Cinta Butuh Utang

Cinta Butuh Utang
TAMAT


__ADS_3

Tamat


Setiap hari setelah mengetahui dirinya hamil, Usfi semakin manja pada suaminya, bukan karena mengidam atau menguji kesabaran Gani saja, tetapi juga memang keadaan yang membuat wanita itu terpaksa bersikap demikian.


Dia tidak nafsu makan, tidak bisa mencium bau yang aneh dan, hanya makan sesuatu yang diinginkannya saja. Walaupun, makanan yang dibawa oleh Gani setiap hari sangat menggoda selera, tapi Usfi tetap saja muntah saat menikmatinya.


Hal itu membuat Gani kehabisan akal, sebab pengalaman pertama menjadi calon ayah dulu, dia tidak merasa kerepotan, dikarenakan Asma tidak mengidamkan sesuatu yang aneh seperti Usfi.


Sering sekali Usfi meminta maaf karena merepotkan suaminya, tapi, semua itu juga bukan keinginannya, hingga Gani pun memaklumi.


“Kalau bisa, aku makan semuanya, Bang! Nggak mau mual terus kayak gini, kayaknya enak lihat makanan, tapi pas di makan aku justru mual!”


“Apa tidak bisa dipaksa, biar anaknya nggak manja nantinya?”


“Aku sudah coba, Bang! Tapi nggak masuk juga, malah sakit perut aku kebanyakan muntah, mending nggak usah makan saja sekalian!”


“Nanti, kamu sakit?”


“Jangan ngomong gitulah, Bang! Soalnya aku juga nggak mau kita semua jadi sakit, kan repot. Tiga bulan pertama kan memang masa penyesuaian dan perubahan hormon, makanya jadi mual begini.”


“Ya ... kan, nggak semua ibu hamil begitu?”


“Iya, memang kalo bisa aku juga begitu, jadi enak amkan minum apa saja ... Alhamdulillah, biasanya keadaan seperti ini terjadi sebelum nyawa ditiupkan Allah pada janin, kalau sudah bernyawa, anak kita pasti nggak akan meyusahkan ibunya begini, Bang.”


Gani tersenyum sambil mengusap perut Usfi sambil mengucapkan kalimat hamdalah sebagai bentuk rasa syukur.


Rasa syukur yang terucap mulut Gani dan Usfi, bukan disebabkan oleh kehamilan saja, tapi karena banyak hal yang sudah mereka rasakan bersama.


Kebaikan dan kebahagiaan dalam hidup semua orang sesuai dari apa yang mereka usahakan, walaupun, kebahagiaan tetap akan disertai ujian lainnya.


Begitu pula kehidupan yang dijalani oleh Gani serta Usfi. Mereka tetap saja tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, seperti kebanyakan orang lain ya. Namun, untuk saat ini yang bisa mereka lakukan adalah bersyukur atas segala kenikmatan yang sudah Allah berikan.


Semua masalah yang mereka hadapi selama ini, satu persatu sudah selesai baik sekolah, pekerjaan dan, termasuk masalah dengan mantannya masing-masing, hingga ujian yang terkahir berupa kehamilan pun berhasil mereka lalui.


Kini yang harus mereka hadapi adalah ujian kesabaran menunggu hadirnya sang buah hati. Biar bagaimanapun juga, kehadiran seorang anak adalah pelengkap dalam sebuah rumah tangga, selain merupakan konsekuensi bagi pasangan yang sudah menikah.


Ada pun soal anak yang lahir kelak baik laki-laki maupun perempuan, akan mereka terima dengan senang hati bahkan mereka sudah menyiapkan dua nama bagi bayinya. Bila bayinya kelak seorang laki-laki, maka namanya adalah Adam dan bila perempuan akan mereka namai Anisa.


Setiap kehidupan manusia memiliki hikmahnya sendiri, demikian pula dengan cerita dalam novel ini, semoga apa yang menjadi tema kisah kali ini bisa menambah inspirasi.


Masih banyak kekurangan di sana-sini, termasuk beberapa hikmah yang terbetik pun masih merupakan dari imajinasi author sendiri. Tetapi saya terbuka untuk setiap kritik dan sarannya, mudah-mudahan bermanfaat untuk karya selanjutnya.


SELESAI


Terima kasih atas dukungan dalam bentuk apa pun, baik berupa komen, like, vote, gife atau ADS iklan yang sangat tidak ternilai bagi saya pribadi.


Oh iya! Perkenalkan karya baru saya selanjutnya, tetap ikuti dan simak ceritanya yang tak kalah seru menurut versi saya.

__ADS_1


Cuplikan Bab 1


Si Pengobat Luka


Rouli masih sibuk membersihkan luka di tubuh seorang pria tak berdaya di hadapannya. Dia tidak tahu kalau mata laki-laki itu sedikit terbuka dan, bisa melihat apa yang tengah dilakukannya. Namun hanya sebentar, sebelum matanya kembali terpejam.


