
Alzyan berlari menerobos beberapa orang yang berkerumun, beberapa kali dia hampir menabrak seseorang dia tak peduli orang yang mengumpat padanya. Dari kejauhan dia melihat punggung Tania yang menjauh kearah jalan keluar.
Nada dering dari ponsel milik Alzyan berbunyi dari tadi, dia tak menghiraukannya. Namun seseorang menghentikannya.
"Zy, kau mau kemana. Ikutlah denganku" Antony menepuk pundak Alzyan.
Alzyan menghentikan larinya, dia masih ngos ngosan.
"Kau mengejar siapa ?. Aku baru diberitahu kondisi ayahmu menurun, dia harus dilakukan pacu jantung. Ayolah kita kesana".
"Ayah kritis? "
"Iya, ayolah" Antony berjalan dengan langkah panjang mendahului Alzyan. Alzyan pun terpaksa mengurungkan niatnya mengejar Tania. Alzyan pun menyusul Antony.
Di dalam ruang ICU telah berkumpul beberapa dokter spesialis yang menangani Tuan Akmal Karim. Diluar ruangan ada Rendy putra angkat Akmal. Dia kelihatan sangat cemas, ketika Alzyan datang dia langsung menghampiri anak kandung ayah angkatnya itu.
"Kau darimana saja Zy, mengapa kau tinggalkan ayah dan ibu? "
"Aku tadi sudah menitipnya dengan perawat"
"Iya, aku tahu. Tapi kau pergi sangat lama. Perawat bilang kondisi ayah ngedrop saat kau meninggalkannya"
"Maafkan aku kak" Alzyan lalu mengintip dari kaca, didalam dokter sedang melakukan tindakan.
Alzyan menangis melihat ayahnya yang sangat lemah, tak henti hentinya dalam hati dia memohon kepada Allah agar menyelamatkan ayahnya. Semalam di juga solat tahajjud dan bermunajat kepada Allah agar ayah dan ibunya sehat kembali.
*****
Tania tak tahu kemana arah yang akan ditujunya, dia memandang ke jalanan melalui jendela mobil yang ditumpanginya.
"Nona sebenarnya mau kemana? "
"Ehmm, berhenti diujung saja. Didepan mini market"
"Baik nona" Sopir taksi itu lalu menurunkan Tania didepan sebuah mini market. Tania pun turun.
Karena kehausan habis berlari tadi Tania ingin membeli air mineral. Setelah diluar mini market Tania segera membuka segel air mineral ditangannya menenggaknya sampai habis setengah. Tania berdiri di emperan mini market merenungi akan kemana dia setelah ini.
"Tania, kok kamu sendirian. Mana suamimu? " Seseorang menyentuh pundak Tania dari belakang. Tania menoleh.
__ADS_1
"Maysa"
"Kita ke cafe di sebelah sana yuk, aku traktir kamu" Maysa tersenyum ramah.
Tania termenung sejenak menatap Maysa
"Sangat cantik" batin Tania, berbeda sekali denganku.
"Hei kenapa menatapku begitu, ayolah" Maysa menggamit tangan Tania, Tania terpaksa mengikutinya.
Di Cafe mereka memesan minuman dan makanan.
"Ini ucapan terimakasihku karena kau mengizinkanku menginap dirumahmu"
"Ah kenapa harus terimakasih May"
"Aku tahu awalnya kau keberatan aku menginap dirumahmu, tapi akhirnya kau berbaik hati mengizinkanku menginap. Aku terimakasih untuk itu"
Seorang pelayan datang mengantar pesanan mereka.
"Silahkan di nikmati Tania, kau kelihatan pucat sekali. Apa kau belum makan siang ? "
"Ehmm, kebetulan belum" Tania menjawab dengan jujur. Lalu dia menyeruput jus jeruk hangat, lalu mencicipi kwetiau pesanannya.
"Tania, sepertinya kau sedang sakit mukamu pucat sekali. kau juga kelihatan agak kurus. Apa karena hamilmu ? "
"Iya May, biasalah wanita hamil memang sering muntah dan kadang tidak berselera makan" Jawab Tania, dia penasaran sebenarnya apa yang ingin dibicarakan Maysa.
"Apa suamimu kurang perhatian sama kamu ? "
"Bukan begitu, mas Zy sedang sibuk sekarang karena ayah dan ibu sakit"
"Tapi kulihat semenjak aku dirumahmu dia sudah kurang perhatian sama kamu, waktu itu kan ayah dan ibunya belum sakit. Dia malah perhatiannya sama aku"
"Maysa, sebenarnya kamu mau bicara apa sih, kalau hanya ingin memanasiku percuma saja. Kalau tidak ada yang penting aku pergi saja" Tania berdiri hendak pergi dari tempat itu. Maysa buru buru mencegahnya.
