
Antara Aku Kau Dan Dia 2
“Apa kamu setiap hari selalu bareng sama Nara selama tiga bulan ini?” tanya Gani belum merubah posisi duduknya sejak tadi, dengan duduk tegak memasang wajah serius.
Kini sepasang suami istri itu duduk berdua di ruang tamu, saling berpegangan tangan, dan Asma memeluk Gani. Perasaan rindu yang sedari tadi di tahannya kini dia lepaskan. Sementara Nara sudah pergi dengan mobilnya.
“Awal bulan aku kerja sama nggak terlalu sering, selama dua bulan terakhir ini aja, Bang.” Asma berkata setelah melepaskan pelukannya.
Gani mengangguk sambil menatap lekat istrinya yang dia nikahi setelah satu tahun tinggal bersama dalam satu atap, di rumah Anas, bapak mertua yang sudah menolongnya.
Gani menikahi Asma memang atas kemauannya sendiri, demi menjaga diri dan sekaligus sebagai bentuk pertanggungjawaban yang lebih baik. Apalagi waktu itu, dia sudah bisa berdamai dengan hatinya sendiri, setelah melalui proses yang tidak sebentar untuk merelakan Usfi.
Dia mencoba mencintai wanita yang sudah banyak membantunya dan tampak pula menyukainya, dengan tulus. Bentuk perasaannya murni tidak ada rasa ingin menjadikan Asma sebagai pelarian ataupun pengganti, melainkan benar-benar ingin bertanggungjawab.
Pria itu tidak mungkin menyimpan Usfi selamanya dalam hati walaupun, wanita itu sudah jadi milik pria lain. Namun, setelah tinggal dengan Anas yang terlalu baik, membuatnya bertekad untuk bangkit. Bukankah hidup harus tetap berjalan karena dia masih punya tanggung jawab pada dirinya sendiri?
Menikahi Asma bukan hanya karena ingin membuat keluarga Anas semakin lengkap, tapi dia ingin mengobati hatinya sendiri. Asma adalah obat, sekaligus ibu dari Azam, buah cinta yang mereka dapatkan setelah setahun pernikahan.
Tidak mudah untuk menyukai sosoknya, karena untuk bisa melakukannya, dia harus melupakan Usfi, dan itu sungguh perjalanan patah hati yang tidak mudah pula. Lalu, hari ini dia melihat wanita itu berdua dengan pria lain yang lebih baik, membuat hatinya kembali merasakan sakit yang sama dengan rasa yang diberikan Usfi dulu padanya.
Namun, dia masih bisa menahan rasa itu karena Asma memang tidak memiliki hubungan lebih. Dia yakin Asma tidak akan berkhianat padanya, tapi, dia tidak bisa menjamin dengan perasaan Nara pada istrinya.
Bagi Gani, kalau sudah menikah dan memiliki anak, maka dia akan menjalani hubungan itu dengan baik dan bertanggung jawab, atas dasar apa pun pernikahannya. Sebab pernikahan adalah sebuah ikatan janji yang kuat dengan Allah yang tidak bisa dipermainkan.
“Oh, iya, Bang. Kata Ibu, Abang mau jual motor Bapak. Apa sudah terjual?” Asma berkata mengalihkan lamunan Gani hingga membuat laki-laki itu kembali pada konsentrasi pada tujuan awalnya pergi ke sana.
“Sudah, semua uangnya disimpan sama Ibuk tadi.”
“Abang ambil berapa buat bayar utang?”
“Aku nggak ngambil sedikit pun ... aku nggak bisa bahagiakan kamu, Asma, makanya aku gak akan nambahin beban kamu sama utang. Semua uang itu hak kalian sebagai ahli waris.”
“Tapi, Bang, utang juga buat Bapak yang sakit. Jadi, ambil aja Bang.”
__ADS_1
“Ibu bilang, semua utang itu tanggung jawabku, Asma ... dan Ibuk benar, jadi, aku gak berhak atas bagian itu.”
“Kan ada hak menantu dalam hukum Islam, Bang!”
“Lebih berhak kalian, dari pada aku. Lagi pula jumlahnya gak banyak. Aku sudah jual tanah di kampung, jadi bisa mencicil utang lumayan banyak, aku kerja juga bulan ini juga, sudah aku transfer semua buat nyicil utang. Alhamdulillah sudah banyak berkurang.”
“Tapi, kapan Abang pulang? Kenapa nggak ajak Asma, buat bisa ketemu sama Ibumu, Bang!”
“Hp-mu susah di hubungi, sering gak aktip, jadi aku pulang sendiri aja. Gak mungkin, kan aku jemput kamu ke sini dulu baru ke rumah orang tuaku.”
Asma mengangguk, dia memaklumi keputusan Gani dan meredam keinginan untuk bertemu dengan keluarganya.
Walaupun dia belum pernah bertemu dengan kedua orang tua Gani, ataupun sanak famili lainnya, tapi, dia memaklumi semuanya dengan alasan jarak dan waktu. Apalagi, dia tahu alasan yang membuat suaminya itu pergi dari kampung adalah, demi menghindari orang yang, sudah berbuat jahat padanya. Tentu saja tidak bisa sembarangan pulang, demi keamanan.
Maksud Gani dengan orang jahat itu adalah Usfi, yang sudah menghancurkan hati dan perasaannya!
“Apa Abang ketemu sama orang yang sudah jahat sama Abang di sana?”
Pertanyaan Asma membuat Gani mengerutkan alisnya.
