
Kesibukan Yang Berbeda
Beberapa hari berlalu, dan Usfi masih sabar menunggu keputusan Ahmad untuk menggantikan posisinya sebagai kepala sekolah. Hal yang memberatkan laki-laki itu adalah keharusannya untuk, menempuh pendidikan kembali, dia sudah sangat malas untuk melakukan kuliah hanya karena harus menjadi pantas sebagai pengganti Usfi.
Ahmad berniat menggunakan separuh uang tabungannya untuk menabung, karena sudah menemukan tambatan hati dan ingin segera menikah dalam waktu dekat. Apabila dia gunakan untuk kuliah maka, rencananya menikah akan terhambat beberapa tahun lagi.
Sebenarnya bukannya dia tidak memiliki ilmu untuk menjadi seorang guru, karena dia sudah banyak mengikuti pelatihan dan seminar selama mendampingi Usfi, tetapi, untuk menjadi kepala sekolah memang tidak bisa sembarangan, sebab kedudukan sebagai kepala sekoalh membutuhkan sebuah gelar dan tidak bisa dilakukan oleh orang yang hanya tamatan SMA saja, walaupun, untuk jabatan kepala sekolah di taman kanak-kanak.
“Nanti ya, Kak. Saya pikirkan lagi,”kata Ahmad setiap kali Usfi bertanya tentang keputusannya.
“Jangan lama-lama, dari kemarin bilangnya nanti-nanti, soalnya aku butuh keputusan cepat, cuma kamu yang paling lama bantuin aku ngajar jadi guru di sini.”
“Iya, Kak!”
Percakapan berhenti sampai di sana setiap kali Usfi bertanya tentang tawaran untuk menggantikan posisinya pada Ahmad. Sedangkan Aisi, setiap kali ditanya oleh Usfi maka, gadis itu selalu menolak dengan tegas. Dia hanya mau menjadi guru biasa saja sebab menjadi kepala sekolah apalagi, kalau harus mengurus semua yang selama ini diurus oleh Usfi terlalu berat baginya.
Sementara itu perasaan Usfi mulai tidak tenang saat ini sebab setiap kali dia melakukan panggilan di jam-jam istirahat, justru Gani tidak pernah mengangkat teleponnya. Namun, ketika Usfi tengah sibuk, laki-laki itu selalu menghubunginya. Akibatnya mereka tidak bisa mengobrol terlalu lama.
Dari kejadian ini Usfi kemudian menyimpulkan jika jam sibuk dan jam istirahat antara Gani dan dirinya sangatlah berbeda. Oleh karena itu, mereka hanya bisa berkirim pesan ataupun melakukan panggilan video, ketika malam hari tiba. Walaupun, di malam hari pun mereka kadang-kadang tidak bisa mengobrol dengan leluasa, karena kesibukan suaminya juga.
“Apa nggak kangen sama aku gitu, Bang? Atau ada perempuan lain ya di sana?” kata Usfi suatu ketika, saat malam dan dia melakukan panggilan video di kamarnya. Namun, justru Gani mematikan kamera dan kemudian melakukan panggilan suara sepertiseperti
Padahal saat itu usfi sengaja memakai pakaian yang, seksi dan terbuka untuk memancing Gani agar segera mendatangi atau membuat laki-laki itu, berinisiatif mengajaknya menginap di hotel tempatnya bekerja
“Bukan begitu, aku kangen kok sama kamu ... tapi, aku tadi lagi ada di dapur hotel, tapi kamu nelpon nggak pakai kerudung, nggak cuman aku laki-laki yang ada di sana jadi aku matikan kameranya, aku khawatir gambar kamu di layar HP itu kelihatan sama laki-laki lain ... jangan berpikiran buruk, justru aku melindungi kamu gimana sih?”
“Masa? Awas kalo bohong!”
__ADS_1
“Masyaa Allah, Fi! Buat apa aku bohong, nggak ada manfaatnya!”
“Adalah manfaatnya!”
“Apa?”
“Ya manfaatnya bohong aja, menguntungkan orang yang bohong!”
“Astaghfirullah!”
