
Selalu Ada Awal Mula
Gani kembali mendekat dan membisikkan sesuatu di telingan Usfi dengan suara yang penuh kelembutan. Seketika wajah Usfi merona merah dan hatinya berdebar halus, sementara bibinya tersenyum lebar. Dia memeluk Gani erat, sampai suara klakson mobil di belakang mereka berbunyi cukup keras.
Gani segera tersadar dan melepaskan pelukan, lalu, kembali mengemudi. Setelah mobilnya maju, mereka baru mengetahui jika telah terjadi kecelakaan tadi.
Usfi memperhatikan beberapa orang yang berkerumun di pinggir jalan, dan matanya terpusat pada seorang laki-laki yang mirip seseorang.
“Bang! Kayaknya dia mirip Jundi, kalau aku nggak salah lihat!”
“Mana?” Gani melihat kenarah yang ditunjukkan oleh istrinya. Saat itu mobil berjalan pelan karena baru saja kemacetan akibat kecelakaan bisa diurai, hingga kendaraan belum bisa melaju kencang.
Kedua orang itu melihat ke arah yang sama dan mereka sepakat untuk menepikan kendaraan karena ingin memastikan seseorang yang mirip Jundi, sahabat mereka di masa lalu.
“Jundi!” Gani berteriak setelah turun dari mobil dan menutup pintu diikuti oleh Usfi.
Beberapa orang ikut menoleh, tapi hanya satu orang yang tampak memicingkan matanya dan tersenyum lebar sambil berteriak juga.
“Gani? Usfi!”
Mereka saling mendekat dan dua pria saling berpelukan penuh kehangatan.
“Kalian?” tanyanya penuh tanda tanya sambil menduga-duga, menatap ke arah Usfi dan Gani secara bergantian, “Jangan bilang kalian menikah dan nggak ngundang aku?”
Jundi memang berada cukup jauh dari tempat tinggalnya dahulu, karena dia tinggal bersama istri di rumah mertuanya. Sebagai sahabat, dia tidak tahu bagaimana kisah dan perjalanan hidup Usfi juga Gani, karena dia sering pulang ke rumah ibunya yang masih berada dalam satu desa, dengan kedua orang tua dua sahabatnya itu.
“Iya, kami sekarang sudah jadi satu keluarga!” sahut Usfi dan Gani mengangguk.
“Akh ... akhirnya kalian menikah juga. Ayo! Ceritakan padaku bagaimana kejadiannya!” Jundi berkata sambil mengajak Usfi dan Gani ke dalam rumahnya, tapi kedua sahabat itu menolak, sebab tidak mungkin meninggalkan Azam yang masih tertidur pulas di kursi belakang.
Mereka akhirnya saling bertukar kisah hidup dan pengalaman. Jundi pun menceritakan pula kehidupannya bersama istri dan, tinggal dalam satu rumah dengan ibu mertua yang sudah sakit-sakitan, sementara istrinya adalah seorang anak tunggal.
Itulah yang membuatnya mengalah, hingga memilih tinggal dan bekerja di daerah itu. Selain karena mendukung istrinya untuk bakti pada orang tua, Jundi pun merasa perlu membina hubungan yang baik sebagai kepala keluarga.
__ADS_1
Antara suami istri, harus saling mendukung dan menghargai bukannya saling menuntut untuk lebih dicintai. Cinta adalah sebuah rasa titipan Tuhan, rasa yang semestinya hadir tanpa pamrih, bukti keikhlasan yang sesungguhnya.
Setelah mereka saling bertukar cerita, Jundi mengajak kedua sahabatamanya itu untuk, menikmati hidangan khas daerahnya yang cukup terkenal, sebagai bentuk rasa syukur. Kalau bukan karena kecelakaan yang baru saja terjadi, mungkin mereka tidak akan bertemu.
“Jadi, begitulah takdir, dia selalu punya jalannya sendiri untuk sampai tujuan, seperti kita sekarang ... apa kita pernah menyangka bertemu di sini, nggak, kan?” kata Usfi.
“Ya! Maaf, Jun! Bukannya kami nggak suka dengan ajakanmu, tapi, waktu kami terbatas, tidak bisa berlama-lama di sini!” sahut Gani.
Walaupun, Jundi sedikit kecewa karena Usfi dan Gani menolak niat baiknya, tapi, dia tetap bersyukur bisa bertukar cerita dan berharap mereka bisa mampir untuk mengambil oleh-oleh khas yang akan dia siapkan saat mereka pulang esok hari.
