Cinta Butuh Utang

Cinta Butuh Utang
Tidak Bisa Seperti Dulu


__ADS_3

Tiak Bisa Seperti Dulu


“Lah, memang Juragan siapa maksudmu, Bang? Pak Anwar? Dia mah nggak pernah ke sini, Bang! Bu Usfi Bosnya, bukan dia!”


Ucapan wanita gendut itu, membuat dada Gani tiba-tiba sesak.


“Udah, udah, jangan ngomongin orang lain, kita di bayar buat kerja, bukan buat gibah!” kata orang lainnya.


Mereka mulai bekerja kembali, tapi Gani, justru terbatuk-batuk, membuat Usfi menoleh ke arahnya dengan alis yang berkerut. Wanita itu segera memberikan air mineral dalam botol yang ada di hadapannya, pada Joko yang duduk di depannya, untuk diberikan pada Gani.


“Nih, Gan! Dari Bu Usfi!” kata Joko sambil membuka tutup botol minuman itu dan, Gani menerima lalu, meminumnya hingga batuknya reda.


“Makasih, Pak!”


“Bilangnya sama Bu Usfi!”


Gani menelan ludahnya kasar, karena dia harus mulai terbiasa memanggil wanita itu dengan sebutan Bu. Dia tidak bisa lagi memanggil Usfi dengan Onah, apalagi O-on.


Usfi meneruskan pekerjaannya, dengan tekun dan teliti seperti biasanya. Kehadiran Gani sama sekali dia abaikan walau, ada suasana yang sedikit berbeda, karena Gani satu-satunya pria yang, memiliki masa lalu tidak enak dengan dirinya. Namun, sekarang mereka akan sering bertemu, karena bekerja pada tempat yang sama.


Kemarin, saat Ami mengatakan masalah Gani yang memiliki banyak hutang dan, meminta agar anaknya diterima bekerja menjadi buruh di pos sayuran, Usfi menyetujui tanpa persyaratan. Dia bersimpati pada Ami sebagai ibu yang menyayangi anaknya. Sama sekali tidak ada paksaan, dia hanya berniat membantu.


“Terima kasih ya, Fi, kamu sudah mau bantuin Gani!” kata Ami waktu itu.


“Tidak usah berterima kasih, saya bukan bantu Gani tapi, bantu Emak biar Emak tenang kalau Gani ada di sini ya, kan?” jawab Usfi.


“Ya, Fi!”

__ADS_1


Sepulang dari rumah Ami, Usfi langsung menghubungi Anwar, melalui telepon seluler, karena dia menyetujui keinginan Ami untuk memperkerjakan Gani sebagai karyawan mereka.


Suaminya itu sempat tidak suka, karena tahu bagaimana hubungan Gani dan Usfi di masa lalu. Pria itu khawatir, jika perasaan Gani pada istrinya muncul lagi, karena seringnya mereka bertemu.


“Kamu yakin, Fi. Kalau dia gak punya perasaan apa-apa lagi sama kamu?” tanya Anwar waktu itu.


“Nggak, lah Mas. Dia sudah punya istri sama anak. Lagian, kenapa Mas jadi khawatir, sama aku? Harusnya Aku yang khawatir karena Mas nggak pulang-pulang!”


“Ya, kamu juga nggak usah kuatirlah Fi ... kan, aku kerja di sini!”


“Mas, kerja apaan sih, di sana, pos yang di pasar juga udah ada yang jagain, kenapa mas harus turun tangan sendiri?”


“Ya, lagi ada masalah ... kamu nggak usah cerewet, kayak Naura aja!”


“Aku ya aku ... Naura ya Naura, jelas-jelas kita nggak sama, Mas! Jangan menyamakan orang dengan orang lainnya atau menuntut orang seperti orang lainnya, jelas nggak bisa, karena Allah menciptakan manusia beda-beda.”


“Mas nggak mau aku ceramahin? Atau udah bosen, bilang aja, Mas!”


