Cinta Buat Kanaya

Cinta Buat Kanaya
Bertemu Duo Mak Lampir


__ADS_3

Alzyan telah selesai dengan urusan di Pekan Baru, hari ini dia ke Jambi untuk meninjau pembangunan cabang pabrik disana. Semua berjalan lancar.


Malam sudah larut, 00.15. Tania belum bisa tidur, entah karena apa. Dibilang karena kangen suami padahal tadi mereka video call hampir sejaman. Tania sudah melakukan sunah sebelum tidur seperti berwudhu dan membaca doa tapi tetap saja matanya tak mau terpejam.


"Apa kutelpon saja mas Zy, siapa tahu mendengar suaranya aku bisa tidur" Lalu dia meraih ponselnya dan menelpon suaminya.


"Assalamualaikum mas"


"Ada apa Nia?" suara Alzyan terdengar serak seperti baru bangun tidur.


"Mas aku nggak bisa tidur, temenin ngobrol donk"


"Masih kangen ya, sabar lusa mas pulang. Tidurlah, nggak baik bumil tidur kemalaman"


"Iya makanya temenin ngobrol sampai Nia tidur".


"Iya bumil, oke deh. Ngobrol apa lagi sih ?"


"Terserah".


"Besok rencananya mau kemana ?"


"Dirumah saja, paling jam 9 ke tempat ayah"


"Apa nggak main ke toko Ayu, buat nyemangatin dia. Kasihan, tiga hari lagi kak Rendy menikah, dia pasti hancur banget kan?"


"Iya juga ya mas, besok pagi aku janjian deh sama mba Ayu. Ngajak dia shoping buat ngilangin stress, nonton, makan makan boleh kan mas?"


"Boleh, kamu traktirin dia. Kamu boleh pakai kartu yang mas kasih kemaren"


"Nggak takut kami habisin isinya?"


"Kamu nggak punya bakat buat ngabisinya"


"Siapa bilang, jangan meremehkan ya"


"Isinya banyak loh yang"


"Aih, macam mas kasih black card saja sama Nia".


"Hh, doain saja suamimu bisa kasih kamu black card"


"Ya Allah permudahkan urusan suamiku, murahkan rezekinya biar istrinya bisa beli beli banyak. Amiin"


"Haha, doanya gitu amat. Tapi aamiin deh. Hmm udah ngantuk belum ?"


"Belum"


"Mas baca surah Arrahman ya, tapi kamu harus tidur".


"Iya deh" Tania mengangguk.

__ADS_1


Alzyan melantunkan surah Arrahman, dan Tania damai sekali mendengar suara merdu suaminya. Sehingga dia menguap perlahan, dan tertidur. Sayup sayup terdengar olehnya lantunan ayat suci mengantarnya ke alam mimpi.


"Tania"


Diam


"Sudah tidur, Hh gini amat ya LDRan sama istri tiap malam harus nina boboin dia."


Alzyan pun kembali tidur, besok dia harus berangkat ke Palembang.


***


Tania telah selesai mengelap tubuh Akmal dengan waslap kemudian dia mengajak ayah mertuanya itu berbicara. Aktifitasnya ini sudah hampir dua minggu ini rutin dilakukannya, semenjak Alzyan ke Pekan baru. Tania merawat ayah mertuanya dengan sangat telaten.


"Ayah, bangun donk yah. Apa ayah tak kasihan padaku, semenjak ayah sakit mas Zy jadi sibuk banget jarang ada dirumah, pulangnya malam. Sudah hampir dua minggu di Pekan Baru, aku nggak bisa bermanja sama dia". Tania menghela nafas, dia memijat ringan tangan mertuanya.


"Tiga hari lagi kak Rendy menikah sama Maysa. Ayah harus mencegah kak Rendy menikahi Maysa, dia wanita ular ayah. Dia selalu mengganggu suamiku" Tania menjeda ceritanya, masih terus memijat ayah mertua.


"Aku sudah banyak mengalami hal karena Maysa yah. Aku hampir terpisah dengan mas Zy karena dia. Aku tak mau itu terjadi lagi." Mata Tania berkaca kaca. Namun tangis itu dapat ditahannya.


"Udah ya yah, aku ada janji ketemu mba Ayu, mba Ayu sangat baik loh yah, aku yakin ayah sekarang berada di pihak mba Ayu" Tania mencium punggung tangan ayah mertuanya.


"Assalamualaikum ayah" Tania keluar, kemudian diantar pak Indro ke toko Ayu. Dia sudah janjian akan menjemput Ayu, mereka akan jalan jalan ke mall.


Disebuah Mall, dua orang wanita muda sedang berburu barang discount akhir tahun. Mulai dari pakaian, sepatu, sandal dan tas mereka borong. Sekarang dua duanya sudah kelelahan dan kelaparan.


Ketika sedang menikmati makan siang mereka, seseorang menyapa.


"Hei hei coba lihat ini siapa, kok bisa kalian akur ya.. ?".