“Tenanglah, Tuan. Kau pasti selamat, aku sudah melakukan pertolongan pertama! Kau pasti baik-baik saja!” Begitu kata Rouli beberapa kali, dia bicara memberi semangat, sambil sesekali membenarkan kain penutup wajahnya yang tertiup angin.


Dia menemukan pria itu terkapar bersimbah darah, dengan pakaian yang terkoyak akibat hantaman keras dari kejatuhannya. Dia berusaha menyelamatkan diri dengan kursi pelontar, setelah tahu baling-baling pesawat kecil yang dinaikinya bermasalah.


Namun, naas, tali parasutnya putus hingga dia terjatuh di tempat itu, setelah tersangkut beberapa saat di atas pohon yang menjulang tinggi.


Pria itu bernama Nakha, dia menyesal sudah mempercayakan semua perawatan pesawatnya pada Juli, pria kepercayaan Deni—Kakaknya sendiri.


Nakha hampir saja berpikir jika Deni berniat membunuhnya dengan cara halus, seolah-olah murni kecelakaan. Apalagi sebelumnya Deni mengajaknya makan bersama keluarga kecilnya, di Hotel Pandawa. Setelah itu dia muntah-muntah dan sakit perut.


Kakak tirinya itu sengaja mengadakan jamuan makan, karena baru saja mengangkat seorang anak kecil yang lucu dan menggemaskan, bernama Bimbim. Deni sudah delapan tahun menikah dengan Sita, tapi, tidak juga mendapatkan keturunan.


Sekarang, di sinilah Nakha berada, di tepi hutan yang tidak pernah dia kenal sebelumnya. Beberapa bagian tubuhnya terkoyak oleh dahan dan ranting sebelum terhempas ke tanah. Dia tidak bisa bergerak sedikitpun karena luka itu bahkan, darah segar mengalir tanpa bisa dicegah.


Rouli dengan cekatan mengoleskan cairan antiseptik alami yang, dibuatnya dari daun sirih. Dia tidak tahu kalau pria yang ditolongnya, sudah melihat wajah buruknya, tapi, dia terus saja sibuk megobati beberapa luka baik di bahu, dada, paha, tungkai dan juga lututnya.


Dia terus berkata lirih memberi semangat, dengan napas yang tersengal, setelah berhasil melakukan cpr padanya.


Setelah selesai mengolesi semua luka dengan tanaman herbal yang, ditumbuk halus lalu di campur dengan minyak kelapa asli buatannya sendiri, dia pun bernapas lega.


Lalu, dia memotong beberapa pelepah dan kulit pohon pisang yang disatukan dengan tali, hingga menjadi sebuah rakit. Dia menggeser sedikit demi sedikit, untuk meletakkan tubuh laki laki itu di atasnya, lalu menyeretnya ke tepi jalan.


“Maaf, aku hanya bisa menolong sampai di sini, aku tidak kuat mengakat tubuhmu, aku hanya berharap ada orang yang membawamu ke rumah sakit!” kata Rouli lagi sambil melihat ke sekelilingnya.


Dia mengusap wajah laki-laki yang tidak jelas itu, dengan lembut. Di pipinya ada gambar bendera negaranya bercampur dengan warna coklat kehitaman di sekelilingnya. Corak yang biasa digunakan oleh para tentara untuk menyamar.


Rouli terus berada di sana, bersimpuh di sisi tubuh pria yang bisa mendengar dan merasakan semuanya, tapi tidak berdaya. Seluruh kulitnya yang terluka itu terasa hangat, ada sedikit rasa perih tapi tidak sakit. Seandainya dia bisa lari, maka dia akan lari karena wajah wanita itu begitu mengerikan.


“Apa kau seorang tentara dan sedang berlatih, bagaimana kau bisa jatuh di sana?” tanya Rouli yang tentunya tidak akan mendapatkan jawaban.


Tak lama setelah itu, tampak dari jauh, ada sebuah kendaraan yang mendekat, di saat yang sama, Rouli pergi menghindar agar orang lain tidak menemukannya. Dia yakin, orang-orang pasti akan takut melihat wajahnya.


Setelah meninggalkan pria yang terluka itu, dia kembali ke dalam hutan dengan perasaan lega, setelah melihat sepasang manusia sang pemilik mobil menghampiri dan mengangkat pria itu ke dalam kendaraan mereka.


Rouli merasa senang, dia sudah melakukan yang seharusnya dilakukan sebagai sesama manusia, saling menolong dan melakukan semampu yang dia bisa.