“Ah! Kamu, Fi. Mulai ngambek lagi deh!”


Tut Tut! Bunyi telepon di tutup secara sepihak. Hal seperti ini sering terjadi, sejak awal pernikahan mereka.


Usfi melihat telepon pintarnya yang mulai menggelap karena berakhirnya panggilan, tatapannya kosong.


“Ya, kan memang itu maksudnya Mbak Mai, nyuruh aku nikah sama kamu, Mas, buat jadi penceramah, biar kita sama-sama tenang, sama-sama menuju jalan yang sesuai agama. Tidak berjalan masing-masing, karena tidak mungkin dalam satu peleton, ada dua pemimpin pasukan! Bingung nanti pasukannya!” Usfi bermonolog dengan dirinya sendiri.


Anwar menikahi Usfi karena permintaan Maisha—istrinya, dengan alasan bahwa Usfi, adalah wanita yang baik dan terjaga, tidak seperti wanita-wanita yang menjadi pacar Anwar selama ini.

__ADS_1


Sebenarnya Anwar tidak menyukai Usfi, karena tergolong gadis biasa saja, apalagi pakaiannya tertutup, membuatnya ragu, bila gadis itu bisa menyenangkan dirinya.


Sementara Anwar menikah dengan Maisha, saat dirinya masih merintis usaha dan belum memiliki banyak harta seperti sekarang. Wanita itu tahu bagaimana sepak terjang suaminya dari awal. Semakin dia berhasil, dan mapan maka, penampilannya semakin lebih baik, hingga banyak wanita yang tertarik padanya. Apalagi dia sudah jadi seorang bos yang tidak perlu repot-repot mengurus dan membungkus sayuran karena sudah memiliki banyak anak buah.


Meskipun demikian, Anwar masih sering membawa mobil truk yang, berisi sayuran ke berbagai daerah bahkan, tidak pulang, hingga beberapa hari lamanya. Dikarenakan keadaan itulah, dia ingin menikah lagi dengan alasan untuk menjaga diri. Dia ingin memiliki wanita yang bisa diajak ke mana saja dan bisa melayaninya, kapan pun dibutuhkan. Ini adalah sebuah godaan.


Namun, setiap kali Anwar mengutarakan keinginannya, maka, setiap kali itu pula Maisha menolak. Saat itu Naura masih kecil dan adiknya Fadilah baru saja lahir. Tentu saja akan merepotkan bagi wanita itu, untuk mengikuti keinginan suaminya dan bersedia pergi ke mana pun.


“Maaf Mas aku nggak bisa mengikuti keinginanmu, untuk pergi mengantar sayuran ke kota, anak-anak masih kecil, tapi aku juga nggak mau kalau Mas bawa-bawa perempuan lain ke mana-mana!”


“Mai, tapi aku mau menikah bukannya aku mau selingkuh!”


“Alasan saja, kamu Mas!”


“Alasan gimana? Kalau menikahkan halal? Apalagi aku mampu buat menafkahi perempuan selain kamu, Mai!”


“Ya, Aku percaya kalau kamu punya uang buat menafkahi perempuan lain, Mas! Tapi, apa kamu mampu tanggung jawab dalam hal lainnya? Apalagi kalau perempuan itu sudah punya anak seperti aku sekarang. Apa kamu juga akan menikah lagi, menikah lagi?”


“Ah! Kamu ini, Mai. Menikahnya juga belum!”


“Ya, tetap harus dipikiri dari sekarang, Mas!”


“Ya ... enggak lah, nanti aku bisa suruh dia pakai kontrasepsi, biar nggak hamil! Jadi, nggak nikah lagi, nikah lagi, iya kan? Batasnya juga Cuma empat!”


“Apalagi seperti itu ... pernikahan yang aneh, mana ada orang menikah tapi tidak boleh hamil? Gimana kalau nanti istri Mas, itu pengen hamil?”


Bersambung

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️🙏👍❤️❤️❤️❤️


__ADS_2