Cinta Butuh Utang

Cinta Butuh Utang
Enak


__ADS_3

Enak


“Kenapa kamu nangis lagi? Sekarang Azam sudah ada di sini, apa yang bikin kamu sedih? Bikin repot saja!” kata Nara dengan nada kesal.


Asma menegakkan punggung dan duduk di samping Nara sambil menghapus air matanya.


“Kak, aku punya banyak salah sama dia, dan belum sempat minta maaf waktu itu, bahkan sampai kami berpisah, pun aku nggak minta maaf. Tadi aku minta maaf tapi belum dengar dia bilang kalau maafin aku atau enggak!”


“Oh, soal itu, ngomong aja di telepon ... Kok, repot-repot amat sih?”


Asma terdiam, dia merasakan perubahan sikap Nara sejak beberapa bulan menikah . Apalagi sekarang, setelah dirinya sakit, Nara sering sekali marah. Sikapnya sungguh berbeda, dia dulu sangat lemah lembut dan membuatnya begitu melambung, bahkan semua temannya pun begitu iri kepadanya.


Dahulu, Asma sangat beruntung memiliki teman dekat seperti Nara, selain tampan, kaya dan naik dia juga cerdas dan memiliki kedudukan yang bagus di kantor. Dia begitu yakin jika Nara benar-benar mencintainya dan berniat menikah jika dia berpisah dari Gani.


Benar saja, saat resmi bercerai dan selesai menjalani masa iddah, Asma dan Nara pun menikah. Namun pernikahan itu dilakukan secara siri, karena tidak disetujui oleh kedua orang tua Nara yang, menganggap Asma tidak pantas bersanding dengan anak laki-lakinya.


Kalau bukan karena rayuan dan keyakinan dari asma, kemungkinan Nara tidak jadi menikahi dirinya. Oleh karena itu ia pun setuju untuk menjalani pernikahan meski secara siri. Apabila mereka tidak jadi menikah, maka akan sangat riskan, karena sudah terlanjur mengumbar kemesraan di depan teman-teman kantor. Apabila mereka tidak meneruskan kejenjang pernikahan sedangkan Asma sudah bercerai, itu akan sangat memalukan bagi keduanya.


Jadi, seperti inilah akhirnya kehidupan mereka yang tidak seperti harapan sebelumnya, Asma gagal untuk tinggal dan memiliki rumah bagus, dari Nara karena mereka menikah tanpa restu keluarga. Padahal apabila Nara sudah menikah dan memiliki anak, maka kedua orang tuanya akan memberinya tempat tinggal yang layak.


Namun sekarang, jangankan rumah, anak dari benih Nara pun tidak punya, karena penyakit yang dia derita. Ada beberapa wanita yang setelah bercerai dengan suami pertama, akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik tapi, tidak sedikit juga wanita yang bercerai dengan suami pertamanya, kemudian mendapatkan kehidupan yang jauh lebih buruk.


Takdir selalu beriringan dengan kenyataan, dalam istilah tabur tanam tuai dalam kehidupan manusia. Setia-lah pada kebaikan dan lihat apa yang terjadi selanjutnya.


Asma akhirnya hanya pasrah, dia tetap tinggal di rumah itu dengan Nara bersamanya, tidak ada bedanya dengan saat Gani tinggal di sana. Bahkan, Lilis harus memohon setiap saat pada pihak keluarganya agar tetap diizinkan menatap walaupun, ada beberapa saudara yang kini mulai mendesak agar rumah itu dijual dan uangnya di bagikan saja.


Bedanya, Nara memiliki sebuah mobil dan cukup bisa dibanggakan pada sanak keluarga, tetangga dan teman-temannya. Namun, setelah melihat Gani hari ini, Asma pun menjadi iri sebab penampilan pria itu kini jauh lebih baik dan, mobil yang dikendarainya pun lebih berkelas.


