Cinta Butuh Utang

Cinta Butuh Utang
Kepercayaan Dan Harga Diri


__ADS_3

Kepercayaan Dan Harga Diri


“Apa maksud kamu, Fi? Jangan berprasangka buruk. Kamu sendiri bilang kalau manusia itu harus berkhusnuzon, kenapa kamu sendiri begitu?”


“Soal berprasangka baik itu bukan aku yang bilang, Mas, tapi agama kita. Aku tahu soal ramalan yang Mas percayai,” kata Usfi.


“ Mas ... Semua yang terjadi pada manusia hakekatnya ujian dari Allah, apa pun itu termasuk kebaikan dan keburukan. Jadi, untuk apa takut dengan sesuatu yang belum tentu kebenarannya, hanya karena manusia yang dianggap pintar? Apa manusia selain peramal itu berarti bodoh gitu?”


Usfi mengatakan hal itu bukan karena sok tahu melainkan dia sudah menggali informasi dari beberapa orang di sekitar pos milik Anwar dan juga Marini dengan bantuan Nafisa waktu itu.


“Usfi, tahu apa kamu soal ramalan itu? Dengar, ya! Kalau sampai aku kena teluh atau santet, bukan Cuma kamu yang rugi, tapi Maisha juga anak-anak, aku tidak ingin hal itu terjadi.”


“Mas, sebenarnya itu Cuma akal-akalan si peramal buat cari keuntungan dari Mas, tidak mungkin datangnya bala bisa dilindungi oleh hadirnya seorang wanita, padahal yang maha pelindung itu Cuma Allah, yang bisa mendatangkan kebaikan dan keburukan Cuma Allah. Semua kebaikan dan keburukan tidak akan menimpa kita kecuali atas izin-Nya.”


Usfi berhenti bicara untuk sejenak sekedar menarik napas dan melihat bagaimana reaksi Anwar.


“Kamu cemburunya keterlaluan, Fi!”


“Aku bukan cemburu buta, karena menurut aku, mungkin peramal itu ingin Mas akhirnya menikah sama Marini dan terus percaya dengan semua ramalannya ... Coba Mas pikir, kalau benar terjadi, bagaimana nantinya kehidupan kita dipenuhi dengan ketakutan, lebih baik pasrah dengan Allah.”


“Ya, kan aku sudah pasrah dengan Allah, sudah sholat juga ngaji setiap hari!”


“Tapi, kalau mas pergi ke dukun atau paranormal, amal ibadah Mas itu tidak akan diterima selama 40 hari. Jadi, percuma saja, Mas!”

__ADS_1


“Ah! Sudah jangan ceramahnya, jangan sok baik!”


“Nggak Mas, itu bukan ceramah, aku mengingatkan karena aku sayang, aku sudah percaya selama ini kalau, Mas pergi kerja, tapi ternyata bohong! Istri mana yang sudi dibohongi suaminya? Nggak ada, Mas! Padahal kalau suami bohong sama istri itu, sama saja bohong pada diri sendiri!”


“Sudahlah, mau sudi atau tidak sudi, nggak akan ngaruh sama harga diri!”


“Harga diri gimana maksudmu, Mas!”


“Kamu harus ingat siapa kamu dulu, kalau bukan karena aku ... kamu nggak akan bisa bawa mobil, nggak punya rumah bagus, nggak bisa jadi bos ... keluargamu orang miskin, yang nggak punya apa-apa, kerjaannya juga Cuma guru ngaji, mana punya banyak uang bisa beli mobil!”


“Astagfirullah! Kenapa jadi ke masalah itu, sih? Aku tahu diri kok, makanya aku nggak pernah menuntut apa pun dari kamu, Mas! Rumah, mobil dan kerjaan jadi bos, juga bukan keinginanku sendiri. Kalau Mas sekarang mau aku kembalikan nggak masalah, aku pulangin semua buat Mas! Aku ke sini juga nggak bawa mobil, jadi aku bisa langsung pulang ke rumah Abah!” Usfi langsung berbalik meninggalkan Anwar, setelah berkata demikian


Anwar diam sejenak dengan tatapan mata tak lepas dari Usfi sambil memikirkan kebenaran ucapannya. Dia memang memberikan semua atas dasar kasih sayangnya dan juga kebutuhan. Di belinya rumah yang cukup bagus untuk Usfi di dekat pos sayuran, mengajarinya berbisnis, dan menyetir mobil, setelah dia berniat buka cabang.


“Tunggu!” kata Anwar setelah melihat punggung Usfi yang semakin menjauh dan akan menuruni tangga, “Usfi! Kamu mau ke mana?”


Usfi berhenti, dan berkata, “Mau pulang ke rumah Abah, terus bilang kalau Mas Anwar mau nikah lagi, aku nggak mau di madu lagi, Mas!”


“Siapa yang mau nikah lagi, sih?”


“Kalau nggak mau nikah lagi, maunya apa? Nambahin dosa terus dengan berduaan sama wanita itu? Iya!”


“Aku nggak mau nikahin dia kok! Aku—“

__ADS_1


“Mau selingkuh? Nggak kasihan sama diri sendiri, bikin tambah repot, tambah kerjaan dan tanggung jawab? Ngurusin dua istri aja susah, kok mau nambah istri lagi!”


Usfi terus berjalan turun ke tangga. Sementara ponsel Anwar berbunyi dia menerima panggilan itu dengan raut wajah gelisah. Baru saja gadis itu sampai di dekat trotoar, dia dipanggil oleh suaminya yang sudah berdiri di dekat mobilnya.


“Kenapa?” tanya Usfi ketus.


“Ayo! Pulang sekarang bareng aja, Asma masuk rumah sakit!”


“Allahummagfirlanaa, laahaula walaquwata illa billah!” Usfi berkata sambil bersegera mengikuti Anwar masuk ke mobil.


Dia tidak memikirkan beberapa lembar pakaian dan tas yang tertinggal di hotel, karena semua benda berharganya sudah ada dalam tas yang dibawanya saat ini.


Perjalanan dari pos di kota sampai ke kampung halaman mereka, membutuhkan banyak waktu, walaupun, Anwar menggunakan mobil keluaran barunya dengan kecepatan tinggi, tetap saja tidak secepat menggunakan helikopter.


Usfi sempat tertidur selama perjalanan itu, dan baru terbangun saat Anwar menghentikan mobilnya untuk mengisi bahan bakar, di depot yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal mereka.


Di tempat itu juga dulu Usfi pernah bertemu dengan Gani dan membuat keributan.


Di saat yang bersamaan, ada sebuah bis yang berhenti untuk mengisi bahan bakar juga, membuat Usfi menoleh dan melihat ke arah bis itu sambil menunggu Anwar membayar.


“Bang Gani? Dari mana dia? Apa dia nggak kerja?” batinnya saat secara tidak sengaja melihat Gani yang duduk di sisi jendela bis, tepat di sampingnya. Pria itu pun menatap ke arahnya dengan tatapan mata yang rumit, sedangkan kelelahan terukir jelas di wajahnya.


“Siapa dia?” tanya Anwar sambil memasang sabuk pengaman. Dia melihat Usfi yang menatap pada pria dari balik jendela bis yang berhenti di sebelah mobilnya, secara intens, bahkan sampai tidak sadar kalau suaminya sudah masuk ke dalam.

__ADS_1


__ADS_2