
Tania terjaga disepertiga malam, karena memang sudah kebiasaannya setiap malam. Namun kali ini dia tak dapat melakukan tahajudnya. Tangannya terpasang infus, dia pun tak mau membangunkan suaminya yang tidur lelap.
Tania memandang wajah teduh suaminya, nampak gurat lelah disana. Tania menyentuh wajah tampan itu dengan jarinya, mengelus pipi yang ditumbuhi oleh bulu bulu halus itu.
Kau tampan, kaya, penyayang, pengertian juga. Kamu memang tipe suami idaman. Tak heran banyak wanita yang ingin jadi istrimu. Tapi mulai sekarang aku berjanji, aku tak akan membiarkan wanita lain mencoba merebutmu. Untuk jadi pendampingmu aku harus jadi wanita yang kuat.
Alzyan menggeliat, dia terjaga karena sentuhan Tania.
"Kenapa tidak tidur ?, apa masih sakit?" Dengan suara seraknya.
" Masih sakit tapi kontraksinya sudah jarang. Aku baru saja terbangun, sudah biasa bangun jam segini buat tahajjud"
"Hemm" Alzyan beringsut duduk.
"Mengapa kamu tahajjud gak pernah didalam kamar?"
"Takut ganggu tidur kamu mas, kamu kelihatan sangat lelah ketika tidur. Mas kan nggak bisa tidur dengan lampu menyala"
"Kenapa tidak banguni saja"
"Ya itu tadi aku kasihan lihat mas kelelahan, mas selalu pulang malam. Biar aku saja yang mendoakanmu dalam sepertiga malam ku."
"Nanti kalau sudah pulang kerumah, banguni mas ya kalau mau tahajjud, kita tahajjud bareng ya"
"Iya mas, oh ya. Dari mana mas tahu aku tak pernah tahajjud dalam kamar?"
"Malam kemaren mas tak sengaja bangun, mas tidak melihat kamu. Lalu mas nyari kamu, ternyata kamu sedang solat di ruang solat. Mas ingat kau pernah bilang ini sudah kebiasaanmu sejak dulu, makanya mas periksa rekaman cctv semenjak kau pindah kerumah. Ternyata benar, kau tak pernah melewatkan satu malam pun. Kamu mendoakanku?" Alzyan merapikan anak rambut yang menutupi wajah Tania, menyelipkan ke telinga Tania.
"Iya, aku mendoakan supaya suamiku ini diberi Allah kesehatan, dimurahkan rezekinya, dijadikan imam yang baik, aku minta anak anak yang Soleh Solehah, aku minta rumah tangga kita dindungi Allah. Banyak lagi, aku minta semuanya"
"Memang benar yang dibilang orang, sukses suami karena doa istrinya. Karena itulah malam kemaren itu mas telah mendapatkan jawaban dari istikharah, mas memutuskan tidak menikahi Nabila."
"Kenapa tidak bilang kalau sudah dapat keputusan. Biar Nia gak salah paham begini?"
"Eh mas belum bilang ya?".
"Belum" Tania merengut.
"Kenapa ya, mas pagi kemaren ada meeting kalau gak salah. Jadi buru buru lupa menceritakan".
"Kupikir mas memutuskan menikah lagi"
"Hh mana ada, sudah lah jangan dipikir lagi. Ayolah tidur kembali, istirahat. Biar besok bisa diizinkan pulang". Alzyan kembali berbaring dia memeluk tubuh istrinya dari belakang.
***
Hari hari berlalu, kehamilan Tania sudah memasuki 36 Minggu. Perutnya makin membuncit, pipinya semakin chubby dan kemerah merahan.
"Mas, bantu aku bangun" Tania menyodorkan tangannya agar Alzyan membantunya berdiri.
"Kau yakin akan pergi?"
"Yakin, aku mau lihat kakakku menikah, dr Evan itu kakakku."
"Iya, ayolah"
"Aish juga datang loh mas, malam tadi dia meneleponku."
"Oh ya, apa kabar Syahputra?"
