
Tidak Seperti Dugaan
Saat turun dari pesawat, dan mereka menuju tempat yang sama, Gani pun mengajak Usfi menumpang travel yang sudah dipesan sejak kemarin.
Awalnya Usfi menolak dan memilih naik bis saja karena tidak enak, tapi Azam sepanjang jalan keluar dari bandara, selalu memegang telunjuknya, hingga gadis itu tidak tega melepaskannya.
Akhirnya, mereka kembali bersama kali ini dalam satu mobil. Setelah dua jam lebih dalam pesawat, perjalanan darat yang harus mereka lalui pun membutuhkan waktu yang tidak sedikit.
Dikarenakan mengisi waktu luang selama perjalanan itulah, Usfi memberanikan diri untuk bercerita pada Gani, tentang bagaimana perjalanannya selama menjadi istri Anwar, hingga kemudian bercerai.
Sebagai wanita, wajar kalau Usfi lebih banyak bicara, bertemu dengan Gani seolah bertemu dengan orang yang mengerti dirinya karena pria itu tahu perjalanan hidupnya.
Memang Gani adalah seorang pria yang banyak bicara tetapi, mendengar Usfi bercerita dia pun tahu kalau wanita itu lebih membutuhkan seorang pendengar daripada dirinya sendiri. Dari semua cerita Usfi, Gani akhirnya mengerti bila dugaannya salah lagi.
Gani menduga bila setelah Maisha meninggal maka, hidup Usfi akan jauh lebih baik karena dialah nyonya rumah itu. Namun, ternyata tidak demikian, sebab Usfi justru lebih bahagia saat istri pertama suaminya masih hidup, mereka hidup rukun dan saling mendukung.
Dia pun menyadari jika kehidupan memang tidak selalu harus berakhir bahagia, banyak juga yang terlihat sempurna namun nyatanya tidak baik-baik saja. Sama halnya dengan dirinya sendiri yang menjalani hidup penuh dengan keoptimisan, dan selalu berpikir positif tentang istrinya tapi, justru dihempaskan dalam kekecewaan yang begitu dalam.
Sebelum berpisah dan menjatuhkan talaq pada Asma, Gani sudah memikirkannya ribuan kali, bukan sebentar dia berusaha bersabar, bukan sedikit dia memberi peluang untuk berubah ke arah yang lebih baik.
Namun, ada kejadian di mana dia akhirnya bersegera mengambil tindakan, yaitu saat dia mendengar Asma bicara melalui telepon dengan seseorang yang jelas-jelas menjatuhkan harga dirinya sebagai suami.
Waktu itu Asma sedang tidak enak badan, hingga dia memutuskan untuk mengambil cuti kerja selama tiga hari. Selama itu pula hampir setiap saat baik pagi maupun malam, Nara selalu meneleponnya. Wanita itu menerima setiap panggilan pria lain tanpa memikirkan perasaan suaminya.
Tentu saja Gani tidak suka dengan tindakan dan ucapan Asma, yang menyatakan bila suaminya itu tidak melakukan apa-apa.
Gani berusaha bersabar dengan kekuatan kepribadiannya, dia diam walaupun tidak sekali atau dua kali Asma mengatakan kalau suaminya tidak perduli. Namun, akhirnya Gani menyerah setelah Asma terlalu sering mengungkapkan hal yang tidak benar.
“Apa maksud kamu tadi bilang sama Nara kalau kamu melakukan semuanya sendiri, Asma? Kan aku juga mengurus kebutuhan kamu di sini!”
__ADS_1
“Bang Gani nggak ikhlas? Kok ngomong begitu?”
“Ini bukan masalah ikhlas nggak ikhlas, Asma! Tapi masalah benar dan nggak benar!”
“Ya, sih ... tapi, kerjaan kamu suka nggak beres, Bang!”
“Ya, kamu maunya gimana tinggal bilang saja, selama ini kamu nggak pernah komentar, kenapa bilang sama orang lain begitu? Lebih baik ngomong terus terang ... suami kamu itu aku, bukan dia!”
“Soalnya, kalau aku ngomong terus terang, Abang bisa salah paham, makanya lebih baik bilang sama Nara, dia orangnya dewasa banget dan pasti ngertiin aku!”
“Apa selama ini aku kurang ngerti sama kamu, Asma? Apa masih kurang pembuktian selama lima tahun kita menikah? Aku sudah berusaha semampuku!”
“Abang selalu saja merasa paling benar!”
“Merasa paling benar gimana?”
Asma diam, hingga Gani kemudian melanjutkan.
