
Prosesi Tujuh bulanan sudah selesai dilakukan, pasangan bahagia Alzyan dan Tania tengah berpelukan berdua di balkon menikmati malam berbintang.
Alzyan mengecup pundak Tania, menghirup wangi wanita itu. Tania pun menikmati perlakuan suaminya. Besok suaminya akan berangkat ke Pekan Baru selama seminggu, sehari sebelum pernikahan Rendy dan Rahayu barulah suaminya nanti akan pulang. Malam ini Tania ingin bermanja manja dengan suaminya.
"Nia, apakah masih ada terbersit dihatimu meragukan cintaku?".
Mendapat pertanyaan seperti itu Tania mengernyitkan dahinya. Namun dia balik bertanya.
"Kenapa mas bertanya seperti itu, apakah aku kelihatan seperti wanita pencemburu yang tak mempercayai suaminya?"
"Tidak"
"Lalu, apa suamiku ini memang masih belum sepenuhnya mencintaiku?".
Alzyan membalikkan badan Tania sehingga mereka berhadapan, Dia menangkupkan tangannya pada wajah cantik istrinya.
"Tentu saja tidak sayang, kamu ratu dihatiku. Aku sangat mencintaimu"
"Lalu kenapa bertanya seperti tadi ?"
Alzyan mengecup singkat bibir sang istri, lalu memeluk tubuhnya. Menarik nafas menghirup aroma tubuh sang istri.
"Kita telah mengalami banyak cobaan, kita juga pernah hampir berpisah namun kita bisa menghadapi semua cobaan itu dengan kekuatan cinta kita." Alzyan mempererat pelukannya dan membelai rambut panjang istrinya.
"Jika suatu saat nanti kita dihadapi cobaan yg lebih berat berjanjilah kita tetap selalu bersama. Jika suatu saat aku lemah berjanjilah kau selalu jadi penopangku, jika aku lelah berjanjilah jadi penguatku. Bahkan jika nanti aku sendiri yang meragukan cintaku, berjanjilah akan memupuk kembali cintaku. Nia berjuanglah demi aku, demi cinta kita demi anak anak kita"
"Mas kenapa berkata seperti itu, aku ingin berjuang bersamamu. Jika bersama kita akan bisa menghadapi semua cobaan seberat apapun"
"Berjuanglah sekuat tenagamu untuk cinta kita walaupun nanti kau harus berjuang sendirian"
"Maksudmu mas?"
"Diluar banyak sekali godaan, apa kau tidak ingin mempertahankan atau memperjuangkan suamimu ini, aku tampan loh, kaya lagi"
"Narsis" Bibir mengerucut.
"Nia ini kenyataan"
"Tak akan kubiarkan siapapun menggodamu, apalagi merebutmu dariku"
"Janji ?" Alzyan menatap manik mata istrinya.
" Asalkan mas jangan keganjenan" Tania mencubit perut suaminya.
"Dunia diluar keras Nia, pertahankan milikmu. Aku milikmu, pertahankan selamanya"
"Takkan kubiarkan orang mengambilmu dariku" Tania memeluk pinggang suaminya posesif.
"Benar ya, jangan berikan aku pada orang lain, aku hanya ingin jadi milikmu"
"Apa bukti kamu hanya ingin jadi milikku mas" Tania melonggarkan pelukan mereka lalu mendongak menatap mata suaminya.
"Kamu ingin buktinya?" Tangan Alzyan mulai bergerilya ditempat tempat strategis milik Tania.
"Mas.."
"Cup"
Alzyan mengangkat tubuh sang istri kedalam, membaringkannya diatas ranjang.
__ADS_1
"Malam ini dan selamanya aku hanya milikmu sayang. Kau berhak atas diriku malam ini dan selamanya"
Tania tersipu malu, mukanya merona.
"Mas matikan lampu"
Lampu dimatikan, berganti lampu tidur yang remang remang. Sepasang kekasih halal yang dimabuk cinta tengah meluapkan rasa cinta mereka.
***
"Mas sampai kapan kita begini, aku sebenarnya gak kuat pisah lama dari kamu mas"
"Sabar, nanti sudah lahiran mas akan ajak kamu kemanapun mas pergi. Rumah kita di Pekan Baru sudah siap"
" Berarti kita terus terusan bolak balik donk mas?"
"Lebih baik begitu, daripada mas meninggalkanmu sendirian disini. Kamu tak kuat mas lebih tak kuat lagi. Mas lemah tanpa kamu"
"Lebay, masa sih suamiku bisa lemah tanpaku?"
"Nia mas ini lelaki mana kuat jauh jauhan dari istri. Selama ini mas mengatasinya dengan puasa"
"Selama mas tak didekatku mas puasa?"
"Tidak setiap hari sih, tapi seringnya begitu, Setelah anak kita lahir mas bisa mengajak kamu dan anak kita kemanapun mas pergi"
"Baiklah mas, mana yang terbaik saja. Nia nurut aja deh"
"Istri Solehah" Alzyan mencubit hidung sang istri.
