Cinta Butuh Utang

Cinta Butuh Utang
Tentang Balas Budi


__ADS_3

Tentang Balas Budi


Keesokkan harinya, Gani kembali bekerja, tapi, dia kecewa karena Usfi tidak ada, padahal ingin meminta maaf. Dia tiba-tiba merasa bersalah atas sesuatu yang tidak harus dipersalahkan, ketika jalan nasib sudah harus ditempuh.


Ke mana dia, ada apa dengan gadis itu? Demikian pertanyaannya dalam hati.


Meskipun demikian, Gani tetap bekerja dengan baik. Dia tidak bisa bermalas-malasan atau tidak bekerja lagi, karena libur yang diambilnya sudah lebih dari sepekan yang dia janjikan.


Saat di kampung Lilis—ibu mertuanya, dia membiarkan istrinya tetap bekerja seperti biasanya. Namun, selama dia berada di sana Asma tidak membiarkan Nara terus menerus memanjakannya, dan tetap melakukan kewajibannya sebagai istri, dengan baik.


Oleh karena itu dia percaya sepenuhnya pada Asma, dan Lilis untuk menjaga sang buah hati. Dia akan kembali bekerja di kampung dan akan kembali sebulan kemudian.


Lilis meminta Gani untuk tetap tinggal dan mencari pekerjaan di sana, karena dia kesal pada menantunya yang terus menerus berpesan agar Asma berhati-hati dalam pergaulannya di kantor sebab istrinya termasuk wanita yang menarik jika sudah berpakaian rapi setiap kali hendak berangkat ke kantor.


Bukannya Gani tidak mau tinggal dan bekerja di kampung halaman Lilis itu, tapi, ijazah dan semua perlengkapan dirinya yang bisa digunakan untuk mencari pekerjaan, dia tinggal di rumah sejak tiga tahun yang lalu, saat dia kabur dari rumah.


Itulah alasan mengapa Gani memilih kembali ke desanya dan bekerja seperti sebelumnya di pos. Dia harus mencari uang terlebih dahulu, lalu, berniat kembali berkumpul dengan keluarga kecilnya sebulan kemudian. Pria itu akan membawa ijazah dan perlengkapan lainnya, hingga dia mencari pekerjaan yang layak di sana. Tidak ada lagi yang bisa diperjuangkan di desanya, karena Usfi sudah bahagia. Dia hanya harus mengejar kebahagiaannya sendiri.


Sementara untuk emaknya, dia bisa pulang sewaktu-waktu untuk menjenguk dengan mengajak anak dan istrinya, sekaligus piknik keluar kota, suatu saat nanti.


Saat bekerja itulah Gani mendengar teman-temannya mengatakan bila Maisha, istri pertama Anwar sedang sakit dan melihat Usfi berada di sana, oleh karena itu dia tidak ada di pos.


“Sesempurna itukah Usfi dan kehidupan poligami mereka? Apa dia benar-benar bahagia?” Gani bertanya-tanya dalam hati. Tiba-tiba dia begitu iri dengan Anwar yang bisa membuat para istrinya akur dan, tidak bertengkar seperti banyak cerita dan kenyataan yang ada.

__ADS_1


Sesungguhnya semua tidak terlihat seperti yang orang lain bisa melihatnya. Apa yang tampak di luar belum tentu sama seperti dalamnya.


Seperti yang ada di kamar rumah sakit itu, saat Usfi menjenguk Maisha yang, sedang sakit typus, dan baru saja selesai ditangani oleh dokter, saat dia datang.


“Aku heran sama kamu, Fi!” Maisha berkata dengan suara lemah tapi ketus, dengan tetap berbaring di atas tempat tidur di salah satu kamar VVIP rumah sakit itu. Wanita itu yang sudah menghubungi Usfi untuk datang.


“Heran kenapa, Mbak?” Usfi berkata dengan ketus juga. Dia duduk di sofa dekat brankar yang ditiduri Maisha setelah mengucapkan salam, dan berbasa-basi sebentar.


“Kamu tahu soal Anwar, kan? Kenapa nggak bilang?”


“Mbak juga pasti sudah lama curiga, kan? Kenapa nggak bilang? Aku mah Cuma seminggu sekali ketemu Mas Anwar, mana tahu kalau dia sudah jarang pulang, aku pikir sih, ada di rumah Mbak!”


