
Godaan Gani
Malam harinya, Usfi kembali menikmati kesendirian di kamarnya, sementara Gani kembali bekerja sejak tadi sore. Dia merasa bosan, hingga mendengar sebuah suara seperti orang yang sedang berbicara di depan pintu. Dia melihat dari lubang kaca yang terdapat pada daun pintu dan melihat Gani berdiri di sana sedang berbicara melalui telepon.
Usfi baru saja hendak membuka pintunya, ketika tiba-tiba Gani berbalik dan membatalkan niatnya untuk kembali ke kamar yang disewanya lalu, pergi dengan terburu-buru.
Melihat tingkah suaminya itu, Usfi menjadi curiga, hingga langsung mengambil gamis yang tadi sempat digantungkan. Dia segera memakai gamisnya kembali tanpa melepas lingerie yang sudah melekat di tubuhnya. Setelah berpakaian lengkap dia pun mengikuti langkah suaminya secara diam-diam.
Sampai akhirnya dia tiba di dapur restoran dia ikut berdiri di belakang kerumunan dan, melihat seorang wanita sedang menangis karena tangannya tersiram air panas secara tidak sengaja. Dia salah satu pelayan yang siang tadi, selalu mondar-mandir di sekitar meja makan siang Usfi, dengan kata lain, pelayan itu senantiasa berada di dekatnya. Tidak ada rasa curiga sedikitpun padanya karena dia pikir, pelayan itu memang sedang bekerja.
Namun, Usfi heran, melihat kejadian saat ini di depannya, di mana pelayan yang tangannya terluka itu, langsung memeluk Gani yang berlutut di dekatnya. Dia merangkul atasannya sambil menangis di dadanya, dengan suara yang memilukan.
“Apa-apaan itu?” pikir Usfi, dengan hati yang mulai membara.
“Kenapa bisa begini, sih?” tanya Gani.
__ADS_1
“Tadi nggak sengaja gelas kopinya tumpah, Pak!” kata seorang temannya.
“Mana saja yang kena air panas?” tanya Gani lagi.
“Ini, Pak!” Kata wanita pelayan itu.
“Oh, cuma tangan saja, kan?” tanya Gani dan wanita itu mengangguk.
Alih-alih mencegah atau melarang sikap wanita itu, Usfi memilih diam dan membiarkannya. Dia ingin melihat sejauh mana suaminya bersikap dalam keadaan yang sebenarnya termasuk godaan baginya. Usfi bersabar sebetas yang dia bisa, hingga bila keadaan memaksa maka, dia tidak akan segan menghadapi perempuan yang mencoba mengambil kesempatan dalam kesempitan dengan suaminya.
“Iya, Pak!” sahut pelayan lainnya.
Gani dengan lembut melepaskan pelukan Irena, nama pelayan itu, lalu meminta beberapa teman wanitanya sesama pelayan untuk, membawanya ke ruang kesehatan yang memang di sediakan untuk bagi karyawan ataupun pengunjung hotel. Walaupun, tidak ada dokter ataupun perawat yang berjaga di tempat itu, tetapi setidak-tidaknya di sana ada peralatan lengkap dan juga obat-obatan yang, bisa dipakai sebagai pertolongan pertama pada kecelakaan ataupun keadaan darurat lainnya.
Gani mengikuti dan melihat apa yang dilakukan mereka, guna memastikan Irena mendapat pengobatan dan agar semuanya tetap baik-baik saja. Luka akibat tersiram air panas itu tidak seberapa, bahkan menurut Usfi, luka itu hanyalah alasan saja.
__ADS_1
Diam-diam hatinya cemburu pikirannya tentang banyak wanita yang tertarik pada suaminya, pun membenarkan dengan adanya kejadian malam ini. Namun, dia bisa menarik kesimpulan, jika untuk sementara suaminya masih aman, karena bisa menolak dan menghindari godaan dengan baik, tapi, tidak ada yang bisa menjamin dengan waktu-waktu selanjutnya, sebab selama manusia masih hidup maka, cobaan akan selalu ada.
Usfi berjalan kembali ke kamarnya dan melepas gamis serta jilbabnya. Lalu, dia duduk di sisi tempat tidur sambil berpikir jika dia memang harus dekat suami demi rumah tangganya. Bukan karena takut direbut perempuan lain, tapi lebih dari sekedar menjaga harga diri suami dan dirinya sendiri sebagai istri di hadapan Allah.
Dia yakin, Gani tidak akan berbuat seperti Anwar yang bertingkah semaunya pada wanita sebab pernah merasakan sakitnya dikjiananti oleh istrinya, maka, dia tidak akan melakukan hal yang sama.
Saat Gani masuk ke kamar, Usfi segera menghambur dalam pelukannya .
“Jangan mau lagi dipeluk-peluk sama perempuan lain, nggak boleh, ya! Dia itu bukan hakmu, Bang! Cuman aku yang berhak meluk kayak gini!” kata Usfi.
“Kamu ini ngomong apa, Hmm ....” sahut Gani sambil menghirup aroma wangi yang menguat dari tubuh sang istri dalam pelukannya.
“Bang, besok kita pulang, ya?”
“Pulang ke mana?”
__ADS_1
❤️❤️❤️👍🙏❤️❤️❤️