Cinta Butuh Utang

Cinta Butuh Utang
Cinta Butuh Utang


__ADS_3

Cinta Butuh Utang


“Udahlah! Gimana nanti saja, perempuan itu memang repot, kayak kamu ini. Pusing aku! Nggak mau dipoligami, nggak mau suaminya selingkuh tapi, nggak bisa menuruti keinginan suami! Aneh.”


“Lah, kan nggak bisa nurut suami karena ada alasannya, Mas. Jadi, jangan di jadikan alasan buat cari wanita lain, itu namanya nggak pengertian, egois!”


“Lah, ya, sama aja, Mai. Kalau istri gak bisa melayani suami tapi nggak ngizinin suaminya buat nikah lagi, nggak pengertian namanya!”


“Ah, udahlah, pusing ngomong sama kamu, Mas! Allah juga berfirman dalam surat An Nisa, kalau menahan diri, dari hawa nafsu itu jauh lebih baik!”


“Ah! Aku juga pusing ngomong sama kamu!”


Begitulah, selalu saja ada perdebatan antara mereka, saat Anwar tengah membicarakan soal poligami dengan Maisha.


“Memang benar kalau tidak ada wanita yang mau dimadu, padahal madu itu manis, kecuali madu manusia, bukan lebah!” kata Anwar pada dirinya sendiri.


Sejak saat itu, diam-diam Anwar sering membawa gadis-gadis untuk menemani diperjalanan, tapi, kemudian Maisha memergokinya. Oleh karena itu, dia selalu waspada jika istrinya, mengirimkan orang untuk memata-matai dirinya.


Suatu saat, tidak ada angin tidak ada hujan, Maisha menawari suaminya untuk menikahi Usfi. Dia berharap wanita itu bisa menyadarkan, serta memuaskan Anwar dalam segala hal. Dia yakin akan perubahan suaminya, mengingat Usfi adalah gadis pandai dan juga manis. Buktinya, banyak pria yang menyukainya, termasuk Gani.


Usfi dan Gani mempunyai hubungan pertemanan yang sangat dekat, karena mereka sama-sama menjadi pengurus sekaligus pengajar dalam sebuah taman Quran. Mereka juga aktif di berbagai pengajian remaja masjid. Beberapa teman menjodohkan mereka karena terlihat serasi dan cocok.


Jundi, salah satu teman dekat Gani, tahu persis bagaimana perasaan temannya itu. Mereka adalah karib dalam nasib dan teman dalam curhatan, hingga Gani tidak ragu mengatakan perasaannya pada wanita itu.


Namun, karena mereka mengetahui tentang ajaran agama yang, mengatur kehidupan manusia sesuai aturan-Nya, membuat mereka menyimpan perasaan rapat-rapat, mengutarakan hanya pada semesta, dan memacari orangnya hanya dalam tidur saja.


“Aku sayang sama dia, Jun!” kata Gani waktu itu, “Jadi, aku gak akan membawa Onah pada jalan yang salah, apalagi dia anak Ustadz. Apa kata Allah kalau kita pacaran. Kalau benar-benar sayang itu nggak mengajak untuk berbuat maksiat, tapi membawa pada jalan yang penuh nikmat.”


“Hih, kalau soal Usfi saja kau handal puisi, coba soal kerjaan, kau gagal total!” kata Jundi, sambil tertawa. Mereka sesama teman pegawai negeri sipil di kecamatan.


“Aku bukan puitis, Jun. Ini jujur kalau aku suka sama dia! Aku masih ngumpulin uang buat kita nikah!”

__ADS_1


“Tapi, Gan! Sebaiknya kamu bilang soal perasaan kamu itu, dari pada nanti dia dilamar orang duluan!”


“Ah, nggak mungkinlah, dia kan, masih muda dan baru saja lulus Aliyah, masa ada yang lamar?”


“Ah! Terserah!”


Gani begitu yakin dengan pendiriannya, hingga dia tetap mempersiapkan diri untuk melanjutkan hubungan dengan cara yang lebih baik yaitu menuju pernikahan, setelah uang tabungannya cukup untuk, melakukan lamaran dan juga pernikahan yang pantas bagi Usfi dan keluarganya.


Namun, pada akhirnya sebuah jalan harus mereka lalui secara berbeda. Mereka berteman hanya sebentar, karena ternyata memang Usfi terlanjur di lamar seseorang.


Usfi baru mengetahui kenyataan semua tentang Gani, setelah dia menyetujui permintaan Maisha, untuk menikah dengan suaminya.


Siapa lagi yang mengatakannya kalau bukan Jundi. Pria itu nekat menemui Usfi, setelah Gani pergi entah ke mana dan, meninggalkan dunia kepegawaian daerah begitu saja, padahal, dia mendapatkan pekerjaan itu dengan susah payah.