Tania mengalungkan tangannya pada leher sang suami, dan berjinjit hendak mengecup suaminya. Alzyan menundukkan kepalanya agar istrinya mudah melakukannya. Tania ternyata tak hanya mengecup ringan, tapi melakukan kecupan yang dalam, hangat dan tak mau melepaskannya.
Tania melepas ciumannya setelah cukup lama, lalu dia menatap dalam mata suaminya. Tangan tetap bergelayut dileher sang suami.
"Nia jangan seperti ini, apa kau tak mengizinkan aku pergi?".
"Jangan nakal disana"
"Mas tidak nakal sayang.."
"Kalau ada yang menggodamu, ingat aku dirumah menunggumu. Ingat ada anak kita dalam perutku"
"Iya ya, diizinin gak suaminya berangkat ?"
"He eh" Tania melepaskan tangannya dari leher Alzyan. Bibirnya mengerucut pura pura kesal.
"Ish manja, jangan menggodaku Nia nanti mas telat ke bandara"
"Pergilah, hati hati ya"
Alzyan mengecup kening sang istri, mengusap kepalanya lembut.
"Mas pergi sekarang, doakan suamimu"
Tania mengangguk, mereka berdua berjalan ke teras. Pak Indro sudah menunggu didalam mobil siap untuk meluncur.
***
Alzyan sedang memeriksa laporan keuangan yang diserahkan Alif, tak ada kesalahan dan tak ada temuan. Alif memang dapat dipercaya, seperti Akmal mempunyai Affandi begitu pula Alzyan mempunyai Alif yang setia, cerdas dan amanah.
__ADS_1
Suara pintu diketuk, kemudian Aminah sekretaris Alzyan masuk. Aminah adalah adik dari Alif.
"Maaf pak, diluar ada Tuan Omar"
Degg
Ada apa paman Omar kesini ?
"Suruh dia masuk"
"Baik pak"
Seorang laki laki gagah, bertubuh tinggi dengan pakaian khas laki laki Arab. Seumuran dengan ayahnya Alzyan, Omar adalah sepupu Akmal.
Alzyan berdiri menyambut paman Omar, memeluk laki laki paruh baya yang masih sangat tampan itu, tubuhnya kelihatan agak kurus.
"Silahkan duduk paman, mau minum apa aku pesankan" Alzyan menyambut kedatangan Omar dengan ramah tamah.
"Paman hanya sebentar, kebetulan lewat baru pulang dari kampus. Akmal bilang kamu sudah di Pekan Baru jadi paman mampir ke kantormu."
"Oh begitu. Ada apa paman?" Alzyan langsung saja bertanya, karena dia tahu Omar tidak hanya sekedar mampir saja. Pasti ada yang mau disampaikannya.
"Akmal pasti sudah memberitahumu. Dan paman akan menanyakan sendiri padamu, atau lebih tepatnya memohon padamu"
"Jangan memohon padaku paman, "
"Kau menerimanya kan, Paman tahu kau pasti sudah mempertimbangkannya secara matang. Nabila katanya ingin bertemu denganmu, kapan kamu bisa ?"
Hmm paman salah paham
"Paman, aku belum memutuskannya. Aku tak bisa melakukan ini paman. Tak adil bagi istriku, dan tak adil juga nanti bagi Nabila jika aku berpoligami"
"Maksudmu kau tak ingin poligami dan kau akan memilih salah satunya?. Alzyan, kau tak harus menceraikan istrimu. Laki laki boleh beristri lebih dari satu, paman yakin kau bisa adil. Kau laki laki yang berilmu dan mampu secara finansial"
"Bukan begitu paman, aku mencintai istriku . Aku hanya menganggap Nabila saudariku"
"Ehmm" Omar sementara tercenung. Memikirkan apa yang akan disampaikannya pada Alzyan.
"Begini Alzyan, jangan mengambil keputusan dalam keadaan emosi. Berpikirlah masak masak, beristri dua bukanlah hal yang buruk. Paman tak mengharap kau mencintai Nabila seperti kau mencintai Tania istrimu, tapi paman memohon padamu jadilah pelindung Nabila. Paman hidup tak akan lama lagi, paman hanya percaya Nabila akan aman bersamamu, paman yakin Nabila akan bahagia bersamamu"
"Paman, aku takut tak bisa adil"
"Jika tak bisa mencintainya, jadilah pelindungnya saja. Untuk jadi pelindungnya kau harus menghalalkannya. Paman mohon padamu Alzyan" Mata Omar berkaca kaca, wajahnya sangat memohonkan belas kasihan Alzyan padanya.
Seketika hati Alzyan menjadi melunak melihat pemandangan didepannya.
Keadaan seperti ini yang sangat kuhindari, aku takut tak bisa menolak tawaran paman Omar. Bagaimana dengan Tania nantinya.
"Nabila mengundangmu makan malam, malam besok jam tujuh malam datanglah kerumah paman"
"Baiklah paman, mengenai pekerjaan untuknya sudah kupikirkan"
"Terimakasih, Nabila butuh pelindung bukan pekerjaan. Paman permisi"
Alzyan mengangguk, pikirannya menerawang mendadak kepalanya pusing dan pikirannya buntu tak dapat berpikir.
Tania pertahankan aku, aku hanya milikmu seorang.
****
__ADS_1