Cinta Butuh Utang

Cinta Butuh Utang
Jangan Kembali


__ADS_3

Jangan Kembali


“Maafin Gani, ya, Fi. Dari dulu gak berubah, masih suka becanda. Anehnya Cuma sama kamu dia begini!”


Gani memalingkan wajahnya dari kedua wanita yang ada di dekatnya, malu. Dia pergi begitu saja tanpa berpesan apa pun pada emaknya, karena yakin kalau wanita itu tidak akan bercerita tentang masalah rumah tangganya pada Usfi.


“Iya, ggak apa ... Mak nggak perlu minta maaf buat Bang Gani ... yang salah yang harusnya minta maaf!”


“Iya, tapi, Gani kayaknya udah dapet teguran dari Allah tuh,” kata Ami dengan wajah lesu.


“Oh gitu ya, Mak?”


Ami mengangguk


“Fi, Mak mau minta tolong sama kamu ....”


“Minta tolong apa, Mak? Kalau bisa saya pasti bantu.”


“Eum ... itu, Fi ... bisa nggak ngasih kerjaan buat Gani. Biar dia nggak balik lagi ke Metropolitan!”


Kedua wanita itu pun akhirnya berbicara setengah berbisik agar apa yang mereka katakan, tidak di dengar oleh orang yang mereka maksudkan, yaitu Gani.


Ami pun bercerita pada Usfi, bahwa sekarang Gani masih punya banyak utang, tapi, dia tidak mengatakan apa yang membuat anaknya berutang.


Gani memang berniat kembali ke kota setelah berhasil menjual empangnya. Dia masih harus mencari uang demi membayar utangnya, dengan bekerja menjadi tukang ojek, memakai motor milik mertua, seperti sebelumnya.


Ami ingin Gani tetap berada di sisinya, dengan cara mencari kesibukan untuk putranya itu. Kalau tetap tinggal di kampung tanpa bekerja, pasti dia akan menolak. Sementara pekerjaannya yang dulu sebagai pegawai negeri, sudah dia tinggalkan begitu saja selama tiga tahun. Tidak mungkin lagi kembali pada pekerjaan yang sama.


Setelah menyepakati beberapa hal dengan Ami tadi, Usfi pamit undur diri tanpa berkata apa-apa pada Gani yang masih tiduran di kamarnya, sambil menjawab beberapa pesan dari teman-temannya di kota yang, menanyakan kapan dia akan kembali.


Tiba-tiba dia beranjak dari tempat tidur dan berjalan dengan cepat menuju ruang tamu di mana Usfi dan emaknya mengobrol tadi.


“Si Oon mana, Mak?” tanya Gani, ketika dia melihat hanya ada emaknya di sana.


“Udah pulang. Mulai sekarang, jangan panggil dia Oon lagi. Dia punya nama yang bagus, apalagi dia sudah jadi istri orang, gimana kalau suaminya tahu kamu memanggil istrinya kayak orang bodoh begitu?”


“Lah, dia emang bodoh, mau aja jadi istri kedua Bapak-Bapak yang mata keranjang!”

__ADS_1


“Kita nggak tahu apa yang menyebabkan seseorang mengambil keputusan seperti itu. Jangan sembarangan menilai orang dari kaca mata kita. Semua manusia punya kekurangan. Coba pikir kamu sendiri, ninggalin pekerjaan jadi PNS, terus milih pergi jadi tukang ojek, apa bukan bodoh itu namanya?”


Ami mulai mengomel.


“Jadikan pelajaran dari semua yang sudah kamu alami, Gan! Jangan seperti kata pepatah, gajah di pelupuk mata tak nampak, semut di sebrang lautan nampak!”


Ami langsung pergi ke kamarnya setelah puas mengomel, meninggalkan Gani yang termenung memikirkan ucapan emaknya, sambil melihat layar ponselnya.


Dia sebenarnya ingin menunjukkan sesuatu pada Usfi, saat melihat foto yang diunggah oleh seorang teman pada akun media sosialnya, dengan caption, “Jalan-jalan sama saudara, mumpung ada orang kaya yang bayarin!”


Pada foto itu jelas memperlihatkan keakraban antara beberapa orang yang seperti keluarga, bersama Anwar di dalamnya, dan yang lebih mengherankan lagi dalam gambar itu, tidak ada satu pun keluarga dari istri pertamanya.


Setelah mendengar nasihat emak, Gani mengabaikan foto di media sosialnya. Apa pun yang terjadi pada rumah tangga mantan yang masih ada di hatinya itu, bukanlah urusannya lagi. Ami benar, jika sekarang hubungan mereka hanya antar sesama penduduk kampung biasa, walaupun dulu pernah saling mencinta.


Baru saja Gani hendak kembali ke kamarnya, Alpin datang tanpa mengucap salam, karena sudah biasa dia keluar masuk rumah emak yang hanya berjarak beberapa meter saja dari rumahnya.


“Bang!” panggil pria itu pada Gani.