“Bang, kamu tahu nggak pandangan orang soal kita cuman numpang di sini, aku malu, Bang! Harusnya kita pindah, ini rumah warisan Nenek. Kalau bisa dijual dan uangnya di bagikan! Ngasih aku rumah itu kewajiban kamu sebagai suami, tapi Abang nggak bisa, kan?”
“Ya, memang kalau soal beli rumah aku belum bisa, tap—“ ucapan Gani terputus.
“Nah, baguslah kalau Abang tahu! Tapi Nara, bisa ngasih apa yang aku mau, wajar kalau aku lebih respect, soalnya dia lebih segalanya dari Abang!”
“Oh, jadi begitu, apa kamu mau jadi istrinya?”
“Siapa yang nggak mau punya suami kayak dia, Bang! Semua teman di kantorku, yang perempuan suka sama dia!”
“Astaghfirullah, Asma. Istighfar! Kamu masih punya suami.”
__ADS_1
“Terserah!”
Dari pertengkaran mereka itu, akhirnya Gani mengerti bahwa, pertahanan dan pengorbanan yang dilakukannya, sia-sia belaka. Asma sama sekali tidak pernah menghargainya sebagai suami, sejak dia mulai bekerja.
Berpisah mungkin awal yang tepat untuk saling mendewasakan diri, dari pada terus bersama tapi saling menyakiti. Dan, begitu Gani mengambil tindakan untuk bercerai, dengan lapang dada Asma menerimanya.
Sambil menunggu selesai sidang, Gani memilih tinggal di rumah kontrakan tapi, dia tetap mengakrabkan diri dengan Azam karena mereka mempunyai kebiasaan tidur bersama sepulang dari bekerja, hingga Gani akan pergi setelah Azam tertidur disetiap malamnya.
Lalu, Gani segera pergi dari rumah itu setelah menyelesaikan semua urusan dan kelengkapan surat-suratnya. Tentu saja dengan membawa Azam sesuai permintaan yang, dikabulkan oleh pengadilan agama.
“Ya, sudah, bawa saja Azam nggak apa-apa, toh kamu cuman mau jadi petani sawit saja di sana, masih bisa lah sambil ngasih anak!” kata Lilis saat Gani pamit untuk membawa Azam bersamanya.
Ucapan yang merendahkan itu tidak membuat Gani gentar, tidak masalah menjadi petani asalkan hidup tercukupi, itu sudah lebih dari cukup. Dia bersyukur, Azam tidak rewel bahkan senang ikut bersama ayahnya.
Asma sempat menangis, tapi karena melihat anaknya yang, memang tidak dekat dengannya itu senang pergi dengan Gani, akhirnya dia pun merelakannya.
Setelah itu, Gani mampir ke rumah Ami—emaknya, hanya sebentar saja. Dia menceritakan keadaan rumah tangganya dan rencananya ke depan. Dia tidak akan membebani Ami untuk merawat anaknya, sehingga dia mengajak Azam ikut serta walaupun, Altiana juga Ami tidak keberatan jika Azam tinggal bersama mereka.
Sebagai ibu, tentu saja Ami kecewa karena pertemuannya dengan cucu dan juga menantunya tidak pernah berlangsung lama.
Setahun pertama bekerja, dengan sang kakak di perantauan, membuat pria itu lebih banyak memahami makna hidup, mengambil hikmah di setiap kejadian dan tentu saja lebih bersabar.
Saat bertemu dengan Andi, teman kuliahnya dulu, mungkin adalah jalan keluar dari Allah atau sebagai balasan kesabaran. Walaupun, tetap ada ujian, hambatan dan masalah lain di dalamnya, tapi, tidak seberat masalahnya dahulu.
Dia bisa menjalani hidup lebih nyaman, dengan mendapat fasilitas apartemen pribadi, kendaraan pribadi dan juga gaji yang lebih besar, hingga dia bisa melunasi utangnya pada Algizali.
Semua atas bantuan Andi sebagai bentuk balas budinya pada Gani. Dahulu mereka adalah sepasang sahabat, banyak sekali pertolongan dari Gani padanya. Walaupun hanya sekedar mengerjakan tugas kuliah, tapi, tanpa bantuan sahabatnya, maka, kuliah Andi yang tergolong malas belajar itu, pasti tidak akan lancar.
Kini, Gani hanya perlu bekerja menjalankan tugas yang diberikan Andi, untuk mengelola Hotel dan restorannya dengan baik. Sementara si pemilik Hotel, melakukan bisnis yang lain, melebarkan sayap dan mempertahankan saham, serta menjalin relasi yang lebih besar lagi.
__ADS_1
❤️❤️❤️🙏👍❤️❤️❤️