
Pulang Kembali Merantau
Keesokan harinya Usfi dan Gani bersiap-siap untuk pulang, dan berkemas karena, sore harinya mereka akan kembali ke Pontianak, tanpa Azam bersama mereka.
Sebenarnya masih ada perasaan berat bagi Gani untuk memulai hari tanpa buah hatinya lagi. Biar bagaimanapun juga, merubah kebiasaan selama lima tahun bersama anaknya itu tidak mudah. Dia hanya berharap Usfi bisa membantunya mendinginkan suasana hati akibat ketiadaan Azam di sisinya.
Saat mereka pulang kemarin hanya membawa sedikit barang, tapi, sekarang mereka harus membawa tas yang lain, karena barang-barang mereka bertambah banyak. Ada oleh-oleh dari kedua orang tua masing-masing untuk di bawa merantau, sebagai bentuk kasih sayang dan rasa syukur.
Mereka akan mengambil penerbangan terakhir hari itu, dan akan tiba di kediaman masing-masing setelah pagi harinya di Pulau Borneo. Ya, mereka memutuskan untuk menjalani kehidupan seperti biasanya untuk sementara waktu yang tidak bisa ditentukan, sesuai kesepakatan mereka tadi malam.
Usfi punya alasan jika dia tidak bisa langsung meninggalkan sekolah dan ikut bersama suaminya karena dia tidak mungkin lepas tanggung jawab begitu saja.
Sementara Gani pun tidak mungkin mengikuti Usfi karena pekerjaan juga sangat penting bagi seorang laki-laki.
Gani tidak bisa mengikuti kemauan Usfi dan sebaliknya. Apalagi tempat tinggal mereka, terpisahkan oleh jarak yang memerlukan waktu tempuh lebih dari tiga jam lamanya.
Usfi begitu sedih setiap kali berpisah dengan ibunya, apalagi hari itu, pesan yang disampaikan Ima, tidak jauh dengan pesan Ami pada mereka. Kakaknya, Furqon dan istrinya, Asih pun memberi pesan kebaikan yang kurang lebih sama, sebelum mereka bertolak ke Bandara.
Pada intinya semua nasihat itu baik, tinggal manusianya saja yang mau atau tidak menerima, sebab setiap insan memiliki sedikit ilmu saja yang Allah berikan. Ibarat air yang menempel di jari saat dicelupkan di lautan, itulah ilmu yang di miliki manusia. Walaupun dia seorang ahli dibidangnya sekali pun, tetaplah sedikit bagi Allah. Tidak ada orang yang menjadi ahli dalam segala hal. Oleh karena itu manusia tidak berhak untuk sombong pada manusia lainnya.
Sesampainya di Bandara Pontianak, mereka berpisah dan menaiki taxi onlinenya masing-masing. Meskipun begitu, selama di pesawat mereka sudah menghabiskan waktu dengan saling bertukar pandangan dan juga cerita serta pengalaman yang selama ini belum pernah mereka ceritakan. Dengan begitu, mereka semakin dekat dan mendalami karakter pasangan hingga terjalin keintiman, walaupun, akan tinggal terpisah.
“Kamu pulang sendiri, Fi? Mana Gani, tega amat dia nggak nganter kamu ke sini?” tanya Edi, yang melihat kedatangan Usfi. Dia sudah tahu pernikahan yang terjadi antara adiknya dan Gani, yang merupakan adik dari temannya Algizali.
__ADS_1
Baik Edi dan Algizali yang mendengar berita pernikahan kedua adik mereka itu, tidak bisa datang, karena kabar yang mereka terima begitu mendadak. Namun, mereka berniat mengadakan syukuran kecil-kecilan bersama saat dua adik mereka itu sudah kembali ke perantauan.
“Nggak apa, Kang! Aku yang menolak di antar, soalnya dia sudah ditelpon terus sama Andi, temannya itu. Kasian aku kalau harus ngantar ke sini!”
Usfi memulai percakapan setelah menyimpan semua barang bawaannya di dapur, lalu dia duduk di hadapan kakaknya di sofa ruang tengah rumah Edi.
“Jadi, kalian nggak berniat tinggal dalam satu rumah?”
