
Penasaran Aku Bang
Usfi melirik Gani yang juga diam, tatapan matanya lurus ke depan, ditangannya memegang botol minum anak-anak merk terkenal berisi susu. Sedangkan Azzam sudah kembali tertidur.
“Apa kabar, Bang?” Tanya Usfi, akhirnya dia mencoba angkat bicara setelah beberapa lama saling diam, justru membuat suasana di antara mereka menjadi canggung.
Ada gemuruh tak menentu yang tiba-tiba hadir di hatinya, seraya menerka-nerka, apa yang terjadi dengan Gani dan keluarganya. Bahkan air mata seperti hendak keluar, rindukah dia?
“Baik, kau lihatlah sendiri, mana bisa aku pergi bawa anak begini kalau sakit, kau masih sama dari dulu nggak pernah peka sama aku, On!”
Gani berkata sambil melirik Usfi sekilas, lalu, kembali menatap lurus ke depan. Ada rasa kesal yang terlukis pada nada bicaranya, karena dia terjebak secara tidak sengaja bersama gadis yang selama ini, selalu berhasil membuatnya jadi orang yang banyak bicara.
Dia lebih bisa menjadi dirinya sendiri di depan Usfi, seperti kali ini, walaupun, degup jantungnya berpacu lebih kuat dari sebelumnya, dia tidak menampakkan kegugupan sama sekali. Duduk berdekatan seperti ini, hanya terjadi saat mereka masih sama-sama melajang dulu, saat kumpul dengan teman-teman atau sebelum Usfi menikah dengan Anwar.
Usfi tersenyum setelah melotot ke arah Gani yang memalingkan muka, dia kesal pada laki-laki yang sudah banyak berubah sejak mereka mulai terpisah.
Mereka pernah dekat, lalu, tidak bertemu selama tiga tahun dan kembali bersama dalam keadaan antara bos dan pegawai, lalu terpisah lagi dalam waktu yang lebih lama dari sebelumnya, yaitu empat tahun. Mereka kini hanya menunggu waktu sebagai apa sekarang bertemu, apakah akan kembali sebagai teman, sepertinya iya.
“Ini anakmu, Bang? Siapa namanya?”
“Azam.”
“Artinya tekad, dia mirip dirimu, Bang. Aku pernah lihat dia di restoran hotel Matraman! Apa Abang ada di sana juga, hari Selasa kalo nggak salah.”
“Iya, aku di sana!”
“Ngapain Abang di sana? Cuma makan apa kerja?”
“Kamu kayak wartawan saja, apa semua ceritaku nanti mau di upload di koran atau fesbuk? Tanya apa lagi, habis ini?”
__ADS_1
Usfi tertawa kecil mendengar candaan Gani dan dia mengangguk.
“Iya, Bang. Penasaran aku kenapa Abang bisa ada di Kalimantan dan bawa anak pula?”
“Azam ikut sama aku ya, aku yng bawa, kalau ikut sama Abah, ya Abah yang bawa, kalau ikut aku tapi kamu yang bawa, tambah luculah, Fi?”
Usfi kembali tertawa, tapi kali ini dia menutup mulutnya dengan telapak tangan karena Azam tiba-tiba terbangun, sementara pesawat masih terus terbang.
“Ayah, masih lama ya?”
“Ya, Azam tidur aja biar nggak kerasa, nanti kalau kamu bangun udah sampai deh di rumah Nenek!”
Azam mengangguk lalu meminum susu yang ada di tangan Gani.
“Azam, kamu lucu banget sih?” kata Usfi sambil mencubit kecil pipi anak kecil itu, lalu melihat pada Gani, “Mirip sama kamu, Bang!”
“Kalau bilang mirip lucunya itu jangan nanggung, bilang kayak Sule atau Parto, gitu baru bagus!”
“Kamu yang aneh! Jelas-jelas dia ganteng gitu, kok dibilang lucu.”
“Oh, jadi Abang maunya Azam dibilang ganteng mirip Bapaknya, gitu?” Usfi kembali tertawa, “ Istighfar, Bang!”
“Jadi, Bang ... maksud aku bilang lucu itu bukan berarti nggak ganteng, jangan salah paham!”
