
Pagi pagi sekali, Alzyan sudah sampai di bengkel milik Alvin untuk menjemput Tania. Dengan alasan permintaan ibunya, dia menginginkan Tania kembali padanya.
Alzyan menghampiri gadis karyawan disana.
"Mbak, apa saya bisa bertemu dengan Alvin pemilik bengkel ini ?"
"Apa bapak sudah buat janji sama bapak Alvin? "
"Belum, bilang saja Yusuf Alzyan Karim ingin menemuinya"
"Baik, saya hubungi dulu pak Alvin" kemudian gadis itu berbicara di telepon.
"Saya disuruh mengantar bapak keruangan pak Alvin, mari saya antar pak"
"Baiklah" Alzyan mengangguk, dia mengikuti langkah gadis itu. Dan mengikuti gadis itu masuk kedalam ruangan, seperti ruangan kerja tapi jauh berbeda dengan ruangan kerja miliknya yang jauh lebih elegan.
"Ini pak Alzyan, saya permisi keluar pak" Gadis itu menunduk hormat pada Alvin.
"Silahkan" jawab Alvin, lalu dia melempar senyum pada tamunya.
"Silahkan duduk Alzyan" Alvin mempersilahkan. Alzyan pun dusuk di kursi berhadapan dengan meja kerja Alvin.
"Tak seperti ruang kerjamu, ruang kerjaku ya beginilah saya harap anda nyaman" Alvin berbasa basi.
"Tak apa," Alzyan membalas basa basi Alvin dengan senyum tipisnya.
"Ada apa anda kesini, ada yang bisa saya bantu ?"
"Maaf, saya ingin bertemu dengan Tania. Ibuku meminta dia kembali. Dia ingin Tania merawatnya" Alzyan harus tebal muka didepan laki laki ini, meminta wanita yang meninggalkannya pada laki laki yang melarikan wanita itu.
Alvin mengernyitkan dahinya, terlihat lipatan dahinya.
"Maksud anda apa ini ? "
"Maaf tuan Alvin, saya masih berhak atas Tania saya belum mencerainya walaupun dia lebih memilih anda"
"Hei, anda sudah salah paham. Ini salah paham besar !"
"Tuan Alvin, ibuku sakit. Dia tidak tahu apa yang terjadi, dia hanya ingin ditemani oleh Tania dirumah sakit. Kurasa Tania akan mau"
"Alzyan, saya paham. Ini berarti Tania menghilang selama ini, anda tak pernah mencarinya dan sekarang anda mencarinya di tempatku. Suami macam apa anda ini" Alvin kelihatan emosi, dia mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"Saya sangat sibuk, saya belum bisa menemuinya. Tapi saya ikhlas jika Tania memilih anda, anda adalah ayah dari anaknya. "
Sebuah tinju yang keras melayang ke wajah Alzyan, membuatnya terjatuh. Tak berhenti disitu, sebelum Alzyan sempat bangun, Alvin menariknya lalu meninjunya kembali di wajahnya sehingga pelipis dan bibirnya berdarah bersamaan. Alzyan tak menyangka dia mendapat serangan mendadak seperti itu.
"Dasar suami tak bertanggung jawab, jika terjadi apa apa dengan Taniaku, kau akan tahu akibatnya. Aku akan membunuhmu Tuan Alzyan..!! " Alvin menatap tajam Alzyan yang tak tahu apa apa, nafasnya tersengal sengal menahan emosi.
Alzyan menyeka darah yang mengalir dibibirnya, dia memilih mengalah tidak tidak membalas Alvin. Jika dia mau dia bisa saja menghabisi laki laki didepannya ini.
"Ambil ini !" Alvin melempar kotak Tisu, Alzyan meangkapnya. Dia mengelap darah di bibir dan pelipisnya dengan tisu, lalu membuang tisu itu di tong sampah. Kemudian dia berbalik menatap Alvin.
"Jika anda tak mengizinkanku membawa Tania baiklah saya akan melepaskannya baik baik, saya permisi." Alzyan membalikkan tubuhnya bergerak menuju pintu keluar.
"Tunggu !! " Alvin menahan Alzyan, dia mengerti berarti Alzyan sama sekali sudah salah paham. Alzyan mengira dia menyembunyikan Tania. Seberapa marahnya dia dengan Alzyan, namun Tania sekarang lebih penting dan harus segera di temukan.
Alzyan menoleh kebelakang "Apa lagi" sahut Alzyan datar.
"Duduklah, saya rasa kita harus bicara baik baik."
Alzyan mematung sejenak, lalu dia kembali duduk di kursi Tadi. Dia menunggu Alvin membuka pembicaraan.