Tiga bulan kemudian, setelah peristiwa itu terjadi, Nakha kembali ke rumah sakit tempat pertama kali dia di bawa oleh Rano dan anak perempuannya, Mentari, yang kala itu kebetulan tengah melintas dan menemukannya tergeletak di sisi jalan.


Rumah sakit tempat dia dirawat saat itu adalah, tempat yang cukup bagus dan bonafit. Dua orang yang menolongnya termasuk orang berada dan terpandang di sana. Sudah sepatutnya dia bersyukur dengan keadaannya yang baik-baik saja.


“Apa lututmu masih sakit? Sepertinya kau harus menemukan pengobat lukamu itu biar cepat sembuh!” kata Andre, seorang dokter yang menanganinya itu tengah berseloroh.

__ADS_1


Kebetulan mereka saling mengenal, hingga terlihat akrab dan kini tengah berada di ruang konsultasi tempat Andre bertugas.


“Ck! Kalau aku tahu siapa dia!”


“Kau harus mencarinya untuk berterima kasih, kalau bukan karena pertolongan pertamanya juga ramuan yang dia oleskan pada lukamu, mungkin kau tidak bisa secepat ini untuk sembuh! Aku penasaran dengan bahan apa saja yang ia digunakan? Aku tidak melakukan apa pun pada beberapa luka dan memar di tubuhmu tapi, dalam semalam luka itu menutup dengan sempurna.”


“Jadi, kau tidak tahu? Kalau begitu percuma saja aku mendatangimu!”


“Jangan begitu, beberapa ramuan herbal memang ada yang ampuh bila langsung dioleskan pada luka baru tetapi, aku memang kurang mengerti tentang itu karena aku tidak mempelajarinya.”


“Jadi, kau pun perlu mencarinya untuk menanyakan hal itu padanya, dan aku harus mencarinya hanya karena berhutang nyawa!”


“Bagaimana aku bisa mencarinya ... wajah dan ciri-cirinya saja kau tidak tahu!”


“Baiklah, tidak perlu mencarinya, lagi pula aku sudah mengucapkan terima kasih pada Tuhan!”


“Ada seorang gadis yang ikut menyelamatkan dan membawamu ke sini, sama saja kau berhutang budi padanya, apa kau akan menikahinya sebagai balas jasa?”


“Entahlah, sekarang kita bukan di negeri dongeng, mana ada seorang pria menikahi wanita yang telah menyelamatkannya, tapi, akan aku pikirkan nanti!”


Setelah Nakha mendapatkan perawatan pada lutut yang harus diobati secara berkala, dia tidak langsung kembali ke rumah, tetapi, menepikan mobil Toyota Bought 89 di sisi jalan, untuk melihat kerumunan dan sebuah atraksi seorang penari akrobatik yang sempat membuat kamacetan.


Disaat bersamaan, melintas dua orang wanita di depan mobilnya. Salah satu wanita menarik perhatiannya karena kalung yang melingkar di lehernya.


“Bukankah itu kalungku?” gumamnya lirih, sambil menatap gadis itu dengan tatapan yang penuh selidik, sesaat kemudian dia sudah membidikkan kamera ponselnya.


“Atau hanya mirip,” katanya sambil menggelengkan kepalanya dan menginjak pedal gas lalu, pergi.


Di dekat kerumunan, dua orang wanita tengah mengobrol dan memesan es buah di kedai pinggir jalan.


“Aku membayangkan bagaimana gigihnya mereka berlatih hingga mahir beratraksi seperti itu!” kata Rouli pada Niet, dia adalah teman sesama terapis akupunktur.


“Ya! Aku perlu berlatih sebulan penuh sampai menghabiskan empat puluh jarum hanya untuk titik meredian pada ginjal!” Sahut Niet sambil mengaduk minumannya.


“Akh, kau luar biasa, aku jadi ingat laki-laki yang pernah ku-tolong, dia punya masalah ginjal saat kuperiksa telapak tangannya. Kalau saja aku membawa jarum waktu itu ....”


“Sudahlah, seharusnya kau ikut dengan mobil itu dan mengatakan kalau kau yang sudah meyelamatkannya!”


“Tidak perlu, aku tidak akan pernah mengenalinya, sebab kita bukan di negeri dongeng putri duyung ... mana ada seorang pria ingin menikahi wanita yang telah menolongnya.”


“Oh, Ya! Ru, aku pernah melihat bendera organisasi yang gambarnya mirip seperti kalungmu, apa kau bagian dari mereka?”


“Bukan! Aku menemukan dekat pohon randu setelah aku kembali dari menyelamatkan orang itu, aku pikir ini kalung ini lucu!”


“Oh, aku kira kau anggota mereka, aku hanya khawatir, pemilik kalung itu bagian dari organisasi yang tidak bagus!”


❤️❤️❤️👍🙏❤️❤️❤️

__ADS_1


Selamat membaca di novel selanjutnya!


__ADS_2