“Nggak ada yang salah paham sama ucapan lucu atau ganteng, yang bikin salah paham itu kita. Bayangin aja kalo kita jalan bareng kayak gini, On? Apa kata orang coba? Kamu nggak sama suamimu, aku nggak sama istriku. Sebenarnya kemana pasangan mereka? Gitu kata mereka nanti!”
Usfi diam sambil mengusap kepala Azam, lalu membuang nafasnya pelan sambil menatap keluar jendela. Ucapan Gani, sedikit membuka ingatan tentang masa lalunya dan, tiba-tiba pula rasa sakit itu kembali menyapa.
Apakah bahagia itu benar-benar nyata di dunia ini, pikirnya. Nyatanya tidak selamanya bahagia itu hadir dalam hidup, karena terkadang juga manusia diuji dengan kesedihan dan kekurangan. Bahagia datang pada diri seseorang memang sudah waktunya dia bahagia, dan kesedihan menyapa pun, karena sudah tiba gilirannya pula.
__ADS_1
Saat menatap pemandangan awan di luar jendela, Usfi menahan perasaannya sekuat hati agar tidak menangis, dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Gani, sebab dia selalu tampak tegar selama ini.
Dia teringat kembali ucapan Nafisa yang menasihatinya untuk hati-hati meletakkan cinta, sebab belum tentu cinta akan membawa manusia dalam kebahagiaannya. Terkecuali cinta manusia pada Allah yang tidak akan pernah bertepuk sebelah tangan, cinta-Nya pasti berbalas indah, kasih sayang-Nya pasti mendatangkan suka, karena Allah tak akan berpaling begitu saja, bahkan tidak akan menjauh tanpa alasan, karena seluruh dunia ada dalam genggaman-Nya.
“Memangnya, kemana Ibunya Azam?” tanya Usfi setelah sekian lama hanya terdiam, “Jangan bilang kamu seperti aku, Bang!”
Gani diam dan hanya menatap Usfi dengan kening yang berkerut.
“Ibunya Azam ya, ada di rumahnya sana, di Tasik!”
“Oh.”
“Terus kamu kenapa jauh-jauh ke sini nggak sama suami?”
“Masa Abang nggak tahu sih, kalau aku udah nggak sama Pak Anwar lagi?”
Gani sedikit terkejut dan heran, begitu mendengar jawaban Usfi, seraya menggelengkan kepalanya. Dia pikir gadis itu hanya sekedar jalan-jalan ke Pontianak, menengok salah satu dari kakaknya yang memang berada di sana. Dia ingat dulu Algizali berangkat berdua, dengan salah satu saudara Usfi.
Sementara itu Usfi mengira kalau Gani pasti sudah tahu tentang keadaan dirinya yang kini hidup menjanda. Dia ingat betapa gaduhnya masyarakat sekitar di kampung yang, selalu menggunjingkan seorang janda muda dan kaya raya. Duh, berita yang tidak mengenakkan hati, oleh karena itu dia pergi.
Gadis itu pun menjadi malu dengan pengakuannya sendiri tapi, tetap berpikir positif bila Gani tidak memiliki prasangka buruk seperti orang lain padanya.
“Aku pikir Abang ada di Tasik, bareng keluarga di sana, soalnya Pak Joko yang bilang waktu itu, kalau Abang nggak kerja lagi! Eh, nggak tahunya ada di sini.”
“Kamu masih ingat? Aku sendiri udah lupa soal itu, soalnya udah lama sekali ... kita nggak tahu ya, kalau hidup akan seperti itu! Namanya juga takdir.”
Usfi semakin malu, hingga pipinya menghangat dan pastinya bersemu merah.
Setelah percakapan itu, mereka tidak banyak bicara tentang hal pribadi mereka, apalagi Gani. Dia hanya mengatakan kalau istrinya ada di rumahnya. Tentu saja apa yang dikatakan Gani, dipahami oleh Usfi dengan sesuatu yang berbeda.
__ADS_1
Usfi yang lebih banyak bicara tentang herbal atau sayur mayur yang dia budidayakan di sekolah. Bahkan hampir separuh perjalanan, dia habiskan untuk bercerita tentang sekolahnya. Sebelum akhirnya dia tertidur sampai perjalanan mereka sampai di bandara.
❤️❤️❤️👍🙏❤️❤️❤️