Setelah berpikir dan merenung, akhirnya Asma menuruti saran dari Nara untuk menelepon Gani untuk meminta maaf, tapi, berapa kali dia menekan nomor yang sama, tidak ada jawaban apa pun dari mantan suaminya itu.


$$$$$$$


Usfi melihat Gani yang terpejam, lalu bangkit dari kasur seraya mengambil bathrobe yang tergantung dekat kamar mandi dan, memakainya. Dia mengambil celana Gani yang teronggok di sofa karena mendengar bunyi telepon genggam yang terus menerus, dari dalam sakunya.


Gani sebenarnya tidak tidur, dia hanya beristirahat sejenak setelah menuruti kemauan Usfi untuk, melakukan sesuatu yang diistilahkan istrinya, dengan membuat anak, di kamar hotel yang sudah mereka sewa.


“Sudah, tidak usah di angkat, itu telepon dari Asma!” kata Gani sambil memiringkan tubuhnya dan menarik selimut sampai sebatas dada. Dia melihat apa yang dilakukan istrinya, tapi, melarang untuk menjawab panggilan.


“Berisik, Bang! Angkat saja, siapa tahu penting!” Usfi berkata sambil meletakkan ponsel di dekat kepala suaminya. Namun, tangan Usfi justru ditarik, hingga dia terjerembab jatuh di atas tubuh Gani.


“Gak usah ... biarkan saja!” kata pria itu sambil memeluk Usfi dan menguncinya dengan tangan dan kaki yang melingkarinya. Dia sudah mengatur nada panggilan telepon untuk Asma, hingga dia tahu kalau yang menghubungi adalah mantan istrinya itu.

__ADS_1


“Mau, ngapain lagi? Udah ... Ahk! Lepasin, aku mau mandi!” Usfi berkata sambil memberontak.


Gani memundurkan kepala hingga dia bisa melihat istrinya dan berkata, “Kan, tadi sudah mandi?”


“Tadi, mandi bersih dari haid, sekarang mau mandi junub! Kan, Abang yang bikin aku mandi junub!”


“Eh, nyalahin orang, ya? Kan, kamu juga yang mau bikin anak!” Gani berkata sambil mengeratkan pelukan pada tubuh Usfi.


“Ya! Soalnya Abang butuh hiburan, kan? Makanya aku cepat-cepat mandi bersih, Alhamdulillah sudah bersih, soalnya memang harus menyegerakan sholat kalau haid sudah selesai!”


“Hmm ... sudah bayar qodho sholat dhuhur tadi, kan?”


“Sudah, Bang. Memang harus meng-qodho sholat, biar pahala nggak hilang.”


“Ya sudah kalau gitu, tidur aja dulu!” kata Gani sambil memejamkan matanya lagi.


“Nggak boleh tidur, Bang! Sebentar lagi mabhrib! Kalau istilahnya sareupna, karena banyak mahkluk ghoib keluar pas waktu-waktu magrib, makanya nggak boleh tidur sore, atau setelah subuh!”


“Hmm .... tapi, enak ...!”


“Enak? Enak apanya, Bang?”


“Ya kalau tidur pas magrib atau habis subuh!”


“Hmm ....”


“Bang! Aku mau mandi, kan gantian kamar mandinya Cuma satu!”


“Memangnya mau berapa? Udah, nanti mandi bareng saja!”


“Abang ...!”


Setelah menunaikan sholat magrib berjamaah di kamar hotel itu, barulah Gani menghubungi Asma kembali.


Dia mengucapkan salam dan langsung bertanya apa keperluannya menelepon tanpa basa basi.


Terdengar suara isak tangis kecil di ujung telepon, dan suara Asma yang berkata dengan nada penuh penyesalan.


“Maafkan aku, Bang! Aku cuman mau minta maaf, soalnya tadi kamu belum bilang kalau sudah maafin aku, Bang!”


“Cuman soal itu?”

__ADS_1


“Ya!”


“Sebenarnya, setiap kali aku menganggap kamu berbuat salah, aku langsung maafin kamu, Asma. Aku nggak pernah dendam sama orang, cuman kesal dan kecewa saja, tapi, kalau soal maaf, aku sudah maafin semua kesalahan kamu, bahkan perbuatan yang kamu nggak tahu kalau sebenarnya itu, nyakitin aku!”


