Cinta Butuh Utang

Cinta Butuh Utang
Usfi Dan Nafisa


__ADS_3

Usfi Dan Nafisa


Gani berinisiatif untuk menggelar kasur lantainya sendiri, setelah dia selesai mandi dan berpakaian. Dia juga sudah selesai melaksanakan sholat berjamaah di masjid terdekat. Tubuhnya sudah minta untuk diistirahatkan, hingga dia segera merebahkan diri di sana. Dia aktivitas padat seharian ini, dan cukup melelahkan.


Gani memutuskan untuk berada di rumah ibu mertuanya itu selama satu pekan. Selama itu pula dia menjalani hidup sebagaimana layaknya seorang suami yang baik. Mengantarkan Asma pergi bekerja, dengan menggunakan motor milik keluarga Lilis dan, membantu mengasuh buah hati mereka. Dia menjalin kedekatan antara ayah dan anak yang jarang bertemu, hingga dia memanfaatkan waktu yang singkat itu sebaik mungkin.


\*\*\*\*\*\*


Sementara itu di belahan bumi yang berbeda, tampak Usfi sedang menangis sejadinya di dalam kamar sebuah hotel, di kota Metropolitan yang jauh dari kampung. Dia menumpahkan kesedihan di kamar itu seorang diri, toh tidak ada yang akan memergoki, apalagi bertanya mengapa dia menangis.


Sudah satu pekan ini dia bersama seorang temannya, Nafisa, mengadakan penyelidikan terhadap Anwar. Dia seorang polwan yang kebetulan berdomisili di sana dan melakukan permintaan Usfi, untuk menyelidiki suaminya, demi hubungan pertemanan mereka.


Sebelumnya, Nafisa secara kebetulan pula bertemu dengan Anwar bersama seorang wanita, dia kemudian berinisiatif untuk menghubungi Usfi dan mengatakan semuanya. Lalu, Usfi memintanya untuk, memantau suaminya itu.


Suatu hari penyelidikannya membuahkan hasil, dia mengetahui di mana rumah wanita itu, yang kebetulan dibangun berdekatan dengan tempat Anwar mendirikan dan membuka pos sayuran barunya.


Uspi pun langsung pergi menuju ke kota itu, tanpa berpikir panjang, dia menyewa sebuah hotel yang berdekatan dengan pos baru itu dan melihat sendiri apa yang terjadi di sana, setelah sepakat dengan Nafisa.

__ADS_1


Saat itulah dia melihat sendiri bagaimana Anwar tengah duduk, dengan mesra bersama seorang wanita yang begitu cantik, seksi dan menggoda. Usia wanita itu hampir sama dengan dirinya, tapi, dari segi kemolekan tubuh wanita itu melebihinya.


Usfi sudah menjalin hubungan pernikahan dengan Anwar selama tiga tahun, bohong kalau dia tidak punya rasa cinta pada suaminya itu, atas dasar apa pun dia menikah. Tentu saja hatinya sakit saat melihat kemesraan yang terjadi antara suaminya dengan wanita lain.


Dia memang menikah menjadi yang kedua dan dia tahu kalau Anwar sudah memiliki istri sebelumnya, tapi, dia tidak pernah melihat Anwar bermesraan dengan Maisha, secara langsung.


Rasanya begitu berbeda ketika melihat Maisha bersama dengan suami dan anak-anaknya. Tidak seperti saat melihat laki-laki itu sekarang dengan seorang wanita yang tidak dikenalnya.


Hatinya lebih sakit dari saat ketika dia tahu apabila Gani mencintainya, dan pergi begitu saja setelah tahu dirinya dilamar oleh Anwar. Dia mengetahui tentang perasaan Gani, dari Jundi. Dia kecewa karena tidak sempat mengatakan apa pun, sebagai pembelaan diri pada pria yang, dia anggap hanya bercanda dengan perasaannya.


Anwar begitu berbakti pada kedua orang tuanya yang sudah menginjak masa tua. Sikap dan kelembutan pria matang itu, begitu memikat hatinya, hingga dia tidak peduli walaupun Anwar sudah mempunyai istri yang lain selain dirinya. Dia menyayangi semua yang disayangi oleh Anwar mentaati aturan dan perintahnya, dan berusaha sebaik mungkin untuk menyenangkannya. Bahkan dia mau bekerja keras belajar bisnis, begitu Anwar menyatakan untuk membuka cabang baru, dan pos itu akan diserahkan kepadanya. Semua dilakukan agar suaminya itu merasa puas padanya.


Dia memang memiliki misi sesuai dengan permintaan Maisa untuk menjaga suaminya walaupun, dia tahu bahwa kemampuannya terbatas dan dia bukan wanita yang pandai menggoda, tetapi, lambat laun dia melakukan semuanya atas dasar cinta. Selain itu juga, dia menjalankan syariat agama dengan sebenarnya, di mana ketaatan istri pada suami adalah jalan terbaik menuju surga.


Kalau pada akhirnya yang terjadi adalah hal sebaliknya, Usfi tidak bisa apa-apa. Kini dia hanya pasrah dengan takdir bagaimana akan berakhir, dia salah karena begitu percaya diri untuk menjaga suami, padahal menjaga dirinya sendiri pun dia masih kekurangan ilmu, apalagi menjaga orang lain.


Allah-lah sebaik-baiknya penjaga, bukan dirinya. Menjaga seorang suami tidak sama dengan menjaga seorang anak kecil, seperti yang dilakukan seorang ibu pada umumnya. Ini adalah hal yang sangat berbeda.

__ADS_1


Dia bukan malaikat tanpa sayap yang kuat diuji dengan suami yang berpoligami. Dia bukan Maisha yang merelakan suaminya menduakan cinta, dia bukan istri yang pandai mengelola perasaan, demi rumah tangganya baik-baik saja. Bukan!


Dia tidak kuat dan ingin mengakhiri hubungan pernikahannya, kalau Anwar terus berkelit seperti yang dilakukannya selama ini. Bahkan Maisha, istri pertamanya justru tidak tahu apa-apa tentang, pos baru yang di bangun suami mereka di kota.


“Apa yang akan kamu lakukan sekarang, Fi?” tanya Nafisa saat mereka melihat Anwar dari kejauhan, waktu itu.


“Entahlah, aku akan mengatakan semuanya pada Mbak Maisha!”


“Kamu nggak kasihan, Fi? Dia lagi sakit, kan?”


“Iya. Tapi, ini nggak boleh dibiarin lama-lama, bakal jadi penyakit lain!”


“Semoga kamu kuat, Fi!”


“Makasih, Naf. Mungkin, paling buruknya aku bakal cerai kalau Mas Anwar nggak mau jujur juga!”


“Bercerai, Fi? Apa kamu yakin?”

__ADS_1


__ADS_2