
Kata Maaf Itu Nggak Enak
“Iya juga sih, Bang. Pada hakikatnya waktu hanya milik Allah, walaupun kita memaksakan diri ingin bersama, tapi kalau belum waktunya, kita nggak akan pernah sampai, Bang!”
“Apa maksudmu, On!”
“Coba saja Abang pikir sendiri!”
Usfi hanya menghela napas dalam-dalam, dia masih sabar dengan ucapan laki-laki itu. Dia paham kalau ucapan seseorang yang keluar untuk menghina atau menyakiti, biasanya sesuai kadar sakit di dalam dirinya.
Bagi Usfi, semakin pedas ucapan, makian atau hinaan yang keluar, mencerminkan sedalam apa rasa sakit di hati orang yang mengatakannya.
Oleh karena itu Usfi hanya tersenyum kecut dan berkata dalam hati.
“Apa sesakit itu perasaanmu padaku, Bang! Terserah kamu mau bilang apa, aku terima ... selama aku masih kuat untuk bersabar, tapi, kalau aku sudah nggak kuat, maaf akan aku balas semua ucapanmu suatu hari nanti.”
Setelah itu, tiba giliran Gani, mengisi bahan bakar.
“Full tank, Kang!” teriaknya, sambil melirik Usfi yang juga mengisi pada depot sebelahnya. Wanita itu tidak bicara, hanya mengulurkan tiga lembar uang pecahan seratusan ribu, tanpa melirik Gani sedikit pun.
Duh! sakit rasanya diabaikan oleh orang yang masih dicintai.
Perempuan itu tidak turun dari kendaraannya saat mengisi bahan bakar, meskipun begitu, Gani selesai lebih dulu. Dia tampak belum puas untuk bicara pada mantan yang masih terkasih di hatinya, hingga dia menunggu dengan sabar, di sisi jalan menuju pintu keluar.
Namun, dia tidak sepenuhnya ingin bicara saja, sebenarnya hatinya masih rindu. Rindu setengah hati karena cinta pun hanya setengah jadi. Apa boleh buat dia hanya bisa pasrah pada kenyataan saat raga tak sejalan dengan jiwa. Hati masih ingin mempertahankan tapi, raganya sudah jadi milik orang.
Suara klakson motor yang dikendarai oleh Gani, mengagetkan beberapa orang di sekitar tempat itu, saat dia mencoba menghentikan laju kendaraan Usfi.
Gani tersenyum meringis saat mobil Usfi berhenti sesuai keinginannya. Wanita itu keluar dengan kesal, dia menghampiri Gani setelah menepikan sedan Toyota Altis miliknya.
Suaranya keras membentak, “Apa-apaan sih, Bang! Kamu bisa celaka kalau aku nggak ngerem tadi!”
Usfi memang menekan rem sangat dalam saat motor Gani melintas tiba-tiba di depannya. Namun, pria itu sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah.
“Sudahlah, On! Kamu nggak usah salah-salahin aku, kamu juga jalan sembarangan, kok!” Gani masih membela diri, dia masih duduk di atas kendaraannya yang berhenti tepat di depan mobil Usfi. Sementara Usfi menggelengkan kepalanya.
“Udah biasa, On. Di mana-mana juga kalau ada kecelakaan mobil sama motor itu, pasti motor yang disalahin!”
“Apa nggak kebalik ya Bang?”
“Udahlah, kamu nggak usah cari alasan segala, aku maklum kok sama orang yang baru bisa bawa kendaraan sendiri mah, suka begitu!”
Setahu Gani, tiga tahun lalu, Usfi tidak seperti itu, dia gadis pendiam yang kerjaannya ngajar ngaji di Taman Qur’an milik ustadz Sholeh, bapaknya. Namun, waktu memang bisa merubah seseorang, apalagi dia sudah menikah.
__ADS_1
Tentu Gani tidak tahu apa yang membuat gadis itu berubah, apakah karena suaminya yang memang terkenal suka main perempuan, atau karena kehidupan glamor yang kini dirasakannya. Tidak ada satu pun orang yang menceritakan pada Gani dan bisa menjawab rasa penasarannya.
Usfi merasa tidak ada gunanya menghadapi Gani yang marah tanpa sebab, padahal sudah jelas dia yang salah. Dia berniat menghindar, tapi Gani mencegahnya masuk, dengan meletakkan tangannya di pintu mobil.
“Kenapa sih, Bang! Malu tahu, ada cctv,” kata Usfi sambil menunjuk kamera kecil yang ada di sekitar pengisian bahan bakar itu. “Bang, bisa dilihat siapa yang salah dari sana. Jadi, gak usah bikin gara-gara kalau gak mau aku adukan ke polisi!”
“Ih, bawa-bawa polisi, emang kamu berani, ngajar ngaji aja sana, nggak usah mau ngurus beginian ke kantor polisi segala!” Gani terkesan menyebalkan dan merendahkan.
Usfi melipat kedua tangannya di depan dada, dia sudah tidak peduli lagi dengan beberapa orang yang memperhatikan mereka.
“Jadi, Abang pikir saya yang salah, gitu? Terus Abang pikir aku nggak berani ke kantor polisi hanya karena saya Cuma guru ngaji?”
“Ya, nggak gitu juga, tapi, kan setidaknya kamu bilang maaf kek, atau apa, kek! Jangan sombong jadi orang, mentang-mentang punya mobil bagus kamu, On!”
Gani tidak mau di salahkan, sebab dia tidak akan bisa mengganti kerugian pada mobil itu, kalau memang ada kerusakan akibat kecelakaan.
“Sebenarnya, ada masalah apa sih, Abang sama saya? Apa saya salah sama Abang, hanya karena saya jadi istri kedua? Apa saya merugikan Abang, hanya karena status saya itu? Bilang, Bang, bilang!”
