
Jam 09.05 Tania sudah berangkat dari rumahnya diantar oleh pak Indro. Dia ingin mengunjungi bibi Salma. Tadi dia sudah minta izin suaminya untuk mengunjungi bibi Salma juga telah memberitahu bibi Salma bahwa dia akan datang.
"Assalamualaikum"
"Wa alaikum salam, Tania mari masuk sayang" Bibi Salma rupanya sudah menunggu didepan teras.
"Bibi Sehat?" Sembari duduk disofa. Lalu menaruh tas kecilnya.
"Alhamdulillah sehat, hmm perut kamu sudah kelihatan Nia berarti bentar lagi bibi punya cucu"
"Iya nih bi, aktif banget geraknya baru 6 bulan pas hari ini bi."
"Kok sudah lama kamu nggak main kerumah bibi, kirain udah lupa sama bibi"
"Aku sibuk banget loh bi, harus tiap hari kerumah sakit merawat ayah dan tiap hari juga kerumah merawat ibu, Apalagi mas Zy dia selalu sibuk dikantor. Malam tadi baru pulang dari Pekan Baru"
"Jangan kecapean loh Nia, oh ya Reza bilang kemaren beberapa minggu lalu Alzyan nelpon dia nanyain kamu. Bibi jadi khawatir , kalian nggak lagi ribut kan?"
"Oh, nggak kok Bi. Kami baik baik saja. Mungkin waktu itu Nia lagi keasyikan main di Mall, lupa kasih tau sama mas Zy". Tania terpaksa berbohong, dia tak mau mengumbar masalah keluarganya.
"Oh gitu, sekitar tiga atau empat hari setelah itu bibi nelpon Alzyan, nanyain masalah itu. Katanya juga begitu, kamu lupa ngabarin katanya. Lain kali kalo jalan jalan jangan sampai lupa ngabarin suami loh Nia, nggak baik begitu yah"
"Iya bi" Tania mengangguk sembari tersenyum.
"Suamimu itu baik banget loh Nia, tiap bulan transfer sama Reza. Katanya buat biaya sekolah, tapi berlebih dari biaya sekolah Reza. Reza mau ngembaliin dia tak mau. Dia bilang simpan saja, ya udah bibi bilang juga gitu sama Reza simpan aja lebihnya"
"Oh ya bi ?, mas Zy nggak pernah cerita sama Nia"
"Mungkin dia tidak mau orang lain tahu dia bersedekah, termasuk istrinya"
"Iya bi mungkin juga" Dalam hati Tania bersyukur ternyata mas Zy peduli dengan keluarganya.
"Kedapur yuk Nia, bibi tadi bikin getuk loh, kesukaanmu"
"Oh, mau bi" mata Tania berbinar.
Setelah mencicipi getuk buatan bibi Salma, Tania segera pamit, karena dia harus kerumah sakit.
Dirumah sakit seperti biasa, Tania mengelap badan ayah mertuanya, memberinya makanan cair dan mengajak mertuanya itu mengobrol.
Saat jam menunjukkan pukul 12.10 pintu ruangan ICU terbuka, Alzyan dan Rahayu datang bersamaan.
"Bagaimana ayah hari ini" Tanya Alzyan.
"kulitnya cerah tidak pucat seperti biasa"
"Kalau kalian mau makan siang pergilah, biar aku yang menunggui ayah" Ujar Rahayu.
"Ayolah mas, tadi aku nelpon mba Ayu buat jagain ayah, karena mas Rendy memberitahu dia ada rapat"
__ADS_1
"Ooh kalau gitu titip ayah ya Yu?"
"Iya Zy, biar aku disini"
Di perjalanan
"Mas, aku pengen naengmyeon"
"Apa itu, baru dengar. Sejenis aksesoris wanita ya?"
"Ih mas, makanan Korea mas"
"Oo, udah pernah nyicip?".
"Belum, pernah liat di Instagram"
"Oke, kita ke Resto Korea. Tapi tumben selera kekoreaan, biasanya ndeso" tersenyum mengejek Tania.
"Ckk, macam selera mas internasional aja. Paling seputaran kebab ama nasi briyani aja"
"Emang kamu nggak suka ya makanan ala ala arab gitu, semenjak hamil kamu nggak pernah mengidamnya. Malah dulu mual mual waktu dirumah ibu disuguhi menu ala arab "
"Dulunya sih suka suka aja mas, kemaren itu dirumah ibu aku lagi kuat mualnya, kan lagi hamil muda. Kapan kapan ajak donk Nia ke restoran milik ayah"
"Oke, kapan kapan ya kita ke Al Karim Restaurant"
Sampai di restoran korea, Tania memesan menu idamannya naengmyeon, Alzyan menyamakan saja dengan pesanan istrinya, karena dia tak paham sama sekali dengan makanan Korea.
