
Lebih Bahagia
Usfi segera memutuskan untuk mengikuti keinginan suaminya dan menginap di rumah Ami malam itu, tentu saja kehadiran menantu perempuan yang membuat keluarga itu semakin ramai dan lengkap. Apalagi kedatangannya disertai dengan keceriaan dan juga oleh-oleh yang banyak. Ima—ibunya, memberi hantaran makana cukup untuk makan malam dan sarapan keluarga besannya itu.
Pengalaman menginap di rumah mertua seperti ini, memang bukan pertama kalinya bagi Usfi, karena sebelumnya pun dia juga pernah menginap, di kediaman keluarga dari orang tua Anwar. Bedanya adalah, ketika dia menginap di keluarga Anwar, penuh dengan suasana yang canggung dan kaku, mengingat kedudukannya sebagai istri kedua, dan juga bagaimana pernikahannya yang terjadi karena sebuah keterpaksaan, apalagi dia tidak begitu mengenal keluarga suaminya itu.
Namun di keluarga Amy saat ini dia begitu akrab dan juga bahagia, karena memang keluarga itu sebelumnya sudah sangat dekat dengannya.
“Mak, hanya berharap kalian hidup rukun dan lebih bahagia dari kehidupan rumah tangga kalian sebelumnya,” kata Ami kepada Usfi dan juga Gani, sambil memegang kedua tangan mereka. Ada air mata kebahagiaan yang mengalir di pipinya. Dia benar-benar menaruh harapan besarnya pada pasangan itu dan kehidupan rumah tangga mereka akan utuh untuk selamanya.
“Jadi kan kegagalan dari rumah tangga kalian sebelumnya sebagai pelajaran, tentu kalian sendiri yang bisa merasakan baik buruknya. Dan, jangan sampai apa yang terjadi di masa lalu itu terulang kembali untuk saat ini. Mak nggak tahu sampai kapan akan hidup, masing-masing diantara kita juga tidak ada yang bisa menebak sampai kapan usia kita akan bertahan. Jadi, Emak hanya berharap hidup kalian akan lebih baik ... itu saja.”
“Iya, Mak. Aku juga ada rencana punya anak lebih cepat,” kata Gani, membuat Usfi menoleh padanya.
Gani kembali berkata, “Soalnya ingat umur, kalau anak-anak besar nanti aku ingin jadi ayah yang masih kuat membiayai dan mencari uang, saat mereka masih membutuhkan biaya untuk pendidikan dan kebutuhan lainnya, biaya sekolah sekarang tidak murah, apalagi biaya pernikahan mereka kelak!”
“Jauh amat Bang, mikirnya? Punya anak aja belum, sudah mikirin biaya pernikahan mereka ....”kata Usfi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Aku cuman berpikir realistis, kalau mereka akan seperti kita yang, kuliah dan menikah juga mengeluarkan biaya, kita tidak mengadakan pesta walimatulursy saja sudah keluar biaya cukup banyak, apalagi kalau mau pesta,” kata Gani lagi dengan tatapan serius kepada Usfi.
__ADS_1
“Oh, begitu ya, Bang?”
“Iya, apalagi kebutuhan dan keinginanmu sebagai istriku, aku tidak ingin Abah, Ambuk dan juga Emak kecewa pada anaknya ini, karena jadi kepala rumah tangga yang tidak bisa memenuhi semua tanggungan yang menjadi kewajibannya,”
Ami mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar ucapan Gani dan tersenyum puas.
Gani bukan hanya memikirkan hal yang memang seharusnya dia pikirkan sebagai kepala keluarga, tapi dia menunjukkan kepribadian matang yang belum pernah dilihat Usfi sebelumnya. Perempuan itu mengenal Gani sebagai pria cerewet yang senang sekali berurusan dengan orang lain terutama dirinya. Apalagi dahulu saat mereka pertama kali bertemu, setelah berpisah karena Usfi menikah, pria itu terlihat begitu memusuhi dirinya.
Namun sekarang Gani terlihat lebih memesona dirinya, jika bisa diistilahkan perasaan Usfi adalah cinta sesudah pernikahan.
“Bang!” kata Usfi setelah mereka hanya berdua saja di dalam kamar.
“Hmm ....” Gani bergumam sambil mengganti pakaiannya dengan baju tidur.
“Kenapa memangnya?” tanya Gani kini melihat Usfi yang duduk di atas tempat tidur dengan lekat.
“Abang tambah ganteng, jadi nggak boleh dekat-dekat sama pegawai perempuan, nanti mereka jatuh cinta sama Abang! Soalnya sekarang, ketertarikan dunia bukan lagi berada pada daya tarik perempuan seksi, tapi pada laki-laki tampan dan mapan!”
“Masa?”
__ADS_1
“Iya, Bang! Euforia dan hingar bingar dunia hiburan misalanya, lebih cenderung pada boy band, aktor tampan, atletis, dan pria-pria kaya atau para konglomerat yang semua, rata-rata, notabene adalah laki-laki!”
Saat berbincang-bincang, mereka sudah sama-sama duduk di atas tempat tidur Gani. Biasanya pria itu tidur dengan Azam, tapi mulai malam ini, dia akan ditemani Usfi.
“Kalau begitu, kamu harus melindungi suamimu ini, dari godaan itu!”
“Ih, mana bisa kayak gitu? Aku melindungi suami, apa nggak kebalik?”
“Kan, kamu yang bilang aku harus hati-hati biar para wanita nggak tertarik padaku?”
“Iya, sih ... tapi, kan Abang yang laki-laki, yang harus melindungi istrinya!”
“Apa wanita nggak bisa melindungi suaminya sendiri?”
“Nggaklah ... suami kan, harus bisa melindungi dirinya sendiri!” Sahut Usfi begitu yakin.
“Bisalah, istri melindungi suaminya!”
“Gimana?”
__ADS_1
“Ikut aku kerja!”
❤️❤️👍🙏❤️❤️❤️