Cinta Butuh Utang

Cinta Butuh Utang
Pembuktian


__ADS_3

Pembuktian


Dua wanita itu kemudian mengobrol sambil memasak bersama, bertukar cerita dalam kehidupan yang mereka jalani beserta hikmahnya.


Apa yang di alami Asih dulu dan sekarang mirip dengan Usfi saat menikah dengan Anwar, dipoligami. Namun, kakak kandung Usfi, Furqon, memperlakukan kedua istrinya dengan baik.


“Kalau soal adil, setiap orang punya standarnya sendiri, bagiku, yang penting Kang Furqon tetap tanggung jawab, menafkahi, membagi waktu dengan baik dan menyayangi kami penuh kelembutan, itu sudah cukup. Kalaupun ada kekurangan yang lain, selama masih bisa ditolerir, maka aku akan berlapang dada, semoga menjadi pahala, amal ibadahku kelak bisa kugantikan dengan kesenangan yang abadi di surga!”


“Aamiin!” sahut Usfi antusias, “Awas kalo Kang Furqon nggak baik dan adil sama Teteh! Aku belain pokoknya! Dia punya adik perempuan, seharusnya dia bisa berpikir, gimana kalau adik perempuannya dipoligami dan diperlakukan tidak adil oleh suaminya, dia pasti nggak akan terima!”


“Iya, aku pasti lapor sama kamu kalau Kang Furqon berbuat kesalahan yang sudah nggak bisa di maafkan! Tapi, selama ini Kakangmu itu baik kok, dan istrinya juga baik sama Teteh!”


Usfi mengangguk, “Alhamdulillah!” Katanya.


“Pada hakikatnya semua titipan dari Allah, termasuk keluarga, anak-anak dan suami ... kadang manusia saja yang menamainya dengan cobaan, ujian, atau musibah, intinya ketika Allah mengambil milik-Nya kembali dengan cara apa pun itu, maka kita tidak bisa menolak dan tidak ada yang mungkin kita lakukan selain mengikhlaskan ... seperti itu juga suami, dia adalah kekasih yang Allah beri, seharusnya kita tidak menolak untuk berbagi kasih sayangnya, karena pada dasarnya suami adalah pemberian juga ....”


“Iya ya, Teh, masih banyak yang bisa kita syukuri?” Sahut Usfi.


“Ya! Teteh masih bersyukur cuman dipoligami, karena ini salah satu ajaran yang dibolehkan dalam agama, ya sudah ... nggak apa-apa ... yang penting itu tadi, walaupun memang harus berbagi waktu dan kasih sayang, tetap ada yang bisa disyukuri, karena bukan ditinggal pergi atau mati ....”


“Iya, Allah membuat sebuah aturan demikian bagi kaum Adam, karena Allah tahu firohnya laki-laki, makanya, membolehkan berpoligami. Dan, begitu juga dengan kaum Hawa, Allah tahu bagaimana fitrohnya wanita, makanya Allah memerintahkan kaum Adam menafkahi mereka!”


Asih tersenyum dan merengkuh bahu Usfi lembut sambil mengangguk-anggukkan kepala.

__ADS_1


Malam harinya, Ami sekeluarga datang ke rumah Sholeh, dengan mobil Usfi, membawa banyak hadiah dan makanan, sebagai pemberian secara resmi setelah mereka berbesan.


Ami dan Altiana menyempatkan berbelanja siang hari, setelah Alpin pulang dari kantor dan menjaga anak-anak di rumah.


Walaupun Usfi dan pihak keluarga Sholeh tidak meminta apa pun, tapi, pemberian hadiah ini sudah semestinya sebagai ucapan rasa syukur dan salah satu bentuk kasih sayang sesama anggota keluarga.


Pernikahan Usfi memang mendadak, dan tidak mengadakan pesta, tapi keadaan di rumah itu saat Kenduri begitu ramai, bahkan beberapa teman dan kenalan kedua mempelai, memberikan cindera mata yang cukup banyak jumlahnya.


Sementara itu di rumah Anwar, dia sedang berhadapan dengan anak-anak dan Marini, istrinya yang sudah empat tahun dia nikahi bahkan sebelum berpisah dengan Usfi. Dia sengaja pulang mendadak, karena ingin tahu keadaan yang sebenarnya jika dirinya tidak ada, termasuk untuk membuktikan ucapan mantan istrinya.


“Maafkan aku, Mas!” kata Marini menangis di kaki Anwar yang berkacak pinggang di hadapannya dan juga anak-anak Maisha.


“Aku sudah percaya padamu dan kau berbohong selama ini padaku?” kata Anwar.


Anwar langsung menanyakan keadaan yang dia jumpai pada istrinya itu, dan mengatakan beberapa pernyataan yang dia ketahui dari Usfi.