Sepasang suami istri itu pun kembali melanjutkan perjalanan dan sampai di rumah Asma setelah tiba waktu dhuhur. Gani melakukan sholat jamaah di masjid terdekat dari rumah Asma, sementara Usfi dan Azam menunggu di mobil.
“Azam mau ketemu Ibuk, loh sekarang ... mau kasih apa sama Ibuk?” Usfi bertanya sambil mengusap punggung anak laki-laki yang duduk dipangkuannya itu.
“Kasih ini!” kata Azam dengan polos, sambil menunjukkan permen Kojek berbentuk kaki yang sudah di makannya. Makanan manis yang disukai anak-anak itu pemberian dari Ima untuk Azam, biar tenang di mobil, katanya.
“Eh, itu kan sudah dimakan, masa mau dikasihin orang? Nggak boleh, dong ... namanya nggak sopan!”
“Azam Nggak tahu!” jawabnya kemudian.
“Azam mau ikut siapa, ikut Ibuk apa Ayah?”
Anak itu kembali berpikir dengan kepolosannya.
“Kalo Umma ikut nggak?” Azam balik bertanya, setelah mereka dekat, Usfi meminta Azam memanggilnya Umma. Sudah beberapa malam ini mereka tidur bersama. Sikap Usfi yang penuh kelembutan membuat anak itu cepat akrab.
“Umma mau ikut Ayah ajalah!”
“Ya, Azam juga!”
“Nanti, kalau Ibuk sedih gimana? Kan, Azam anak Ibuk juga!”
“Azam ikut Ayah!” kata anak itu lagi setelah menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Anak dan ibu yang terpisah jauh lebih dari setahun lamanya, tentu sulit untuk dekat. Walaupun, mereka tetap saling berkomunikasi melalui panggilan video, tapi tetaplah berbeda kalau sering bertemu di dunia nyata.
Apalagi sejak berumur beberapa bulan, Azam sudah sering ditinggalkan bersama sang nenek, sementara ibunya selalu sibuk bekerja.
Tak lama setelah itu, Gani sudah selesai sholat dan kembali masuk dan hendak mengemudikan kendaraan itu, tapi Azam merengek.
“Ayah! Mau ikut Ayah!” katanya mengulurkan tangannya pada Gani.
“Eh, kan Ayah mau nyetir mobil dulu, kita mau ketemu Ibuk!”
“Nggak mau! Mau ikut Ayah!” rengek anak itu lagi.
“Sudah, Bang! Biar aku saja yang bawa!” Usfi berkata sambil melepas sabuk pengamannya dan, keluar mobil setelah melepaskan Azam dari pangkuannya.
Usfi mengganti posisi Gani mengemudi, dan laki-laki itu yang menunjukkan arah menuju rumah yang cukup asri, bersih dan menenangkan, rumah yang berukuran sedang dengan banyak tanaman hias disekitarnya.
Gani masih ingat, semua tanaman itu dahulunya adalah hasil kerjanya di sela-sela waktu luang tapi, bisa mendatangkan uang. Sekarang, Lilis yang meneruskan usaha yang sebelumnya diawali oleh Gani, hingga tanaman bunga di depan rumah itu semakin banyak saja.
Semua pasti ada awal mulanya, termasuk semua yang tinggi pasti pernah rendah, sebelum membesar pasti pernah kecil, sebelum menjadi kuat, pasti pernah menjadi lemah.
Saat mobil Usfi berhenti di halaman, pintu rumah itu langsung terbuka, seorang wanita lebih dari paruh baya keluar dan, menyambut Gani serta Azam yang lebih dulu turun dari mobil.
“Bang! Aku langsung cari hotel saja, ya!” Usfi berkata dari dalam mobil.
Gani menutup pintu mobil setelah menurunkan Azam, lalu menoleh pada istrinya, lewat jendela.
“Tungguin ..., aku nggak lama, kok. Kan, aku cuman nganter Azam, ibunya kangennya sama anaknya, bukan sama aku, jadi, ngapain juga lama-lama di sini!” Katanya.
Usfi memutuskan untuk tetap di mobil dan hanya berniat memutar mobilnya lalu, parkir di sisi jalan. Namun, Azam justru menangis keras, anak itu takut kalau Usfi meninggalkan ayah dan dirinya.
“Umma!” teriaknya sambil berurai air mata.
❤️❤️❤️🙏👍❤️❤️❤️
__ADS_1