
Bikin Anak
Nara membawa Asma sedikit menjauh dari ruangan itu, dengan maksud agar pembicaraannya tidak di dengar oleh orang lain yang tidak berkepentingan.
“Apa maksudmu, Asma? Kenapa meminta hak asuh Azam? Kan, sudah jatuh ke tangan Gani sesuai keputusan pengadilan? Apa kamu siap kalau ada konsekuensinya, nanti?” kata Nara penuh penekanan.
“Makanya, Kak! Aku mohon sama dia, biar mau bikin surat pernyataan di atas materai untuk menyerahkan kembali hak asuh Azam padaku! Lebih baik aku mengasuh anakku sendiri dari pada aku nggak bisa punya anak lagi!”
“Asma, masih banyak cara untuk sembuh, dan masih ada jalan lain untuk punya anak kita sendiri, kenapa kamu jadi putus asa begini, sih?”
“Kak! Kehadiran Azam sebagai penyemangat hidupku dan, aku akan tetap berusaha untuk sembuh. Kalau saja nanti aku bisa punya anak lagi, toh, nggak ada salahnya dia punya Kakak nanti?”
“Tapi, aku nggak suka kalau laki-laki itu sering datang ke sini, hanya karena alasan mau menengok anaknya dan ketemu sama kamu lagi!”
“Tidak, itu tidak akan terjadi, dia sudah punya istri lagi!” kata Asma sambil menunjuk Usfi dengan dagunya. Nara mengarahkan pandangan pada wanita yang sama sekali tidak terlihat olehnya tadi, karena dia fokus pada Asma yang tengah berlutut sambil menangis.
“Dia?” tanya Nara tidak percaya, dia meremehkan wanita pilihan Gani, sebagai pengganti Asma.
Di matanya, Asma jauh lebih cantik, membuat hatinya tenang karena Gani tidak mengalahkannya, dia yakin pasti istrinya yang tak mungkin cemburu dengan gadis yang terlihat sederhana itu. Namun, dia kesal saat memikirkan penyakit istrinya yang, membuat mereka tidak bisa memiliki anak. Sebenarnya tidak masalah bagi Nara tapi, melakukan operasi pengangkatan kista, sungguh membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
“Ya! Dia istri baru Bang Gani, dan mereka sekarang tinggal di Kalimantan, mereka pulang setahun sekali. Jadi, dia nggak akan bisa sering-sering ke sini!” Asma berkata penuh semangat, hingga Nara akhirnya mengangguk dan menyetujui keinginan istrinya.
Sepasang suami istri itu mendekat kembali ke ruang tamu dan duduk di kursinya masing-masing.
“Jadi, Gan, aku sudah sepakat kalau mau mengambil hak asuh Azam demi Asma, aku janji akan membiayai sekolah dan kebutuhannya!” kata Nara setelah duduk di samping Asma, dia mengedarkan pandangan pada semuanya termasuk Usfi.
Seketika, jantungnya seakan berhenti berdetak, dia melihat Usfi mirip dengan seorang wanita yang di kenal. Dia pernah melihat wajahnya pada sebuah foto, saat rapat di kantor perusahaan tempatnya bekerja, beberapa bulan lalu.
Salah satu produk baru perusahaan, berupa bahan penyubur tanaman yang ramah lingkungan, meningkat penjualannya berkat keraja sama saling menguntungkan, dengan sekolah yang dipimpin wanita itu.
Manager pemasaran telah menggunakan sekolahnya sebagai sampel produk mereka, tanaman sayur yang di budidayakan oleh anak-anak, sangat cocok dan nyata sekali manfaat serta perkembangannya. Dengan kata lain, Usfi bukan wanita sembarangan yang bisa dia remehkan begitu saja. Apalagi, saat manager menjelaskan bagaimana latar belakang dan, sepak terjangnya dalam mendirikan sekolah hingga saat ini, menunjukkan ketangguhannya.
Namun, Nara tidak perlu menyatakan semuanya pada semua orang, toh tidak ada yang tahu soal kerja sama itu, sebab perjanjian antara sekolah Usfi dan perusahaan tempat Nara dan Asma bernaung, pun tidak secara langsung datang berkunjung, melainkan hanya mengirimkan seorang utusan saja. Jadi, Nara yakin kalau Usfi tidak mengenal dirinya.
Sementara itu, Gani melihat pada Azam dan Asma serta Nara secara bergantian.
“Silakan kalau memang itu kemauan kalian, tapi, kita lihat saja bagaimana Azam, dia mau apa nggak tinggal di sini dengan ibunya!” katanya, tenang.