“Aku pikir juga sama kamu, Fi!”


Maisha kemudian bercerita kepada Usfi, kalau sehari sebelumnya dia sempat bertengkar dengan Anwar yang, baru datang setelah sehari, dirinya berada di rumah sakit. Laki-laki itu susah sekali dihubungi ponselnya dan, kalau bisa menghubunginya pun hanya sebentar saja.


Wanita itu sudah banyak mengalah dan diam agar keadaan baik-baik saja, mengingat anak-anaknya sudah besar dan menghargai perasaan mereka. Maisha juga bersyukur, anak-anaknya mau menerima keadaan ibu dan ayah mereka yang mendua. Dia tidak ingin menjadi orang tua yang terlihat buruk di depan anak-anak. Oleh karena itu, dia tidak melakukan pertengkaran dengan suaminya, walaupun, melalui telepon dan tidak banyak protes.


Namun kemarin Anwar mengatakan kalau dia benar-benar bekerja di tempat barunya dan, menjadikan Usfi sebagai saksi seandainya Maisha tidak juga percaya kepadanya. Bahkan, pria itu sudah kembali ke pos-nya walaupun, istrinya sedang dirawat di rumah sakit.


Anwar terlalu yakin kalau Usfi tidak akan mungkin, begitu saja membeberkan apa yang dilihatnya di pos yang baru dikelola oleh laki-laki itu di kota.


“Jadi, dia benar-benar kerja di sana atau enggak, Fi?”

__ADS_1


“Memangnya Mas Anwar bilang apa? Kenapa jadi bawa-bawa aku, sih, Mbak?”


“Kata Anwar juga kamu tahu kalau dia kerja di sana? Dia nggak macam-macam lagi sama perempuan lain, kan?”


Tiba-tiba Uafi menjadi dilema apakah dia akan mengatakannya secara jujur kepada Maisya atau tidak. Sementara wanita itu sedang sakit, apabila dia mengatakan hal yang sebenarnya, dia khawatir bila penyakitnya akan lebih parah.


Sekuat hati Uafi menahan untuk tidak membicara kannya, karena dia bukan orang yang pandai berbohong. Sebenarnya apa yang dikatakan Anwar itu, tidak sepenuhnya benar. Laki-laki itu mempunyai motif tertentu, bahkan dia khawatir kalau suaminya sedang diperalat oleh seseorang yang, ingin mengambil harta kekayaannya secara perlahan-lahan.


“Ya, Mbak ... Mas Anwar kerja kok di sana, aku tahu tempat itu dari temanku yang kebetulan tinggal di daerah sana.”


“Oh! Alhamdulillah. Aku memang nggak salah milih kamu, Fi ... aku tahu kamu memang sederhana tapi, punya pengetahuan agama lebih baik dari aku ... jadi, setidak-tidaknya bisa ngasih nasehat atau mengingatkan Anwar agar dia tidak kebablasan.”


“Iya, Mbak.”


“Sebenarnya aku meminta kamu untuk jadi istri Anwar itu bukan hanya sekedar balas budi, Fi ... aku benar-benar sudah mengikhlaskan kebaikanku di masa lalu pada Ustadz Sholeh. Apalagi dibalas dengan pernikahan seperti ini ... tapi, aku yakin kalau kamu bisa menjaga Anwar lebih baik dari aku, kita bisa saling melengkapi.”


“Ya, Mbak. Kalau sekarang sudah terjadi ya ... mungkin memang sudah takdir kita, kan?”


“Maafkan aku, Fi ... aku benar-benar nggak punya pilihan lain waktu itu selain kamu, aku nggak mau suamiku bersama dengan wanita yang nggak jelas, terus menambah dosa dan penyakit!”


Usfi diam, dia memikirkan cerita ayahnya tentang balas budi kedua orang tuanya. Dia tahu kalau Maisha mungkin terpaksa, hingga melibatkan dirinya yang tidak tahu apa-apa. Dan mau tidak mau dia pun menuruti kemauan orang-orang yang terdekatnya itu, karena mereka begitu memohon padanya.


❤️❤️❤️🙏👍❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2