“Nah, kan! Abang istighfar karena dosa kan, sudah bohongin aku?”
Gani diam sebentar, hening di ujung telepon. Setelah itu dia berkata dengan tenang dan lembah lembut.
“Besok-besok lagi kalau kamu mau telepon cuma mau mengajakku bertengkar, mending gak usah ... aku masih punya banyak kerjaan, daripada ngurusin kamu bikin aku stress!”
Kejadian malam itu, membuat Usfi segera memesan kendaraan taxi online untuk pergi ke hotel bahkan, dia melupakan sarapannya.
“Kenapa Usfi, Kang?” tanya Lia saat melihat adik iparnya itu pergi tanpa sarapan dan hanya pamitan pada Edi saja.
“Nggak tahu, tuh! Kangen kali sama Gani, kemarin kan, nggak datang padahal udah seminggu lebih mereka nggak ketemu!”
“Mungkin uspi lupa ya, Kang, kalau akhir pekan itu di hotel atau di restoran justru lebih rame, dan Gani akan lebih sibuk, nggak seperti sekolah kalau akhir pekan justru libur!”
“Iya, jam kerja mereka memang jauh banget bedanya ... Jadi, Biar mereka menyesuaikan diri, maklum ini hari-hari awal mereka bersama jadi mereka butuh penyesuaian, nggak usah dipikirin lah itu biar jadi masalah mereka, kalau kita ikut mikirin juga bisa-bisa jadi pusing kita!”
“Iya, Kang. Kita bisa jadi dewasa karena masalah yang kita hadapi bukan karena umur kita yang tambah tua!”
__ADS_1
“Hmm ... Iya. Ya udah, ayo sarapan ajak anak-anak suruh sarapan bareng juga!”
“Iya, Kang. Mereka masih mandi!”
Sementara itu Usfi terus saja menghubungi Ahmad dan juga Aisi, ketika berada di dalam kendaraan online yang dipesannya. Dia sibuk mengkoordinasikan pekerjaannya hari itu, kepada dua orang tenaga pengajar yang selama ini menjadi andalannya.
Kepergian Usfi keluar kota yang mendadak, membuat Ahmad dan Aisy tidak siap kalau harus mengerjakan semua tugasnya, sehingga dua orang itu banyak bertanya. Apalagi hari itu adalah jadwal mereka memanen beberapa buah dan sayur yang, dilakukan di luar lingkungan sekolah.
Usfi kemudian meminta bantuan dari Lia dan Edi untuk menjaga anak-anak dan juga menyewa beberapa kendaraan guna membawa anak-anak didiknya, sekaligus hasil tanaman yang sudah dikumpulkan nanti.
Semua koordinasi dan juga agenda kegiatan sekolah hari itu, sudah selesai dilakukan bersamaan dengan tibanya Usfi, di depan restoran tempat suaminya bekerja.
Tentu saja kedatangan Usfi, membuat Gani terkejut karena saat meneleponnya tadi malam, istrinya itu sama sekali tidak memberitahu bahwa akan datang berkunjung.
Namun, dia bersyukur kedatangan Usfi masih pagi, sebab apabila dia datang lebih siang maka, kemungkinan mereka tidak akan bertemu karena Gani pun sudah berniat untuk pergi meninggalkan hotel dan, mendatangi rumah Edi yang menjadi tempat tinggal bagi sang istri.
Gani menyambut kedatangan istrinya dengan senyum yang begitu manis dan tatapan lembut, sedangkan Usfi wajah dan bibirnya cemberut.
“Kenapa cemberut begitu? Aku senang kamu datang!” kata ganis sambil merengkuh baunya, tapi uspin dengan pelan menepisnya.
“Eh, kenapa?” tanya Gani lagi.
“Aku nggak mau ngomong!”
“Nah, itu ngomong!” sahut Gani sambil menahan tawa.
Lalu, dia membawa istrinya masuk ke ruang pribadinya dan duduk di sofa. Sementara di sudut lain hotel ada sepasang mata yang memperhatikan mereka berdua.
__ADS_1
❤️❤️🙏👍❤️❤️