“Kamu ini, Pin! Ngagetin aja, salam dulu kek!”


“Kan, udah biasa aku keluar masuk, Bang!”


“Iya, iya ... Oh ya! Abang udah pake motornya? Saya mau pake buat jemput Ana dari pengajian!”


“Udah, nih kuncinya!” kata Gani sambil memberikan kunci motor dari saku celana, pada adik iparnya itu, “Terima kasih, ya, Pin!”


“Iya, Bang. Sama-sama. Abang kapan pulang ke Kota?”


“Kenapa, kamu ngusir? Nggak suka motornya aku pinjam terus?”


“Bukan begitulah, Bang!”


“Terus kenapa kamu tanya begitu? Aku sudah isi penuh tankinya, kok!”


“Oh, hehe. Makasih, Bang!” Alpin berkata sambil tersenyum lebar dan beranjak pergi.


“Eh, Pin! Besok aku mau bailk ke kota, antar aku ke terminal ya!”

__ADS_1


Belum sempat Alpin menjawab, Ami berteriak dari dalam kamarnya, “Gani nggak usah diantar ke mana-mana!”


“Apa maksud Emak?” tanya Gani sambil melongok ke dalam kamar Ami yang terbuka. Terlihat Ami masih menatap layar televisi, tapi, tak lama kemudian, dia menoleh pada Gani


“Kamu nggak usah ke Kota lagi, Gan!” Ami berkata sambil berjalan ke arah pintu, “Mak nggak mau ... kamu ada masalah lagi di sana. Jadi, mulai besok kamu kerja di sini saja, gantiin Mak di pos sayuran tempat juragan Anwar!”


“Gani nggak mau, Mak!” Gani tidak bisa membayangkan kalau setiap hari harus bertemu dengan suami wanita yang pernah dicintainya itu.


“Bang, nurut kata Emak, sekarang gaji pegawai di sana lumayan, dua juta untuk kerjaan dari siang sampe malam.” Alpin menyahut sambil duduk, dia yang semula mau berangkat justru ikut mengobrol.


“Dua juta?” kata Gani, ikut duduk juga di hadapan Alpin.


Bekerja menjadi buruh di kampung dengan bayaran sebesar itu tentu menggiurkan. Apalagi dia tidak harus menyewa tempat tinggal.


Mengurus kolam lele milik Pak Juna juga dapat upah yang cukup untuk sekedar makan, tanpa harus menumpang pada emaknya dan adik ipar. Malu!


Jadi, kalau dihitung-hitung, dia bisa mencicil utang yang tinggal beberapa juta itu dalam waktu kurang dari lima tahun.


“Iya, Bang!” sahut Alpin tegas.


“Ah, gak mau. Kalau gaji segitu, mau sampai kapan aku selesai bayar hutangnya?”


“Memangnya, berapa lagi sisa utang kamu, Gan!” kata Ami kini ikut duduk di antara dua lelaki di ruang tamu.


Gani diam seraya mengambil catatan kecil dari saku bajunya, dia tidak pernah meninggalkan catatan itu sebagai pengingat bahwa, utang akan di bawa mati, hingga dia tidak boleh mengabaikan apalagi, melupakan utangnya. Dia punya harga diri sebagai laki-laki. Dia yang mengambil keputusan, maka dia tidak akan menjadikan orang lain sebagai penanggung jawaban.


Dia sudah mencicil selama tiga bulan, dan sudah banyak terbantu setelah menjual empang, kini sisanya hanya sekitar 80 juta. Biaya operasi ayah mertua yang membuat utang Gani begitu banyak, walaupun akhirnya, sang mertua meninggal, dia tidak mengeluh, karena lagi-lagi, semua adalah keputusannya dan menjadi takdir yang harus dijalaninya.


“Kalau gak nyampe seratus juta, Bang. Bisa Abang lunasi selama tiga tahun, kan?” Alpin ikut memikirkan masalah Abang iparnya.


“Pin, Abang gak tahu sampai kapan umur, jadi, lebih cepat dilunasi akan lebih baik. Kalau Abang kerja keras di kota walaupun Cuma jadi tukang ojek, bisa ngumpulin uang tiga sampai empat juta sebulan.”


“Tapi itu kan kotor, Abang belum hitung biaya kontrakan, makan, bensin, sama perawatan motor. Kalau Abang di sini nemenin Emak. Abang bisa jual motor Abang yang di kota, kan lumayan buat tambahan!”


Alpin menasihati abangnya sebab kadang dia kerepotan menuruti keinginan emak. Saat dia cape dan malas, emak sering minta di antar ke sana kemari, kalau ada Gani, setidaknya bisa sedikit mengurangi kerepotan. Bukannya dia tidak mau berbakti pada ibu mertua sebagai ibu dari istrinya, tapi, sebagai manusia tentu wajar kalau ada malasnya.


“Iya, nanti Abang pikir lagi deh!” kata Gani pada akhirnya.

__ADS_1


Bersambung


Bantu like dan fav juga ya❤️👍🙏


__ADS_2