
Bukan Anak-anak Lagi
Gani menerima panggilan telepon, setelah selesai melakukan sholat ashar, sementara Azam—anaknya, merengek karena mulai mengantuk. Dia harus dipangku ayahnya kalau mau tidur.
Pria itu menempelkan telepon ke telinga, setelah Azam berada dalam pangkuannya agar anak itu cepat tertidur. Kebiasaan ini muncul sejak dia tinggal di rumah mertua dan mulai dekat dengan anaknya. Gani menggoyangkan badan ke kiri dan ke kanan, sampai buah hatinya itu terlelap.
Gani sengaja mengajak Azam yang sudah berhenti minum susu dengan botol itu, ikut bersamanya, setelah perceraian dengan Asma terjadi. Dia memang bisa pisah dengan istrinya, karena wanita itu sudah sangat bersalah tapi, dia tidak mau berpisah dengan anak semata wayangnya.
Gani mengambil sikap itu karena dia pikir, Azam setiap hari pun tidak diasuh oleh Asma maka, lebih baik ikut dengannya merantau. Apalagi dia hanya berniat menjadi petani kelapa sawit di kebun milik kakaknya, tentu saja bebas mengajak anak laki-lakinya itu bekerja sekaligus mengenal alam.
Namun, setelah dia bekerja menjadi manajer hotel milik sahabatnya, dia tetap mengajak anak itu bekerja kecuali, memang ada agenda penting atau acara lain yang merepotkan, barulah dia menitipkan anak itu pada Lia, istri Algizali.
“Ada apa, Alti?” Tanya Gani setelah mengucapkan salam, dia panik karena mendengar suara adik perempuannya yang menangis, di seberang telepon.
“Emak jatuh dari kamar mandi, Bang! Sekarang aku sama Bang Alpin lagi di rumah sakit, Emak pingsan!”
“Apa ada yang luka, atau berdarah?” Gani berkata sambil menahan gelisah dan panik, mendengar Emaknya masuk rumah sakit. Dia sudah kehilangan ayah tanpa bisa melihat untuk terakhir kalinya, kali ini dia tidak ingin kehilangan kesempatan yang sama.
“Luka berdarah sih, nggak ada ... cuman pingsan aja, nggak tahu deh kenapa. Tadi hp Bang Algi nggak bisa dihubungi, makanya aku nelpon bang Gani aja!”
“Mungkin lagi ada di kebun, nggak ada sinyal!”
“Ya udah, pokoknya salah satu dari kalian harus pulang, aku takut kalau ada apa-apa sama Emak!”
__ADS_1
“Iya, mudah-mudahan Emak nggak kenapa-napa, kayaknya aku ajalah yang pulang, lagian sudah setahun nggak ketemu Emak!”
“Cepetan pulang, ya Bang!”
“Ya, nggak bisa cepat-cepat, Abang kan nggak bisa bawa pesawat sendiri ke sana!”
“Ih, Bang Gani masih aja sempat becanda!”
Telepon ditutup setelah mereka saling mengucapkan salam dan memberi semangat. Gani langsung mencari aplikasi penjualan tiket dan segera melakukan transaksi, lalu, dia menghubungi temannya yang menjadi Bos di hotel dan restoran tempatnya bekerja, untuk meminta izin pulang.
Gani hanya mendapatkan izin satu pekan, meskipun begitu dia tetap bersyukur, karena waktu yang diberikan sudah cukup kalau hanya untuk, menengok dan melepaskan rasa rindu pada sang ibu.
Keesokan harinya, di tempat yang berbeda, Usfi sedang sibuk berkemas, dia memang berencana pulang, dengan mengambil jadwal penerbangan paling pagi hari ini, sekitar jam enam, lebih lima belas menit.
Sudah beberapa kali Ima—ibunya, menelepon dan mengharapkan kehadirannya, saat acara tasyakuran dalam rangka khaul atau peringatan berdirinya yayasan madrasah ibtidaiyah milik Sholeh yang akan diselenggarakan lusa.
“Nggak, Bang ... kan, dia mah kalau pagi-pagi sibuk kerja di kebun sawit kasihan kalau harus nganterin, aku udah pesan taxi online kok, buat ke bandara!”
“Salam buat Abah sama Ambu, Vi! Bawa ini oleh-olehnya dari Teteh!” kata Lia sambil memberikan sebuah paper bag.
“Terima kasih, Teh!” Usfi menerima bingkisan itu dan segera pergi setelah mobil jemputannya datang, hari masih sedikit gelap sebab waktu subuh baru saja lewat. Usfi tidak ingin terlambat.
Sesampainya di Bandara Pontianak, Usfi turun dari mobil yang disewanya setelah membayar, dia bersyukur karena masih ada waktu sebelum berangkat. Artinya dia tidak terlambat.
Dia merapatkan jaket saat berjalan untuk check in, sedangkan suara seorang wanita dalam bandara mengumumkan keberangkatan maskapai penerbangannya.
__ADS_1
Sementara di luar, walaupun matahari mulai merambat naik, tapi suhu udara belum sehangat sinarnya.
Usfi memilih untuk memejamkan mata, setelah memasang headset bluetooth di telinga, untuk mendengarkan murottal bacaan Al Qur’an. Dia memanfaatkan waktu dua jam lebih penerbangannya untuk, mendapatkan pahala yang sama dengan membacanya secara langsung.
Kebetulan Usfi mendapatkan nomor kursi di dekat jendela, dia membuka mata saat dia merasakan pergerakan yang menandakan bila ada orang lain yang akan duduk di sebelah.
Betapa terkejutnya dia saat melihat seorang pria yang juga tengah menatap ke arahnya.
“Bang Gani ...?” Lirihnya.
“Kamu Oon, kan?” kata Gani, yang dengan cepat menguasai rasa terkejutnya, sambil duduk, setelah menempatkan Azzam terlebih dahulu di antara mereka. Pria itu tampak begitu sabar dan telaten mengurus anak kecil yang tampak masih mengantuk.
Dia membatalkan penerbangan terakhir sore itu, karena tidak mungkin menyiapkan semua keperluan Azzam yang harus dibawanya, dalam waktu beberapa jam.
Jadi, keputusan menunda keberangkatan adalah alasan takdir untuk mempertemukan mereka kembali.
“Bang, janganlah panggil aku begitu mulai sekarang, kita bukan anak kecil lagi!” kata Usfi dengan cemberut.
“Hmm ....” gumam Gani pelan, sambil memasang sabuk pengaman pesawat, pada anaknya dan juga pada dirinya sendiri.
Usfi heran dengan jawaban Gani yang terkesan cuek. Tidak biasanya teman masa kecilnya itu begitu, selama pergaulan mereka, Gani selalu banyak bicara, ramah dan pandai melucu. Namun yang dilihatnya kali ini adalah, wajah datar yang bahkan terkesan tidak peduli.
Banyak sekali pertanyaan yang ada di kepala gadis itu, apalagi melihat anak kecil yang berada di sampingnya. Dia adalah anak yang sama yang dia lihat kemarin, saat menghadiri undangan seminar di sebuah hotel.
__ADS_1
❤️❤️❤️🙏👍❤️❤️❤️