“Kenapa, Bang? Apa dia sudah mendapat karma, karena jahat sama Abang? Baguslah kalau begitu, soalnya karma itu tidak buta seperti cinta!”
“Apa maksudmu bilang karma tidak seperti cinta?”
“Ya, kalau cinta itu buta, tapi karma punya mata, ia bisa mengamati semua perbuatan manusia dan, akan membalas sesuai dengan apa yang dilakukannya!”
Ucapan Asma membuat Gani berpikir, kalau istrinya memahami hal itu, maka, dia tidak akan berbuat sesuatu yang membahayakan dirinya sendiri, seperti berselingkuh misalnya, sebab dia tahu pasti soal karma pada perbuatan manusia.
Mereka menghabiskan waktu hingga menjelang makan malam. Di ruang makan sederhana itu mereka kembali berbincang dengan semua keluarga yang ada, Lilis, Adit, Gani dan Asma dan juga si kecil Azam yang begitu menggemaskan. Selama ini anak bayi itu di asuh oleh Lilis, sementara Asma bekerja mencari nafkah.
Setelah mereka melaksanakan makan malam, Asma menyerahkan uang bagiannya kepada Gani, untuk dibayarkan sebagai utang. Pria itu menolak dengan keras tetapi, Asma memintanya dengan keras pula.
Wanita itu beranggapan bahwa, dia juga memiliki tanggung jawab sedangkan dia tidak akan bisa memberikan uang gajinya, karena uang hasil bekerja digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, baik ibu, adik maupun anaknya sendiri. Sementara uang bulanan Gani masih dipakai untuk membayar utang.
“Tuh, lihat Gani, kurang baik apa kami selama ini sama kamu?” Lilis berkata setelah melihat asma menyerahkan uang sebesar dua juta pada Gani.
“Kamu ingat, kan, suamiku sudah menolong kamu, bayangkan saja kalau suamiku tidak ada, kamu bakal jadi gelandangan! Kamu berhutang waktu nolong bapak sakit itu, wajar ... dan kalau sekarang kamu menanggung utang itu sendiri juga wajar!” kata Lilis lagi penuh semangat.
__ADS_1
“Ya, Buk. Saya mengerti.” Gani menyahut dengan sopan.
“Jadi, kamu harus banyak-banyak bersyukur karena sekarang istrimu pun, mau membantu kamu bayar hutang itu, padahal gajinya sudah dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ingat, Gan, kebutuhan sehari-hari itu kewajiban kamu, mencari nafkah itu juga kewajiban kamu, sebagai suami!”
“Ya, Buk! Saya juga bersyukur memiliki istri seperti Asma, Alhamdulillah.”
Perih rasanya hati Gani mendengar ucapan ibu mertuanya. Dia bukannya tidak sadar diri dengan kewajibannya sebagai pemimpin rumah tangga, tetapi, dia tidak tahu harus mencukupinya dari mana. Sementara waktu ini, bayaran bulanannya pun, hanya cukup untuk membayar utang.
Namun, dia yakin keadaan tidak akan selamanya seperti itu, hutang pun akan selesai cepat ataupun lambat. Toh dia juga tidak akan lari dari tanggung jawab, dia bukan laki-laki yang dididik untuk jadi pengecut, apalagi memanfaatkan seorang wanita, untuk memikul tanggung jawabnya.
Laki-laki mana yang tidak tersinggung, ketika ada orang lain yang menuduh seolah-olah dirinya tidak bertanggung jawab. Seandainya ada seorang laki-laki yang melakukannya, maka, sama saja dia menyepelekan agamanya sendiri.
Gani memang bukan ustad bukan juga orang yang religius bahkan, dia hanya mengetahui agama di permukaan saja, tetapi, dia bukan orang yang malas mencari nafkah. Menurut pria itu, nafkah berhubungan dengan harga diri seorang laki-laki.
“Ya, syukur kalau kamu bisa bersyukur, Gan!”
“Sudah, Buk ... sudah ceramahnya sama Abang, aku tahu Bang Gani bukan orang yang tidak mau tanggung jawab!” Asma berkata sambil menggendong anaknya. Dia meninggalkan meja makan dan berjalan menuju kamar, karena Azam mulai menangis sekarang sudah waktunya dia tidur.
Gani mengikuti istrinya masuk ke kamar, dia melihat ke sekeliling kamar yang cukup sempit sambil membuka jaket dan kemejanya lalu mengambil handuk dari dalam tasnya.
“Ini kamar kamu?” tanyanya sambil melihat ke sekeliling kamar bahkan tempat tidurnya pun hanya cukup digunakan untuk berdua.
Rumah itu tidak berukuran besar, hanya terdiri dari tiga kamar saja di dalamnya, satu kamar ditempati oleh Asma, satu lagi untuk Adit dan kamar bekas nenek adalah, yang dipakai oleh Lilis saat ini.
“Iya, Bang!” sahut asma sambil berbaring dan menyusui anaknya, “nanti Abang tidur di bawah, dengan kasur lantai nggak apa-apa, kan, Bang?”
“Ya, gak masalah! Kamu belum mandi juga, kan?”
“Iya, nanti aja kalau Azam sudah tidur.”
“Jangan dibiasakan mandi malam-malam setiap hari, Asma ... Apalagi kamu menyusui, itu nggak bagus!”
“Ya! Ibu biasanya Ibuk rebus air hangat buat aku kalau mau mandi, kalau Abang mau mandi air hangat, tunggu dulu nanti aku rebusin airnya, Bang!”
“Nggak udah, aku mandi air dingin aja!” kata Gani datar.
__ADS_1