Cinta Buat Kanaya

Cinta Buat Kanaya
Kesedihan Tania


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 04.40 dini hari ketika Tania terbangun karena mendengar suara adzan, malam ini dia tak terbangun untuk solat malam seperti biasanya. Mungkin karena dia terlalu lama menangis dan baru terlelap setelah jam satu dini hari.


Tania menoleh kesamping, tak ada suaminya.


Mas Zy tak pulang semalam, kuharap dia baik baik saja. Dia sangat terpukul dengan kondisi ayah dan ibu.


Tania pelan pelan bangun untuk membersihkan tubuhnya, kepalanya terasa sedikit pusing. Tubuhnya lelah karena hatinya pun lelah. Tania mencuci wajahnya yang terasa sembab matanya pun bengkak karena kelamaan menangis. Air wudhu terasa menyegarkan anggota tubuhnya.


Tania menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim di pagi yang dingin itu, udara yang dingin karena semalaman hujan mengguyur bumi seolah menemani Tania yang juga menangis semalaman. Setelah selesai solat Tania membereskan perlengkapan solatnya.


Karena teramat haus Tania turun kedapur, dia menuangkan segelas air putih kedalam gelas dan menenggaknya sampai habis. Tania merasa kepalanya kembali pusing, dan perutnya sepertinya tak bersahabat. Tania membuka tudung saji, masih tersaji makan malam yang telah disiapkannya. Sama sekali belum disentuh, karena suaminya tidak makan malam dan diapun melewatkan makan malamnya juga.


Hati Tania terasa pedih begitu teringat kata kata suaminya semalam, dia kembali menangis. Sepertinya semalaman menangis tidak cukup membuat hatinya tenang. Matanya masih saja mengeluarkan cairan bening. Kepalanya terasa sangat berat, dan perutpun terasa sangat mual. Obat muntah yang diresepkan dokter Susan memang sudah habis dua hari yang lalu.


Tania berlari ke wastafel dan mengeluarkan seluruh isi perutnya disana. Lagi dan lagi dia memuntahkan isi perutnya sehingga dia merasa sangat lelah. Dan Tania pun terjatuh tak sadarkan diri didapur.


Entah berapa lama Tania tak sadarkan diri, bi Harti menemukannya tergeletak di lantai dapur yang dingin.


"Nyonya, bangun nyonya" bi Harti menepuk nepuk pipi nyonya mudanya.


Bi Harti lalu memanggil suaminya yang sedari malam tadi berjaga di post satpam.


"Mas Indro kesini Cepat..! "


"Ada apa tik? "


"Nyonya pingsan mas, ayo bantu aku mengangkatnya" bi Harti kelihatan sangt cemas.


"Telpon bos saja nanti dia marah kalau aku menyentuh istrinya, kamu tahu sendiri bos orangnya bagaimana"


"Sudahlah jangan bantah, tubuh nyonya sangat dingin. Nanti biar kubantu jelaskan sama boss".


"Iya ya, kamu harus tanggung jawab tik kalau nanti bos memecatku" Indro menggerutu sembari berlari kedapur. Indro membantu Harti istrinya mengangkat nyonya muda Tania kedalam kamar.


Bi Harti menyelimuti tubuh nyonya mudanya, dan memberi minyak kayu putih pada perut dan hidung Tania.


"Telpon saja bos" ujar Indro.


"Iya ku telpon, kau kembalilah kebawah" Harti lalu meraih ponsel dari saku apronnya. Dan memanggil nomor Boss Alzyan.

__ADS_1


"Assalamualaikum, ada apa bi? "


"Waalaikumsalam, eh maaf boss. Anu nyonya boss dia pingsan. Ujung tangan dan kakinya dingin sekali boss".


"Astagfirullah, kenapa bisa pingsan ?"


"Sepertinya nyonya habis muntah boss, soalnya ini ada bekas muntahan diujung piyamanya"


"Muntah, apa dia ada salah makan? "


"Bibi rasa bukan salah makan boss, kan nyonya lagi hamil muda, lagipula malam tadi nyonya tidak makan malam boss. Bagaimana ini boss nyonya pucat sekali" Suara bi Harti kedengaran bergetar karena sangat khawatir.


"Ehmm, saya tidak bisa pulang bi, saya minta dokter Susan kerumah saja pagi ini."


"Tuan, tapi nyonya sepertinya butuh Tuan"


"Aku menunggu tuan Gunawan pagi ini, katanya dia mau menjenguk ayah. Sudah dulu ya bi. Assalamualaikum" Alzyan memutuskan sambungan telpon. Dia menghela nafas.