Wanita itu akhirnya mengakui, memang sering melakukannya, karena sudah tertangkap basah. Dia marah dan kesal setiap kali harus mengurus anaknya yang rewel, sementara ketiga anak Maisha pun membutuhkan perhatian. Jadi, dia merasa lebih baik memarahi mereka agar pergi sebab kalau mereka tidak ada, dia akan tenang di rumah tanpa beban dan hanya mengurus buah hatinya sendiri.


Marini tahu kebiasaan Noura, sejak pertama kali dia datang. Saat Anwar tidak ada di rumah dan dia marah, maka, Noura selalu kabur dan dia tidak perduli anak perempuan itu kabur ke mana. Lama kelamaan, semua adik-adiknya ikut kabur kalau Anwar tidak ada. Oleh karena itu, marah pada anak-anak menjadi kebiasaannya. Toh, nantinya anak-anak akan pulang juga, begitu pikirannya.


Namun, saat Anwar ada di rumah, dia tidak mungkin kasar, tapi, hanya akan bersikap manis dan sewajarnya agar suaminya tidak curiga. Baik Naura, Fadil atau Imad, akan pulang jika ayahnya ada di rumah, karena mereka harus menghabiskan waktu bersama. Dan, ayahnya akan mengajak mereka jalan-jalan ke manapun mereka inginkan.


“Kan, ada pembantu, ada yang ngurus semuanya ... anak-anak juga sudah gede gak akan merepotkan, kenapa harus marah biar mereka pergi dari rumah?” tanya Anwar dengan suara keras.

__ADS_1


“Maaf, Mas! Aku memang risih kalau ada mereka di rumah, aku nggak bebas! Tapi, aku nggak pernah kok mukul mereka!” kata Marini membela diri.


“Ya, memang Tante nggak mukul, tapi suka nyubit! Dan sakitnya itu bukan Cuma di kulit Tante, tapi di hati juga!” kata Noura, dia berani membentak, karena ada ayahnya. Dia bersyukur Anwar pulang mendadak kali ini, hingga tahu akal-akalan Marini. Tiba-tiba dia memikirkan Usfi yang kemungkinan sudah menyebabkan Anwar, sadar diri.


“Kamu itu memang istriku, Rin! Tapi, kamu nggak melahirkan, nggak mengurus mereka sampai sebesar ini, harusnya kamu ngerti kalau nggak punya hak untuk marah-marah! Kan, mereka anak-anakku, seperti anakmu juga itu anakku, kalau kamu marah sama mereka, sama saja kamu marahin aku! Apalagi cuman karena risih, alasan apa itu?”


“Maaf Mas! Aku nggak akan mengulang lagi, aku janji mau baik sama mereka!” kata Marini masih mengiba untuk meminta maaf dari Anwar agar tidak marah atau mengusirnya.


Dia tidak ingin berpisah, sebab dia tidak punya lagi tempat tinggal yang lebih layak, apalagi tidak memiliki pekerjaan, selama ini dia tinggal dengan pamannya karena kedua orang tuanya sudah tiada. Kalau sampai Anwar menceraikannya, maka dia tidak tahu lagi harus tinggal di mana.


“Baik! Sekarang, aku beri kesempatan ... kalau kamu mengulanginya lagi, aku pasti akan menceraikanmu dan aku tidak peduli kamu mau tinggal di mana, karena pamanmu itu sudah pindah, rumahnya itu dijual dan, aku nggak tahu mereka pindah ke mana!”


Mendengarkan semuanya, Marini pun menelan ludahnya kasar. Dia tidak memiliki pilihan selain berbuat baik pada anak-anak suaminya dari istri pertamanya itu.


“Iya, Mas! Aku janji!”


“Seharusnya dari dulu, kamu janji ... Aku sudah memenuhi semua kebutuhanmu, bahkan lebih dari cukup, kamu punya mobil sendiri dan kamu mau apa saja sudah aku turuti, kamu dari awal sudah tahu, aku punya anak dan istri, kenapa kamu jadi begini, sih? Kita sudah saling menerima apa adanya, kan?”


“Iya, Mas, maafkan aku!”


Besok, Marini berniat akan menemui Usfi, dia pikir wanita yang pernah menjadi rivalnya itu tahu banyak soal anak-anak. Tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar, dan meminta maaf. Dia ingin berusaha menjadi lebih baik demi mendapatkan ridho dari suami.


Belajar menjadi ibu dan orang tua harus dilakukan setiap waktu dan tempat, selama umur masih ada ... seorang ibu, selamanya tidak akan pernah berubah, yang bisa berubah adalah perangai dan sikap seseorang dalam menjalani hidupnya.

__ADS_1


❤️❤️❤️👍🙏❤️❤️❤️


__ADS_2