Cinta Butuh Utang

Cinta Butuh Utang
Tunggu Aku Pulang


__ADS_3

Tunggu Aku Pulang


Namun sayang, Usfi hanya bisa membantah sekedarnya karena tidak ada siapa pun yang bisa menjadi saksi atas tindakannya, ketika dia berbicara dengan Maisa kemarin.


Sementara itu, beberapa saudara Maisha yang melihatnya, pun melemparkan tatapan sinis. Walaupun, mereka tidak ikut campur, tapi, tetap membuat perasaan Usfi terluka.


“Tante nggak ngomong apa-apa sama Mamamu, kok!” Usfi membela diri, “Umur dan kematian Mamamu sudah ditentukan sebelum lahir ke dunia, gimana bisa salah Tante?”


Noura hanya mendengus kasar lalu keluar rumah sakit dan ikut pulang, dengan menaiki mobil ambulans yang membawa jenazah Maisha.


Sementara Usfi mengendarai mobilnya sendiri dan menyusul di belakang ambulans itu, hingga dengan cepat sampai ke rumah Anwar. Sholeh dan Ima serta beberapa orang lainnya sudah banyak yang berkumpul di rumah duka untuk bertakjiah.


Tidak ada orang yang bisa diandalkan untuk mengurus semua keperluan pemulasaraan jenazah, hingga Usfi bekerja sama dengan beberapa saudara dan pembantu di rumah tangga dalam menanganinya, seperti menyiapkan tempat untuk mayit, membeli kain kafan dan menyiapkan tempat untuk para pelayat dan menemui mereka.


Anwar datang setelah semua urusan pemulasaraan jenazah selesai, Noura serta dua adik laki-lakinya, Fadil dan Imad, langsung menghamburkan diri untuk memeluk ayah mereka. Keempat orang itu pun menangis, sambil berpelukan, hingga beberapa waktu lamanya.


Anwar terlihat pias dan juga letih, saat menatap Usfi yang, masih duduk sambil berbicara dengan beberapa pelayat di ruang tamu rumahnya.


Pria itu menghampiri peti mati tempat jenazah Maisha yang terbungkus kain kafan dengan rapi, hanya bagian muka yang terbuka agar seseorang bisa melihat wajah tenangnya saat kehilangan nyawa.


Anwar melihat tubuh Maisha yang terbujur kaku, dengan perasaan terluka, kehilangan yang begitu dalam, terlukis sangat jelas dalam tatapannya.


Dia tidak menyangka teleponnya kemarin adalah saat terakhir berbicara dengan Maisha, dia menyesal saat menolak keinginan istrinya yang meminta kehadiran dirinya, ternyata itu adalah keinginan terakhirnya.

__ADS_1


“Kenapa istriku sudah dibungkus, kenapa nggak nunggu aku pulang dulu, kenapa?” teriaknya sambil menoleh ke arah Usfi dan semua orang.


“Akh, memangnya apa hak kalian menentukan istri saya diurus seperti ini, tanpa menunggu aku pulang?” katanya lagi.


“Mas, kamu ini ngomong apa, sih? Kalau manusia yang sudah tidak bernyawa, lebih cepat diurus lebih baik. Apa aku salah sudah mengurus Mbak Mai? Kita di sini semuanya ikut mengurusi, apa Mas juga mau menyalahkan semua orang? Mas juga baru sekarang datang, harusnya Mas mendampingi istri yang sedang sakit, bukannya ma—“


“Cukup, Fi! Kamu juga nggak berhak bicara apa pun di sini!”


“Papa, Tante kemarin nengok Mama, nggak tahu ngomong apa, sampai Mama sedih!”


“Apa kamu melakukan sesuatu pada Maisha, Fi?”


“Aku nggak bilang apa-apa, Cuma ngobrol biasa saja!” Usfi berkata sambil melihat ke sekeliling, seraya merasakan aura yang menyesakkan di sekitarnya. Hanya kedua orang tuanya saja yang melihat dengan kasihan, selain itu semua orang memberikan tatapan menghakimi.