"Aisyah mas, dia bawa calon suaminya juga"
"Eh, sudah pintar pacaran rupanya Syahputra itu selama di Jambi"
"Dia dapat dokter Spesialis anak loh mas, pengusaha lagi"
"Wah hebat donk, bolehlah mas panggil dia Syahputri"
"Apaan sih mas, jangan mengejeknya terus"
"Habisnya dia sinis terus memandangku, dia gak yakin aku bisa menjaga istriku ini. Seperti dia saja yang bisa"
"Hehe, sudahlah mas. Dia begitu karena dia menyayangiku. Ayo berangkat"
Di hotel tempat diadakannya resepsi pernikahan Dr Evan dan Viana. Tania mengedar pandangannya dia ingin segera menemukan sahabatnya Aisyah.
__ADS_1
"Mas, itu Aisyah. Aku kesana ya?"
"Iya, hati hati"
Tania mengangguk, dia berjalan hati hati diantara kerumunan orang. Tak sabar menjumpai Aisyah. Seseorang menepuk bahunya. Tania menoleh.
"Maysa?"
"Hh, bangga bener ya bawa perut buncit ?" Maysa tersenyum sinis"
"Nggak kok, aku kesana ya" Tania hendak berjalan lagi.
"Tunggu dulu, kenapa sih ketakutan melihatku. Aku cuma mau ngenalin calon suamiku, Alzyan gak ada apa apanya dibanding dia" Maysa tersenyum mengejek. Lalu dia menarik tangan laki laki yang membelakanginya, karena sedang mengobrol dengan tamu lain.
Kak Arkhan, ternyata benar dia dijodohin sama Maysa
"Sayang, kenalin ini temanku"
Arkhan menoleh, Tania menahan nafasnya. Bukan dia tak sanggup melihat Arkhan dengan wanita lain. Tapi agak canggung saja rasanya bertemu mantan pacar.
"Tania?" Arkhan sejenak terpaku menatap Tania. Entah apa yang ada dalam pikirannya.
"Eh kakak, apa kabar kak.?"
"Kalian sudah kenal ?" Maysa memandang curiga.
"He, iya May. Kalian sangat serasi, cantik dan ganteng. Kapan undangannya nih?" Tania mengalihkan pembicaraan.
Arkhan masih saja menatap Tania, Tania menyadari itu. Dia juga menyadari Maysa memandang aneh pada mereka berdua. Dia harus segera mencairkan suasana.
"Hei kak, kakak nggak sabar ketemu ponakan kakak ya hehe, kok lihat perutku sih kak. Makanya cepat cepat nikah, biar Maysa juga bisa kasih kakak yang kayak gini. Iya kan May ?"
Maysa tersenyum malu malu, mukanya merona.
"Secepatnya Nia, nanti kau dan kak Zy akan ku undang. Tunggu saja, iya kan sayang?"
"Ehm, iya" Arkhan mengangguk.
"Sudah ya, aku kesana menemui temanku" Tania pamit.
Pengalaman telah mengajarkan Tania, lebih baik menghindari masalah dengan orang seperti Maysa. Beruntung dia bisa move on dari suaminya, kalau tidak sudah pasti Tania akan kelimpungan dibuatnya harus menjaga Alzyan. Tania harus menguasai jurus jurus untuk memukul mundur Maysa. Tapi untunglah Maysa sudah move on dari Alzyan.
Dari jauh sepertinya Aisyah sudah melihat Tania, dia pamit dengan pria disebelahnya. Lalu dia berlari kecil menyongsong Tania.
"Taniaa"
"Aishh"
Mereka berpelukan, namun Aisyah melepas pelukan itu.
"Perutmu buncit sekali Nia"
"Hehe, sudah 36 minggu, ini berat sekali"
"Tapi kau makin cantik dengan perut begini" Aisyah menatap Tania kagum.
"Kau juga sangat cantik dengan gaun ini, feminim" Tania salut dengan sahabatnya ini, ternyata bisa pakai heels juga.
"Mas Arsya memaksaku memakainya" Aisyah cemberut.
"Dia bisa memaksamu?"
"Mau tak mau Nia, dia bawel sekali"
"Ohh, sepertinya temanku ini benar benar telah jatuh cinta, mana ada orang yang bisa memaksanya. Sudah pasti laki laki itu spesial buatmu"
"Tentu saja dia spesial Nia, mungkin hanya ada satu spesies seperti itu"
"Oh ya, tapi kau mencintainya kan?"