“Nggak, eh, belum! Nggak tahu nanti gimana, Kang! Soalnya aku yang harus memutuskannya sendiri. Bang Gani nggak maksa aku, kok! Semua harus aku pikirin, cari pengganti untuk kepala sekolah itu nggak mudah, apalagi TPA ini cita-cita aku sejak dulu, rasanya berat banget ninggalinnya, Kang!”
“Hmm ....” Edi mengangguk-angguk, “kalau mau memutuskan hal berat kayak gitu, libatkan Allah dalam setiap renunganmu, coba tanya Teh Lia, dia dulu pernah punya pengalaman yang mirip denganmu, sebelum ikut Kakang di sini!”
“Oh, ya? Memang Teh Lia dulu kerja apa?”
“Dia kan punya toko sembako di kampung!”
Usfi menggelengkan kepalanya dan berkata, “Iya, Teh. Kang Edi lagi ngomongin istrinya!”
“Aku bilang kamu dulu pernah nggak ikut aku ke sini, kan?” kata Edi seraya mengambil camilan manis di piring yang di bawa istrinya.
“Oh itu, iya aku pernah nolak ikut ke sini, dulu kami cuman ketemu dua atau tiga bulan sekali. Kamu pasti tahu kan?” kata Lia pada Usfi dan, gadis itu mengangguk.
Lia kemudian bercerita jika dahulu, dia enggan ikut suaminya ke Kalimantan karena banyak faktor dan salah satunya adalah, enggan meninggalkan pekerjaan yang disukainya yaitu berdagang serta menghasilkan uang. Namun, perasaan tidak nyaman pun muncul, termasuk sya'wasangka yang terus ada. Hal ini terjadi mungkin karena dia berjauhan dengan suaminya.
Walaupun mereka sering melakukan panggilan video ataupun berkirim pesan, tapi rasa curiga kalau kalau suaminya tergoda wanita lain, itu tetap ada.
__ADS_1
Dia sadar jika perasaan seperti itu muncul karena berjauhan dengan suaminya, sehingga gampang sekali tergoda oleh setan dengan pikiran buruk. Selain itu godaan lain pun banyak datang pada dirinya sendiri, yaitu adanya keleluasaan untuk berdekatan dengan banyak laki-laki, karena merasa jauh dari suami dan tidak ada yang mengawasi, sehingga suatu kali dia pun pernah dekat dengan laki-laki lain selain suaminya.
Namun dirinya masih waras, sehingga menolak laki-laki itu dengan tegas. Apalagi pada saat itu dia mulai hamil, karena tidak ingin terlibat terlalu jauh dengan laki-laki itu, akhirnya dia memutuskan untuk menjual toko sembako-nya dan digunakan untuk menyusul suaminya, hingga mereka terus bersama sampai saat ini.
“Cinta membutuhkan pengorbanan demikian juga pengorbanan tidak bisa dilepaskan dari kata cinta. Iya, kan, Fi? Biasanya, orang mau mengorbankan apa yang dimilikinya demi yang dicintainya.”
Usfi mengangguk, pantas saja dia melihat Edi—kakaknya itu begitu baik pada Lia karena mengorbankan istrinya.
“Kenapa nggak nyuruh orang buat ngurus toko saja, Teh?” tanya Usfi.
“Yaa ... aku cuman mau tenang, kalau pun menyuruh orang buat ngurus, belum tentu bisa dipercaya, dari pada mikirin terus, mending di jual, uangnya buat beli tanah di sini, ditanami sawit lagi, untung juga aku jadinya sama saja, kan?”
“Tapi, kan, aku nggak mungkin jual sekolah biar bisa tinggal bareng sama Gani, Teh!”
“Oh, kalau soal itu justru lebih mudah ... Kenapa nggak nyuruh Ahmad saja buat jadi kepala sekolahnya, tinggal biayai saja dia kuliah lagi dengan separuh uang gajinya, itu pun kalau dia mau dan mampu, sih. Jadi, kamu lebih mudah mengontrol, paling sebulan sekali.”
“Iya, sih, Teh, aku juga sudah mikir seperti itu, tinggal bilang saja dia mau apa nggak!”
“Kalau jarak kamu di sini sama rumah Gani, kan nggak sejauh pulau Jawa dan Kalimantan, Fi! Nggak kayak aku dulu sana Kang Edi!”
“Hehe, iya!”
❤️❤️❤️🙏👍❤️❤️❤️
__ADS_1