"He eh, sesuai ekspektasi. mas suka?"
"Hmm suka sih, mas nggak pemilih soal makanan"
Setelah makan siang, Alzyan pamit sama Tania ke toilet. Tinggal Tania sendirian memainkan ponselnya sambil menunggu suami datang.
"Eeh makan disini, hmm enak ya jadi menantu orang kaya bisa makan direstoran mewah. Kok bisa ya kamu jadi menantu Akmal " Seorang ibu ibu dengan pakaian serta aksesori serba branded.
Tania menghela nafas, memutar bola matanya jengah.
"Memang udah jodohnya nyonya" Tania mencoba tersenyum.
"Apa kau guna guna mereka sekeluarga, buktinya Diana terserang struk dan Akmal koma, kamu ingin menguasai hartanya. Ishh untung saja kau tak jadi menantuku" Melirik dengan sinis.
Tania memilih diam daripada meladeni, dia takut nanti malah membuat keributan.
"Eh, sudah bisa beli beli tas mahal sekarang ya?" Melirik Tas Tania yang seharga 50 jutaan itu.
Tania memangku tasnya, tas yang dibelinya ketika jalan jalan sama Ayu kemaren.
"Ah tas biasa aja nyonya,"
__ADS_1
"Sini, saya lihat" Menarik tas itu dari tangan Tania." Tania menarik kembali sehingga terjadinya tarik menarik. Tania yang masih muda tentu saja lebih kuat, dan nyonya Helen jatuh terjengkang, apalagi dia memakai heel. Sontak membuat pengunjung lain tertawa.
"Apa apaan ini Tania ?"
"Mas, ehm aku nggak sengaja" Menunduk tak berani menatap suaminya.
"Ckk, dasar wanita murahan" Menatap jijik pada Tania.
"Hei nyonya apa hak mu mengatakan istriku wanita murahan, jangan kau kira aku tak melihat yang kau lakukan tadi pada istriku, Dasar perempuan tua tak tahu diri"
"Mas sudahlah, jangan diladeni. Kita pulang saja" Menarik tangan suami, Alzyan ikut saja.
"Siapa sih ?" Alzyan masih kesal. Dia menghempaskan bokongnya di jok mobil.
"Nyonya Helen, ibunya kak Arkhan"
"Apaa, untunglah kamu tak jadi menantunya mak lampir itu. jika kau jadi menantunya pasti mas akan rebut istrinya Arkhan."
"Mas, sudah jangan ngomel lagi. Nia kan isterinya Alzyan, " mencolek pipi suaminya.
"Kalau bukan wanita dan dia tidak seumuran ibu, sudah mas gampar dia".
"Huss, jangan emosi mas.. udahlah," Mengecup bibir suaminya sekilas.
"Ayo mas, kita pulang. Jangan diambil pusing".
"Tapi aku tak Sudi dia menghina istriku" Menatap istrinya lembut, wajah cantik Tania meredam emosinya. Perlahan dia mendekatkan wajah pada istrinya menenggelamkan bibirnya pada bibir Tania, cara ini bisa meredam amarahnya.
"Nia janji akan membuktikan bahwa penilaiannya terhadap Nia salah, Nia akan membuktikan bahwa Nia pantas jadi menantunya Akmal Karim. Kamu percaya Nia kan mas ?" menangkup kedua tangannya kewajah suaminya.
"Iya mas percaya, kau wanita istimewa. Kamu bidadari dikeluarga kami. Mas yakin mereka yang telah menghinamu akan menyesal, Ibunya Arkhan dan Maysa." Alzyan mengecup kening istrinya. Alzyan menancapkan gasnya, meninggalkan tempat itu.
Dalam perjalanan, ponsel Alzyan berdering.
"Nia ambil ponsel mas, angkat saja teleponnya"
Tania meraih ponsel Alzyan diatas dashboard.
"Hallo?"
"Iya, Oh Alhamdulillah. " Tania kegirangan.
"Ada apa Nia?"
"Mas, ayah susah sadar"
"Alhamdulillah ya Allah, ayo kita kembali kerumah sakit."
Hati mereka yang sempat kesal karena tragedi di restoran berubah menjadi bahagia tak terkira, Tania lalu menelpon Ibu Diana untuk memberitahu kabar bahagia ini.
__ADS_1
*****
Like nya donk sayang..