Cinta Butuh Utang

Cinta Butuh Utang
Positif


__ADS_3

Positif


“Nggak tahu, pusing banget! Mana lemes lagi ....”


“Makan apa waktu di pesta, jangan-jangan keracunan?”


“Nggak ... Jangan berpikiran buruk, akh, besok juga sembuh kali!”


Akhirnya kedua orang itu tidur saling memunggungi, Usfi tidak mau di dekati suaminya, itu membuat Gani heran dan kesal. Dia semalaman berpikir apa kesalahannya hingga sang istri tiba-tiba saja enggan berpelukan dnegennya saat hendak tidur, sebab biasanya sebelum memjamkan mata dan tenggelam dalam mimpi, mereka akan berpelukan sambil bertukar cerita.


Gani hanya berharap jika besok, istrinya itu akan baik-baik saja. Namun pada keesokan harinya, bukannya lebih baik, tapi Usfi justru semakin parah, dia muntah-muntah berulang kali bahkan mengeluarkan semua isi perutnya yang, belum sempat tercerna tadi malam.


Gani membantu meringankan dengan memijit bagian tengkuk yang sudah diolesi minyak kayu putih, saat Usfi membungkuk di wastafel untuk muntah, padahal sudah tidak ada lagi yang keluar dari tenggorokannya. Dia berpikir tentang sesuatu yang mungkin terjadi pada istrinya.


“Jangan-jangan kamu hamil!” kata Gani tanpa menghentikan pijatan lembutnya.


Usfi menoleh setelah membasuh wajahnya dengan air dan berkumur. Dia menatap Gani dengan penuh tanda tanya.


“Memang begitu ya, Bang kalau hamil?”


“Nggak tahu, aku lupa!”


Usfi melirik suaminya sekilas lalu, mendekati kalender yang tak jauh dari meja makan, dia menyadari kalau dirinya sudah terlambat haid selama satu pekan. Wanita itu memang belum pernah hamil tetapi, sudah banyak mendengar cerita beberapa orang di sekitarnya. Tentang bagaimana pengalaman mereka pertama kali merasakan kehamilan. Hal itu membuat Usfi lebih mudah menjalaninya.

__ADS_1


Setelah menyiapkan sarapan bagi Gani, Usfi kemudian berinisiatif untuk membeli alat tes kehamilan di supermarket terdekat seorang diri. Tentu saja suaminya itu melarang karena khawatir terjadi sesuatu pada Usfi yang masih merasakan pusing di kepalanya.


Gani segera menyelesaikan sarapan dan pergi ke supermarket untuk membeli apa yang diinginkan oleh istrinya lalu, kembali secepatnya. Sesampainya di rumah, dia langsung memberikan alat itu pada Usfi dan menyuruh agar segera menggunakannya.


“Abang!” teriak Usfi dari dalam kamar mandi, sedangkan Gani tengah bersiap memakai sepatunya, karena hendak berangkat ke restoran.


Pria itu mendekat istrinya yang tersenyum lebar di depan pintu kamar mandi lalu, menunjukkan hasil tes yang baru saja digunakannya.


Namun saat Usfi memberikannya pada Gani, secepat kilat pria itu melemparnya. Membuat wanita itu cemberut karena merasa suaminya tidak menghargai.


“Kenapa sih, Bang, kok dilempar?”


“Ih, itu kan bekas pipis tahu?”


Gani tidak menjawab dan membungkuk untuk mengangkat tubuh istrinya itu dalam gendongan ala bridal style, membuat Usfi memekik karena terkejut. Namun, sikap romantis suaminya itu begitu menyenangkan, hingga dia melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya itu.


“Aku sudah tahu apa hasilnya dari ekspresi wajahmu itu,” katanya sambil mendudukkan Usfi di sofa lalu memeluknya sebentar.


“Memangnya apa ekspresi yang ditunjukkan wajahku, seperti ini, ya?” kata Usfi sambil menyeringai.


Gani mencolek ujung hidung istrinya.


“Ya, kan kamu teriak tadi di kamar mandi, sambil senyum-senyum ... positif kan?”

__ADS_1


“Iya.” Usfi menyahut sambil tertawa.


“Ya sudah, bersyukur saja ... Alhamdulillah ... kalau perlu salat dua rakaat!” kata Gani sambil berdiri.


“Sekarang, aku berangkat dulu jaga baik-baik anakku di sini, ya?” Gani berkata sambil mengusap lembut perut istrinya yang masih rata.


Usfi tersenyum lebar dan mencium punggung tangan suaminya sebelum pergi. Hatinya begitu bahagia karena akhirnya, dia bisa hamil juga. Dia mengikuti saran suaminya untuk salat dua rakaat sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah, yang telah mengabulkan keinginan terbesarnya yaitu hamil, untuk bisa memiliki seorang anak.


Setelah selesai melaksanakan salat dua rakaat Usfi menghubungi ayah dan ibunya, untuk mengabarkan kehamilan dan juga mengungkapkan perasaan bahagianya.


Soleh dan Ima menyambut kabar baik dari anaknya itu dengan penuh sukacita. Mereka berpesan, untuk menjaga kandungannya dengan baik, mengingat saat trimester pertama adalah, masa rentan bagi janin dalam rahim seorang wanita.


Oleh karena itu, dia harus lebih banyak istirahat dan mengurangi kegiatannya meninjau lokasi kebun dan atau melihat taman kanak-kanak sekolahnya.


Tak lupa, Usfi menghubungi Ahmad dan Aisy yang sudah menjalankan tugasnya dengan baik selama ini. Dia meminta kepada orang kepercayaannya itu, untuk merubah beberapa rencana dan jadwal tentang beberapa hal seperti, mengunjungi sekolah yang, biasanya dilakukan seminggu sekali, termasuk mengontrol perkembangan tanaman kebun, kini hanya bisa dia lakukan sebulan sekali saja.


“Mungkin aku tetap datang tapi aku tidak akan terlalu sering untuk trimester pertama ini ....” demikian kata Usfi, jujur kepada Ahmad dan Aisy yang mengerti benar, dengan keadaannya.


“Ya! Ibu memang harus mengurangi kegiatan untuk sementara waktu,” kata Aisi penuh pengertian, membuat Usfi senang.


Sementara Gani di restoran, dia menghubungi Ami—ibunya, untuk mengabarkan kehamilan menantunya, tentu saja wanita itu senang mendengarnya, sebab telah sekian lama menunggu kehadiran seorang cucu dari Gani sebagai pengganti Azam.


❤️❤️❤️🙏👍❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2