
Pagi Pertama
Keesokan harinya, di rumah keluarga Soleh semua orang melakukan aktivitas seperti biasanya, seperti sholat subuh berjamaah dan juga sarapan bersama. Namun, suasana sarapan pagi itu terlihat lebih ramai, karena ada tambahan anggota keluarga baru seperti gGaniani dan anaknya juga Furqon dan istrinya.
Setelah serangkaian acara Kenduri dan ramah tamah antara dua keluarga selesai, tadi malam, Gani memilih tinggal di rumah mertua, untuk pertama kali dan lebih mengakrabkan diri, sebelum kembali ke Kalimantan beberapa hari lagi.
Gani dan Azzam tidur dalam satu kamar di tempat tidur Usfi malam itu, karena memang mereka tidak mungkin tertidur secara terpisah.
Setelah sarapan, Usfi memilih membuka kado di kamarnya dengan Azam dan ayahnya. Dia punya hati dan tutur kata yang lembut, hingga mudah akrab dengan anak balita yang sangat manis itu.
“Untung dia mirip banget sama kamu, Bang!” kata Usfi, sambil menunjuk Azam dengan dagu, sedangkan tangannya masih sibuk membuka satu kotak kado yang cukup besar.
Gani yang ikut membuka kado, seketika menatap Usfi dengan nanar.
“Apa maksudmu, dia anakku ya pasti mirip aku, lah!”
Usfi tertawa kecil, “Iya, iya, mirip bapaknya yang bikin, masa mau mirip kemoceng!”
Tiba-tiba Gani menjadi gemas dengan candaan Usfi, semalam saja mereka langsung tidur karena kelelahan, apalagi di antara mereka ada Azam, hingga tidak mungkin bagi mereka untuk bermesraan. Apalagi dengan tempat tidur yang tidak terlalu besar.
Laki-laki itu hanya memeluk Usfi sebentar karena menjaga diri agar tidak tergoda, mengingat istrinya sedang menstruasi, tidak bisa di sentuh sebelum benar-benar bersih dari darah kotor.
“Hihi, kenapa Bang? Mau marah?” kata Usfi saat melihat Gani menatapnya tajam, “Jangan dekat-dekat, ingat! Kata Allah dalam Al-Qur’an, dan jauhilah istrimu dikala mereka sedang haid!”
“Kalau masih haid, memang nggak boleh di sentuh, tapi nggak ada yang larang untuk mencium!”
“Ih, bisa aja bikin alasan, kalau deket-deket saja nggak boleh ... Apalagi cium, juga nggak boleh ....”
“Memangnya siapa yang larang cium istrinya?”
“Aku, sebelum ganti namaku di hape Abang!”
Gani kembali diam dan melotot karena sadar dia belum mengganti nama istrinya di ponsel itu.
“Memangnya siapa namamu di hp-ku?”
“Aku tahu, tadi subuh, alarm hp Abang bunyi, aku matiin, terus aku lihat, dinamai apa! Keterlaluan kamu ini Bang!”
Usfi berdiri, terlihat kesal dan melempar isi kado yang berupa handuk itu ke atas tempat tidur. Gani pun melakukan hal yang sama, dia berdiri juga, lalu menarik Usfi dalam pelukannya.
“Cium dulu baru ganti nama!”
“Ab—“ Usfi belum melanjutkan ucapannya saat Gani memeluknya lebih erat dan mengulum bibir wanita itu penuh kelembutan.
__ADS_1
“Kamu mau dikasih nama apa?” Gani bertanya setelah melepaskan pagutan bibirnya.
Usfi masih diam dan perlahan membuka mata sebab sejak Gani mencium, dia terpejam dan menikmati perlakuan suaminya.
“Apa saja,” jawabnya pasrah.
Gani melepaskan pelukan dan segera mengeluarkan ponsel dari saku bajunya, kemudian merubah nama Usfi di smartphone itu menjadi Al jauziyah atau istri, dalam bahasa Arab. Setelah selesai, dia mengantongi ponselnya kembali dan, melanjutkan acara buka kado sampai selesai.
“Apa kamu mau bawa semua kado ini pulang nanti?” tanya Gani.
“Nggaklah, Bang. Kan, kita nggak bawa kendaraan ke sana!”
“Bawa mobil ke sana naik kapal laut, butuh dua hari perjalanannya.”
“Aku nggak mau ahk, kelamaan di laut buat apa? Mending kalo mancing dapet Putri duyung, aku bawa dia pulang buat bersihin rumah!”
“Astagfirullah ...” Gani menggelengkan kepala mendengar candaan Usfi yang entah apa lagi nanti, “Gimana mau bersihin rumah kalau dia nggak punya kaki?”
“Ya, kan digendong sama Abang! Hihi!” Usfi tertawa kecil saat mengatakannya.
“Astagfirullah!” Gani beristigfar beberapa kali.
“Kenapa Abang istigfar? Baguslah Abang sadar, banyak dosa karena bercanda terus sama istrinya!”
“Oh, aku bercanda biar Abang nggak stres, soalnya nggak ada malam pertama!”
“Malam pertama apa, Fi?”
“Yaa ... malam pertama pengantin baru!”
“Oh, kita selalu merasakan malam sampai seumur ini, masih bilang malam pertama, kita sudah sama-sama pernah merasakannya!”
