Cinta Butuh Utang

Cinta Butuh Utang
Ibu Pengganti


__ADS_3

Ibu Pengganti Bagi Anakku


Imma hanya membela Usfi sekedarnya saja, karena tidak ingin ada pertikaian antar tetangga, bahkan dia lebih banyak diam saat mendengar para tetangga bergosip membicarakan nasib anaknya.


“Apa salahnya mengganti posisi Meisya toh Usfi itu istri Anwar juga, apalagi selama ini hubungan mereka baik-baik saja!” kata Ima saat membela anak perempuannya, “kalau memang Usfi berniat buruk atau menguasai harta Anwar, kenapa nggak dari dulu dia lakukan, Usfi menikah bukan karena hartanya, tapi karena permintaan Maisha sendiri juga!”


Setelah berkata seperti itu, Ima pergi begitu saja, meninggalkan rasa penasaran di hati ibu-ibu yang bergosip membicarakan anaknya.


Dia masuk rumah dengan cemberut, sambil membawa belanjaan dan, disaat yang bersamaan, Usfi keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi.


“Mau ke mana kamu, Fi?”


“Ke rumah Mas Anwar, Bu!”


“Ada apa di sana?”


“Katanya Fadil sakit, dia minta jeruk yang sering aku beli buat dia.” Usfi berkata sambil berjalan keluar sambil membawa kunci mobilnya.


“Siapa yang ngasih tahu kamu?” Ima bertanya setelah Usfi sampai di pintu.


“Tadi, Fadil sendiri yang telepon aku!”


Ima hanya menarik napas dalam-dalam setelah kepergian anaknya, sedangkan Usfi dengan tenang melajukan mobil menuju rumah suaminya.


Usfi membeli buah jeruk di tempat langganannya yang biasa, dan setelah selesai dia kembali bertemu dengan Gani di tempat yang sama itu. Keduanya hanya saling melemparkan pandangan untuk sekilas tanpa bicara sepatah kata pun. Tidak ada yang berinisiatif untuk memulai pembicaraan atau sekedar mengucapkan salam.


Gani tahu apa yang terjadi pada Usfi yang begitu sibuk di rumah Anwar saat kematian Maisha, tapi, justru di sudutkan dengan berbagai tuduhan. Dia ingin membela gadis yang pernah menjadi terkasih di hatinya itu. Namun, tidak tahu kapasitasnya sebagai apa, dalam melakukan pembelaan, hingga niatnya dia urungkan.


Melihat gadis itu pergi dengan mobilnya, membuat Gani tersadar, hubungan mereka akan lebih jauh sebab Usfi akan jadi Nyonya Anwar yang sesungguhnya mulai dari sekarang.


Selama beberapa hari ini, pos sayuran dikendalikan oleh Joko, sebab Usfi maupun Anwar tidak ada yang menampakkan diri. Semua memaklumi keadaan duka yang, menimpa keluarga itu, sedangkan sayuran dan pesanan tidak bisa menunggu.


Sesampainyae di rumah Anwar, lagi-lagi pria itu tidak ada, Noura yang mengatakan kalau ayahnya itu kembali ke pos yang di kota. Usfi tidak mau memikirkan pria yang dianggap tidak menghargainya itu, hingga dia begitu tenang saat mendengar kabar dari Noura.


Hampir setiap malam, Anwar membuat Usfi menangis karena sedih dan kecewa, setiap malam bila panggilan teleponnya diabaikan.

__ADS_1


“Ini jeruknya, Fad!” kata Usfi setelah sampai di kamar Fadli.


Anak anak laki-laki yang baru kelas dua SMP itu, bangkit secara perlahan dari tempat tidur dan menerima jeruk pemberian Usfi. Dia langsung menikmatinya saat itu juga sambil tersenyum dan setelah mengucapkan terima kasih.


Selama ini, Fadil cukup dekat dengan Usfi, sebab istri kedua ayahnya itu sering mengantar atau mengajaknya jalan-jalan dengan mobilnya, saat mereka bertemu di jam berangkat atau pulang sekolah.


“Kamu sudah makan dan minum obat?” tanya Usfi menunjukkan perhatian dan, anak remaja itu pun mengangguk.


Walaupun dalam keadaan sakit, Usfi tidak merasa perlu mengkhawatirkan anak-anak suaminya sebab sudah ada saudara Maisha dan juga para asisten rumah tangga yang, siap sedia melakukan perintah majikannya. Sudah cukup banyak orang yang mengurus rumah itu, termasuk mengurus si kecil Imad yang baru kelas lima SD.


Namun, Fadil berbeda, dia menahan Usfi saat gadis itu berniat untuk pergi. Untuk apa bertahan di sana kalau hanya satu anak itu saja yang mempertahankan dirinya, pikir Usfi.


“Tante pulang, ya, Fad! Kamu baik-baik di rumah, banyak istirahat dan jangan lupa minum obat, biar cepat sehat terus sekolah lagi. Kamu harus jadi kebanggaan Mama, dan jadi anak yang sukses dunia akhirat, buat Mama tersenyum dan mengalir pahalanya.”


