Cinta Butuh Utang

Cinta Butuh Utang
Sah Itu Enak


__ADS_3

Sah Itu Enak


 


 


Sementara itu di ruang tamu, keadaan masih menyisakan kecanggungan, suasana yang diciptakan oleh ucapan Usfi yang mengatakan isyarat dengan jelas kalau dirinya ingin dihalalkan.


Sholeh dan Gani, tidak tahu apa yang menyebabkan gadis itu memberi isyarat demikian, tapi sebagai orang tua, dia ingin kebaikan bagi anaknya dan juga ingin mengabulkan keinginan itu. Apalagi menikah adalah ibadah yang disunnahkan, dan sangat penting jika Usfi akan kembali merantau.


“Duduklah sebentar, aku yakin anakmu sudah nggak nyari kamu lagi sekarang,” kata Sholeh. Pria yang sedang menjabat tangan Gani itu, pun tidak melepas genggaman tangannya dan justru lebih kuat, hingga dia tidak punya pilihan lain selain menurut.


Dua orang itu kemudian duduk berdekatan, dan mereka menjadi pusat perhatian beberapa orang tamu yang berasal dari jauh itu. Walaupun, Sholeh dan Gani tidak berdampingan, karena ada orang yang lebih tua duduk di samping calon ayah mertua, tapi, tatapan matanya yang tajam dapat terlihat dengan jelas.


Sholeh tidak tahu apa yang menyebabkan anak perempuannya memberi isyarat untuk menahan Gani. Dia hanya tahu kalau dahulu mereka pernah saling menyukai namun dipisahkan oleh takdir dan, setelah sekian lama mereka berpisah kini kembali bertemu dalam keadaan sudah sendiri.


“Apa kamu mau menghalalkan anakku? Mungkin kalian sudah membicarakan sesuatu, kalau iya, maka aku akan menikahkan kalian sekarang juga!”


Ucapan Sholeh membuat Gani termenung sesaat dan dia jadi salah tingkah, tidak terbayang akan menikahi gadis yang sering dipanggilnya Oon itu menjadi istri. Namun, beberapa saat kemudian dia mengangguk.


Sementara itu, beberapa orang tamu yang sebagian juga pernah mengenal Gani, ikut mengangguk. Termasuk Ima dan Dedah—pembantunya yang melihat semua kejadian itu dengan mata kepala mereka sendiri.


“Ustdz, eh, Abah, saya memang sudah berniat menikahi Usfi suatu saat nanti, setelah tahu dia sudah sendiri, tapi, nggak sekarang, soalnya saya nggak bawa apa-apa untuk dijadikan mas kawin!” Gani berkata penuh dengan kerendahan hati.


Sholeh mengerti dan mengangguk, dia kemudian memanggil istrinya, lalu bertanya soal bagaimana anak perempuannya, hingga pria itu pun kembali mengangguk.


“Jadi, kalau soal mahar, anakku bukan perempuan yang sulit, kalau kamu memang punya keinginan dan sudah niat, ya nggak masalah memberi mahar seadanya, kalau kamu nanti mau memberi sesuatu yang lebih berharga pada istrimu, kamu bisa memberinya sesudah sah jadi suami istri nanti.”


Ucapan Sholeh disetujui oleh beberapa temannya yang hadir ada dalam ruangan itu, mereka memberi pandangan masing-masing dan akhirnya, Gani mengeluarkan dompet lalu, mengeluarkan isinya yang hanya berjumlah lima ratus ribu.


Sholeh menerima dan menghitungnya, lalu, meletakkannya dengan rapi di atas meja. Dia meminta Ima-istrinya untuk menghubungi Ami, untuk mengabarkan lamaran yang dilakukan Gani untuk Usfi, sekaligus pernikahan mereka.

__ADS_1


Ima dengan senang hati melakukan permintaan suaminya, karena rencana menikahkan Usfi dengan Gani, akan segera terlaksana. Sebenarnya Ima, Sholeh dan Ami, sudah sepakat untuk berbesan, tapi menunggu beberapa waktu lagi sebelum dua anak itu kembali ke Kalimantan. Namun, sekarang pernikahan putra dan putri mereka sudah terjadi lebih cepat dari rencana sebelumnya.


Setelah Ima selesai bercerita tentang lamaran Gani yang tiba-tiba kepada Ami, akad nikah pun mendapat persetujuan dan restu dari ibu mempelai pria, yang sebenarnya sudah mengantuk di kamarnya.


Lalu, pernikahan dengan mas kawin seadanya itu dilaksanakan dengan khidmat dan dilakukan secara langsung oleh orang tua mempelai wanita. Tentu saja didahului oleh ucapan lamaran secara resmi dari Gani yang disambut pula secara resmi oleh Sholeh.