"Alzyan, mungkin anda mengira selama ini saya menyembunyikan Tania. Tania tak bersamaku, untuk apa saya menyembunyikan istri anda? "
"Astagfirullahaladzim, berarti semenjak itu Tania menghilang. Dan anda baru mencarinya sekarang? " Alvin geleng geleng kepala tak percaya dengan sikap Alzyan yang ternyata tak bertanggung jawab sama sekali.
"Anda mau percaya atau tidak yang jelas saya tak menyembunyikan Tania. Tania istri anda, anda punya tanggung jawab terhadap keselamatannya."
"Benar anda tidak menyembunyikan Tania ?"
"Buat apa saya menyembunyikan istri orang, memangnya saya kurang kerjaan. Kemaren itu saya menemuinya pingsan di jalan di tengah hujan, jadi saya membawanya kerumah. Dan setelah dia siuman dia meminta saya mengantarnya kerumah sakit, tak berapa lama di dalam dia kembali meminta saya mengantarnya kerumah bibi Salma. Setelah itu saya pulang. " Alvin menceritakan kejadian waktu itu dengan gaya santai, tidak formal seperti tadi.
"Jadi selama ini Tania kemana, dia sedang hamil. Kasihan dia"
"Apaa? istri anda hamil tapi anda tidak tahu dia dimana. Apa anda sudah mencarinya dirumah bibi Salma. Hanya dia keluarga Tania"
"Belum"
" Bodoh, malah anda mencarinya ditempat saya."
Tak terima di bilang bodoh, Alzyan hanya bisa menghela nafas menahan emosinya.
"Bukannya saya bodoh, karena saya tahu anda ayah dari anak yang dikandungnya"
__ADS_1
"Haha, saya ayahnya anak Tania ?. Nah itu tandanya anda bodoh Tuan. Bagaimana mungkin saya menghamili wanita yang saya anggap adik saya sendiri. Dulu memang saya mencintainya, tapi dia menolak saya karena dia mencintai Arkhan. Mana mungkin saya berani bersaing dengan Arkhan seorang perwira polisi."
"Jadi anda bukan ayah dari anak itu, tapi terakhir dirumah sakit Tania bilang kaulah ayah dari anaknya"
"Hah, apa apaan ini. Mana mungkin saya berani menyentuh pacar Arkhan, apalagi menghamilinya. Bisa bisa saya mati ditembaknya, anda tak tahu betapa pencemburunya Arkhan. saya malah salut pada anda yang berani merebut pacarnya"
"Jadi anda memang bukan ayah dari anak itu ? "
"Ya bukanlah, hei jangan kau malah berpikir Tania hamil anaknya Arkhan. Itu tak mungkin, Taniaku tak seperti itu. Dia tak mungkin hamil diluar nikah."
"Jadi"
"Jadi Kau lah bapaknya, hhh" Alvin melotot kesal, sejak tadi dia menggunakan kata kata anda, sekarang keluarlah kebiasaannya menyebut orang lain dengan sebutan "kau".
"Tunggu apa lagi, kau telponlah kerumah bibi Salma"
Alzyan hanya bisa menuruti saran Alvin. Dia lalu menghubungi nomor ponsel bibi Salma.
"Assalamualaikum bi"
"Waalailumsalam salam mas, ada apa mas? "
"Hmm, ini Reza ya. Za, apa disana ada Tania? "
"Nggak ada mas, mbak Tania sudah lama tidak kesini. Memangnya dia bilang mau kesini ya mas? "
"Hm, iya Za. Nomornya tidak aktif soalnya. Ya sudah mas mau cari dia" Alzyan mengakhiri panggilannya dengan menghela nafas kecewa. Tania ternyata tak dirumah bibi Salma.
"Anda seorang pengusaha. Saya yakin anda punya orang hebat yang bisa melacak keberadaan Tania. Atau anda perlu bantuan Arkha?, aku yakin dia dengan cepat bisa menemukan Tania. Dan jangan harap anda bisa bertemu Tania lagi setelahnya."
"Saya suaminya, saya yang akan mencarinya"
"Baguslah, Saya tidak tahu bagaimana asalnya anda bisa salah paham dengan Tania. Yang jelas sekarang temukan Tania secepatnya. Bisa jadi sekarang dia dalam bahaya, atau dia sedang membutuhkanmu. Bukankah dia sedang hamil. Terakhir saya bertemu dengannya, dia sangat pucat sehabis pingsan. "
"Terimakasih atas informasinya Alvin, dan maaf saya sudah salah paham dengan anda. Saya harus menemukan Tania secepatnya"
"Iya, saya juga minta maaf untuk yang tadi. Jangan sungkan jika perlu bantuan saya"
Alzyan mengangguk, "Saya permisi" Alzyan berlalu. Dia bergegas memacu mobilnya. Pikirannya sangat kacau, dia sangat mengkhawatirkan Tania.
*****
__ADS_1