“Tante nggak betah ya di sini?” tanya Fadli.


“Bukannya nggak betah, Tante nggak mau orang berpikir buruk kalau melihat Tante sering di sini!”


“Tante nyindir aku?” tanya Noura tiba-tiba muncul di pintu kamar Fadil.


Melihat dua anak yang kini tidak mempunyai Ibu, membuat hati Usfi tersentuh. Dia menggeleng.


“Ya sudah, pulang sana, siapa juga yang nyuruh ke sini?” kata Noura ketus.


“Aku yang minta Tante bawain jeruk! Jangan menuduh Tante sembarangan lagi, Kak! Nggak mungkin Tante berbuat jahat sama Mamah!” sahut Fadil.


Mendengar ucapan adik laki-lakinya itu, Noura hanya terdiam.


Usfi tidak mau memperpanjang masalah, hingga dia segera pergi dan berjanji pada Fadil untuk, kembali lagi ke rumah keesokan harinya.


Sejak hari itu Usfi sering bolak-balik ke rumah Anwar, untuk menengok anak-anak sambungnya, terutama Fadil dan Imad, dia tidak memedulikan gunjingan orang, asalkan dia tidak seperti yang orang lain katakan.


Namun, jarang sekali dia bertemu dengan suaminya kecuali, kalau secara kebetulan bertemu di hari Sabtu dan Minggu saja, mereka bisa menghabiskan waktu, itu pun bersama anak-anak.


Usfi sudah mulai bekerja kembali ke pos sayurannya, begitu pula Anwar yang tetap bekerja di kota, banyak sekali alasan yang dikatakannya untuk tetap bisa ke sana. Walaupun, Usfi sudah melarang, dia tetap mengabaikan istrinya.

__ADS_1


Saat melihat Usfi ada di rumah, dia tidak mempermasalahkannya, dia justru merasa beruntung sebab tidak harus pergi ke rumah orang tua Usfi setiap kali dirinya membutuhkan kehangatan.


Seperti saat itu, setelah Anwar menyelesaikan hajat, di salah satu kamar tamu, Usfi memintanya untuk tetap di rumah sampai satu pekan penuh.


“Kenapa lama sekali?” tanya Anwar sambil memakai kembali pakaiannya, sedangkan Usfi masih berbaring dengan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


“Kenapa tidak? Mbak Mai sudah nggak ada, harusnya kamu yang jadi ibu pengganti bagi mereka! Mas, harus bisa berperan ganda, menjadi ayah sekaligus ibu yang menemani mereka di rumah.”


“Kenapa bukan kamu saja yang jadi ibu pengganti untuk anakku, Fi? Kamu, kan istriku juga!”


“Aku nggak mau langsung datang ke sini, tanpa izin dulu dari Abah dan Ambuk, seperti Mas dulu minta izin untuk tinggal terpisah dari mereka!”


“Harus begitu, ya, resmi amat, sih?”


“Lagian, ya Mas, aku nggak mau di bilang selonongan Asala masuk ke rumah ini, aku nggak mau dituduh lagi dengan tuduhan menyerobot milik Mbak Mai! Mas lihat sendiri, kan, gimana sikap Noura?”


“Dia Cuma anak-anak, nggak usah diambil hati!”


“Hati memang nggak bisa diambil sembarangan, Mas, tapi hati bisa mati, sakit dan terluka, bahkan lukanya hati lebih sakit dari pada luka fisik!”


“Kamu ini, pinter banget ngomongnya!”


“Mas Anwar juga pinter alasannya pergi kerja, pokoknya aku nggak mau kalau Mas ternyata ada main sama wanita itu, di belakangku!”


“Kamu ini aneh, Fi! Kamu kan, pernah hidup dipoligami, selama tiga tahun itu tidak sebentar, tapi kamu masih nggak mau dipoligami?”


“Aku nggak mau, Mas! Aku bukan Mbak Mai, aku sudah tiga tahun ini hidup jadi madu, dan aku nggak mau punya madu! Titik! Nggak semua orang bisa disamakan dan aku nggak sekuat dia, Mas!”


"Kamu juga pasti bisa belajar seperti dia!"


"Mas, ujian itu ada porsinya sendiri-sendiri, orang seperti Mbak Mai, mungkin bisa lulus menjalaninya, tapi aku lebih baik pisah dari pada kamu mendua! Terus terang aku nggak kuat lihat kamu sama perempuan waktu itu! Mana mungkin aku menjalankan ibadah tanpa keihklasan, percuma!"


Setelah itu, Usfi memunggungi Anwar dan menutup kepalanya dengan selimut rapat-rapat. Dia tampak kesal, membuat Anwar mengerti, kenapa Usfi tidak pernah mau masuk ke kamar Maisha walaupun, istri pertamanya itu sudah tiada.


Tiba-tiba suara telepon seluler milik Anwar berbunyi, Usfi sempat melirik saat suaminya menerima panggilan sambil melangkah pergi keluar kamar.

__ADS_1


“Halo!” kata Anwar sambil menutup pintu.


❤️❤️❤️👍🙏❤️❤️❤️


__ADS_2