Cinta Butuh Utang

Cinta Butuh Utang
Ikhtiar


__ADS_3

Ikhtiar


Keesokan harinya, sepasang suami istri itu pulang ke apartemen yang, dimiliki oleh Gani setelah mereka selesai melaksanakan salat subuh. Semua atas permintaan Usfi yang ingin segera mengetahui, di mana tempat tinggal suaminya selama ini. Gadis itu berniat akan tinggal di sana setelah urusan sekolah dan orang yang akan dia percayai selesai.


Mereka mampir ke apartemen sederhana itu sebentar, setelah sampai di sana Gani hanya membicarakan tentang beberapa bagian rumah dan, juga kebiasaannya selama bersama Azzam. Rumah itu tidak terlalu besar tetapi cukup memadai bila ditempati oleh empat orang atau keluarga kecil saja, karena hanya memiliki dua kamar sedangkan ruang-ruang lainnya terhubung secara terbuka.


Apartemen itu berkonsep minimalis modern, walaupun, sederhana tapi cukup nyaman seperti apartemen di masa kini pada umumnya. Hunian yang cukup sejuk apalagi dekat dengan hotel, serta beberapa tempat penting lain, seperti pusat perbelanjaan, rumah sakit dan sekolah. Semua kondisi di sana kondusif dan mendukung bagi keluarga kecil seperti mereka.


Setelah berkunjung ke apartemen yang kelak akan mereka tempati bersama, Usfi berinisiatif untuk memeriksakan diri ke rumah sakit swasta yang kebetulan terletak cukup dekat dengan apartemen itu dan Gani menyetujuinya.


“Sebenarnya, kamu nggak usah khawatir soal anak ... kita, kan sudah pernah membicarakannya. Allah akan memberi kalau memang kita pantas memilikinya, dan kalau memang tidak layak, sekeras apa pun kita usaha maka,.kita tidak akan mendapatkannya!” Gani bicara, saat mengendarai mobilnya menuju rumah sakit.


“Ya! Aku mau ikhtiar saja dulu, Bang. Lihat bagaimana kondisiku, apalagi aku memang belum pernah datang ke dokter kandungan walaupun sudah lama menikah!”


“Aku heran, kenapa ada laki-laki yang menikah tapi menolak kehadiran anak, padahal lahirnya seorang bayi itu adalah konsekuensi sebuah pernikahan.” Kata Gani, sambil menepikan kendaraannya di tempat parkir. Jarak rumah sakit itu dan apartemen memang sangat dekat.


Usfi tidak mau menjawab ucapan Gani yang menyangkut masa lalu pribadinya dan itu menyakitkan. Dilarang memiliki anak adalah hal yang paling tidak masuk akal, dari sekian banyaknya larangan Anwar sebagai seorang suami.


Dia masuk ke ruang konsultasi, setelah mendaftar dan menunggu beberapa saat, karena baru dipersilahkan masuk sesuai no antrean pasien. Di depan seorang dokter spesialis yang kebetulan perempuan itu, Usfi menceritakan masalah dan kekhawatirannya, termasuk bagian perjalanan pernikahan mereka.


Usfi berkata pada dokter itu, mirip dengan seorang anak yang mencurahkan masalah pada ibunya, ketimbang antara pasien dan dokter.


Bahkan, Gani sampai senyum-senyum sendiri karena malu pada sang dokter dengan sikap istrinya itu. Dia memang sudah pengalaman sebelumnya dalam hal ini, hingga dia merasa bahwa semua yang dikatakan usby itu tidak penting sama sekali, tapi, dia tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan istrinya mengutarakan semua keluh kesahnya.

__ADS_1


Pada akhirnya, setelah semua rangkaian pemeriksaan selesai, dokter hanya menyarankan Usfi untuk minum beberapa vitamin sebagai stimulasi kesuburan kandungannya, secara teratur. Selain itu, dokter meminta mereka untuk sering-sering melakukan hubungan suami istri agar usaha mereka, untuk mendapatkan keturunan segera berhasil.


Lalu Upin dan Gani kembali mengobrol setelah mereka berada di dalam mobil.


“Bang, Aku kan cuman mau tahu kandunganku ini sehat apa enggak, terus aku bisa punya anak apa enggak setelah dulu pernah minum pil KB selama tiga tahun berturut-turut tapi, kok, seolah-olah dokter itu menganggap Aku pengen cepet punya anak ya?”


“Kamu ini aneh, tujuan untuk berkonsultasi pada akhirnya apa, untuk mempunyai anak kan? Nah, ya dokter nggak salah, lah,” sahut Gani sambil menahan tawa, sementara dia mengarahkan mobilnya ke jalan raya.