“Tega, kamu sama Gani, Fi. Dia itu masih nabung buat ngelamar kamu, eh kamu malah mau saja dilamar Juragan Anwar, apa karena dia kaya, Fi?”


“Bukanlah, Bang. Bukan karena itu!”


“Iya, Bang. Aku tahu, tapi—“


“Kalau memang kamu tahu, kenapa kamu terima lamaran Juragan tua itu? Coba hitung berapa beda usia kalian ... jauh, Fi. Dia udah umur 45 tahun dan kamu baru saja lulus Aliyah tahun kemaren!”


Usfi hanya menggigit bibir bawahnya saat mendengar semua ucapan Jundi tentang sahabatnya. Dia tidak mungkin mengatakan alasan apa dibalik pernikahannya dengan sang juragan tanah. Hingga dia membiarkan beberapa teman berspekulasi tentang dirinya.


“Biarkan saja, toh biasanya isu dan kasak-kusuk orang yang senang membicarakan keburukan orang lain, akan diam setelah beberapa waktu lamanya,” pikir Usfi saat itu.


Dan, pada saat ini, Usfi berkata lagi, “Waktu akan membantu seseorang lupa, waktu juga akan membantu seseorang sembuh dari luka, tapi, waktu juga yang akan menarik manusia, kembali pada jeda yang sama.”


Usfi diam beberapa saat di sela-sela pekerjaannya, sambil mengingat kembali masa lalu yang tiba-tiba lewat tanpa permisi.


Dia tahu jika semua keluarga, teman dan saudara, menyesalkan keputusan Gani yang tidak dewasa. Cinta sedalam apa yang membuat pria menjadi hilang akal, hanya karena perasaannya bertepuk sebelah tangan. Lalu, saat ini, cintanya pula yang membuatnya terlilit utang.

__ADS_1


“Ah, ternyata cinta bukan hanya butuh waktu, atau butuh pengorbanan, tapi cinta juga butuh utang!” gumam Usfi, sambil menulis kembali.


Sementara Gani masih melanjutkan pekerjaannya, sambil sesekali melirik pada Usfi yang terus menekuni pembukuan di mejanya. Sesekali saja wanita itu berjalan melihat-lihat para pekerja dan juga mengecek beberapa barang. Namun, dia lebih banyak bekerja di balik meja.


Tak berselang lama dari saat itu, datang sebuah mobil panther yang biasa di kendarai oleh Juna. Pria itu turun, berjalan mendekat dan duduk di depan meja Usfi, sambil tersenyum.


“Udah disiapin belum bagian saya, Bu!” katanya sambil menyalakan rokok.


Usfi mendongak dan membalas senyum Juna dengan ramah sambil mengambil sesuatu dari tasnya. Ternyata dia memakai masker dan memakainya untuk, mencegah asap rokok dari Juna terhirup olehnya.


Gani melihat semua kejadian itu dengan wajah yang cemberut, karena tidak suka dengan interaksi antara Juna dan Usfi di hadapannya.


“Oh ya!” sebentar saya lihat dulu ya Pak Juna!”


Usfi berjalan ke bagian sayur-sayuran hijau disortir, melewati Gani, tentunya. Di sanalah semua sayuran yang jelek atau busuk dikumpulkan, nanti akan di bawa oleh Juna yang akan memanfaatkannya untuk pakan lele.


Tak lama setelah itu, Usfi duduk kembali ke mejanya dengan seorang pria yang, mengangkut satu karung goni besar berisi sayuran dan langsung di masukkan ke dalam mobil Juna.


Gani yang melihatnya pun menyimpulkan jika kegiatan seperti itu, mungkin hampir setiap hari terjadi dan dia harus membiasakan diri.


“Berapa semuanya, Bu?” kata Juna. Meski usianya lebih tua, tapi semua menghormati Usfi, hingga dia pun harus bersikap demikian, sebab saling hormat-menghormati perlu dijunjung tinggi di mana pun berada.


“Ini notanya, Pak!” Usfi menjawab, sambil memberikan selembar struk kecil pada Juna dan pria itu membayar sesuai harga yang ada dalam catatan. Setelah membayar, dia pun berdiri, tapi, tatapan matanya menangkap Gani yang bekerja di antara para buruh lainnya.


Dia mendekatinya dan berkata, “Loh, kamu kerja di sini, Gan? Apa utang cintamu belum lunas juga?”


Juna tertawa setelah selesai bicara, dia tahu apa yang terjadi di masa lalu Gani, dari cerita Jundi, keponakannya.


“Maksud Pak Juna apa?” Gani bangun dari duduknya sambil melangkah mendekati Juna, dengan tatapan membara.


Bersambung

__ADS_1


❤️❤️❤️ 👍🙏 ❤️❤️❤️


__ADS_2