Lama terdiam tidak ada jawaban lain, hingga kemudian kembali terdengar isakntangis.


“Terima kasih, ya, Bang! Kalau begitu, aku bisa tenang dan kamu nggak usah khawatir soal Azam, aku akan menjaganya dengan baik!”


Telepon kemudian ditutup, satu hal yang membuat Gani ragu, bagaimana mungkin dia bisa menjaga anaknya dengan baik kalau untuk menjaga diri sendiri saja dia kesulitan karena sakit. Asma akan sangat membutuhkan dukungan ibu dan adik laki-lakinya. Pria itu hanya berharap dan berdoa untuk kebaikan anaknya, semoga menjadi anak yang Sholeh dan bisa mendoakan orang tuanya, saat nyawa terpisah dari raga.


Keesokan harinya, Usfi dan Asma keluar dari hotel sambil bergandengan tangan, terlihat jelas dari raut wajah meraka yang semringah kalau mereka tampak bahagia.


Di perjalanan, mereka menyempatkan diri untuk mampir ke rumah Jundi, mengambil barang yang dijanjikan sahabat mereka itu untuk, di bawa ke Kalimantan sebagai oleh-oleh khas daerah mereka. Namun, Usfi dan Gani tidak lama mampir di sana dan kembali melanjutkan perjalanan, karena waktu mereka terbatas.


“Malam ini, kita nginep di kamarku ya, Fi? Jadi, nanti pulang langsung ke rumah Emak!” Gani memulai pembicaraan ketika mereka hampir sampai di perkampungan tempat tinggalnya.


“Nggak mau, ahk, aku masih kangen sama Ambuk! Mendingan kamu yang nginep lagi di rumah, Bang!”


“Kan, kemarin sudah? Gantian, dong!”


“Abang maksa, aku? Kalau gitu, kita tidur di kamar masing-masing saja, Bang. Gampang, kan?”


“Apa itu, kayak belum nikah saja tidur sendiri-sendiri, aku cuman bisa tinggal di rumah sampai malam ini, besok aku harus terbang lagi soalnya cuti cuman sepekan dan sebelum waktu habis aku sudah harus ada di hotel!”


“Keluar saja, dari pekerjaanmu, Bang, dan kerja sama aku saja jadi kepala sekolah!”


“Akh! Kamu ini ada-ada saja, mana pengalaman aku ngajar anak-anak seperti itu!”


Suasana hening untuk sejenak dan Usfi hanya melihat ke arah luar jendela yang mulai gerimis. Dua insan itu tengah berpikir dengan kehidupa mereka untuk kedepannya.


“Apakah aku terlalu terburu-buru? Bukankah tergesa-gesa adalah sifat fitroh manusia yang Allah sebutkan dalam Alquran? Tapi, salahkah aku kalau buru-buru karena kebaikan menurut fersiku sendiri?” Usfi berkata dalam hati.


“Apa mungkin kita bisa tinggal bersama di sana nanti, Bang?”


“Jangan buru-buru lagi, sekarang, Fi!” kata Gani, tanpa mengalihkan fokus ke jalan raya di depannya.


“Kamu yang perlu memutuskan soal tempat tinggal kita kali ini, pikirkan lagi manfaat dan modhorotnya kalau kamu tinggal denganku, atau kita tinggal terpisah, kalau untuk sementara tidak masalah, tapi kalau lama kelamaan, aku nggak bisa jamin, apa aku akan tahan! Apalagi sudah nggak ada Azam.”


Usfi diam dan hanya melirik Gani sekilas lalu kembali menetap keluar jendela. Rupanya hujan semakin deras.


“Ya Allah, aku harus bagaimana kali ini? Meninggalkan sekolah, dan kebun-kebunku, haruskah?” batinnya.

__ADS_1


❤️❤️❤️🙏👍❤️❤️❤️


__ADS_2