“Ya, sudah, ganti istilah saja bukan malam pertaman tapi, pagi pertama! Atau siang pertama dan sore pertama!”
“Ya ... terserah kamu dah!”
Candaan kedua manusia itu berhenti saat terdengar suara salam dari depan rumah. Mereka langsung keluar untuk melihat siapa yang datang, Azam mengikuti di belakang ayahnya.
“Kamu, kan ....” kata Usfi setelah menjawab salam tamunya.
“Kamu Mbak Usfi, kan?” Dia Marini, yang datang sambil membawa sebuah bingkisan, lalu menyerahkannya pada Usfi.
“Ya!” Usfi menjawab sambil menerima bingkisan itu dengan ragu. Dia agak lupa dengan wanita itu, tapi dia ingat akan masa lalunya yang menyakitkan berhubungan dengannya.
__ADS_1
“Aku Marini, istri Mas Anwar!” kata Marini sambil mengulurkan tangannya dan bersalaman dengan Usfi yang mengangguk pelan.
“Ada apa lagi?” tanya Gani berbisik. Usfi hanya menoleh dan mengedipkan mata, tanpa menjawab pertanyaan suaminya.
“Silakan duduk, maaf ada perlu apa ya? Seingatku, kita nggak pernah berteman.” Usfi berkata sambil mendudukkan tubuhnya di sofa. Usfi sempat lupa, sebab Marini kini berbeda, dia berhijab rapi, lengkap dengan kaus kaki menutup seluruh auratnya.
Marini duduk sambil memangku anaknya dan tersenyum.
“Maaf, kalau kedatangan saya mengganggu pengantin baru!”
“Akh, kami mah, bukan pengantin baru, tapi pengantin lama!” kata Usfi berseloroh.
“Masa, sih? Saya dengar Mbak Usfi baru saja menikah kemarin!” Marini membela diri.
“Ya! Lama-lama makin cinta! Iya nggak, Bang?” kata Usfi sambil mengedipkan sebelah mata pada Gani yang masih saja berdiri. Namun, dia pergi setelah mendengar ucapan Usfi yang, semakin tidak serius padahal tamunya itu terlihat begitu serius.
“Oh, saya kira apa?” kata Marini sambil tersenyum karena tahu, Usfi hanya bercanda.
Setelah cukup berbasa-basi, Marini akhirnya mengatakan maksud dan tujuannya datang, untuk menanyakan tentang bagaimana anak-anak Maisha selama ini.
Dari semua yang dituturkan Marini, akhirnya Usfi tahu kalau masalah anak-anak akan segera teratasi. Mereka sekolah dan berangkat dari rumah, setelah sarapan pagi yang disiapkan Marini, Anwar juga pergi ke pos lama dan menyerahkan pos baru pada Joko, orang yang sudah lama menjadi kepercayaannya.
Anwar belum melepas pengawasan pos barunya, karena anak buahnya masih baru dan juga, dia belum sepenuhnya percaya pada mereka. Namun, setelah masalah anak-anak, dia mulai mengambil sikap untuk menangani pos lama agar bisa lebih dekat dengan mereka
Dari pengakuan Noura dan Usfi, akhirnya keluarga itu tahu kalau rumah yang ditempati anak-anak saat kabur, kini sudah menjadi milik Noura sepenuhnya, karena anak gadis itu sudah memiliki sertifikat resmi hak atas tanah yang diberikan Usfi padanya.
“Jadi, kalau masalah anak-anak, tergantung bagaimana kita melakukan pendekatan pada mereka,” kata Usfi, setelah menjelaskan kebiasaan dan kesukaan semua anak-anak Maisha selama berada dalam pengasuhannya.
“Kalau kita baik, maka mereka pun akan baik, dan sebaliknya ... Sebab semua sikap dan kata-kata akan berbalik pada pelakunya, walaupun tidak langsung. Oleh karena itu kita harus hati-hati dalam bersikap dan juga bicara. Sebelum kita menginginkan orang untuk bersikap positif, alangkah lebih baiknya kita berpikir positif terlebih dahulu, sebelum menuntut orang untuk berbuat baik alangkah baiknya kalau kita bersikap baik terlebih dahulu.”
Marini mengangguk dan tersenyum.
“Saya berpisah dari Mas Anwar bukan karena Mbak Marini, tapi, karena sikap Mas Anwar sendiri, saya mungkin masih bisa tahan kalau memang dia mau belajar lebih baik dalam membagi waktu, antara keluarga dan pekerjaan. Apalagi kepercayaan aneh yang bagi saya itu menyimpang.”
“Apa Mbak benar-benar nggak cemburu sama aku?”
“Jujur saya cemburu waktu itu, tapi, saya sadar memang menikah lagi adalah hak suami, saya saja yang tidak bisa sesabar Mbak Mai, ditambah persoalan lainnya. Saya harap sekarang kamu pun sudah merubah kepercayaan aneh itu seperti penampilanmu!”
“Iya, Mabk! Terima kasih atas nasihatnya, Mbak!” kata Marini dengan kerendahan hati.
“Itu bukan apa-apa, saya bukan manusia yang pantas memberi nasihat pada siapa pun, saya hanya sebatas memberi informasi yang saya tahu. Dan, saya berharap Mbak Marini adalah istri terakhir Mas Anwar, cukup saya dan Mbak Mai saja yang mengalaminya!”
❤️❤️❤️🙏👍❤️❤️❤️
__ADS_1