Deg!
Jantung Gani seolah kehilangan detakannya, yang ada hanyalah gemuruh tidak karuan saat melihat mata sipit itu tengah berkaca-kaca. Dia terlihat rapuh, tidak seperti kemarin-kemarin saat pertama kali dia bicara.
“Usfi ...” tiba-tiba bibir Gani menyebut nama itu tanpa permisi.
Usfi tidak peduli lagi, apakah Gani akan menjawabnya atau tidak, dia segera menyingkirkan tangan laki-laki itu dari pintu dengan kasar agar bisa masuk mobilnya kembali.
Sebelum menutup pintu, Usfi berkata, “Kata maaf itu nggak enak Bang, nggak ada rasanya! Makanya, banyak orang yang gengsi minta maaf walaupun salah. Jadi, aku nggak mau bilang maaf, apalagi aku nggak salah!”
Usfi menjalankan kendaraannya dengan kecepatan sedang dan sesekali melihat pada kaca spion di mana dia melihat Gani masih mengikuti di belakangnya.
Hatinya tiba-tiba menuntun tangannya yang memegang setir mobil untuk, mengarah pada jalan di mana rumah Gani berada. Tentu saja Geni merasa heran ketika mobil Usfi yang diikutinya, ternyata berhenti tepat di depan rumah orang tuanya.
Seulas senyum manis dari Aminah, atau yang biasa di panggil Usfi, Mak Ami itu, menyambut kedatangannya saat gadis itu turun dari mobil.
“Apa kabar, Mak?” kata Usfi sambil memeluk hangat tubuh kurus wanita tua setelah mencium punggung tangannya. Dia dulu sangat dekat dengannya. Ummi, ibunya Usfi dan Ami, begitu wanita itu biasa di panggil, adalah teman dalam seperjuangan, sama-sama mendirikan pengajian baca Al Quran untuk ibu-ibu kompleks.
“Alhamdulillah, tumben kamu datang ke sini nengok Emak, Fi?”
“Iya, sudah lama ya Mak? Maaf ... Usfi sibuk akhir-akhir ini.”
“Iya, Mak tahu, ayo! Duduk dulu.”
Sesaat kemudian Gani masuk dengan wajah yang cemberut, sebab dia baru saja mendengar wanita itu mengatakan maaf pada Emaknya.
__ADS_1
“Kamu bilang apa sama Emak, tadi, On? Maaf?” Gani yang baru masuk tiba-tiba bicara yang tidak jelas.
“Apa-apaan sih, Gan. Ada tamu kok malah ngomong begitu kau?”
“Iya tuh, Mak. Aneh, kan?”
“Kamu yang aneh tapi ngatain aku aneh? Kamu bilang kaya maaf itu nggak enak, tapi barusan aku dengar kamu bilang maaf sama Emak!”
Ami dan Usfi terkekeh, dua wanita itu tahu maksud dari kata tidak enak apabila kata maaf di samakan dengan makanan.
“Itu beda, lah, Bang. Kalau minta maaf sama Emak sebagai orang tua. Aku minta maaf jarang menengok.”
Usfi masih melanjutkan, “Tapi, lain lagi kalau minta maaf sama orang yang jelas-jelas salah. Itu baru nggak enak, Bang. Manusia bukan Tuhan ... kalau manusia salah atau tidak salah tetap harus memohon ampun sebagai bukti pengagungan pada Allah, Robbulalamiin. Lah, kalau aku minta maaf sama Abang, apa urusannya?”
“Kamu tadi, sombong sekali, jalan terus nggak tengok aku!” Gani berkata, sambil duduk tak jauh dari Emaknya dan Usfi.
“Bang, kalau aku nengok sana sini, mataku jelalatan, kalau aku nabrak orang apa Abang mau tanggung jawab?”
“Aku nggak suruh kamu jelalatan, On! cuma heran saja kamu seolah nggak lihat aku tadi!”
“Kalau aku liat Abang, sama artinya mataku jelalatan, jelas-jelas agama meminta wanita untuk menundukkan pandangan!”
“Alasan saja kamu, On!”
“Sudah! Kalian ini sudah dewasa, mau sampai kapan kalian kalau ketemu selalu bertengkar? Mak pusing sama kalian ini, dari dulu nggak berubah, padahal kalian ini sama-sama sudah menikah!” Kata Ami menyela pertengkaran dua manusia di hadapannya.
“Apa, Mak? Bang Gani sudah nikah? Mana istrimu, Bang? Kenapa nggak Abang kenalkan sama saya?” kata Usfi sambil celingukan ke sana kemari di ruang tamu berukuran sedang itu, dia tak melihat siapa pun selain mereka bertiga.
“Gani ini nggak bawa anak istrinya karena mereka nggak tinggal bersama, Fi!” kata Ami sambil menatap ke luar jendela, ada tatapan kosong di sana.
“Apa? Sudah punya anak pula, Bang?” Usfi berkata sambil mengangguk-angguk, “Kalah saya kalau begitu?”
“Sudahlah, Mak. Jangan cerita soal aku lagi sama Onah!”
“Ah, menikah bukan perkara menang ataupun kalah, sebab pernikahan bukan sebuah prestasi, tapi dia adalah bagian dari sunah nabi!” kata Ami lagi.
“Ya jelas saja kamu kalah, pasti kamu jarang begituan sama suami kamu, kan? Makanya sudah tiga tahun tak punya anak!”
“Gani!” kata Ami mencubit paha Gani sekuatnya. Wanita tua itu menjadi sangat malu pada Usfi. Sementara pipi wanita muda itu menjadi pucat pasi.
“Aw! Mak! Sakit ....!”
Bersambung
__ADS_1
❤️❤️❤️🙏👍❤️❤️❤️