“Sah!” terdengar suara para hadirin yang secara mendadak menjadi saksi bagi pernikahan antara Gani dan Usfi, hingga mereka menjadi suami istri secara sah menurut agama.


Seorang pembantu Sholeh mencatat pernikahan itu, dan di serahkan pada Gani, sebagai bukti untuk mengurus surat-surat nikah secara resmi ke kantor urusan agama setempat. Secara kebetulan seorang pegawai pencatat nikah pun ada di sana, hingga akan lebih mudah mengurusnya.


“Nah, sekarang kamu dan anakku sudah Sah, bebas mau berduaan juga nggak akan ada yang larang!” kata Sholeh sambil menepuk bahu Gani, yang duduk secara berhadap-hadapan dengan dirinya, sejak memulai akad nikah.


“Iya, Bah. Terima kasih!” kata Gani sambil tersenyum malu-malu. Wajahnya masih hangat, karena kegugupan saat melafalkan akad nikah yang tidak dia hapalkan sebelumnya. Bahkan, tangannya pun masih gemetar dan berkeringat.


Meskipun demikian, semua berjalan dengan lancar dan, hanya menyisakan debaran jantungnya yang masih tidak beraturan, lebih gugup dari saat dia mengucapkan akad nikah untuk Asma, beberapa tahun yang lalu.


“Kalau sudah sah, itu enak!”


“Ambuk, mana Usfi?” tanya Sholeh lagi.


“Tunggu sebentar, Bah!”


Sementara itu di rumah Ami, tampak Altiana dan Alpin terdiam, karena kurang percaya dengan apa yang baru saja didengar mereka dari sang emak. Suami istri itu seakan baru mendengar sebuah dongeng dari negeri entah berantah jika ada pernikahan yang, mendadak bagai sebuah permainan.


“Apa Emak nggak salah dengar?” tanya Altiana pada ibunya.


Percakapan terjadi antara Altiana dan Ami, sedangkan Alpin sibuk mengusap-usap punggung dua anak balita di tempat tidur Gani.


“Nggak! Alhamdulillah, Emak bersyukur akhirnya mereka menikah juga, dan nggak harus repot bikin rencana!”


“Emang, mau bikin rencana apa, Mak?”

__ADS_1


“Mak mau marah-marah kalau tahu mereka ngobrol atau bertengkar kayak kemarin lagi, terus maksa mereka buat nikah aja!”


“Oh! Ya, sudah kalau akhirnya Bang Gani sudah nikah, nggak harus repot-repot dia bawa-bawa Azam ke kantor.”


“Bukan cuman itu, hati Mak juga lebih tenang dari pada Abangmu lama-lama jadi duda, tetap lebih baik punya istri. Semua syariat agama dibuat pasti ada tujuannya, yaitu untuk kemaslahatan manusia itu sendiri. Allah yang menciptakan manusia, tentu Allah yang paling tahu aturan seperti apa untuk ciptaan-Nya!”


“Kenapa, gitu, Mak?”


“Ya, kan, waktu masih punya istri biasanya laki-laki akan rutin mengeluarkan spermanya minimal seminggu sekali, gimana kalo lama-lama nggak dikeluarkan, itulah yang nanti akan jadi kanker prostat, tapi, kalau terlalu sering melakukan hubungan seksual juga tidak bagus, sebab akan menyerap kalsium dari tulang punggung, yang akan membuat tubuh menjadi bungkuk dimasa tuanya!”


“Oh, gitu ya, Mak?”


Ami mengangguk, “Ya, sudah ... Mak tidur dulu, udah ngantuk.


“Ya, Mak. Biar Azam sama Alti, sekarang sudah tidur kok.”


Beberapa lama setelah Ami masuk ke kamarnya dan, tidur. Pintu ruang tamu rumah mereka dibuka dari luar bersamaan dengan suara Gani yang mengucapkan salam. Pria itu masuk begitu saja ke dalam rumah dan masuk ke kamarnya.


Dia terkejut melihat Altiana dan Alpin tidur di tempat tidurnya sambil berpelukan.


“Hai! Kalian kalau mau peluk-pelukan jangan di sini! Ke kamar kalian sendiri sana!” kata  Gani sambil menggoyangkan kaki adik perempuannya.


Kedua orang itu membuka mata dan melepaskan pelukan mereka tanpa rasa bersalah. Lalu duduk sambil mengusap wajah.


“Bang Gani, udah pulang? Kok sendiri, maka Kak Usfi?” Altiana berkata sambil celingak-celinguk di sekitar Gani.


 


❤️❤️❤️👍🙏❤️❤️❤️


 

__ADS_1


__ADS_2