ya. Tuan Zy seperti mau menelanku saja. Ckk, aku jujur sajalah bagaimanapun juga lebih baik jujur daripada berbohong. Dosa.
"Syah.. aku hitung sampai 3, satu... dua..."
"Aish Tuan, bukan Syah"
"Kau lebih baik dipanggil Syahputra daripada Aish, kau itu seperti laki laki tau tidak ?"
Apaa ?, cihh jangan mentang mentang istrimu cantik ya,, aku tak kalah cantiknya dari Tania asalkan aku berdandan. Huhh dasar menyebalkan, pantas saja Tania kabur darimu Tuan.
"Baiklah Tania kau akan menerima hukumanmu sekarang juga" Alzyan berdiri hendak menyeret Tania.
"Tunggu, langkahi dulu mayatku sebelum kau menyakiti Tania tuan. Baiklah akan kuceritakan"
"Haha akhirnya kau menyerah juga, baiklah ceritakan"
__ADS_1
Kukira dia akan menantangku berkelahi, pakai kata kata langkahi mayatku segala. Eh rupanya cuma mau cerita. Syah Syah...
"Aku tak pernah mengajak Tania menjadi tenaga kontrak disini, aku sendiri tidak tahu kalau dia juga mendaftar. Aku tahu ketika kami sudah tiba bandara. Tania mana mempan aku nasehati, dia tetap dengan pendiriannya jadi tenaga kontrak di Jambi"
"Oh ya ?, Tania kenapa nekat begitu sayang ?" Alzyan kini beralih pada Tania.
"Sayang sayang, nggak nyadar dengan kesalahan sendiri. Nggak ingat kemaren tidak mengakui anakku ini."
"Iya aku ingat, aku sangat menyesal dan kau sudah memaafkan aku untuk itu semalam. Walaupun begitu jangan main kabur juga donk, kau menghilang setelah kita menemui dokter Susan kalau ada apa apa kenapa nggak kamu bicarakan baik baik. Ini malah ngaku ngaku dihamili Alvin. Untung saja kau tak dituntut Alvin pasal pencemaran nama baik"
Tania dan Aisyah saling berpandangan.
"Aisyah kau boleh pergi, kamu mau berangkat kerja kan ?"
"Iya Tuan, kalau begitu saya permisi" Aisyah memberi hormat pada Alzyan. Pikirnya tadi dia benaran akan dimarahi Alzyan, kini dia bisa bernafas lega.
Alzyan mengangguk, "Nia, kita bicara dikamar saja" Alzyan seraya berdiri berlalu kekamar. Lalu Tania menyusulnya.
"Siapa yang mengizinkan kau kerja hari ini, kita kembali ke Jakarta"
"Mas" Tania ingin protes.
"Jangan kekanakan Nia, kita harus bicara baik baik. Sudah cukup kesalahpahaman antara kita." Alzyan duduk dipinggir ranjang.
"Sini duduklah" Alzyan menarik Tania hingga duduk dipangkuannya. Alzyan memeluk pinggang Tania dari belakang hingga Tania menjadi gugup karenanya.
"Lihat, kau malah jadi gugup begini didekatku. Padahal dulu kau sangat agresif, ingat tidak ?"
Muka Tania jadi merona, dia menunduk berusaha menyembunyikan mukanya. Alzyan mengecup pundaknya lalu menghirup aroma tubuh Tania.
"Ceritakan apa yang membuatmu begitu nekat pergi ke Jambi, pasti kau waktu itu dalam masalah berat. Suamimu minta maaf ya.. Hanya maaf yang bisa mas ucapkan. Kau boleh hukum mas, ceritakan dulu masalahmu dan mas juga akan menceritakan apa yang terjadi sama mas." Alzyan semakin mengeratkan pelukannya dari belakang
"Iya kuceritakan, tapi aku turun dulu. Jangan dipangku"
__ADS_1
Alzyan menurunkankan Tania, lalu dia bergeser membiarkan Tania duduk disampingnya. Mereka berdua duduk berselonjor di ranjang. Tania menarik nafas panjang sebelum memulai ceritanya.
"Mas ingat ketika waktu kita menemui dokter Susan, aku sangat kecewa setelah dokter Susan menjelaskan dengan seksama mas tetap meragukan ku. Aku lelah menghadapi kamu waktu itu mas. Makanya aku berlari tidak tau arah tujuan"
"Maafkan aku ya?" Alzyan telah berulang kali minta maaf, tangannya menggenggam tangan Tania.
"Aku tak tahu tujuanku kemana, karena haus aku turun di depan mini market untuk membeli air mineral. Saat itulah aku bertemu dengan Maysa. Dia menawariku makan siang dan kami mengobrol biasa."Tania berhenti memberi jeda, dia menatap wajah Alzyan.
"Teruskan sayang"
"Dia mengatakan bahwa perusahaan dan rumah sakit dalam keadaan tidak baik, dia juga mengatakan bahwa sebenarnya mas bukanlah petani biasa tapi seorang pengusaha yang bergerak di bidang pertanian. Aku merasa tak pantas bersanding denganmu mas. Ditambah lagi Maysa mengatakan papanya akan membantu perusahaan ayah asalkan mas mau menikahinya."
"Dan kau menyerahkan suamimu ini pada Maysa demi perusahaan ayah, begitu ?"
"Waktu itu aku belum tahu harus berbuat apa, aku hanya ingin pergi jauh saja. Aku berlari keluar dari cafe, aku berlari ditengah hujan dan akhirnya aku pingsan dijalan. Disitulah bang Alvin menemukanku dan dia membawaku kerumahnya."
"Darimana dapat ide mengatakan Alvin ayah dari anakmu?"
"Terlintas begitu saja mas, Setelah siuman aku minta tolong sama bang Alvin mengantarku kerumah sakit untuk melihat ayah dan ibu karena ada pesan dari Aisyah mengatakan bahwa kondisi ayah menurun. Pada saat itulah aku melihat kak Rendy memarahi kamu mas. Dia meminta kamu menerima tawaran tuan Gunawan. Yang kupikirkan saat itu adalah hanya untuk menyelamatkan ayah. Aku membawa bawa nama Abang Alvin yang tahu apa apa. Aku egois mas, seharusnya aku bicara dulu baik baik sama kamu mas." Mata Tania berkaca kaca,
"Jangan menangis, jika ada yang patut di salahkan, maka mas lah orangnya. kamu nggak salah sayang" Alzyan mengusap airmata Tania dengan itu jarinya, kemudian menyibak anak rambut yang menutupi wajah Tania.
"Dan aku mendapat ide ke Jambi itu terlintas begitu saja, Aisyah tak tahu menahu soal itu. Jangan mas salahin dia, Aisyah juga tak punya nomor ponsel mas untuk memberitahu aku disini."
"Iya tak apa, mas tak menyalahkan Aisyah. Sudah mas bilang jika ada yang harus disalahkan maka mas lah orangnya"
Alzyan menarik Tania dalam pelukannya, diciumnya pucuk kepala wanita itu. Alzyan memeluk erat tak ingin lagi terpisahkan dengan ibu dari anaknya itu.
"Kita pulang hari ini ya, nanti kita minta izin sama teman temanmu di puskesmas"
"Iya mas" Tania mengangguk, menurut saja dengan suaminya sepertinya lebih baik bagi Tania, tak munafik dia juga ingin kembali bersama dengan suaminya.
***
__ADS_1