“Ck! Kan bukan begitu maksudku ... nggak harus buru-buru punya anak juga, sih?”


“Terus ngapain kamu ke sana, kalau gitu ... Tinggal usaha aja beres, kan? Terus tunggu hasilnya!”


“Kamu ini ngerti aku nggak sih, Bang? Aku ini cuman khawatir kalau nggak bisa hamil dan ngasih kamu anak tapi, nggak harus cepet-cepet punya anak juga, gitu maksudku!”


“Iya, iya, mentang-mentang sudah pernah punya anak!


“Astagfirullah,” ucap Gani sambil menggelengkan kepalanya, karena melihat Usfi yang kembali salah paham. Ternyata memang butuh lebih banyak kesabaran, untuk menghadapi istrinya saat ini. Dia sebenarnya ingin membantah lagi, tapi, memilih untuk konsentrasi menatap ke arah jalanan yang akan membawa istrinya pulang.


Sesampainya Gani dan Usfi di rumah Edi, Lia yang sedang berada di ruang tamu pun menyambut kedua tamunya dengan ramah dan, mempersilakan Gani untuk duduk di ruang tamu rumahnya. Saat itu Edi sedang pergi ke kebun sawit, hingga tidak bisa menemui tamu sekaligus adik iparnya itu.


Lia berjalan ke dapur untuk menyiapkan makanan kecil dan kopi pada Gani. Walaupun, dia belum pernah bertemu dengan suami usfi sebelumnya tapi, dia tahu bahwa laki-laki itu pasti adik iparnya, sehingga dia memperlakukannya dengan baik, seperti layaknya menghormati seorang tamu.


Sementara itu, Usfi pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaian dan setelah selesai, dia segera kembali menemui suaminya di ruang tamu yang, masih mengobrol dengan dua keponakannya yang masih sekolah di sekolah dasar.

__ADS_1


Tak lama setelah Usfi bergabung, Lia datang membawa nampan sambil berkata.


“Kamu ini pergi ke kota nggak bilang-bilang, Di! Nggak tahunya ke hotel? Kangen ya?’


Gani dan Usfi saling berpandangan lalu, tersenyum.


“Bener loh, Gan! Dia pagi-pagi kemarin itu pergi nggak pamit, tapi aku sudah nebak sih ... kalau dia pasti mau nemuin kamu! Sekarang, kamu mau gantian nginep di sini kan?” kata Lia lagi sambil duduk di sebelah Usfi, setelah selesai meletakkan semua makanan di meja.


“Enggak, saya mau pulang sekarang juga soalnya saya baru seminggu yang lalu mengambil cuti, masa sekarang mau libur lagi? Nggak mungkin, Teh! Saya harus ada di sana setidak- tidaknya saat makan siang, biasanya jam makan siang restoran tambah rame, karena banyak pelanggan.” Gani menjelaskan panjang lebar.


“Kayaknya, waktu liburan dan kesibukan kalian ini beda banget ya? Jadi, kalau menurutku memang kalian harus mengambil waktu bersama secara khusus. Soalnya, kalau misalnya Usfi terus di sini karena sekolahnya, akan sulit ketemu dan menghabiskan waktu berdua, bayangin aja, waktunya Gani sibuk, eh, Usfi justru santai atau libur dan sebaliknya, ya nggak?”


“Ya!” Sahut Usfi dan Gani secara bersamaan.


“Tapi, Maaf ... aku cuman bisa ngomong tapi nggak tahu gimana harus ngasih solusi!” Kata Lia lagi.


“Nggak apa Teh, memang begitu adanya, jadi mau gimana lagi,” sahut Gani.


“Jangan putus asa, pasti ada jalan kalau kita mau berusaha.”


Gani mohon undur diri setelah banyak berbincang dan Lia memberi beberapa masukan juga saran, satu solusi yang dia berikan adalah menyewa sebuah rumah yang, berada di jarak pertengahan antara tempat pekerjaan. Namun, saran itu pun kurang di terima oleh mereka berdua.


Sebelum pulang, Usfi mengajak Gani untuk melihat-lihat sekolah tempatnya bekerja sekaligus menyalurkan ilmu yang dia miliki. Lalu, dia pun menceritakan tentang apa yang menjadi permasalahannya ketika ingin tinggal bersama dengan suaminya dalam satu rumah.

__ADS_1


❤️❤️❤️👍🙏❤️❤️❤️


__ADS_2