"Tunggu dulu, duduklah. Aku ingin memberitahu sesuatu padamu. "
Tania pun kembali duduk, dia melengos menahan kesal pada perempuan didepannya ini.
__ADS_1
"Perusahaan ayah mertuamu sedang dalam masalah besar, dan terancam bangkrut. Rumah sakit juga dalam masalah, ada yang berkhianat. Suamimu tak mau membantu ayahnya mengelola perusahaan. Dia sibuk mengurus perusahaannya sendiri di Pekan Baru. Sekarang hanya papaku yang bisa membantunya" Maysa berhenti tidak melanjutkan kata katanya.
"Terus, saya harus apa Maysa. Apa hubungannya denganku ? Suamiku bukannya tak mau membantu, dia hanya ingin hidup dari nol dengan menjadi petani"
"Sebagai menantu yang baik, apa kamu tidak kasihan dengan mertuamu yang sudah merintis usahanya dari nol sampai sesukses sekarang, itu tak mudah Tania."
"Jangan berbelit belit Maysa, aku tak punya kemampuan mengembalikan perusahaan itu menjadi normal kembali"
"Siapa bilang kau tak punya kemampuan, kau belum tahu papaku mau membantu menanam modal diperusahaan om Akmal dan dia bisa mengajak investor menanam modal disana. Tapi dengan satu syarat" Maysa tersenyum menyeringai.
"Apa syaratnya, apa hubungannya denganku ?"
"Papaku meminta kak Zy menikahiku, menjadi istri kedua suamimu secara sah. Bagaimana Tania ?"
Bagai disambar petir Tania mendengar kabar itu, Tania belum tahu kebenarannya namun dia merasa tak sanggup bila harus dimadu.
"Bagaimana Tania, kau bersedia kan di madu, Kau tetaplah istri pertama dan aku madumu" Maysa tersenyum.
"Mas Zy belum tentu menyetujui syarat ini !" Suara Tania mulai terdengar bergetar.
"Oh ya, kau harusnya bersedia lagi pula anak dalam rahimmu kabarnya bukan anak kak Zy, beruntung suamimu itu masih mau menerimamu karena kau pilihan ibunya. Kau tak lebih hanya sekedar pemuas nafsu Alzyan saja Tania"
Tak terasa bulir airmata jatuh dipipi Tania, menetes semakin deras, dia menyeka air matanya.
"Tania, kau lihatlah ini" Maysa menyodorkan ponselnya pada Tania. Tania melihat apa yang ingin ditunjukkan wanita itu.
Beberapa foto suaminya dan Maysa dibandara, Tania ingat kemeja yang dipakai mas Zy hari itu. Kemeja berwarna biru. Dan beberapa foto suaminya dan Maysa di sebuah hotel.
"Ini foto ketika aku ikut mas Zy ke Riau kemaren, dan kami menginap dihotel, yah foto dikamar memang tidak ada. Itu rahasia" Maysa tersenyum licik.
"Oh ya, kamu belum tahu ya suamimu punya perusahaan yang besar di Pekan Baru, dia punya ratusan hektar lahan sawit. Entah apa lagi yang dimilikinya disana pokoknya kau tak akan mampu menghabiskannya, dan kau tak akan mampu membantu suamimu mengelolanya, tapi aku bisa membantunya. Dan kau sebagai istri pertama diam saja dirumah. Kak Zy tak akan mencampakkanmu selagi ibu mertua kita masih hidup, dia sangat menghargai ibunya".
Tania masih menangis tak bersuara, Namun Maysa menyerangnya kembali.
"Kau naif sekali, suamimu tak menafkahimu selayaknya istri seorang CEO dan menantunya seorang presdir dengan dalih dia hanya seorang petani biasa. Lihat apa pakaianmu itu layak sebagai menantu Akmal Karim, apa dandananmu itu layak sebagai istri seorang Yusuf Alzyan Karim ? "
"Sudah cukup Maysa. Aku pergi sekarang" Tania berdiri dan berlari keluar.
"Tunggu Tania, diluar hujan deras !" Maysa pura pura mencegah. Namun dia menyunggingkan senyum tipisnya.
__ADS_1
Tania tak peduli hujan deras, dia berlari ditengah hujan. Entah berapa jauh dia berlari, pikirannya sangat kacau dan tubuhnya sangat lelah. Dan Tania terjatuh dibawah rintik hujan yang deras, ibu hamil ini pingsan untuk kali kedua pada hari ini.
*****