Gani kemudian mengajak Azam turun dari pangkuan Usfi dan memintanya untuk memilih antara dirinya dan Asma.
“Azam mau ikut Ayah!” kata Azam dengan mantap, dia tidak menoleh sedikitpun pada Asma, membuat wanita itu menangis keras dalam pelukan Nara.
Setelah beberapa saat menangis, dia menghapus sisa air mata sampai bersih dan berlutut di samping anaknya, hingga tinggi badan mereka sejajar.
__ADS_1
“Azam, ini Ibu, Nak! Ibu yang sudah melahirkan kamu dan menyusui kamu sampai besar, ikut ibu sekarang ya, nanti Ibu akan memberimu mainan dan juga makanan, kamu mau jalan-jalan ke mana saja bisa, kita punya mobil sekarang!” kata Asma sambil memeluk dan mengusap lembut kepala anaknya.
Azam melihat Asma sekilas dengan tatapan polos khas anak-anak yang tidak mengerti ucapan ibunya.
“Nggak mau .... Umma sama Ayah juga punya mobil!” kata Azam seolah bangga, anak umur lima tahun itu berjalan mendekati Gani dan bersandar. Baginya suasana di sekitar menjadi aneh, karena beberapa orang yang tidak dikenalnya. Sudah satu tahun lebih tidak bertemu dengan keluarga itu, membuatnya seolah asing berada di rumah yang dulu pernah dia tinggali.
“Azam! Aku ini ibumu, Nak! Ibumu! Apa kamu lupa?” kata Asma sedikit keras sambil memegang tangan anaknya. Biar bagaimanapun juga, Azam adalah anak yang sudah dia lahirkan dengan susah payah dan anak itu lebih berhak atas ibu kandungnya.
Namun, Asma tidak tahu kalau ingatan anak-anak seusia Azam sangat buruk pada orang dewasa dan sikap wanita itu, justru membuatnya menangis karena ketakutan pada ibunya sendiri. Dia pikir Asma akan berbuat jahat padanya, begitulah perasaan anak-anak yang tidak berdaya, mereka akan menangis setiap kali tidak nyaman pada sesuatu disekitarnya.
Sementara Usfi masih tidak tahu harus bagaimana, tapi, melihat Azam menangis, membuat jiwa keibuannya terusik dan meminta Asma untuk tidak memaksakan kehendak. Namun, saran itu justru membuat wanita yang telah melahirkan Azzam itu pun meradang.
Dia berdiri, melihat Usfi dengan tatapan tajam dan berkata, “Siapa kamu berani ikut campur urusan orang di sini? Kamu, jangan mentang-mentang jadi istri Bang Gani ya, terus melarang aku untuk membujuk anakku sendiri!”
“Bukan begitu maksud saya Teh, menurut saya, Azzam enak kok, orangnya asal kita bicara baik-baik ... kasih pengertian dia lebih dulu! Baru memberikan pilihan padanya, anak-anak sama kok dengan orang dewasa, mana ada manusia yang mau dipaksa-paksa, semua hal yang awalnya nggak ikhlas atau terpaksa, itu nggak enak!”
“Kamu ini, sok kenal saja sama Azam, memangnya kamu ibunya? Nikah sama Bang Gani saja baru kemarin sore sudah sombong!”
“Maasya Allah ... Sebenarnya hubungannya apa sih sama pernikahan dan nggak ada kesombongan sama sekali, salahnya aku di mana, sih?”
Ketegangan antara Asma dan Usfi, membuat Gani memberi saran pada istrinya untuk tutup mulut, dia kemudian mengangkat Azzam dalam pangkuannya. Mengusap punggung anaknya itu dengan lembut dan tersenyum, menatap matanya penuh kasih sayang. Dia tahu kalau menatap seorang anak sebaiknya dengan tatapan penuh Rahmah, bukannya penuh laknat.
“Azam, lihat itu Ibumu, kamu ingat nggak dulu sering banget digendong dan mimik susu juga sama ibu?” katanya, Azam pun melihat pada Asma tanpa ekspresi.
Azam masih diam.
“Azam mau nggak jalan-jalan ke pantai sama ke kolam renang setiap hari? Nah, kalo di sini, dekat pantai dan kolam renang, pasti Azam akan sering diajak sama Ibuk ke sana, mau?”
Kini Azam mengangguk sambil kembali menatap Asma, wajahnya mulai berbinar.
“Ayah, mau pergi jauh ke Pontianak lagi ... bukannya Ayah nggak sayang, tapi, Ayah sekarang sibuk dan nggak bisa sering-sering ngajak kamu ke Hotel! Nanti, kalau Ayah pulang, pasti Ayah datang ke sini. Atau ... Kalau Azam sudah besar, bisa datang sendiri dan kita bisa nginep di hotel lagi, oke?”