“Aku nggak bohong, kalau memang aku jahat sama Mbak Mai, mungkin sudah dari dulu aku lakukan! Coba tanya saja sama Bude yang jagain Mbak Mai, nggak terjadi apa-apa sebelumnya! Iya, kan Bude?”


Usfi menatap wanita paruh baya yang selama ini menjaga Maisha dan wanita itu mengangguk tegas. Memang tidak ada yang terjadi sebelumnya dan menurut keterangan dokter pun kematian istri Anwar iyu bukan karena keracunan atau kejahatan lainnya.


“Baiklah! Kalau memang kalian tidak percaya dan menuduhku orang yang jahat, terserah! Yang penting aku sudah melakukan kewajibanku, pada seorang yang sudah meninggal ... sekarang tinggal kewajiban laki-laki untuk menguburkan jenazah!”


Usfi kemudian menoleh pada ayah dan ibunya lalu kembali berkata, “Ayo, Abah, Ambuk! Kita pulang saja!”


Kedua orang itu pun menurut, karena suasana mungkin akan semakin buruk kalau mereka tetap berada di sana.

__ADS_1


Sholeh dan Ima pamit undur diri dengan ramah kepada beberapa orang yang, saling mengenal, kemudian mengikuti Uafi, naik kendaraannya sampai di rumah.


Mereka bercakap-cakap ketika sudah berada di dalam rumah.


“Untuk sementara kamu tinggal di rumah Abah aja, Fi ... jangan tinggal di rumah kamu yang dekat pos, nggak usah berangkat kerja dulu ... pokoknya kamu tenangin diri aja di sini!” Sholeh berkata menasihati anaknya, karena dia tahu apa yang terjadi sejak awal.


“Iya, Bah! Usfi tahu kalau tetap ikut campur di sana, nanti tuduhan mereka melebar ke mana-mana ... bisa-bisa nanti Usfi takut kalau dituduh ingin merampas kedudukan Mbak Mai atau menguasai harta Mas Anwar!”


“Jangan berprasangka buruk, Fi!” Kata Ima sambil mengusap punggung anaknya.


“Ambuk, bisa saja begitu, kan? Usfi nggak mau dituduh seperti itu! Kalau memang anak-anaknya meminta semua yang sudah Mas Anwar beri, nggak masalah ... Usfi Cuma ingin Abah Ambu menerima Usfi di sini lagi!”


“Ya! Ya sudah, istirahat sana ... jangan berpikir terlalu keras, apalagi memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi, Ambu tahu kamu kuat sampai sejauh ini, apa pun ujian yang Allah berikan nanti, pasti ada kebaikannya!”


“Iya, Mbuk! Mudah-mudahan Usfi kuat.” Pasti berkata sambil melangkah ke kamar dan memberi kekuatan pada dirinya sendiri di sana, dengan mengadu pada Robbul alamiin, sebagai penguasa segala makhluk.


Setelah kejadian kematian Masha, hari-hari berjalan seperti biasanya bahi Usfi, ketika berada di rumah bersama kedua orang tuanya. Wanita itu menghabiskan waktu dengan memasak ataupun melakukan hal-hal lain, yang disukai bersama ibunya sejak dulu.


Tidak ada telepon ataupun pesan yang dikirimkan oleh Anwar kepadanya, dia pun tidak melakukan hal yang sama. Selain karena menjaga hatinya sendiri, Usfi tidak mau mengganggu atau mengusik ketenangan keluarga itu ketika masih dalam keadaan duka cita.


Tuduhan Anwar kepadanya yang begitu menyakitkan, cukup untuk membuat dirinya menjauh untuk sementara waktu. Sikapnya itu, bukan karena bermusuhan tetapi hanya ingin menjaga keadaan tetap kondusif dan semua baik-baik saja.


Namun, keadaan berbeda dihadapi oleh Ima, ketika berada di luar rumah untuk, bergaul dengan teman-teman di tempat pengajian seperti biasa. Isu yang tidak sedap pun dia dengar saat bertemu dengan para tetangga, di warung juga di pasar.

__ADS_1


Banyak hal-hal miring tentang anaknya, saat kematian Maisha yang bersikap seolah tuan rumah, menganggap anak perempuannya, tengah berusaha untuk menggantikan posisi Maisya.


__ADS_2