
Aku Juga Terluka
“Dia kerja sama saya, Abah. Jadi, anak buah Usfi! Di pos!” Gadis itu menyahut pertanyaan kedua orang tuanya tanpa beban.
“Apa?” kata Sholeh dan Ima secara bersamaan.
Ucapan Usfi membuat dua orang tua itu heran, dengan kenyataan yang, dihadapi anak perempuan mereka, bila harus kembali bertemu dengan Gani setiap hari di tempat kerja. Ada kekhawatiran yang sangat tebal terlukis di sana.
Mereka masih ingat bagaimana Usfi berproses sampai bisa menerima Anwar sepenuhnya sebagai seorang suami. Dan, itu tidak mudah, sebab dia pernah mengeluh pada ibunya bahwa, dia begitu sulit menerima jika harus menjadi madu bagi Maisha.
Seandainya dia tahu sejak awal jika Gani menyukainya maka, dia akan meminta agar Gani melamar dan menikahinya, sebelum Anwar benar-benar melakukan lamaran secara resmi kepadanya.
Namun, dia tahu bagaimana perasaan Gani, setelah semuanya terjadi. Apalagi pria itu pergi entah ke mana, setelah kabar lamarannya tersebar ke seluruh kampung, membuatnya harus mengikhlaskan semua yang terjadi padanya.
Beberapa kali dia menyatakan perasaan kecewanya pada Ima, karena sudah terlanjur menerima tawaran Maisha untuk menjadi madunya. Wanita tua itu paham benar dengan perasaan anak bungsunya yang beru beranjak dewasa, tidak mudah baginya untuk menerima cobaan sebesar itu. Dia tahu, poligami bukan tentang bagaimana suami dan istri pertamanya, tapi yang terlibat di dalamnya adalah, istri kedua termasuk anak-anak mereka.
Saat itu Usfi berpikir jika dia tidak harus menanggung, apa yang menjadi tanggung wajib atau balas Budi kedua orang tuanya pada Maisha. Apalagi harus mengorbankan masa depannya dan hidup sebagai istri kedua.
Kedua orang tua Usfi berulang kali menasihati, dan menguatkan hatinya, agar menjalani pernikahan dengan tulus ikhlas, karena Maisha secara langsung meminta kerelaannya. Terutama Ima, wanita itu sangat merasa bersalah, hingga dia begitu telaten dan sabar mendampingi anaknya, yang baru beranjak dewasa untuk kuat menerima segala cobaan yang ada.
Sebagai orang tua, Sholeh dan Ima tentu berat menyerahkan anak bungsu mereka untuk, menjadi istri Anwar yang terkenal senang membawa wanita. Apa kata orang nanti, begitu batin mereka bicara.
Seiring waktu dan bekal agama yang diberikan Sholeh dan Ima secara terus menerus, bimbingan mereka kepada Usfi dan Anwar pun membuahkan hasil, hingga gadis itu menjadi lebih dewasa. Pada akhirnya mereka bisa terlihat saling mewarnai hidup, hingga membuat suatu perubahan positif.
Saat itu, Asma pernah menemui Sholeh dan Ima, yang mengatakan betapa dia bersyukur dengan perubahan pada Anwar. Dia tidak salah memilih Usfi untuk menjadi istri kedua suaminya, yang tidak lagi bergonta ganti wanita untuk menemaninya mengantar pesanan sayur ke kota.
Saat pernikahan terjadi, empat orang kakak Usfi yang semuanya merantau di beberapa daerah itu, tidak setuju. Bahkan, mereka siap mencari seorang suami untuk adik mereka, yang jauh lebih baik dari Anwar. Apalagi untuk menjadi madu. Mereka menganggap kalau pernikahan terlalu dipaksakan dan memalukan, seolah-olah Usfi tidak laku.
Isu pun terdengar di sana sini dengan berbagai penilaian di masyarakat yang beragam, bahkan ada yang menuduh jika Usfi sudah hamil sebelum pernikahan, hingga mau saja jadi perusak rumah tangga orang.
__ADS_1
Sholeh tahu semua yang terjadi baik di kalangan keluarga atau pun di masyarakat, tapi, dia tidak bisa menolak permintaan Maisha, wanita yang pernah menolongnya itu.
“Iya Abah, dia kerja di pos Usfi!”
“Benar, Gan?” tanya Sholeh.
“Hehe. Iya, Abah!” suara tawa dan ucapan Gani seketika membuyarkan ingatan Sholeh dan Ima akan kenangan pernikahan Usfi, anak perempuannya.
“Oh ... udah lama Nak Gani kerja sama Usfi?”
“Baru sebulan ini, soalnya saya tidak punya kerjaan lagi sekarang, mau melamar kerja di tempat lain, tapi Emak yang minta saya kerja sama Bu Usfi di Pos saja, jadi, saya nurut saja untuk sementara.”
