
Maafkan Aku Menyukaimu
Usfi datang, tak lama kemudian dengan mobilnya, tepat sesuai jam yang sudah dia katakan pada Gani, dia turun untuk menghampiri keluarga barunya sambil tersenyum malu-malu. Wajah dan pakaiannya cerah secerah suasana pagi itu.
Gadis itu bangun setelah lewat waktu subuh karena tidak menyalakan alarm. Dia sedang haid, hingga malas bangun untuk sholat subuh, namun dia tetap berdzikir dan membaca beberapa do’a yang rutin dia lakukan setiap kali bangun tidur, yaitu membaca istighfar tiga kali, membaca hamdalah tiga kali, disertai niat menjalankan rutinitas sebagai ibadah hari ini.
Disaat yang bersamaan, dia melihat ponselnya dan sejumlah uang di atas meja kecil di samping tempat tidur, membuat otaknya berpikir kalau sudah terjadi sesuatu tadi malam, yang tidak diketahuinya.
Setelah dia marah pada Anwar di telepon malam tadi, dia menangis dan terus membaca ulang pesan Maisa, sampai akhirnya tertidur. Capek rasanya memikirkan keadaan anak-anak. Kelelahan jiwa lebih menguras tenaga dibanding lelah bekerja, sebab emosi adalah inti perasaan pada diri manusia, yang bisa mempengaruhi segala rasa, baik dihati maupun raganya.
Setelah itu, dia segera menemui ibunya yang kemudian menjelaskan kejadian akad nikahnnya semalam. Oleh karena itu, barulah dia sadar kalau dia sudah jadi istri seorang Algani.
Usfi menyalami Ami dan suami barunya dengan khidmat seraya mencium punggung tangannya, dan kemudian menyalami Altiana, Azam dan keponakannya.
“Maaf, ya Bang. Semalam aku ketiduran, jadi nggak ikut pulang.” Usfi, sambil menghenyakkan bokongnya ke atas kursi kayu yang ada di teras, sedangkan Gani dan Ami ada di samping kiri dan kanannya.
“Iya, nggak apa!” Sahut Gani
“Kenapa tidak dibangunin aja, Bang?” tanya Usfi.
“Buat apa? Aku nggak mau ganggu kamu kayaknya pulas banget.” Gani berkata sambil berdiri dan ke dalam untuk menyimpan gelas kopinya sendiri
“Jadi, kalian mau ke Kota sekarang?” Ami bertanya dengan lembut, setelah Gani tidak ada.
“Ya, Mak. Mau ngajak Bang Gani jalan-jalan,” sahut Usfi.
“Ya, sudah ... hati-hati di jalan! Maaf Mak belum nyiapin apa-apa buat kamu sebagai menantu, lamaran sama mahar saja Gani Cuma ngasih kamu lima ratus ribu.”
“Nggak apa, Mak. Kalau memang mau memberi hadiah, tidak harus pas lamaran, kapan saja bisa.” Usfi tersenyum saat mengatakannya, karena dia memang tidak menginginkan semua pemberian itu.
__ADS_1
“Mak jadi malu kalau begitu, Fi!”
“Nggak perlu malu, Mak ... Usfi yang pengen cepet-cepet dinikahi Bang Gani, wajar kalau Mak dan Abang belum siap-siap buat seserahan!”
“Iya!”
Setelah Gani keluar, Usfi langsung menggamit tangannya dan berpamitan, dia melangkah cepat menuju mobil bahkan, membukakan pintu untuk Gani dan menyuruhnya duduk di kursi penumpang samping kemudi.
Dia sendiri duduk di belakang setir dan memasang sabuk pengaman masing-masing, sedangkan Gani hanya diam tanpa mengalihkan pandangannya pada gadis yang kini sudah sah menjadi istrinya.
Ada degup halus dalam hati seperti orang yang baru pertama jatuh cinta, padahal dia seorang duda, sudah pengalaman masalah wanita. Dia ingat sejak remaja dan bergaul lama dengan Usfi, belum sekalipun memegang tangannya. Lalu, saat tiba-tiba gadis itu menggandeng seperti tadi, seolah jantungnya kehilangan satu detakkan.
Usfi menekan gas dan membuat mobilnya menjauh hingga beberapa ratus meter, saat Gani mulai membuka mulutnya untuk bicara, memulai percakapan.
“Sebenarnya mau apa kamu datang ke tempat Anwar?”
Usfi melirik suaminya sebentar lalu, kembali fokus melihat ke jalanan.
“Itu bukan urusan kamu, ngapain juga jadi bawa-bawa aku, On? O ... Aku tahu sekarang ... kamu maksa aku nikah hanya karena laki-laki itu? Kamu bilang harus lurusin niat, kamu sendiri niatnya bengkok, nikahin laki-laki hanya demi laki-laki lain! Apa itu?”