"Eh Ayu tahu nggak sih, kekasihmu itu 3 hari lagi akan menikahiku. Aku sebenarnya tak Sudi menikah dengannya, tapi dia ngotot. Sepertinya dia mau menyelamatkan rumah tangga wanita ini dari gangguanku. Anehnya kau malah kompak jalan jalan sama wanita sampah ini"


Rahayu menatap Tania, lalu menatap Maysa


"Jangan mengadu domba kami, mas Rendy menikah denganmu itu bukan salah Tania. Tapi karena memang kami tak berjodoh".


"Wanita bodoh, memangnya kau tak ingin mempertahankan pacarmu yang anak pungut itu. Sudah ku bilang aku tak Sudi menikah dengannya, kalau pun aku menikah dengannya, aku tak akan memberi haknya. Aku hanya mencintai Kak Zy. Kalian dengar itu".


"Hhh" Tania memutar bola matanya jengah.


"Aku pun tak sudi mempunyai ipar sepertimu, apalagi jadi maduku. Jangan harap. Aku akan menggagalkan pernikahanmu dengan pak Rendy."


"Oke silahkan gagalkan pernikahanku dengan anak pungut itu, dengan begitu aku tak perlu susah payah kabur, dan aku pun tak rela jadi madumu, aku ingin memiliki Zy seorang diri. Hanya seorang diri" Maysa dengan gaya sombongnya dan sangat percaya diri.


Disaat mereka bertiga adu mulut seorang ibu ibu sosialita dengan tas branded ditangannya menghampiri mereka.


"Eh ada apa ini Tania, nggak malu kamu di tempat rame ribut begini. Untung saja kau tak jadi menantuku, bikin malu saja"


Mereka bertiga menoleh, melihat siapa pula yang datang.


"Kabarnya kau menikahi anak orang kaya, tapi kok penampilanmu biasa saja ya?" Helen dengan gaya angkuhnya, memandang jijik pada Tania.

__ADS_1


Maysa tersenyum mendengarnya, merasa ada yang sependapat dengannya.


"Tante, kalau orang kampung ya tetap aja kampungan. Norak !, nggak tahu malu merebut pacar orang"


Tania sudah ingin kabur saja rasanya, dan Ayu juga sudah tahu bagaimana kondisi Tania. Dia menggamit tangan Tania mengajak pergi.


"Maaf kamu siapa ya?" Tanya Helen menatap Maysa, dilihat dari penampilannya sepertinya wanita muda ini tidak seperti Tania. Barang yang dipakainya branded semua.


"Eh maaf Tante, kenalkan ini Maysa. Anak dari Gunawan pengusaha batubara yang terkenal itu, Tante tahu kan?" Tania memperkenalkan Maysa.


"Wow benarkah ?"


"Benar Tante, kalau nggak percaya silahkan ngobrol saja. Kami permisi Tante".


"Iya, pergilah jauh jauh. Saya tak Sudi melihat mukamu dan temanmu itu"


"Iya Tante" Tania tersenyum kecut. Dia menggamit tangan Rahayu mengajaknya menjauh. Sementara Helen dan Maysa berjabat tangan, Tania dan Rahayu sudah kabur dari tempat itu dengan berlari.


Dengan nafas terengah karena habis berlari Tania dan Ayu menghempaskan bokong mereka di dalam mobil, dan kini mereka bernafas lega.


"Kemana lagi nyonya muda ?" tanya Indro.


"Pulang saja pak"


Indro melajukan mobilnya


"Siapa Mak lampir itu Nia?" Tanya Ayu penasaran dengan nafas masih terengah.


"Ibunya mantan pacarku"


"Ooh" Rahayu terkejut menutup mulut dengan sebelah tangannya.


"Mereka cocok ya jadi mertua dan menantu?" ujar Tania sambil nyengir.


"He eh klop. Dia kasar banget ya sama kamu Nia?"


"Biasa aja mbak, aku sudah biasa dicaci makinya, awalnya aku selalu bertahan demi cintaku pada kak Arkhan. Tapi akhirnya aku menyadari aku bukanlah orang yang pantas untuk kak Arkhan."


Rahayu terdiam, mencerna kata kata Tania


"Aku juga harus merelakan mas Rendy, aku tak pantas untuknya"


"Tidak mba, mba beda denganku. Ibu merestui mba sama pak Rendy, hanya ayah saja yang tidak. Ayah adalah urusanku, aku yakin bisa mengatasi ayah".


"Tak usah Nia, aku sudah pasrah"


"Tidak mba, mba harus berjuang. Dan aku tak Sudi wanita ular itu masuk ke keluarga suamiku. Percayalah padaku mba, ayah sekarang sudah merestui hubungan kalian, sayangnya dia belum sadar"


"Lalu harus bagaimana Nia?"


"Masih ada waktu 3 hari lagi, aku yakin ayah akan sadar. Dua Minggu ini aku mengikuti perkembangan ayah. Kondisinya semakin membaik"

__ADS_1


"Terserah kamu Nia, jika mas Rendy menikah dengan Maysa juga tak apa kok".


*****


__ADS_2