Kali ini Azam melihat Ayahnya dengan tatapan yang rumit, lalu melihat Usfi juga.
“Tapi, Azam mau ikut Ayah, nanti Ibunya galak!” katanya lagi.
“Nggak ... nggak ada ibu yang galak!”
Semua diam dan tiba-tiba suasana menjadi hening.
Asma beranjak ke kamarnya dan mengambil mainan anak-anak yang rupanya sudah dia siapkan sebelumnya. Dia memberikan mainan itu, pada anaknya yang disambut riang oleh anak laki-laki itu. Azam langsung turun dari pangkuan Gani.
“Nah, kalau Azam suka mainan seperti ini, nanti pasti Ibuk kasih yang banyak buat Azam!” katanya dengan tersenyum cukup puas.
__ADS_1
“Nah, sekarang kan, dia mau ... asalkan penuh kelembutan dan pengertian, dia jadi mudah di bujuk, tidak dengan paksaan,” kata Usfi dan Asma tidak menanggapi.
“Ya! Sudah, kalau begitu, aku sebaiknya cepat pergi, sebelum Azam berubah keinginan lagi, kalau masalah surat pernyataan, nanti aku buat kalau sudah ada di sana dan aku kirim lewat pos saja!” Kata Gani sambil berdiri.
“Baik, Bang! Kalo soal itu terserah Abang saja, lebih cepat lebih baik!”
Gani berpamitan sambil berpesan agar Asma tidak berbicara hal yang buruk, tentang hubungan mereka selama ini, anak-anak tidak berhak tahu masalah yang menimpa kedua orang tuanya, kecuali ketika mereka sudah dewasa kelak. Diusia dewasa, mereka bisa menentukan mana yang baik dan benar dan siapa yang salah diantara kedua orang tuanya.
Walaupun, dalam perceraian selalu ada kebenaran dan kesalahan yang terjadi tapi, tetap saja mereka tidak harus menceritakan masalahnya pada anak yang belum cukup umur. Pada dasarnya setiap anak hanya perlu mendapat sebuah kisah yang, bermanfaat bagi kehidupan masa depannya nanti.
Setelah berpamitan dan mengucapkan salam, Gani dan Usfi keluar secara beriringan, tanpa menoleh pada Azam, karena khawatir jika anak itu melihat ayah dan ummanya pergi, dia justru akan menangis dan acara perpisahan akan semakin menyedihkan.
Usfi langsung membuka pintu mobil secara otomatis dan duduk di belakang kemudi, mengingat kunci masih ada di tangannya. Gani tidak melarang tindakan istrinya yang berinisiatif untuk menjadi sopir, karena dia masih ingin menenangkan diri dan mendinginkan hati. Dia tidak menyangka jika kedatangannya berkunjung menjadi ajang perpisahan dengan anaknya.
“Kenpa, Bang? Sedih?” tanya Usfi sambil mengarahkan kendaraan ke jalanan.
“Hmm ....” sahut Gani dengan bergumam, sambil bersandar dan kedua matanya terpejam.
“Kita cari hotel ya, Bang! Besok kita pulangnya, apalagi sekarang sudah Ashar!”
“Hmm ....”
Usfi menoleh sebentar lalu, kembali fokus ke jalanan untuk mencari lokasi hotel yang sudah dia pesan, melalui smartphonenya.
“Abang mau hiburan, biar nggak sedih?” katanya lagi, mengajak suaminya bicara agar tidak sepi.
“Hmm ....”
“Bang!”
“Hmm ....”
“Yuk! Bikin anak lagi!”
“Hmm .... apa?” Gani berkata sambil membuka mata dan menoleh.
Usfi tertawa kecil sambil membelokkan mobilnya ke arah hotel sesuai lokasi tujuannya.
Sementara itu, Asma baru saja tersadar akan sesuatu saat melihat kepergian mantan suaminya itu. Dia belum mendengar Gani memaafkannya atau tidak, saat dia meminta maaf secara langsung tadi. Setelah mobil Gani tidak terlihat lagi, dia melangkah ke kamarnya dan menangis cukup lama di sana.
Sementara Azam sibuk dengan mainan baru bersama Lilis dan Adit yang mengajak anak itu ke dekat kolam ikan lele di samping rumah mereka.
Nara menyusul Asma yang menangis cukup keras di kamar, lalu, duduk di sebelahnya.
__ADS_1
❤️❤️❤️🙏👍❤️❤️❤️