Cinta Butuh Utang

Cinta Butuh Utang
Malam Pertamanya Kapan


__ADS_3

Malam Pertamanya Kapan


Bang Gani, udah pulang? Kok sendiri, mana Kak Usfi?” Altiana bertanya sambil celingak-celinguk di sekitar Gani.


“Dia ada di rumahnya!” sahut Gani sambil mengganti pakaian dengan baju tidurnya.


“Kok, nggak diajak ke sini, Bang? Kata Emak, kalian udah nikah?”


“Emang, lihat!” Gani berkata sambil menunjukkan isi dompetnya yang kosong.


“Habis buat mahar, ya Bang?” kata Alpin, sambil tersenyum, adik ipar Gani itu berdiri sambil menggendong anaknya yang sudah tidur, keluar kamar Gani untuk di bawa ke rumahnya sendiri.


“Iya, gara-gara Usfi!” kata Gani, sambil menggelengkan kepala.


“Nanti diisi sama cinta, Bang!” sahut Alpin lagi saat sudah keluar kamar kakak iparnya.


Altiana membiarkan suaminya pergi, sedangkan dia tetap duduk di sisi tempat tidur Gani, di samping Azam yang sudah tertidur pulas. Dia terlihat antusias ingin mendengarkan cerita Gani yang, tiba-tiba saja menikahi wanita yang selalu berhasil menaikkan emosinya.


Gani menceritakan dari awal kejadian saat dia melihat Usfi di sekitar rumah pribadinya dan menangis, hingga membuat dia tiba-tiba saja menyanggupi keinginannya.


“Jadi, apa yang bikin Kak Usfi nangis?”


“Nggak tahu!”


“Kenapa nggak tanya, Bang?”


“Belum,” kata Gani sambil menyimpan dompet di meja dan menyimpan pakaian yang, sudah basah oleh keringat itu ke tempat pakaian kotor. Lalu, ikut tidur di samping anak laki-lakinya.


“Terus, kenapa Abang pulang sendiri, malam pertamanya Kapan?”


“Ngggak ada malam pertama, malam pertamaan, soalnya malam pertama bagi semua umat manusia itu, waktu malam pertamanya lahir ke dunia!”


“Ih, Bang! Serius dikitlah!”

__ADS_1


“Aku juga serius! Usfi tadi udah tidur waktu selesai akad nikah!”


“Jadi, Mas kawinnya nggak di kasihin dong?”


“Dikasihinlah ... tadi Aku simpan di samping bantalnya, berdoa di dekatnya, terus pulang deh, soalnya inget Azam, kalau dia bangun nyariin aku!”


“Udah, gitu saja? Abang nggak cium?”


“Sudah, Alti! Pulang sana, Alpin nungguin, tuh!”


“Dih, Bang Gani nggak asyik!” Altiana pergi dengan wajah yang cemberut, sambil menghentakkan kakinya kesal.


Gani mengabaikan Altiana yang pergi setelah menutup pintu kamar dengan keras. Dia langsung memejamkan mata sambil memeluk Azam—anaknya, sedangkan bayangan Usfi yang tertidur sambil memegang handphone, melintas di kepalanya.


Saat Ima memanggil Usfi tadi, dia tidak menemukan anak perempuan, yang ternyata sudah tertidur di kamarnya. Akhirnya dia melaporkan hal itu pada Sholeh, hingga dia menyuruh Gani sendiri masuk ke kamar gadis itu.


Gani tidak tahu harus berbuat apa saat masuk dan melihat Usfi sudah tertidur dengan pakaian yang sama, dia hanya memindahkan handphone, meletakkan uang mahar, berdoa sebentar dan mencium keningnya sekilas. Lalu, kembali ke ruang tamu untuk berpamitan. Diikuti para tamu yang juga undur diri dari tempat itu.


Setelah selesai berdoa, dia mengusap wajah yang kemudian mengusapkan di wajah anaknya sambil membaca ayat kursi lalu, mendoakan kebaikan bagi masa depannya.


Tiba-tiba terdengar nada dering telepon genggamnya dan nama Oon-ku muncul di layar, dia ragu-ragu mengangkatnya untuk sesaat. Namun, suara bunyinya seolah semakin keras saja, membuatnya mengusap layar ponsel dan menempelkan ke telinga. Seketika terdengar suara Usfi yang agak serak mengucapkan salam dan memanggil namanya.


“Ya, Ada apa pagi-pagi sudah telepon?” tanya Gani, sesudah menjawab salam.


“Terima kasih, ya Bang!” kata Usfi dari ujung telepon.


“Untuk apa berterima kasih?”


Usfi tampak menangis, suaranya terdengar agak sengau di hidung.


“Abang sudah mau jadi suamiku, terima kasih sekali lagi, jadi, saya bisa ketemu Mas Anwar hari ini, siap-siap ya Bang, nanti saya jemput jam tujuh ke rumah, kita ke Kota Metropolitan!”


“Apa? Ke rumah Pak Anwar? Buat apa ke sana pagi-pagi?”

__ADS_1


“Nanti, deh! Aku ceritain di jalan! Udah dulu, ya Bang! Assalamualaikum!”


Telepon di tutup dan menyisakan kegalauan Gani saat mendengar permintaan Usfi yang ingin menemui Anwar justru setelah resmi menikah dengan dirinya. Demi menuntaskan rasa penasarannya, dia pun bersiap dengan segera, termasuk menyiapkan Azam untuk ikut bersamanya, karena anak itu belum dekat dengan Ami—neneknya ataupun dengan Altiana--bibinya.


“Mau ke mana, Bang? Sudah rapi saja pagi-pagi begini, mau bulan madu?” tanya Alpin yang mau berangkat bekerja dan melihat Gani sudah rapi di depan rumah.


Ami dan Altiana yang baru selesai sarapan pun ikut keluar rumah menyertai Gani dan Alpin.


“Iya, mau bulan madu ke kota, sama Usfi, kenapa memangnya?” sahut Gani sambil duduk dan menyeruput secangkir kopi yang belum habis. Dia tampak gelisah.


Alpin hanya tersenyum sambil menyalakan mesin motor, sementara dia memakai sepatu.


“Oh, tak apalah, Bang, bulan madu sekalian malam pertama nanti di hotel, jadi nggak usah Abang bawa Azam ke sana!”


Untuk sementara alasan pergi berbulan madu adalah, hal yang paling aman sebab bila mengatakan niat Usfi yang ingin bertemu Anwar, maka urusannya akan semakin panjang.


“Alhamdulillah, akhirnya anak Mak kawin juga!” kata Ami sambil mengusap punggung lebar anak laki-lakinya itu.


“Iya, Mak senang punya menantu macam Usfi, kan?” kata Gani.


“Senang sekali, tentunyalah, Gan! Dia manis, baik, kaya pula!”


“Manis macam gul, Mak?”


“Lebih manis, soalnya gula nggak bisa berbuat baik dan belum ada gula yang bisa kaya sampai sekarang!”


Baik Gani, Alpin dan Altiana tersenyum mendengar candaan Ami.


“Ya sudah, Bang ... aku setuju sama Bang Alpin, biar Azam di sini saja!”


Akhirnya, atas kesepakatan bersama, Azam tidak ikut dengan ayah dan ibu sambungnya ke kota. Apalagi anak itu cukup senang bermain dengan putra Altiana yang lebih kecil darinya. Selain itu, maksud Ami adalah agar cucunya lebih akrab dengan neneknya, karena mereka jarang berkumpul bersama.


❤️❤️❤️🙏👍❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2