" Hhh, Ternyata dia sakit karena hamilnya"


Sejujurnya Alzyan sangat khawarir dengan kondisi istrinya saat ini, tapi karena egoisnya dia tidak ingin menemui istrinya. Apalagi kehamilannya yang membuat Tania jadi sakit, Alzyan merasa hatinya kembali perih.


"Nyonya, bangun nyonya" Harti menepuk nepuk pelan pipi Tania.


"Bi, apa bibi yang mengangkatku kekamar. Tadi aku sepertinya pingsan didapur"


"Iya nyonya, maaf bibi minta bantuan mas Indro mengangkat nyonya"


"Tak apa bi, mas Zy belum pulang juga ya ?"


"Bibi sudah menghubungi boss, dia meminta dokter Susan kesini memeriksa nyonya. Boss sendiri tak bisa pulang, menunggu tuan Gunawan datang menjenguk Tuan besar katanya"


"Oo gitu, bi tolong buatin nasi goreng sama teh manis ya bi, antar kesini"


"Baik nyonya," Bi Harti mengangguk, dia lalu berdiri dan turun kebawah.


Tak lama kemudian dokter Susan datang, dan dia memeriksa Tania.


"Kehamilan nyonya baik baik saja, tapi sepertinya nyonya kelelahan. Banyak isrirahat ya. Ini ada obat muntah dan ini vitamin. Minum yang teratur"

__ADS_1


"Baik dokter " Tania mengangguk.


"Saya pulang ya, kalau ada apa apa hubungi saja saya" Dokter Susan tersenyum seraya berdiri.


"Maaf dokter saya tidak bisa antar anda kebawah"


"Tidak apa, nyonya istirahat saja" Dokter Susan membalikkan badannya lalu menghilang dibalik daun pintu.


Setelah dokter Susan pulang Tania melamun sendiri, memikirkan bagaimana nasib dirinya kedepannya. Bagaimana jika anak ini dibuang suaminya, dan bagaimana jika nantinya suaminya juga tak menginginkan dirinya lagi. Semua itu bisa saja terjadi.


"Ummi tak sanggup hidup tanpa kamu sayang, baik baik didalam ya nak. Ummi akan selalu ada buatmu. Kamu kekuatan ummi. Ummi lebih baik pergi dari abi mu daripada harus berpisah darimu" Tania mengelus elus perutnya yang masih rata.


"Dan bila saatnya abi membuang kita ummi harus siap. Kita akan berjuang bersama ya nak" Air mata Tania mengalir dipipinya. Hatinya terasa begitu pilu, Tak ada tempatnya mengadu kegundahan hatinya. Paman Danu sudah tiada, menceritakan dengan bibi Salma hanya akan menambah beban pikiran bibi Salma saja.


"Apakah aku menunggu saat saat mas Zy membuangku, atau aku pamit saja baik baik sama mas Zy. Lambat laun dia pasti akan membuangku juga." Air mata Tania menetes deras, selimutnya pun sudah basah oleh air matanya. Tania sesegukan, sampai sampai dia tak menyadari bi Harti menaruh sarapan di atas nakas.


"Nyonya kenapa menangis, ini sarapannya " Ucap bi Harti pelan.


Tania menyeka air matanya, dan menoleh pada bi Harti.


"Nyonya harus sabar. Banyak banyak berdoa. Saya sudah tahu permasalahan yang nyonya hadapi. Maaf bukan saya mengupping, tapi saya kebetulan lewat mau membersihkan ruangan dilantai dua. saya mendengar boss dan nyonya bertengkar. Boss hanya salah paham nyonya".


"Iya bi, saya harus sabar dan banyak berdoa"


"Saya juga akan mendoakan yang terbaik buat rumah tangga nyonya dan boss"


"Nia lapar sekali bi, bawa kesini nampannya". Pinta Tania.


Bi Harti menyerahkan nampan berisi piring nasi goreng kepada Tania. Tania langsung saja melahap nasi goreng buatan bi Harti itu.


"Kalau begitu saya permisi nyonya"


"Iya, makasih bi"


Nasi goreng itu dilahap Tania sampai habis, perutnya sudah sangat lapar. Setelah nasi gorengnya habis, Tania meminum obat dari dokter Susan.


"Aku harus sehat, aku harus berjuang demi anakku. Mas Zy tidak peduli dengan kehamilanku ini"


Tania butuh seseorang teman curhat, lalu dia menelpon sahabatnya Aisyah.

__ADS_1


*****


Inginnya karyaku ini dibaca, tidak sekedar di like saja. 🙏


__ADS_2