"Iya, dia sudah melamarku" Tersenyum, lalu melirik laki laki yang berdiri tak jauh darinya.
"Kau menerimanya kan?"
Aisyah mengangguk malu malu.
__ADS_1
"Oh Tuhan kau akan menikah Aish.. kenalkan aku dengan calon suamimu itu, seperti apa dia"
"Dia mantannya mba Viana Lo"
"Hahh,. Mba Viana istri dr Evan?"
"Iya siapa lagi"
Tania bersalaman dengan dr Arsya calon suaminya Aisyah. Ternyata Arsya laki laki yang sangat tampan, tubuhnya tinggi, kulitnya putih.
Mirip Dimash penyanyi pria dari Kazhaktan, kenapa dia bisa menggilai Aisyah yang pecicilan itu. Hhh aku tak boleh meremehkan pesona sahabatku itu.
"Disini rupanya, mas sudah mencarimu kemana mana" Alzyan menepuk lembut bahu istrinya.
"Mas, kenalkan ini dr Arsya calonnya Aisyah"
"Dr. Arsya, pemilik Sanaya Resort ?" Alzyan lalu mengulurkan tangannya, Arsya tersenyum ramah.
"Benar, Arsya Wijaya"
Sepertinya aku harus mengakui jika Aisyahputra ini perempuan tulen, dia bisa mendapat calon suami pria terpopuler versi pengusaha di Sumatera. Aku saja belum mampu dapat predikat itu. Hanya Khalid yang mampu menyainginya.
"Yusuf Alzyan Karim, seorang pengusaha dari Pekan Baru, namun dia mempunyai perusahaan yang jauh lebih besar di Jakarta dibanding perusahaannya di Pekan Baru. Senang berkenalan dengan anda"
"Perusahaan di Jakarta itu milik ayahku lebih tepatnya"
"Terkenal dengan sifatnya yang rendah hati" Arsya masih saja memuji Alzyan.
"Ehh, rupanya kalian diam diam saling memfollow ya" Aisyah menyeletuk.
Alzyan dan Arsya menatapnya bersamaan, lalu dua laki laki tampan itu tersenyum.
"Lebih tepatnya saling mengagumi" Ujar Alzyan.
"Ya, mengagumi prestasi masing masing" Arsya mengangguk angguk.
Mereka berdua lalu berbincang bincang tentang bisnis mereka, sementara Tania dan Aisyah saling melepas rindu.
"Hai, ketemu disini" Seseorang menepuk pundak Arsya. Arsya menoleh, kemudian mereka bersalaman.
"Kalian kenal?" Tanya Alzyan.
"Dia seniorku" jawab Arsya.
"Oh iya, kalian kan sama sama dokter. Dia kakakku"
Arsya memandang agak aneh dua orang laki laki didepannya, melihat perbedaan jauh dua orang laki laki itu.
"Kakak angkat lebih tepatnya, makanya beda" Rendy menjelaskan seakan mengerti dengan kebingungan Arsya.
Arsya mengangguk angguk mengerti.
"Kak, mana mba Ayu?" Tania menoleh kanan kiri tak menemukan kakak iparnya.
"Dia lemas sekali, muntah muntah"
"Hemm, udah punya ponakan rupanya kita mas" Tania melirik suaminya.
" Oo Alhamdulillah"
"Zy" Rendy tiba tiba menyikut Alzyan.
"Ada apa" Alzyan cukup kaget dibuatnya.
"Lihat sana" Rendy menunjuk kesuatu arah, Alzyan melihat kearah itu. Terlihat dua orang laki laki dan perempuan bergandengan mesra.
"Samantha dan Ryan?"
"Menurutmu bagaimana?"
"Cocok" Alzyan mengangkat jempolnya.
Hari itu terjadilah reuni yang tak direncana, antara beberapa orang yang saling mengenal. Antony dan Susanne, Ryan dan Samantha juga bergabung dengan mereka. Kemudian mereka semua mengucapkan selamat pada pasangan pengantin yang berbahagia. Evan Dan Vianna.
****
__ADS_1