Usfi seketika menghentikan mobil dan menepikannya, melepas sabuk pengaman lalu, memiringkan badan menghadap pada Gani.
Dan, cup!
Dia mencium bibir Gani sekilas, membuat pria itu beberapa kali mengerjakan mata. Dia pikir Usfi terlalu agresif. Padahal maksud Usfi adalah agar Gani tidak bicara lagi. Benar saja, punggung pria itu menjadi kaku dan tak bergerak.
“Apa Abang nggak pernah sekalipun suka sama aku? Apa Abang tetap pergi kalau aku nggak nikah waktu itu? Apa Abang nggak senang melamarku tadi malam? Bang ... aku minta nikah cepat bukan karena laki-laki lain, tapi karena aku memang suka sama Abang walau Abang cerewet! Waktu kita terbatas di sini, lagipula aku memang butuh pendamping ... Bang, kehormatan seorang wanita itu saat ada di sisi suaminya dan kehormatan suami saat dia mampu menafkahi keluarganya.”
Lama Usfi tidak berkata lagi dan hanya air mata yang menetes. Sementara waktu terus berjalan dan matahari merangkak naik semakin tinggi.
__ADS_1
“Aku ingin menjaga diri, benar kata Abang kalau status janda dimasyarakat sangat menggangguku, aneh kalau nggak cepat-cepat melamarku, Bang, banyak laki-laki asing datang ke rumah Kang Edi menanyakan aku ... apalagi di sekolah ... aku harus benar-benar menjaga sikap karena khawatir kalau para wali murid berpikir negatif dan menggunjingku!”
“Mereka berpikir negatif bukan salah kamu, mereka menggunjing pun bukan salahmu, justru pahala mereka mengalir padamu!”
“Nah, kalau kita sebagai muslim tahu akan hal itu, bukankah kita juga zholim kalau membiarkan mereka kehilangan pahala hanya karena membicarakan kita? Kalau kita tahu bahwa perbuatan orang lain merupakan dosa, lantas apakah kita akan membiarkannya hanya karena itu bukan urusan kita? Bukan seperti itu, Bang ... aku nggak mau membuat orang terus bergunjing dan mendapat dosa!
“Terus?”
“Waktu kita bertemu di pesawat, aku bersyukur dan menaruh harapan sama Abang, tapi, di antara kita ada Azam, lantas aku pikir ya ... sudahlah ....” Usfi berhenti sebentar untuk menarik napas.
“Waktu ketemu tadi malam, aku tahu Bang Gani sudah nggak punya istri, dan aku lebih bersyukur lagi. Maaf, aku suka sama kamu, Bang! Maaf kalau aku senang kita sudah nggak punya hubungan apa-apa lagi sama mantan, aku mau menjaga diri, dan cuman Abang laki-laki yang aku kenal baik selama ini! Aku bilang terus terang karena aku nggak mau ada wanita lain yang lebih dulu dilamar sama Abang!”
Gani mengusap pipi Usfi yang penuh air mata dengan tangan gemetar, dia belum pernah melihat wanita menangis karena bersyukur. Dia ingat Asma yang saat bercerai pun tidak menangisi kepergiannya.
“Ya, nggak apa ... aku juga senang kok!”
Usfi memeluk suaminya untuk pertama kali, dan Gani membalas pelukan wanita yang kini semakin keras menangis. Kalau dia tahu semalam sudah sah menjadi istrinya, pasti tangisan itu tumpah saat suara sah terdengar dari mulut para saksi pernikahan mereka.
“Jadi, aku nggak salah kan, kita nikah lebih cepat?” tanyanya sambil melepaskan pelukan. Dan mengusap pipinya sampai kering dengan tisu.
Usfi tidak menunggu jawaban Gani, dan kembali menjalankan mobilnya ke arah semula dengan tetap fokus, ke jalanan tanpa melirik Gani yang menatapnya penuh kelembutan.
Mereka lebih banyak diam setelah itu, kecuali saat jalanan sudah lebih dekat ke arah pos sayuran milik Anwar, Usfi bercerita pada Gani tentang keinginan dan tujuannya datang ke sana. Sebelum pergi, dia sudah memastikan jika pria itu tidak ada di rumah tapi, tinggal di pos seperti biasanya.
“Jadi, Bang ... aku nggak minta apa-apa ... tolong temani aku menghadapi laki-laki itu, jadilah muhrimku secara sah, itu saja cukup!”
Gani tetap diam, setelah beberapa waktu berlalu, Usfi menepikan mobilnya di tempat parkir, sebuah masjid besar.
“Abang sholat dulu di sini, sebentar lagi dhuhur dan aku mau cari makan siang buat kita!”
__ADS_1
“Kamu nggak sholat sekalian?”
❤️❤️❤️🙏👍❤️❤️❤️