Sholeh dan Ima saling berpandangan sejenak, mereka kini menyimpulkan jika satu hal yang berubah dari Gani yaitu, panggilannya pada Usfi yang bukan Onah lagi.
“Begitu, ya? Kenapa untuk sementara, apa kamu niat mau kabur lagi seperti dulu?”” sahut Sholeh sambil mengangguk.
“Oh, insyaallah nggak, Abah, capek kabur terus! Saya baru tahu kalau hidup setelah kabur tidak lebih baik dari pada sebelumnya, lebih susah saat jauh dari ridho orang tua, akibatnya Bapak pergi pun, saya nggak tahu apa-apa.
“Iya, saya tidak punya HP waktu itu, Pak!” sahut Gani.
Obrolan Gani dan kedua orang tua Usfi, sekarang adalah soal keluarga baru dan keadaannya di kota besar, pria itu tidak mengatakan hal yang sebenarnya pada mereka, tapi, baik Sholeh maupun Ima mengerti, apa yang menjadi latar belakang dari kepergian Gani.
Obrolan pun berlanjut tentang bagaimana kematian Bapak Gani yang begitu tenang, padahal usianya lebih muda dari dirinya. Mereka bersahabat cukup lama, walaupun rumah mereka berjauhan, tapi mereka tetap tinggal dalam satu desa yang sama.
Gani menyimak semua cerita Sholeh dengan baik, karena dia memang tidak tahu keadaan ayahnya saat meninggal dunia.
“Jadi, di mana pun kita berada berikhtiarlah dengan baik seperti Bapakmu, dia seorang pekerja keras dan ramah, dia salah satu contoh orang yang rajin ke masjid!”
“Iya, Abah, insyaallah saya akan coba semua nasehatnya.”
__ADS_1
“Saya tahu, kenapa Emak menyuruh Abang tetap di sini,” kata Usfi ikut bersuara setelah lama diam saja.
“Apa?” tanya Gani lembut.
“Emak sendirian, kan? Emak pengin rumahnya rame kalau ada Abang,” sahut Usfi sambil berdiri, dia hendak ke kamarnya, sebentar lagi Maghrib.
“Ada anaknya Altiana! Itu juga cucunya.” Gani menyahut antusias.
“Ya, memang ada anaknya Altiana tapi, mereka tidak tinggal satu rumah, kan?” setelah berkata seperti itu, Usfi pun benar-benar pergi.
“Saya pikir Usfi sudah punya anak juga seperti saya.” Gani menimpali, “Biar rame juga rumah Abah di sini!”
“Iya, tapi mungkin belum waktunya Ambuk punya cucu dari Usfi,” Ima menyahut dengan raut wajah yang kecewa, dia tidak tahu kenapa anaknya belum juga hamil, padahal semua wanita keturunannya adalah perempuan yang subur.
“Abah, sebenarnya saya ke sini, karena ada yang mau saya tanyakan ....” kata Gani memberanikan diri.
“Ada apa Nak Gani?” tanya Sholeh.
“Saya dengar kalau Usfi menikah bukan karena keinginannya sendiri, tapi karena dijodohkan oleh Abah dan Ambuk, apa itu benar? Maaf, saya mendengarnya setelah pulang sebulan yang lalu, waktu saya pergi, saya belum tahu soal itu.”
Sholeh dan Ima saling berpandangan, mereka tidak menyangka kalau Gani akan menanyakan hal itu pada mereka.
Soleh menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya menjawab, “Memang benar kamilah yang telah menjodohkan mereka, tapi, apa pun alasannya, tidak ada orang lain yang berhak mencampurinya termasuk kamu ... walaupun kami tahu kamu menyukai Usfi, tapi, sekarang kamu sudah menikah ... jadi, alangkah baiknya kamu tidak perlu tahu lebih jauh lagi.”
“Ya, Abah. Saya juga tidak mau ikut campur urusan Usfi dan Abah, juga Ambuk. Saya hanya memastikan kalau prasangka saya selama ini salah!”
“Apa pun prasangkamu pada kami ... adalah urusan pribadimu, Abah juga tidak perlu tahu karena itu sudah lewat. Waktu tiga tahun juga bukan waktu yang sebentar untuk bisa melupakan. Dan, apa pun kesalahan kamu, tidak perlu meminta maaf, karena kamu tidak bersalah ... tidak ada hubungannya antara prasangkamu dengan semua keputusan kami ... sekali lagi karena itu adalah masa lalu.”
Setelah Sholeh memberi sedikit nasehat, Gani pun pergi untuk pulang mengingat waktu Maghrib semakin dekat, sementara di balik tembok ruang tamu itu, Usfi masih diam menatap kepergian Gani dengan tatapan kosong.
__ADS_1
"Kalau kau merasa terluka, aku juga terluka, Bang ...." katanya lirih pada dirinya sendiri.